IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Deka yang Tegas


__ADS_3

Gibran menatap lekat kearah pria muda yang mengaku sebagai putranya, dia masih tak percaya apakaj perbuatan bejatnya telah membuahkan hasil, dan apa ini, saat ini Gibran tak tau dengan apa yang dirasakan oleh perasaan nya.


"Seumur hidupku hanya sekali aku melakukan itu, hanya dengan dia aku melakukannya apakah kamu putraku dengan dia?" tanya Gibran, tenggorokan nya terasa tercekik nafas Gibran terasa tak sampai didadanya.


"Anda yakin hanya melakukan itu dengan dia?" tanya Deka, Pria muda ini memiliki sikap yang tegas seperti Luis, Gibran memperhatikan dengan seksama sikap Deka.


"Tentu saja aku yakin, aku bukam tipe pria yang suka coblos sana sini." ucap Gibran, kalau yang ini Deka pasti Deka bapak nya banget.


"Apa anda mencintai bundaku?" tanya Deka.


"Tentu saja dia wanita pertama yang membuat jantungku bergetar." jawab Gibran.


"Kalau anda mencintainya kenapa anda tidak bertanggung jawab atas perbuatan anda?" tanya Deka lagi, Ya Tuhan aku seperti sedang disidang sekarang batin Gibran.


"Aku sudah mencarinya kemana mana putraku, dia pindah bersama kedua orang tuanya setelah perusahaan mereka runtuh, aku tak tau mereka pindah kemana, apakah bundamu baik baik saja?" tanya Gibran.


"Dia baik." jawab Deka, dia masih belum mau terbuka sepenuhnya pada pria yang dia yakini sebagai ayah biologisnya.


"Apakah kamu akan mengijinkan pria jahat ini bertemu dengan bundamu?" tanya Gibran memelas.


"Masalah itu nanti saya tanyakan pada bunda, boleh saya bertanya lagi." ucap Gibran.


"Boleh, tanyakan saja apapun itu." balas Gibran.


"Apakah kamu tidak tau jika saya ada?" tanya Gibran.


"Demi Tuhan aku tak tau apa apa lagi tentang kalian sejak oma dan opamu membawa pergi bundamu," jawab Gibran.


"Apa anda benar benar percaya pada kami bahwa saya adalah putra anda?" tanya Deka.


"Aku tak tau tapi feelingku mengatakan iya, kamu adalah bagian dari diriku." jawab Gibran, Deka diam ketika mendengar jawaban Gibran, Deka menundukan kepalanya tak tau apa lagi yang hendak dia katakan, tapi tidak dengan Gibran pria berusia 43 tahun itu pun terus menatap pria muda yang mirip dengan nya.


"Eheemm, maaf Mr Gibran kami tidak bisa berlama lama disini karena masih ada yang harus kami kerjakan." ucap Vincent memecahkan suasana.


"Baiklah, aku pun tak bisa mencegah kalian pergi, sebelum nya aku ucapkan banyak terima kasih atas bantuan kalian padaku, dan untukmu putraku maukah kamu bertemu dengan opamu?" tanya Gibran.


"Nanti saya fikirkan." jawab Deka.

__ADS_1


"Maafkan papa mu ini putraku." ucap Gibran lagi.


"Saya sudah memaafkan anda om kalau tidak untuk apa saya berusah payah hendak membantu anda, tapi untuk melupakan kesalahan anda terhadap bunda rasanya itu perlu proses." jawab Deka tegas, Gibran kembali menatap lekat kewajah Deka, ingin rasanya dia memeluk pria gagah didepan nya ini.


"Apa papa boleh memelukmu putraku?" tanya Gibram, Deka malah menatap Vincent seolah meminta pesetujuan bos besarnya, Vincent mengangguk tanda menyetujuinya.


Deka mendekatkan tubuhnya pertanda mengijinkan ayahnya memeluknya.


"Maafkan papa putraku." ucap Gibran, pria paruh baya yang lama terpuruk ini pun menangis bahagia, dia bangga pada dirinya sendiri karena diusia nya sekarang sudah memiliki putra yang tak kalah tampan dengan nya.


"Bilang pada bunda ya nak papa berterimakasih karena telah melahirkan dan menjagamu, sampaikan maaf papa padanya dan papa siap dengan hukuman apapun yang akan bundamu berikan pada papa." ucap Gibran sambil mengelus punggung Deka.


"Nanti saya sampaikan om." jawab Deka.


"Apakah kamu belum mau memanggilku dengan sebutan papa putraku?" tanya Gibran sambil melepaskan pelukannya.


"Maaf om saya belum berani." ucap Deka.


"Belum berani apa belum siap?" tanya Gibran.


"Baiklah papa akan nunggu kamu siap memanggilku papa." ucap Gibran, Deka hanya menganguk.


"Kami pamit undur diri dulu Mr, untuk strategi selanjutnya nanti kami kabari, senin depan kemungkinan Deka akan bekerja disini sebagai asisten anda." ucap Vincent.


"Siap, kapan pun kamu datang pintu rumah dan perusahaan papa terbuka lebar untukmu putraku, untuk penyerahan sah hotelnya nanti pengacara saya yang akan mengurusnya Mr, Vincent."


Gibran sudah menyetujui idenya untuk meruntuhkan kecongkan Erika beserta komplotanya, Deka didukung penuh oleh Vincent, itu sebabnya dia berani melangkah.


Deka membawa mobilnya dengan sangat tenang, Vincent memperhatikan wajah Deka yang tegang.


"U oke?" tanya Gibran.


"Aku baik bos." jawab Deka.


"Lebih lega kan?" tanya Gibran lagi.


"Insya Allah bos, tapi aku sedih harus berbohong soal bunda pada papa." jawab Deka.

__ADS_1


"Biarkan dia menyesali perbuatan nya dulu baru nanti kamu kasih tau kebenaran nya." jawab Gibran, Deka pun mengiyakan apa yang bosnya ucapkan.


......


Dipesawat..


"Hay brother mana bebeb gue?" tanya Stella karena suaminya tak juga masuk ke pesawat.


"Ada non dih, ga ilang suami elo ya elah." jawab Deka.


"Ya gue kan khawatir." ucap Stella sambil cemberut, tak lama Vincent pun datang dengan pakaian casualnya terlihat sangat tampan dan berkelas, Deka tersenyum pada bos nya.


"Anak buah durhaka lo, bos nya ditinggalin." umpat Vincent.


"Lah katanya tadi disuruh jagain ayang beb nya gimana sih bos." jawab Deka membela diri.


"Alasan aja kan lo, gue tau lo mau menghindar dari Cellin kan." ucap Vincent, Deka hanya tertawa pelan.


"Celli siap be?" tanya Vincent.


"Klien kita mom, gara gara ada Deka dia selalu minta mobilnya dirombak terus, udah gitu minta Deka lagi yang ngerjain hahaha." ucap Vincent.


"Udah ah bos, nyebelin banget sih." ucap Deka.


"Situ asiaten pribadi apa motir pak?" tanya Stella sambil menggoda Deka.


"Diem lo." umpat Deka.


"Berani lo ya ama bini gue." hardir Vincent.


"Ampun bos, elo sih." ucap Deka setengah sewot pada Stella.


Perjalanan dari Jakarta ke pulau Dewata terasa sangat menyesakkan bagi Deka, Deka lebih banyak diam karena masalah yang mungkin akan dia hadapi tak akan mudah.


IMPIAN DEKA


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2