
Arti sedang menikmati pekerjaan barunya sebagai kasir direstauran milik Deka, Arti merasa sangat senang dan nyaman bekerja disana, karena dia diterima baik oleh para teman kerjanya, disamping dia adalah saudara perempuan sang Chef tanpan yang bekerja disitu, dia juga rajin bekerja, tak jarang Arti juga mau membantu membersihkan restauran jika waktu buka dan tutup.
Hari ini Deka dijadwalkan datang ke Samarinda, khusus hari ini Yudha menyerahkan tugas memasaknya pada para asisten nya.
"Chef kemana mbak?" tanya salah satu waiterss teman Arti.
"Katanya temen nya dateng," jawab Arti, para pekerja disini sudah tau jika chef sekaligus manager disini bilang bahwa yang datang teman nya berarti yang dia maksud adalah big bos nya.
"Ooh," jawab waiterss itu kemudian dia pun kembali bekerja.
.....
Yudha tak mau kehilangan sedikit pun kesempatan untuk mendekatkan lagi saudarinya dengan abang iparnya, sepertinya Yudha sudah terpesona dengan cerita cinta mereka.
"Ahhh, ahirnya sampai juga, Samarinda oh Samarinda," ucap Deka sambil memakai setlbelt nya.
"Tempat pujaan hati," goda Yudha.
"Kampret diem lo," balas Deka.
"Ane tau bang situ udah cemut cemut disini," tambah Yudha sambil memegang kepalanya.
"Bukan hanya disitu bro semua yang judulnya kepala dibandanku ini semuanya cemut cemut hahahahah," jawab Deka ikutan bercanda.
"Maksudnya apaan bang?"
"Nikah makanya biar tau," jawab Deka sambil merapikan kaosnya, Yudha tak mau ambil pusing memikirkan ucapan abang iparnya.
"Bang, ratu drama udah mulai kerja bang jadi kasir direstauran abang," ucap Yudha.
"Udah berapa lama?"
"Ya dari Yudha kasih tau waktu itu,"
"Oo, tanda tangan kontrak kagak dia?
"Tanda tangan bang, astaga Yudha tau abang punya rencana buat ngerjain dia kan!" goda Yudha karena dia sudah tau isi otak abang iparnya ini.
"Bagus," jawab Deka.
"Jadi kan bantuin modif ni mobil,"
"Heemmm, asal ada tempatnya,"
"Belakang rumah aja bang," jawab Yudha.
"Boleh, eh kenapa ga dibangun aja buat kontrakan tu tanah, lumayan kan buat pemasukan pacar kita?" tanya Deka
"Sertifikatnya ama ibu digadaikan bang, emang bisa dibangun, lagian belum ada dananya bang, pelan pelan nanti coba Yudha pikirkan!" jawab Yudha, mukanya terlihat sedih karena merasa belum bisa membantu orang tuanya sepenuhnya.
"Berapa digadaikan nya?"
"Ga tau bang, kayaknya tinggal berapa bulan lagi gitu ngangsurnya," jawab Yudha.
"Kita lunasi aja ntar Yud, habis itu dibangun aja, sayang deket kampus bisa dibikin usaha," ucap Deka.
"Pantesan abang tajir otaknya isinya bisnis," goda Yudha.
"Kalau ada kesempatan kenapa ga Yud," jawab Deka pelan.
"Yudha bilang dulu nanti sama ibu," ucap Yudha
"Jangan dulu, lunasi dulu nanti baru bilang," balas Deka.
"Ibu marah Yudha nanti bang,"
"Kalau pacar marah bilang aja, ntar biar abang yang ngrayu," ucap Deka.
"Bapak beneran ga salah cari suami buat putrinya," puji Yudha.
"Dulu bilang salah," balas Deka.
"Tapi kalau sama mbak kok takut bang kenapa?" tanya Yudha.
__ADS_1
"Bukan takut Yud, abang hanya ga mau nyakitin dia," jawab Deka.
"Yudha tau itu karena abang cinta ama wanita pemarah itu," Deka hanya tersenyum mendengar ucapan adek iparnya.
"Bang, bagusnya ni mobil dimodel gimana ya?" tanya Yudha sambi mengendarai mobil yang baru dibelinya.
"Dibikin kayak lamborgini juga keren, kasih buka tutup atapnya," jawab Deka asal.
"Wihh boleh bang kalau abang bisa ma," tantang Yudha.
"Dih, langsung nyamber, tapi dana nya lebih banyak dibanding harga mobil ini," jawab Deka.
"Hah, kagak jadi kalau gitu Hahaha, rencananya Yudha mau kayak mobil abang yang hari itu distory,"
"Boleh," jawab Deka
Yudha melajukan mobil nya kearah restauran agar abang iparnya ini bisa segera bertemu dengan pujaan hatinya.
"Ni bang kunci kantornya," ucap Yudha sambil memberikan kunci pintu ruangan khusus buat Deka.
Deka pun mengambil kunci itu dan kembali memakai kaca mata hitamnya, Deka keluar mobil dengan gagah nya, bahkan pelanggan direstauranya yang rata rata anak kuliahan itu pun terdengar berbisik bisik.
Deka langsung masuk dari pintu samping, karena biasanya dia pun lewat situ.
Para kariawan yang melihat kedatangan Deka langsung menyambutnya dan memberikan salam." Siang pak bos," sapa mereka bergantian.
"Heemm, siang," balas Deka kemudian berlalu menuju ruangan nya.
"Yud, bagian pembukuan suruh keruanganku," pinta Deka, Yudha yang tanggap pun langsung meminta Arti keruangan bos mereka yang tak lain adalah suaminya sendiri.
"Siang cewek," sapa Yudha seperti biasa, jika ada kesempatan dia selalu menggoda saudarinya yang pemarah itu.
"Apaan sih," jawab Arti mengerutkan dahinya marah.
"Dih disapa baik baik marah mulu ya bawaan nya," balas Yudha.
"Apaan," kembali Arti menjawabnya dengan nada ketusnya.
"Bos ada?" tanya Arti.
"Ada barusan dateng," jawab Yudha.
"Galak kagak?" tanya Arti.
"Tergantung,"
"Dih serius ni,"
"Loh, asal mbak kerjanya bener kagak korup juga, ngapain takut," ucap Yudha, terlihat dia juga udah pakai sragam kerjanya.
"Iya deh, terus ini siapa yang mau jaga?" tanya Arti.
"Biar Lusi nanti yang jaga, Yudha udah bilangin kok," jawab Yudha.
"Oke deh," jawab Arti kemudiam mengambil buku besarnya dan segera pergi keruangan dimana bos nya berada.
Dengan perasaan sedikit gugup Arti pun mengetuk pintu itu, dia masih belum tau jika bos nya adalah pria yang di bencinya sejak ingatanya hilang beberapa bulan yang lalu.
Mendengar pintunya diketuk Deka pun memperisilahkan tamunya untuk masuk.
"Masuk," jawab Deka, Arti yang mendengar perintah itu pun segera membuka pintu itu.
Betapa terkejutnya Arti jika yang menjadi bos nya adalah pria yang mengaku sebagai bos nya.
"Kamu," ucap Arti lantang.
"Kamu apa, sama suaminya kok kamu kamu," jawab Deka tak mau kalah, Arti masih berdiri tak bergeming didepan Deka.
"Dih siapa yang mau jadi istri kamu," gerutu Arti.
"Ga mau kok cincin kawin nya masih dipakai," jawab Deka tak kalah ketus, Arti melihat cincin yang ditangan nya, jujur Arti tak tau jika cincin yang ada dijari manis nya adalah cincin pernikahan nya dengan Deka.
"Kan aku ga tau kalau ini cincin kawin kita," balas Arti ketus, Deka menatapnya dengan tatapan sedikit mengintimidasi, Deka tak meu mengalah sekarang dia lebih berani memainkan emosi istrinya.
__ADS_1
"Nih aku balikin," ucap Arti sambil membuka cincin yang ada dijarinya.
"Coba aja kalau kamu berani nglepas, aku perkosa kamu disini sekarang juga," ancam Deka, Arti yang mendengar ancaman Deka langsung saya mengidik ngeri, dan langsung memeluk buku besar yang dipegangnya.
Deka berjalan mendekati Arti, Arti yang ketakutan pun berjalan mundur, "Mau ngapain kamu," ucap Arti gugup.
"Ga usah ge er, aku mau ngambil buku ini," jawab Deka sambil merebut buku dipelukan Arti, mata mereka saling menatap sekilas, gugup pasti deg deg an iya, Deka harus berusha keras melawan hasrat nya.
"Duduk kamu," perintah Deka.
Arti yang merasa takut pun segera menuruti keinginan Deka, duduk manis dan diam.
Deka mulai memeriksa hasil kerja Arti, dan mulailah dia berulah.
"Apa ini, kenapa bisa salah hitung semua, kamu bisa kerja ga," hardik Deka, membuat Arti sedikit gemetar, eh gayanya sok galak di galakin dikit aja mau nangis batin Deka.
"Ngapain nangis!" hardik Deka lagi.
"Mana ada yang salah sih," jawab Arti pelan.
"Sini kalau ga percaya," jawab Deka, Arti pun berjalan mendekat dan melihat apa yang Deka tunjukan.
"Mana!" ucap Arti pelan.
"Duduk sini kamu," pinta Deka, dia pun beranjak dari kursinya dan digantikan Arti.
"Aku duduk situ aja," pinta Arti sedikit takut.
"Udah salah bantah lagi, itung ulang," pinta Deka sambil memberikan kalkulator pada Arti, Arti pun mulai melakukan pekerjaanya, merevisi ulang pembukuan nya.
Deka memperhatikan wanita yang dia rindukan, manis banget sih, Deka menunggu Arti bekerja sambil memainkan ponselnya.
tak jarang mereka saling curi curi pandang.
"Ngapain nglirik nglirik, udah ketemu belum salahnya?" tanya Deka dengan gaya bossy nya.
"Ga ada semua sama," jawab Arti.
"Kalau sama ya udah ngapain kamu otak atik lagi," jawab Deka mulai mempermainkan Arti.
"Dih, gimana sih tadi katanya ada yang salah," gerutu Arti.
"Emang ada, kamu aja yang ga teliti," jawab Deka tak mau kalah.
"Mana sih, aku itung bolak balik sama ko, jumlah kes sama debetnya juga sama," jawab Arti.
"Kalau aku nemuin kesalahan kamu gimana?" tanya Deka, Arti kembali meliriknya kesal.
Deka berdiri dan mendekati Arti serta mengukungnya dikursi kerjanya, Deka sungguh membuat Arti takut kali ini.
"Jauhan ih," pinta Arti.
"Kamu lihat baris ketujuh tulisan kamu, itu ada kurang nol kan," tunjuk Deka, Arti pun mengecek ucapan Deka.
"Hanya kurang nol kan, tapi hasil nya bener," jawab Arti.
"Mana bisa begitu, nol ya kurang hasilnya bisa sama, kamu ngeyel ya," ucap Deka.
"Enggak, maaf," ucap Arti sambil menunduk, hati Deka sedikit goyah dengan permintaan maaf istri cantik yang dia rindukan, Deka tak mau mempermainkan istrinya lagi dia juga takut tak bisa mengendalikan keinginan nya untuk tidak menyentuh pujaan hatinya.
"Hemm, benerin," pinta Deka, Arti pun segera mengambil tip-x dan menghapusnya.
Deka melirik lucu pada wanita galaknya.
"Kamu boleh pergi, kerja yang bener," ucap Deka.
"Baik pak," jawab Arti, kemudian dia pun segera keluar dari ruangan Deka, Deka tertawa puas karena berhasil mempermainkan istrinya.
"Kamu yang mulai han, maka nikmatilah," ucap Deka mulai menyusun strateginya untuk kembali menjahili Arti, semoga berhasil ya ak..
IMPIAN DEKA
Bersambung...
__ADS_1