IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Bertemu Ayah Kandung


__ADS_3

Hari itu juga orang kepercayaan Deka telah membuatkan janji dengan pimpinan perusahaan Abimanyu grup yang bergerak dibidang perhotelan dan telekomunikasi.


Deka sudah mengganti bajunya dengan stelan formalnya, tak dipungkiri lagi bahwa ketampanan dan kecerdasan asisten Mr Vincent Smith ini memiliki pesona yang sangat kuat.


Deka menghentikan mobil CRV warna putih milik perusahaan dimana tempat dia bernaung, lebih tepatnya fasilitas yang bisa dia pakai selama dia kerja dengan Mr Vincent tepat didepan gedung perkantoran milik Abimanyu grup.


Jika disinggung mengenai urusan pribadi tentu saja dia sangat deg degan dan gugup karena ini adalah pertama kalinya dia akan bertemu dengan Ayah biologisnya, pria brengsek yang menghancurkan masa depan bundanya, anak pria arogan yang juga menghancurkan perusahaan milik mendiang opa nya (Ayah dari almarhum Yunita), dan sekarang sang oma yang hidup sendirian hanya menumpang hidup bersama keponakanya di Singapura, Deka berjanji jika dia berhasil dalam tujuan nya meluruskam masalah dalam keluarganya dia ingin menemui ibu dari mendiang bundanya ini untuk bersilaturahmi dan memberitahu bahwa oma tak sendirian didunia ini.


Deka melangkahkan kakinya dengan percaya diri ditemani dua asisten kepercayaan nya juga.


"Hati hati bos, lawan kita tak main main (Istri muda sang big bos Erika maksudnya)." bisik salah satu dari mereka.


"Heemm, apakah wanita itu ada disini?" tanya Deka.


"Seperti nya belum ada bos." jawab asisten Deka.


"Heemm."


Asisten Deka menemui resepsionis yang ada disana dan memberitahu maksud kedatangan mereka, tanpa banyak kata pegawai disana pun mengantarkan Deka dan kedua orang nya untuk segera menuju ruangan big bos pemilik kantor ini.


"Selamat siang Mr Abimanyu, ada perwakilah dari PT. Gabriella Smith (Vincent mengambil nama perusahaanya dari nama mendiang ibunya) yang ingin bertemu dengan anda, kemungkinan besar mereka tertarik dengan hotel kita di Bali." ucap sekertaris perusahaan ini.


"Heemmm, suruh mereka masuk." ucap Mr Abimanyu meminta sekertarisnya mempersilahkan tamunya untuk masuk keruanganya, ketiga tamu nya pun masuk.


Kesan pertama ketika Mr. Gibran menatap ketiga tamunya dia merasa biasa saja, mereka pun bersalaman bergantian, Mr Gibran mempersilahkan ketiga tamunya duduk.


Gibran menatap lagi kearah Deka, dia merasa bahwa pria muda yang ada didepan nya sangat mirip sekali dengan nya, bahkan bisa dibilang mereka kembar hanya saja rambut Mr. Gibran sedikit lebih putih.


"Eemm sori boleh tau siap namamu anak muda?" tanya Gibran pada Deka.


"Dewa Kurnia Sejati Mr." jawab Deka.


"Wah unik sekali namamu." ucap Mr. Gibran.

__ADS_1


"Boleh tau nama Ayahmu?" tanya Gibran, Deka hanya tersenyum.


"Ahh, kalau ga mau kasih tau ya ga papa, tapi kita mirip sekali rasanya." ucap Gibran, Deka kembali tersenyum ya iya kita mirip lo bapak gue batin Deka.


Kedua asisten Deka juga tak memungkiri bahwa kedua pria yang ada didepan mereka ini terlihat sangat mirip bahkan bisa dibilang sama, tapi mereka sama sekali tak berani komentar.


"Maaf Mr, apakah Hotel Victoria yang ada dipulau dewata hendak anda lelang?" tanya Deka langsung pada pokok permasalahan nya, Deka malas sekali berbasa basi dengan pria yang mulai dibencinya.


"Betul nak, kenapa bos mu tak ikut serta, apakah jadwalnya padat?" tanya Gibran, Deka hanya menjawabnya dengan angukan dan senyuman.


"Oke, apakah kalian sudah mempelajari dokumen dokumen nya?" tanya Gibran.


"Sudah Mr, bos kami memyetujuinya jika harganya menjadi 85% dari harga yang anda tawarkan." jawab Deka.


"Hotel ini sangat bagus, ramai dan strategis nak, jika tidak terpaksa saya juga tak mungkin menjualnya." ucap Gibtran, wah fix jika dia bilang begini pasti dibalik semua ini ada masalah.


"Kami tau itu Mr, karena saya juga sudah memperlajari pemasukan dan pengeluarnya, saya rasa tidak ada masalah dengan omsetnya, dan menurutku sangat stabil makanya bos kami mau membelinya." jawab Deka.


"Tentu Mr kenapa tidak, " jawab Deka, kedua asisten Deka pun keluar.


"Ada apa Mr. sepertinya serius sekali." ucap Deka.


"Begini nak, apakah bos mu juga mau membeli perusahaan ini?" tanya Gibran, wah gila ini gila, sebenernya apa masalah seberat ini hingga dia ingin melelang seluruh asetnya.


Deka mengerutkan dahinya ketika Gibran mengatakan itu, "Apakah anda keberatan jika saya menanyakan masalah apa yang sedang anda hadapi, apakah perusahaan ini mengalami krisis?" tanya Deka.


"Apakah aku bisa mempercayaimu anak muda?" tanya Gibran.


"Tentu saja Mr, kenapa tidak, saya bukan tipe orang yang suka mengumbar masalah orang yang sudah mereka percayakan pada saya." jawab Deka tegas.


"Ini semua ada hubungan nya dengan masalalu om anak muda." ucap Gibran.


"Maksud om?" tanya Deka.

__ADS_1


"Apakah kamu kenal dengan wanita yang menawarkan hotel ini pada bosmu?" tanya Gibran.


"Saya tidak mengenal mereka om, tapi bos saya bilang mereka adalah ibu tiri beliau dan teman nya atau sepupunya saya kurang paham om." ucap Deka.


"Dia adalah istriku tepatnya adalah benalu dalam kehidupanku anak muda." ucapan Gibran terdengar sangat sedih dan mendalam.


"Kenapa om bilang begitu?" tanya Deka.


"Karena inilah kenyataan nya, om sudah lelah anak muda om harus menebus kesalahan yang om lakukan dengan menjadi boneka wanita itu." jawab Gibran.


"Maaf om jika saya lancang apakah om tidak keberatan jika menceritakan secara detail masalah yang menimpa om, supaya kita bisa cari solusinya sama sama." ucap Deka, belum Gibran menjawab mereka sudah mendengar teriakan wanita dari luar.


"Astaga wanita ular itu datang." ucap Gibran, benar saja dengan emosi yanv meledak ledak Erika pun memaksa masuk kedalam ruangan kerja Gibran.


"Ehhh, siapa mereka berani sekali melarangku masuk." bentak Erika sambil menunjuk ke arah Mr Gibran.


"Bisa ga sih mah dimana mana tu ga teriak, sabar dulu napa." ucap Mr Gibran mencoba menenangkan istrinya.


"Sabar gimana mereka tak menghargaiku, mereka melarangku masuk kesini emang siapa mereka." umpatnya marah.


"Sabar atu mah malu sama tamu kita." ucap Mr Gibran lagi, Erika melirik ke arah Deka dan matanya terbelalak, bergantian dia melihat Deka dan suaminya.


"Apa kalian ada hubungan darah?" tanya Erika sambil melotot kearah suaminya.


"Tentu saja tidak nyonya anda jangan takut, anda bisa tanya ayah saya nanti jika ragu" jawab Deka dengan senyuman khas nya, duh darah emang lebih kental dari air gaes batin Deka.


"Oke baiklah aku percaya." ucap Erika.


Gibran bertambah kesah ketika Erika datang, dia merasa tertekan, Deka bisa melihat dari gestur tubuh Ayahnya, saat itu juga Deka berjanji akan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


IMPIAN DEKA


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2