
Keesokan harinya Deka pun menghubungi Mbah Utinya untuk berpamitan, kali ini mbah Uti benar benar merasa keberatan akan permintaan Deka untuk kerja diluar negri, tapi Mbah Uti tak bisa terus mengikat Deka karena cucu ini mempunyai impian yang dia sendiri belum bisa membantunya.
"Ti, uti jaga kesehatan ya, jangan capek capek kalau uti ga ada yang bantu warung nya tutup aja nanti tiap bulan Deka kirim buat keperluan uti ya." ucap Deka dalam perbincangan nya dengan mbah uti tercinta nya.
"Iye le pean (kamu) juga anti ati disana ya, jangan lupa sholat, makan nya juga dijaga." setiap kali mbah uti yang sudah renta ini tetap memberikan kasih sayang nya melalui nasehat nasehat nya.
"Iya Ti siap." jawab Deka.
"Berapa lama kamu di sana le?" tanya Mbah Uti lagi.
"Belum tau Ti, nanti kalau ga repot Dewa (panggilan khusus dari Uti untuk Deka) pasti pulang dateng Uti." jawab Deka, padahal dalam hatinya dia tak akan kembali sebelum sukses, sebelum memiliki sesuatu yang bisa dia banggakan untuk melamar kekasihnya, dalam surat yang dia tulis untuk Desvita Deka meminta waktu tiga tahun untuk mewujudkan impian itu, bahkan Desvita juga bersedia menunggu nya.
"Ya sudah sing penting ati ati, uang nya kamu tabung aja le kalau untuk makan Uti sudah ada." ucap Mbah Uti.
"Jangan gitu Ti, Dewa maunya Uti ga kekurangan." jawab Deka.
"Iya pokok e jangan lupa sama pemberi hidup ya le."
"Siap Ti, Dewa siap siap ya Ti Assalamualaikum." salam Deka.
"Waalaikumsalam." jawab mbah Uti.
........
Berkas berkas yang Deka butuhkan untuk tinggal di London sudah siap, bahkan semua sudah diatur oleh sekertaris pribadi Vincent.
Deka sudah memantapkan hatinya untuk bekerja pada Vincent, bagi nya Vincent itu selain baik kadang dia juga diperlakukan seperti teman.
Dipesawat...
"Are u ready (apa kamu siap)?" tanya Vincent.
"Yes, i am Ready." jawab Deka mantap.
"London." gumam Vincent.
Deka tersenyum ketika mendengar bos nya bergumam, Deka memperhatikan lagi gerak gerik bos nya sepertinya dia memang menyembunyikan sesuatu dari nya entah apa itu tapi Deka yakin dilihat dari wajah Bosnya yang sedikit bersedih.
"Cewek disana cantik cantik ga Mr?" tanya Deka memancing bos nya agar mau terbuka.
"Cantik tapi aku sudah ga ingin." jawab nya singkat.
"Loh kenapa tumben." jawab ku.
"Ga papa, aku udah puas aja makan mereka." jawab nya singkat, aku pun makin penasaran mungkinkah ini ada hubungan nya dengan Stella.
"Apakah ini ada hubungannya dengan gadis itu?" tanya ku.
__ADS_1
"Gadis itu siapa?" kilah nya malu malu.
"Dia." jawab ku.
"Ga juga, apaan sih kamu sana cari pacar." jawab nya kembali berkilah.
"Saya ma sudah ada yang nunggu Mr, tinggal cari uang aja yang banyak biar PD buat nglamar dia." jawab ku.
"Hah." aku mengerti dia pasti terkejut.
"Kamu pacaran?" tanya nya penasaran.
"Iya Mr, tapi tak dapat restu." jawab ku terus terang.
"Why?"
"Because i'm poor (karena saya miskin)." jawab ku jujur.
"Hah." dia kembali terkejut, aku hanya tersenyum mungkin kisah kami sedikit mirip cuma sebenernya dia tidak miskin hanya kurang kaya saja dimata perempuan nya.
"Oke, kita kerja yang keras aku akan bantu kamu dapetin uang yang banyak biar kamu bisa dapetin si dia." jawab nya, wah bos ku lebih semangat dibanding aku sendiri, kembali aku bersyukur karena dipertemukan dengan orang orang yang baik seperti Mr Vincent.
"Apa kamu keberatan jika aku ingin mendengar kisah cintamu?" tanya Mr Vincent sambil menatap manja kearah ku, tatapan itu aku rasakan seperti tatapan sahabat yang sedang menggoda teman nya untuk jujur padanya.
"Hahaha baiklah, kenapa anda bersikap seperti teman padaku Mr," ucap ku.
"Mana saya berani berteman dengan anda Mr, anda bos saya." jawab ku.
"Mulai sekarang kita teman bagaimana?" tawarnya sambil mengulurkan tangan nya padaku.
"Anda yakin?" tanya ku tak percaya, dia hanya mengangguk dan tersenyum aku pun dan menyambut uluran tangan itu dengan senang hati.
"Bagus kamu jangan panggil aku Mr lagi, bisa panggil aku Vin." ucap nya.
"Tidak Mr. kalau untuk saya itu tidak sopan bagaimana kalau saya panggil anda bos biar tetap ada jarak diantara kita." ucapku.
"Oke tak masalah." jawab nya.
"Anda baik sekali Mr. tak seperti apa yang saya dengar sebelumnya." ucapku lagi.
"Memangnya apa yang kamu dengar tentangku?" tanya nya penasaran.
"Anda serius mau dengar?" tanya ku.
"Heemm." dia terlihat serius.
"Hahaha, bos bos anda itu angkuh sombong galak ga tau waktu terus apa lagi ya, ha satu lagi doyan perempuan." jawab ku jujur, dia hanya tertawa pelan sambil menutup mulutnya malu.
__ADS_1
"Apa itu penilaian orang tentangku?" tanya nya lagi.
"Sepertinya begitu." jawab ku.
"Lalu bagaimana menurutmu?"
"Anda biasa saja menurut saya, cuma saya heran bagaimana anda bisa terlibat dengan banyak wanita apakah anda memang tidak bisa hidup tanpa sex atau bagaimana?" tanyaku penasaran dengan apa yang sebenernya dia pikirkan tentang perempuan.
"Awalnya aku juga seperti kamu, aku baru pacaran sekali ya itu sama dia, aku kecewa dengan nya karena kesetiaanku tak berarti bagi nya lalu untuk apa aku tenggelam dalam memikirkan nya dia aja ga mikirin aku kan, so lebih baik seperti ini." ucap nya.
"Apa anda bahagia seperti itu bos?" tanya ku.
"Aku tidak tau." jawab nya, saat itulah aku menangkap penyesalan dan kesedihan dimatanya.
"Bos perempuan yang baik menurut anda seperti apa?" tanyaku, sepertinya menyenangkan berbagi pengalaman dengan bosku, terlebih dia lebih tua jauh dariku.
"Dia yang bisa menerima kita apa adanya." jawab nya.
"Bos anda luar biasa." pujiku.
"Kenapa?"
"Anda mampu menutupi luka anda dengan baik." jawab ku.
"Heemm." senyum nya sudah berasa tenang buatku.
"Bos anda kan kaya kenapa ga cari istri saja?" tanya ku penasaran, Dia malah tertawa dengan pertanyaan ku.
"Wanita hanya mau hartaku Ka, aku malas.." jawab nya.
"Apa anda ga ingin punya keturunan bos?" tanya ku.
"Aku belum memikirkan nya." jawabnya, tapi aku yakin sekarang dia pasti memikirkan ini.
"Katanya mau cerita soal pacar kamu, sekarang aku mau denger." ucap nya, aku pun membetulkan posisi duduk ku dan mulai menceritakan kisahku dengan Desvita wanita yang aku cintai, dia mendengarkan ceritaku dengan serius sesekali dia pun bertanya dan tertawa ketika mendengar cerita lucu tentang kami, sampai diahir cerita muka nya sedikit memerah seakan ikut dalam kesedihan ku.
"Kamu serius orang tua nya bilang seperti itu Ka?" tanya nya.
"Mana saya berani boong Bos, itu sebabnya saya nekat meninggalkan kampung halamanku agar aku sukses dan bisa meminangnya serta menunjukan pada orang tua nya bahwa aku layak untuk putrinya." jawabku.
"Sebaiknya mulai sekarang kamu mulai investasi Ka, agar ketika kamu pulang nanti sudah ada pegangan, masak kamu kamu kerja terus sama aku, kamu harus belajar mandiri dan jadi bos okey, jangan sepertiku berkelana kesana kemari tak tau arah." jawab nya memberi nasehat padaku dan aku tau dia berharap aku bisa menjadi lebih baik darinya.
"Terimakasih atas nasehatnya bos, saya akan coba menjadi yang anda sarankan." jawab ku, aku pun mulai berfikir untuk menginvestasikan hasil keringatku dikampung halaman ku, Mr Vincent benar aku tak boleh selemanya bekerja dengan orang lain aku harus belajar mandiri dari pemikiran ku.
IMPIAN DEKA
Bersambung....
__ADS_1