
Tubuh Deka babak belur karena menjadi bulan bulanan kelima tahanan yang memang dipersiapkan Erika untuk menghajarnya, Deka lemah tak berdaya, tapi dia tetap melindungi alat vitalnya dari tendangan dan pukulan anak buah Erika yang satu sel denganya.
Baju Deka sudah tak berbentuk, semua merah penuh darah, hati Deka remuk redam dia tak menyangka akan melewati hari ini.
Malam pun datang Deka membuka matanya karena siraman air yang ditujukan padanya, mata Deka yang semula terpejam seketika dia buka mesti berat, astaga apa lagi ini batin Deka, Deka didudukan disebuah kursi kayu dengan tangan diikat dibelakang, sungguh penyiksaan tahap mutakir kali ini, Deka sudah tak berasakan perih lagi semua tertutup oleh rasa penasaran kenapa dia diperlakukan seperti ini, apa salah nya.
Bukan Dewa Kurnia Sejati namanya kalau tak bisa menguasai emosinya, " Wah anak emas kita sudah bangun rupanya," ucap kepala preman yang ada disitu.
Deka masih diam, meski tak punya tenaga tapi dia berusaha menyusun strategi untuk menyerang.
"Makanya jadi orang tempatin nafsu yang bener jangan asal coblos hahahaha, bagaimana kalau kita pakek dia aja bos," ucap salah satu dari mereka.
"Ide bagus, buka celananya," perintah ketua preman itu, Deka sudah bersiap mencari ancang ancang menyerang mereka.
Ketiga preman itu memegang Deka dan bersiap melakukan hal yang menjijikan padanya, Dengan sigap Deka memutar badanya dan menendang mereka satu persatu, dengan kondisi tangan masih di borgol dia berhasil mengangkat kursi kayu yang tadi digunakan untuk mengikatnya, dengan kekuatan yang masih terisa dia mulai melancarkan aksinya, Deka melempar kurai itu hingga mengenai salah satu preman yang menyiksanya.
Di tendang nya satu persatu preman yang memeganginya tadi, dua preman berhasil dia patahkan tanganya, dengan menjadikan badan kedua preman yang dipegangnya, dia berhasil melayangkan kaki panjangnya menendang salah satu lawanya, Deka menabrakan kedua kepala preman yang dia pegang, seketika darah mengucur dikedua kepala itu, Deka kembali memegang kedua kepala itu dan Taaaakkk pemilik kepala tersebut terkapar tak berdaya mungkin leher mereka patah, mereka bertiga pingsan.
Deka berhasil melumpuhkan tiga lawanya, hanya tinggal dua orang lagi yang masih bertahan yaitu ketua preman yang sudah siap dengan alat vital nya yang ditengarai dia adalah pimpinan preman tersebut, Deka tertawa melihat senjata milik preman sialan itu.
Deka kembali tertawa pelan meledek preman itu, "Kamu mau memakai senjata kecilmu itu untuk menusuk ku hahaha, sini coba aku mau ngrasain hah," ucap Deka.
Preman itu menyerang Deka, Deka yang sudah siap dengan kuda kudanya langsung meloncat dan menendang perut lawanya, dia memutar lagi berusaha meraih celana lawan nya, ditariknya celana itu dan dihempaskan dengan kuat tubuh preman murahan itu, preman itu pun jatuh tersungkur, dengan sigap Deka pun memutar kepala lawannya hingga pingsan.
Tinggal satu lagi cecunguk yang bertahan, Deka duduk diatas tubuh kepala preman itu dengan gaya bossy nya, "U mau berahir seperti mereka? " tanya Deka dengan santainya.
"Tidak ampun bos," ucap preman sialan itu.
__ADS_1
"Siapa bos kalian?" tanya Deka.
"Ampun bos," ucap nya lagi sambil bersimpuh dihadapan Deka, sepertinya tubuh pria yang dia duduki hendak bangun dan Plaaaakkk Deka kembali membuatnya pingsan.
"Kamu tau siapa aku?" tanya Deka.
"Tidak bos," jawabnya gemetar.
"Hemm, aku hanya mau tau siapa yang menyuruh kalian?" tanya Deka.
"Maaf bos," jawab nya ketakutan, Deka beranjak dari duduknya bersiap menghajar preman sialan yang tersisa ini.
"Oke jika kamu ga mau kasih tau maka bersiapalah merasakan apa yang teman kalian rasakan, aku tak takut dipenjara seumur hidupku hanya karena membunuh kalian, apa kamu tau kasusku masuk sini hah," ancam Deka sambil mencengkeram leher lawan nya.
"Ampun bos, tidak bos," ucap nya dengan gemetar.
Deka melihat CCTV dipojokan ruangan dimana dia disekap, dengan kayu sisa kursi itu Deka melemparinya hingga kamera CCTV itu tak berfungsi.
"Maaf kami diperintah oleh nyonya Erika," jawab nya langsung ketika dia sudah memegang gagang kayu untung menghajar preman murahan dihadapanya ini.
"Kalian mau selamat apa tidak?" tanya Deka.
"Mau bos," jawab nya menggigil, Deka melirik celana preman itu basah sepertinya dia mengompol.
Dalam hati Deka dia tertawa, "Astaga segitu doang mental elo, anJrrr," batin Deka.
"Mulai sekarang laporkan pada bos kalian sesuai apa kataku kamu mengerti," ucap Deka.
__ADS_1
"Mengerti bos," ucap Deka.
"Bangun kan mereka," perintah Deka, preman itu pun menuruti perintah Deka dan membangunkan teman teman nya.
Deka melipat tangan nya dan berdiri tegak di depan mereka, "Masih ada yang mau lagi hadiah dariku?" tanya Deka.
"Tidak bos ampun," jawab mereka.
"Hemm, mulai sekarang kalian tawanan ku mengerti," ucap Deka.
"Ampun bos," jawab mereka.
"Laporkan apa yang bos kalian ingin dengar, bilang pada nya jika kalian sudah berhasil melumpuhkanku, minta pada sipir dan para penyidik sialan itu untuk menaruhku satu sel dengan kalian, kalian harus tetap berada disampingku jika tak ingin mati, kalian mengerti," Deka benar benar pengeluarkan taring nya, Ingin menghancurkan lawan bukankah harus berkawan dengan mereka.
"Baik bos," jawab mereka serempak.
"Bagus, kalian ingat apa yang harus kalian lakukan?" tanya Deka.
"Ingat bos," jawab Mereka.
"Sekarang ikat aku lagi dan bereskan kekacauan ini, dan kamu jangan pernah tunjukan senjata kecilmu itu padaku jika tak ingin aku memotongnya kamu paham," pinta Deka.
"Paham bos ampun," jawab nya gemetar sambil memegang lehernya yang bermasalah.
Mereka pun menuruti perintah Deka, agar sipir dan penyidik yang tidak curiga.
Deka kembali duduk diposisi semula, para preman itu hanya berdiri diam didepan Deka, Deka memutar otaknya mencari cara bagaimana dia bisa keluar dari sini dengan bebas dari segala tuduhan, memang dia berhasil menklukan para anak buah Erika disini tapi belum tentu dia bisa lepas dari hukum yang menjeratnya, "Astaga, brengsek," gumam Deka.
__ADS_1
IMPIAN DEKA
Bersambung....