
Deka menatap lekat ke arah bos nya sambil menahan sakit, dia merasa kurang nyaman dengan ini, dia pekerja kenapa bos nya yang harus membawa mobilnya.
"Mr biar saya saja yang bawa mobil nya." ucap Deka.
"Tidak usah kamu lagi sakit." jawab nya agak sedikit acuh, dia kembali diam dan aku pun belum bertanya lebih lanjut tentang masalah pribadinya, aku tidak ingin dia menilaiku terlalu berani.
Dia tidak mengantarku pulang tapi malah membawaku pulang ke mension nya, aku belum berani bertanya apapun aku tahu bahwa perasaan nya saat ini pun sukar untuk dia terjemahkan.
"Kamu kekamarmu saja nanti ada dokter yang akan memeriksamu." ucap nya sambil memarkirkan mobil nya, Aku pun hanya mengangguk hormat pada nya.
Dia melangkah masuk kedalam mension nya dengan langkah gontai tak bersemangat, ingin saat ini aku menemaninya aku yakin dia pasti membutuhkan seorang teman untuk mendengarkan keluhan nya, mendengarkan apa yang sedang dia rasakan.
Aku pun kembali kekamarku dan mulai membersihkan diri, dokter yang dia katakan tadi pun sudah memeriksaku, aku semakin gelisah ketika melihat kamar bos ku dimatikan, entah kenapa perasaan ku tak nyaman, aku pun berlari kekamar bos ku dan mengetuk pintunya.
"Masuk." ucap nya.
Aku pun masuk kedalam kamar yang cahayanya redup itu, aku melihatnya duduk disofa dengan keadaan kacau, seperti biasa dia selalu meminum minuman yang bisa membuatnya tidur padahal aku benci sekali dengan itu baunya saja aku tak suka.
"What is wrong (ada apa)?" tanya nya.
"Tidak ada apa apa Mr. saya hanya khawatir pada anda." jawab ku, dia kembali meneguk minuman laknat itu.
"Aku tidak apa apa." balas nya.
"Saya harap anda bisa percaya pada saya Mr." ucapku menenangkan nya.
"Bagaimana lukamu?" tanya nya.
"Tidak ada masalah Mr. maaf jika saya lancang saya hanya khawatir terhadap anda." ucapku lagi.
"Aku laki laki kamu ga perlu sekhawatir itu." jawab nya.
"Baiklah jika anda baik baik saja saya permisi." ucap ku berpamitan.
"Aku sudah mengembalikan gadis itu ketempat yang seharusnya aku harap kamu tidak mencarinya." ucap Mr Vincent, jujur aku belum paham maksudnya disamping itu aku juga terkejut dengan apa yang dia katakan, setauku dia ada hati dengan Stella.
__ADS_1
"Kenapa Mr. apakah benar jika wanita itu tidak baik?" tanya ku penasaran, dia malah tersenyum seolah dia menertawakan apa yang aku pikirkan.
"Tidak dia baik." jawab nya.
"Lalu, apa maksud anda mengatakan telah mengembalikan dia ketempat yang seharusnya, apakah anda membawanya ketempat brengs*k itu lagi, maaf sekali lagi Mr jika saya lancang." tanyaku karena penasaran.
"Tentu saja tidak, tapi jangan bilang kamu naksir dia." ucap nya serius, tentu saja aku terkejut dengan ucapan nya.
"Tentu saja tidak Mr. saya hanya penasaran akan nasibnya karena menurut saya dia gadis yang baik dan tidak seharusnya dia berada ditempat seperti itu." jawab ku tegas.
"Kamu benar, sekarang dia sudah ditempat yang aman sudah ah jangan bahas dia lagi." ucap nya semakin membuatku curiga, tapi sudahlah aku tak ingin banyak bertanya aku percaya padanya bahwa dia tak akan berbohong dengan ucapan nya.
"Ka"
"Saya Mr."
"Minggu depan aku tidak lagi dinegara ini, aku akan pindah ke London kamu masih mau kerja sama aku atau mau cari kerja ditempat yang baru?" tanya nya, aku melihat sinar kesedihan disana dia seakan menghindari sesuatu yang tidak ingin dia hadapi.
"Bolehkah saya tetap bekerja pada anda Mr?" tanya ku.
"Apa kamu yakin Dewa Kurnia." ucap nya menyebutkan nama ku dengan sedikit belepotan.
"Oke kita berdua ke London, mari kita taklukan kota itu bersama." ucap nya sambil tersenyum.
"Siap Mr." jawab ku.
"Ka apa kamu sudah ngantuk?" tanya Mr Vincent padaku.
"Belum Mr."
"Apa kamu mau mendengar ceritaku?" tanya nya lagi.
"Tentu Mr. kenapa tidak." jawab ku.
" Nyalakan lampunya dan duduk lah." pinta nya.
__ADS_1
Aku pun menuruti perintahnya dan segera duduk didepan nya.
"Kamu penasaran ga sama orang yang menculikmu?" tanya Mr. Vincent.
"Jujur iya Mr. saya penasaran dengan beliau." jawab ku.
"Dia adalah abang tiriku, kami satu ayah beda ibu." jawab ku.
"Maaf Mr jika saya lancang, apakah hubungan anda dengan nya sangat tidak baik." ucapku.
"Bagaimana bisa baik Ka kalau apa yang aku punya dia ambil, perusahaan papi yang sudah diserahkan padaku dia rebut, rumah apartemen bahkan kapal pesiar yang aku beli sendiri juga sudah dia ambil alih, awalnya aku percaya pada nya ka, aku pikir dia mampu menjaga nya ketika aku ada panggilan kerja di Autrali empat tahun lalu dan aku ga nyangka ka tunanganku pun diambilnya, kurang sabar apa aku coba ka." ucapnya sambil membenahi posisi duduknya dan mengusap kasar air muka nya.
"Apa anda iklas kehilangan semua itu Mr?" tanyaku, jujur saat ini aku merasa iba padanya.
"Semua itu aku iklas, asal dia tak mengusik ku lagi aku heran pada nya Ka sebenernya mau nya apa sih?" ucap nya tenang sambil mengusap pelan bibir bawahnya.
"Apa kepergian anda ini untuk menghindarinya Mr.?" tanya ku lagi.
"Heemmm, aku malas terus berhadapan dengan nya." jawab nya.
"Mr. anda luar biasa." ucapku.
"Kalau boleh jujur aku lelah Ka." ucap nya.
"Makanya cari istri Mr. biar semangat." goda ku.
"Mana ada wanita yang tulus Ka, semua hanya mau harta kita." jawab nya.
"Tidak semua Mr. mungkin anda belum ketemu yang klik." ucapku berusaha menumbuhkan rasa percaya dirinya.
"Ahh semua bulshit." tambah nya.
"Mr. ku pikir anda ada rasa sama Stella." pancingku.
"Ah, enggak lah."jawab nya malu malu, tapi aku tau dia berusaha keras menyembunyikan rasanya, pancaran sinar matanya tak bisa bohong bahwa dia mencintai Stella mungkin kah dia benar benar takut terluka, mungkinkah kejadian dimasa lalunya masih menghantuinya, pria tegas yang ada dihadapanku ini masih menyimpan sejuta misteri yang harus aku selami, semoga aku mampu membantunya bangkit dari keterpurukan nya dia pria yang baik batin ku.
__ADS_1
IMPIAN DEKA.
Bersambung...