IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Wasiat Kakung Sarjono


__ADS_3

Sebenarnya Arti belum diperbolehkan pulang, tapi Arti memaksa pulang karena hari ini adalah hari bahagia nya, hari ini adalah awal dimulanya rumah tangga yang akan Arti bangun bersama kekasih hatinya.


Senyum merekah indah dibibir manis Arti, adik kandung nya yang semalam datang juga ikut merasakan kebahagiaan itu.


Arti sedang dirias dikamar nya, semua orang yang akan menjadi saksi juga sudah siap menyambut kedatangan mempelai pria, termasuk aku.


Aku dan Uti Sri juga sudah siap di kursi penerima Tamu mendampingi Kakung Sarjono yang duduk dikursi roda.


Dia mengacungkan dua jempol padaku sambil tersenyum.


"Kamu ganteng le persis kayak ayahmu." ucap nya, seketika aku sadar bahwa kakung Sarjono tahu siapa ayahku.


"Kakung tau siapa ayahku?" tanyaku sambil mendekati agar orang lain tak mendengar pembicaraan kami.


"Tentu saja, kakung ini dulu supir kakekmu." jawab nya.


"Apa kakung mau memberitahu dimana alamat ayahku dan siapa namanya?" tanyaku. aku tau ini bukan moment yang pas untuk menanyakan ini, tapi tanpa kakung sadari dia telah membuka jalan untuk ku mengetahui siapa sebenernya keluarga kandungku.


"Mana ponselmu, ketik alamat nya." ucapnya.


Aku pun mengambil ponselku dan mulai mengetiknya.


"Nama Ayahmu Gibran Abimanyu, nama kakekmu Luis Abimanyu dan nenekmu Renata mereka tinggal di perumahan Grand Garden Of Lebak bulus no rumah nya 9C, tapi kakung ga tau ya kalau udah pindah itu alamat lama nya." jawab nya.


"Apakah aku pantas mencari mereka Kung?" tanya ku.


"Jika hanya ingin tau ga papa le asala kamu ga memaksa masuk kedalam kehiduoan mereka, mereka kan juga ga tau kalau kamu ada kalau keluarga bunda mu nanti tanya sama Uti Sri ya." ucap Kakung Sarjono.


"Baik, makasih banyak ya kung." ucap ku.


"La mana ini calon pengantin pria kok ga dateng dateng, udah telat sejam lo dari janjinya, pak penghulu juga udah nunggu ini coba suruh Utimu telpon le." pinta kakung Sarjono padaku, tiba tiba dibelakangku mbak Arti dengan baju pengantinya menyaut ucapan bapaknya.

__ADS_1


"Ga usah pak Aak Anji dan keluarga nya ga akan dateng." ucapnya dengan berlinangan air mata, bibirnya bergetar dan matanya memerah.


"Kok kamu ngomong gitu nduk, emang ada apa?" tanya Kakung Sarjono.


Mbak Arti tak menjawab pertanyaan bapaknya dia malah memilih membuang hiasan dirambutnya dan menginjak injak bunga yang ada ditanganya, kemudian dengan perasaan marahnya dia pun berlari dan masuk kekamarnya serta menguncinya. Yudha pun langsung menyusul kakaknya mencoba menenangkan nya.


Uti Tika dan Uti Sri sudah tau ini bakalan terjadi bahkan mereka berdua sudah membicatakan ketika masih dirumah sakit.


"Pak, ibu sudah tau kalau ini bakalan terjadi keluarga Anji ga ngijinin anak nya menikahi anak kita pak karena..karena.."ucap Uti Tika terbata bata karena tangisanya menyebabkan ini.


"Karena apa bu, apa karena bapak lumpuh, kita miskin apa apa bu?" tanya Kakung Sarjono dengan tubuh gemetarnya, aku pun berlutut memegangi kakung takut terjadi sesuatu pada nya.


"Karena putri kita sakit pak, putri kita kemungkinan besar tak bisa melahirkan keturunan." jawab Uti Tika, jawaban itu tentu saja mengejutkan kami yang hadir disini.


Tentu saja kabar ini membuat Shock kakung Sarjono, pandanganya kosong dia tak berucap apapun, sepertinya dia ga siap menerima kabar ini, seketika dia menangis kakung Sarjono memegang kepalanya dan menagisi keadaan putrinya tanpa kami sangka tubuh kakung Sarjono menjadi kaku dan kejang kejang membuat kami takut.


Dengan dibantu beberapa orang aku pun mengangkat tubuh pria tua ini kekamar.


Dia kamar kakung masih saja kejang, suasana menjadi ricuh, Yudha yang tadinya berada dikamar kakaknya seketika langsung masuk kekamar dan melihat keadaan bapaknya.


Uti Tika pun langsung mengambilkan obat itu, Yudha memakan nya yang langsung meniupkan kedalam mulut bapak nya, tak selang beberapa lama kakung Sarjono sudah tak kejang lagi dia sedikit lebih tenang, tapi air mata terus mengalir dari pelupuk matanya membuat kami yang ada dikamar menjadi iba.


"Pak, ini Yudha bapak ga papa ada yang sakit pak?" tanya Yudha sambil menggosok gosok tangan bapaknya.


Kakung Sarjono hanya menggeleng, dia masih saja menagis.


"Dimana mbak mu le?" tanya nya terbata bata terdengar kurang jelas maklum beliau baru mengalami kejang.


"Mbak ada pak, bapak mau ketemu?" tanya Yudha.


"Bapak ga tega le." jawab nya.

__ADS_1


"Bapak ga usah mikir macem macem, yang penting bapak sehat biar biasa nikah kan mbak nanti kalau mbak ketemu jodoh sejatinya." ucap Yudha.


"Bapak udah ga punya waktu lagi le." ucapnya seketika Uti Tika menagis menjadi jadi mendengar ucapan suaminya.


"Tidak pak, jangan bapak katanya mau temenin ibu sampek tua pak.." tangis Uti Tika kembali pecah, Uti Sri mengelus rambut adek angkatnya dan memegang tangan nya.


"Jangan ngomong gitu toh le." bisik Uti Sri ditelinga kakung Sarjono, dia kembali melihat satu persatu orang yang ada disamping nya.


"Ag..ag.." Kakung Sarjono ingin mengucapkan sesuatu tapi suaranya sudah tak sampai.


"Iya pak bapak mau ngomong apa?" tanya Yudha.


"Mbak mu menikah bapak mau." ucap nya sedikit lancar.


"Bapak mau lihat mbak menikah?" tanya Yudha, kakung Sarjono mengangguk.


"Sama siapa pak, Aak Anji ga mau." jawab Yudha, kakung Sarjono malah menjawab nya dengan menatapku, mereka semua pun ikut menatapku.


Hah, apa maksudnya ini kakaung Sarjono menginginkan aku menikahi putrinya Ya Tuhan, haruskah aku....


"Le sini." panggilnya.


"Saya kung." aku pun mendekat.


"Mau sama mbak mu?" tanya nya, mungkin maksudnya maukah kamu menikahi Arti.


Aku pun melihat Uti Sri, dia hanya menatapku seoalah memasrahkan semua keputusan ditanganku, tak ada lagi waktu lagi untuk ku berfikir, aku tak tau apakah aku terpaksa atau tidak aku pun menyetuju permintaanya.


"Iya kung Dewa mau." jawab ku.


Ketika mendengar jawabanku dia pun tersenyum dan meminta Yudha untuk memanggil Arti kekamarnya.

__ADS_1


IMPIAN DEKA


Bersambung...


__ADS_2