
Sambil menunggu Stella siap Arti dan Deka banyak mengobrol.
"Maaf ya." ucap Arti.
"Untuk?"
"Aku udah judesin kamu." Deka sama sekali tak menyangka jika Arti wanita yang membencinya minta maaf padanya.
"Ga papa mbak santay aja." jawab Deka.
"Kamu sudah makan belum?" tanya Arti, Deka menggeleng.
"Mau makan barenga?" tanya Arti, Ya Tuhan mimpi apa aku semalem, batin Deka sekali lagi dia pun tak menyianyiakan kesempatan ini.
"Boleh kalau mbak ga keberatan." jawab Deka.
"Mari." ajak Arti, Arti pun memanaskan lauk yang akan mereka makan bersama, menyiapkan nasi dan juga sayur.
"Duduk aja, tunggu bentar ya." ucap Arti, Deka tak tau ini perlakuan seorang istri pada suami apa hanya sekedar rasa menghargai seorang tamu.
"Bisa makan udang kan?" tanya Arti.
"Bisa." jawab Deka.
"Kan bos udang ya masak ga bisa makan udang." goda Arti.
"Hanya usaha kecil kecilan mbak, jangan gitulah jadi malu saya." jawab Deka, Artibpun menyiapkan nasi untuk Deka dan lauk nya sekalian.
"Segini cukup?" tanya Arti.
"Cukup mbak." jawab nya, mereka pun makan bersama, ada rasa aneh yang menggelitik dihati kedua nya entar rasa apa itu yang jelas saat ini detik ini mereka sangat bahagia itu saja, seandainya didetik ini Deka bisa menghentikanya maka dia mau saat ini dan seterusnya akan menjadi indah seperti ini.
"Mbak masak sendiri?" tanya Deka.
"He em, enak ga?" tanya Arti.
"Enak mbak, saya suka." jawab Deka heeemmm modus berharap diundang lagi kan.
"Hari itu yang dibawa kerumah udang hasil tambak sendiri?" tanya Arti.
"Iya mbak, sebenernya saya mau bawa garam juga tapi berat diongkos hehehe." canda Deka.
"Kalau garam ga usah, udang sama uang nya aja saya mau." balas Arti.
"Hahaha, uang nya kan udah Aku kirim tiap bulan." jawab Deka.
"Iya, banyak amat kirim nya." ucap Arti sambil membereskan piring piring bekas makan mereka
"Ga pernah dipakek aja." balas Deka.
"Kok tau."
"Ya tau lah."
"Ya udah besok aku pakai jangan kaget ya."
"Sok atuh, habisin juga ga papa." jawab Deka.
Arti kembali tersenyum sambil melirik Deka, Arti mengambilkan air putih untuk suaminya, Deka kembali menerima gelas itu dengan perasaan berbunga bunga, Arti berpamitan masuk kedalam kamarnya sebentar, Deka pun menghiyakannnya.
__ADS_1
Stella keluar dari kamarnya, betapa terkejutnya dia ketika melihat Deka, apa lagi saat itu hanya Deka sendirian dimeja makan rumah Arti, apa dia sedang bermimpi, selama ini Arti selalu menjaga jarak dengan pria manapun, jangan kan membawa pria masuk kerumahnya berjabat tangan aja dia ga pernah lihat.
"Woy kodok ngapain lo dimari." sapa Stella sambil menepuk pundak Deka.
"Aduh kaget aku Ste." balas Deka sambil mengelus dadanya.
"Ngapain dimari kan aku suruh tunggu diluar , kok kamu bisa masuk ntar nyai ngamuk ga tau lo ya?" tanya Stella bertubi tubi.
"Duh Ste, kalau bukan yang punya rumah yang ngajak mana aku berani sih." jawab Deka.
"Habis makan lo ya."
"He em."
"Wah ga beres si nyai, tumben kali dia mau masukin mahluk lain jenis dengan nya." ucap Stella sambil berkacak pinggang heran.
"Maksud kamu apa lain jenis, kita sama sama manusia kan?" tanya Deka.
"Bukan mahrom bray, paham." jawab Stella kesal.
"Hahaha." Deka malah tertawa, Arti keluar dari kamarnya, terlihat dia sudah mengganti pakaian nya.
"Ar, lo ga lagi sakitkan?" tanya Stella.
"Enggak kenapa?" Arti malah balik bertanya.
"Elo kagak salah Ar masukin mahluk aneh begini, mana kasih dia makan lagi." Stella semakin penasaran dengan jalan pikiran sahabatnya.
"Kan dia tamu elo gimana sih, ga kasihan lo suruh dia diluar digigitin nyamuk, kasihan tau." balas Arti secuek mungkin, Deka hanya tersenyum mendengar perdebatan mereka.
"Udah ah, gue makin ga ngerti sama elo." jawab Stella sambil meraih tas tangan nya dan pergi keluar rumahnya.
"Aku jalan dulu ya mbak, hati hati dirumah makasih buat makan malam nya." ucap Deka.
"He em sama sama." jawab Arti, ada rasa ga rela ketika Deka harus pergi dari rumahnya.
"Assalamualaikum." ucap Deka.
"Waalaikumsalam." jawab Arti, Deka pun melangkah menuju pintu rumah Arti, Arti mengikuti langkah Deka dari belakang dan..
"Ak.." Deka mendengar Arti mengatakan sesuatu, Deka pun membalikan tubuhnya.
"Apa?"
"Belum salim." ucap Arti sambil mengulurkan tangan nya pada Deka, dengan ragu ragu Deka pun memberikan tanganya pada Arti, Arti mencium bolak balik tangan suaminya, ada sensasi aneh yang Deka rasakan tentunya.
"Hati hati ya ak bawa mobilnya." ucap Arti lagi masih memegang tangan Deka, seolah mengatakan jangan pergi.
"He em kamu juga ya." Deka pun menarik pelan tubuh istrinya dan memeluk nya sekilas, Deka juga mengecup lembut kening Arti, Arti memejamkan matanya meresapi indahnya kecupan bibir suaminya, beginikah rasanya dipeluk oleh laki laki, beginikah rasanya dicium oleh pria yang kita cintai, ah ga tau lah yang Arti tau ini sangat indah.
Deka melepaskan tubuh munggil istrinya, jujur saja ada rasa berat meninggalkan istrinya, tapi dia ga mungkin melanggar perintah bos besarnya untuk mengantarkan kekasih hati bosnya ketempat tujuan.
"Aak kerja dulu ya, kapan kapan Aak main lagi, boleh kan."
"Boleh, tapi telpon dulu takut nya Arti kerja." jawab nya.
"Baiklah, tapi Aak kan ga tau nomer kamu." balas Deka.
"Siniin ponselnya." pinta Arti, Arti hanya alasan saja sebenernya dia juga udah save nomer Deka, dia hanya gengsi jika harus menghubungi Deka duluan.
__ADS_1
"Nah udah." ucap Arti sambil mengembalikan ponsel Deka.
"Makasih."
"Sama sama."
"Aak jalan dulu ya, Asalamualaikum."
"Waalaikumsalam." jawab Arti sambil menatap kepergian Deka sampai punggung Deka benar benar sudah tak terlihat.
Arti memegang kening nya yang tadi dicium oleh Deka, Arti tersenyum sendiri dan mengguling guling kan tubuh nya diranjang, rasa ini sungguh memberikan kebahagiaan yang luar biasa untuknya, jika diingat lagi rasa bahagia ini melebihi rasa yang pernah dia rasakan dulu ketika menjalin kasih dengan Anji mantan calon suaminya. "Arti sayang Aak." gumam nya sambil menyembunyikan wajahnya dibantal karena malu pada dirinya sendiri.
.....
Didepan mobil Deka, Stella sudah mulai jengah dia pun mulai marah marah.
"Lama banget sih." gerutu Stella.
"Sabar atuh ibu ratu, tadi saya mules." jawab Deka boong, Deka pun memencet tombol kunci untuk membuka mobilnya, Stella pun masuk kedalam mobil Deka.
"Ngapain sih ngajakin jalan gue mulu, males tau kalau cuma mau curhat kan kamu bisa chat aku." gerutu Stella tak rela waktunya diambil paksa oleh Deka.
"Kali ini yang mau curhat bukan gue Ste, tapi pak bos." jawab Deka, uuuppsss keceplosan gue.
"Hah dia, ga mau ah ga jadi, aku turun aja." pinta Stella.
"Ayolah Ste pliss tolongim gue, kalau gue ga bisa bawa elo alamat besok gue dipecat Ste, gimana gue bisa kasih makan anak istri gue ntar." ucap Deka setengah bercanda tapi dalam hatinya dia serius.
"Bahahaha anak istri konon, gue tau lo jomblo kodok." ucap Stella sambi tertawa.
"Lo kok tau kalau gue jomblo, pasti si bule itu ya yang lemes."
"Dih bos nya dibilang lemes, ntar gue bilangin nyahok lo."
"Bilangin aja paling dia ngomel, hahahaha."
"Dasar anak buah durhaka."
"Kita sama Ste, hahaha." Deka terus saja tertawa dalam sela sela obrolanya dengan Stella.
"Kenapa dia mau ketemu gue?" tanya Stella.
"Dia naksir elo Ste, disambut napa?"
"Takut gue."
"Takut apaan?"
"Kelihatan dia galak."
"Enggak Ste, dia tu baik coba deh deketin, jangan jual mahal napa gue tau kok kalau lo juga suka sama dia."
"Ga tau lah Ka, jujur gue minder kalau deket doi."
"Ya kalau saran gue sih sebaiknya kalian saling terbuka aja, saling memahami siapa tau jodoh." ucap Deka, Stella hanya diam tak menjawab apa yang Deka ucapkan, tapi dia berjanji akan berusaha memahami Vincent sebisanya, siapa tau dia dan Vincent memang jodoh.
IMPIAN DEKA
Bersambung...
__ADS_1