
Deka dan pengacaranya sudah siap mendengar tuntutan dari jaksa penuntut yang akan menuntutnya, Deka sudah siap apapun yang akan terjadi padanya tapi dia akan berusaha membuktikan bahwa dirinya tak bersalah.
Sidang pun dimulai, Deka duduk dikursi pesakitan, duh mimpi apa aku batin Deka.
Didepan kursi pengunjung ada dua saksi yang dibawa oleh jaksa penuntut umum, yaitu pihak keluarga korban dan juga saksi ahli dari ahli forensik yang memeriksa mayat korban itu.
Deka melihat seseorang yang tak asing baginya dikursi pengunjung yang akan mengikuti jalan persidanganya, disana ada Vincent dan juga dua ajunan nya, ditengah tengah mereka adalah wanita bercadar yang tak lain adalah istrinya.
Mata mereka bertemu ketika Deka melihat Vincent dan tersenyum, Vincent mengepalkan tanganya memberi semangat pada Deka, sedangkan wanita itu menatapnya dengan penuh kerinduan, Deka memberikan senyuman dan memegang dadanya sebagai isyarat dia juga sangat merindukan istri tercintanya, Deka melihat Arti tanp berkedip, meski bibirnya tertutup cadar tadi Deka tau jika istrinya itu tersenyum padanya.
Hakim memukulkan palunya sebanyak tiga kali pertanda sidang sudah dimulai, hakim mempersilahkan jaksa penuntut umum untuk mengajukan pertanyaan pada terdakwa (Deka).
"Apa Anda bernama Deka kurnia sejati usia 26 tahun?" tanya jaksa.
"Benar pak," jawab Deka tenang.
"Apakah anda mengenal korban Eka Pradita?" tanya jaksa lagi.
"Tidak pak, saat pertama kali saya sadar, itulah pertama kali saya melihat korban," jawab Deka apa adanya, jaksa menggebrak meja. " Jangan bohong kamu," bentak jaksa.
"Intruksi pak," saut pengacara Deka.
Hakim memukulkan palunya lagi karena sedikit ada keributan,"Harap tenang semua, silahkan lanjutkan jaksa," perintah pak hakim.
"Kalau kamu tidak mengenalnya kenapa dia ada dikamar bersamamu dengan keadaan seperti itu?" tanya jaksa lagi.
"Ya mana saya tau pak jaksa yang terhormat, bukan kah tadi saksi ahli mengatakan bahwa saya terkena obat sehingga pingsan, ya masak iya orang pingsan bisa bawa mobil sejauh 15 km dari tempat pertama saya ga sadar," jawab Deka mulai bisa mempermainkan emosi jaksa.
__ADS_1
"Lalu bagaimana bisa ditemukan sp*rma milikmu ditubuh wanita itu jika kamu tak melakukan nya?" tanya jaksa lagi mencoba memojokan Deka.
"Huuuuuu," pengunjung mulai ricuh, banyak kasak kusuk disana yang membuat Arti ingin berteriak dan memberitahu semua orang bahwa suaminya bukan orang seperti itu.
Dengan tenang dia menjawab, "Kan saya dijebak pak, ya mana saya tau atuh," jawab Deka sesantai mungkin.
"Jangan asal tuduh kamu jika tak memiliki bukti," ucap jaksa lagi.
Deka hanya diam karena dia memang belum memiliki bukti jika dia dijebak.
Jaksa pun mengahiri pertanyaan nya dan berterimakasih pada bapak hakim yang terhormat.
Giliran pengacara Deka yang berdiri mulai memberikan pembelaan, pengacara Deka membacakan apa yang dia ketahui tentang apa yang Deka ceritakan padanya, cerita itu memang benar adanya tapi sayang nya mereka belum punya bukti yang kuat, bahkan CCTV hotel tempat Deka pertama kali merasakan panas dan bagaimana asistenya membawanya pun telah lebih dahulu di musnakan oleh anak buah Erika.
Dengan mendengarkan beberapa argumen jaksa dan pengacara Deka pak hakim memutuskan sidang ditunda dua minggu lagi, dengan agenda pembacaan tuntutan, disana Deka di beri kesempatan untuk menunjukan bukti jika dia tak bersalah.
Arti merasakan sakit yang teramat sangt ketika melihat tangan suaminya diborgol dan di apit dua polisi yang menuntun nya belum lagi baju bertuliskan tahanan dan terdakwa, Ya Tuhan ak yang sabar ya batin Arti.
Arti menangis didalam mobil yang membawanya, mobilnya beriringan dengan mobil tahanan yang membawa suaminya, Vincent tak tega melihat wanita bercadar itu, meski dia berusaha tegar tapi Vincent tau jika Arti rapuh.
.....
Selesai menghadiri sidang perdananya Deka kembali dimasukan kedalam sel tahanan, teman teman nya langsung menyambut Deka bak pahlawan yang baru pulang dari perang.
"Bos gimana?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku belum punya bukti yang bisa membebaskanku bro," jawab Deka.
__ADS_1
"Ya Tuhan, yang sabar bro oia asisten bos belum ketemu juga?" tanya Imron salah satu napi yang selalu menjadi tema curhatnya.
"Dia sudah dihabisi wanita ular itu bro sebelum aku ditahan," jawab Deka.
"Astaga, Bos dimobil yang membawa bos waktu itu ada kameranya kagak?" tanya Yono salah satu napi kasus penggelapan dana bank.
Seketika Deka ingat bahwa semua mobil yang pernah membawanya selalu dia kasih CCTV.
"Ada, oke thank u Yono u terbaik, astaga kenapa aku ga kepikiran sampai sana ya," ucap Deka, otak Deka seketika bekerja dia pun berencana mencari sendiri mobil itu.
"Kok diem bro," tanya Imron.
"Tadi aku lihat ayang beb dateng disidang perdanaku Im," jawab Deka.
"Ooo, galau gara gara lihat ayang beb tapi ga bisa peluk hahahahaha," goda salah satu teman se sel dengan Deka yang terkenal kocak, semua orang yang ada didalam sel itu pun menertawakan Deka.
Deka menjawab nya dengan senyuman khas nya.
"Tenang bro, u tau ga ayang beb nginep dimana?" tanya Totok ketua geng disana.
"Tau," jawab Deka.
"Oke, u ikut aku habis tengah malam ntar," ucap Totok, meski tak tau apa yang direncanakan teman teman nya tapi Deka percaya bahwa mereka tak akan mengajaknya berbuat jahat, karena selama Deka ada disel itu tak pernah lagi ada pertengkaran karena Deka selalu mampu jadi penengah.
IMPIAN DEKA
Bersambung...
__ADS_1