IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Berat Rasanya


__ADS_3

Dua hari kemudian...


Pihak keluarga sudah memakam kan Uti Sri, Deka masih belum mengetahui bahwa wanita yang membesarkan nya telah menghadap sang Ilahi.


Uti Tika dan juga Yudha yang mendengar berita kecelakaan Deka dan kakak perempuan nya pun langsung memesan tiket dan pergi kejawa, betapa terkejutnya mereka karena mereka tak bisa melihat lagi sosok wanita tegar yang pernah menjadi panutanya.


Uti Tika menangis menjadi jadi dipusara Uti Sri, banyak kata penyesalan dan kerinduan yang dia tumpahkan disana.


"Sudah buk, kasihan Bude kalau ibu kayak gini sekarang Bude kan udah seneng buk, bude udah ketemu sama bapak," ucap Yudha menenangkan ibunya.


"Aduh le, rasanya kok kayak mimpi," ucap


Uti Tika masih belum percaya bahwa iparnya telah tiada.


Yudha mengajak Uti Tika kembali kerumah sakit karena Deka dan Arti masih belum sadarkan diri.


Banyak alat alat bantu yang tertancap ditubuh keduanya, Uti Tika terus saja menangis didepan ruang ICU dimana Deka dan Arti dirawat.


"Bagaimana kalau mereka ga selamat le," ucap Uti Tika sambil terus menangis.


"Yang sabar buk, kita doakan semoga Allah menyelamatkan mereka dari maut," ucap Yudha berusaha menguatkan ibunya.


.....


Mr Vincent dan Stella yang mendengar kabar buruk itu pun langsung terbang ke Surabaya untuk melihat langsung konsisi asistenya.


"Hallo selamat siang," sapa Vincent pada Uti Sri dan juga Yudha.


"Siang anda siapa ya?" tanya Yudha pada Mr Vincent dan Stella, mereka tampak seperti bukan orang sembarangan terlihat dari pakaian yang mereka kenakan batin Yudha.


"Saya Vincent dan ini Stella istri saya, kami sahabat Deka dan Arti," jawab Mr Vincent.


Mereka pun berjabat tangan, "Kamu adeknya Arti kan Yudha?" tanya Stella.


"Benar ce saya Yudha, maaf dari mana cece tau kalau nama saya Yudha?" tanya Yudha.


"Ya tau lah kakak kamu suka cerita soal kamu, dan aku sering lihat foto kamu dikamar Arti, oia saya Stella tante, saya teman satu rumah sama Arti, lebih tepatnya dulu saya pernah numpang hidup sama Arti," ucap Stella sambil mengulurkan tangan nya pada Uti Tika, Uti Tika yang masih dalam keadaan berkabung itu pun hanya tersenyum, sebenernya dia tau siapa Stella karena Arti sering cerita soal sahabatnya ini pada keluarganya.


"Silahkan duduk pak, ce," ucap Yudha mempersilahkan tamunya untuk duduk.


"Kalau boleh tau ibu ini siapanya Deka?" tanya Vincent.


"Saya ibunya Arti pak, mertuanya Deka, bisa dibilang eyang putrinya juga," jawab Uti Tika.


"Eyang putri, mertua bagaimana itu?" rupanya Vincent ga bisa mencerna jawaban yang diberikan oleh Uti Tika.


"Jadi bundanya bang Deka itu anak angkat orang tua saya pak, otomatis bang Deka kan cucu ibu saya, berhubung bang Deka nikah sama kakak saya jadi bang Deka juga mantu ibu saya," ucap Yudha berusaha menjelaskan susunan keluarga mereka.


"Harusnya Deka itu ponakan Arti dong?" tanya Stella

__ADS_1


"Betul ce," jawab Yudha.


"Jadi pria gila itu nikahin aunty nya," ucap Vincent, mereka pun tertawa pelan menertawakan apa yang terjadi pada Deka dan Arti.


"Benar pak, tapi mereka baru kenal pas mau nikah ya buk," ucap Yudha.


"Aku aja kaget kalau mereka suami istri, baru semalem malahan tau nya, suami saya yang kasih tau," ucap Stella.


"Mereka pandai sekali menyimpan rahasia," ucap Stella lagi.


"Padahal nikahnya udah setahun lebih ce," tambah Yudha.


"Jadi, sebelum kita nikah mereka udah nikah duluan be?" tanya Stella pada suaminya.


"He em, tapi akur nya ya pas nyomblangin kita mom," ucap Vincent membuka rahasia mereka.


"Eh tunggu be, aku inget banget pas sikodok itu ngaterin aku pulang, ga lama aku denger suara Arti lagi becanda sama seseorang, tapi nyai ga jujur waktu itu, bisa jadi becandanya ama sikodok itu," ucap Stella bercerita dengan semangatnya.


Mereka bertiga hanya tersenyum mendengar cerita Stella.


"Dasar dasar, satunya kodok satunya bunglon pinter baget nipu orang," gumam Stella.


Mereka kembali menertawakan keluguan Stella.


"Bagaimana keadaan mereka apakah masih kritis?" tanya Vincent.


"Mereka udah ga kritis pak, tinggal tunggu sadarnya aja, tapi berita buruknya uti Sri tak bisa diselamatkan beliau meninggal ditempat," jawab Yudha.


"Beliau yang membesarkan bang Deka pak," jawab Yudha.


"Tunggu saya makin ga ngerti, gimana maksudnya?" tanya Vincent kembali penasaran.


"Uti Sri itu kakak perempuan bapak saya pak, pengasuh bunda nya bang Deka juga, pas melahirkan bang Deka bundanya kan meninggal, jadi bang Deka dibawa kejawa sama Uti Sri, sedangkan kami kan bukan tinggal disini kami tinggal di Samarinda sana," jawab Yudha.


"Makin ga ngerti saya," jawab Vincent, ahirnya Yudha pun menjelaskan pelan pelan agar mengerti sejarah perjalanan kehidupan Deka, sebenernya Vincent ga mau kepo, berhubung dia sudah bertau kan tanggung kalau ga tanya sekalian.


"Ooo, jadi gitu, " jawab Mr Vincent mengerti dan paham sejarah kehiduapn asiatenya.


"Kasihan juga ya, perjalanan hidupnya lebih rumit dibanding saya, tapi dia udah ketemu kok sama keluarga kandung dari papahnya bahkan mereka lagi otw kesini," jawab Vincent.


"Beneran be, siapa papah Deka?" tanya Stella


"Pemilik Abimanyu grup mom," jawab Vincent.


"Wah, berarti sikodok itu tajir dong uppsss," ucap Stella keceplosan, seketika dia menutup mulutnya, Uti Tika dan juga Yudha hanya tersenyum, begitupun Vincent.


"Tajir lah mom, hotel Victoria yang hari itu kita resepsi kan punya dia," jawab Vincent juga, Yudha dan Uti Tika terkejut mengetahui fakta tentang Deka.


"Maaf ya bu, dia kalau ama Deka udah kayak kakak adek mereka biasa saling mengumpat," ucap Vincent.

__ADS_1


"Tak apa nak kami ngerti kok," jawab Uti Tika.


Hari semakin sore Vincent dan Stella pun pamit, Vincent meninggalkan kartu namanya pada Yudha, jika Deka sadar beliau meminta agar Yudha mengabarinya segera.


.....


Malam semakin larut, Yudha meminta Uti Tika untuk tidur terlebih dahulu, nanti gantian Yudha memperhatikan tangan Deka sedikit bergerak, Yudha melihatnya lagi memastikan penglihatan nya.


"Buk, buk," ucap Yudha berusaha membangunkan ibunya.


"Apa le," jawab Uti Tika.


"Bang Deka sadar bu," Ucap Yudha.


"Benarkah, panggil dokter dek," pinta Uti Tika, Yudha pun segera berlari mencari tim dokter yang berjaga disana.


Dokter pun segera memeriksa keadaan Deka, mereka benar Deka sudah sadar dan keadaan nya sudah mulai stabil.


Sayang nya Deka belum bisa diajak komunikasi, karena dia masih terlihat shock.


"Pasien masih shock tolong jaga emosinya ya," pinta sang dokter.


"Baik dokter, terimakasih banyak ya," jawab Uti Tika.


Dokter pun keluar meninggalkan ruang rawat Deka, "Uti, Yud," sapa Deka pelan.


"Iya bang kami disini," jawab Yudha


"Mana Uti Sri sama Mbak mu?" tanya Deka lagi.


"Mereka ada bang, Mbak diruangan sebelah, kalau Uti Sri udah tidur kan ini malem bang," jawab Yudha sedikit berbohong.


"Mereka baik baik saja kan Yud?" tanya Deka.


"Baik bang mereka ga papa," jawab Yudha, Uti Tika hanya diam dia tak berani mengeluarkan suaranya, dia takut tak bisa menahan emosinya.


"Syukur deh, Yud aku haus," ucap Deka.


"Oo, ini bang minum, abang laper ga?" tanya Yudha.


"Enggak Yud, aku mau lihat istriku sama Uti Sri," jawab Deka.


"Besok ya bang, ini sudah malem ga diijinin sama Dokter," jawab Yudha berusaha mengalihkan perhatian Deka.


"Oo, ya udah deh," Deka tak mungkin memaksa dia pun berusaha mengerti maksud adek iparnya.


Tak dipungkiri banyak sekali pertanyaan dalam benak Deka, tapi dia berusaha posistif thinking, semoga semua baik baik saja seperti apa yang Yudha ucapkan.


IMPIAN DEKA

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2