IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Makin Menjadi


__ADS_3

Yudha menuruti apa yang abang iparnya sarankan, Yudha sudah mulai mencari tempat untuk dia memulai usaha, Deka dengan sabar mengajari Yudha tentang ilmu manajemen yang dia pelajari, Yudha semakin kagum dengan kecerdasan abang iparnya, rasa profesiolisme dalam pekerjaan yang dimiliki Deka sangat tinggi.


"Abang."


"Heemm."


"Mau dong pinter kayak abang." ucap Yudha.


"Pinter apa sih, pelajari aja yang ada disekitar kamu." jawab Deka.


"Abang yakin nyerahin usaha abang ini ke Yudha?" tanya Yudha.


"He em."


"Abang ga takut modal abang ga balik?" tanya Yudha.


"Dih itu lagi dibahas, rejeki itu udah ada yang ngatur Yud kamu ga usah takut." jawab Deka.


"Abang dimari sampai kapan?" tanya Yudha.


"Uti Sri masih mau nemenin adeknya, kalau abang ma nurut aja sama dua wanita bar bar itu haha." jawab Deka, masih sibuk dengan laptopnya.


"Hahahahaha, nasibmu bang jelek kali." goda Yudha.


"Ga papa santuy aja, semua ada waktunya." jawab Deka masih dengan positif thinking nya.


"Abang lagi ngerjain apaan sih?" tanya Yudha penasaran dengan apa yang Deka kerjakan, dari tadi dia hanya melihat angka angka dan tulisan yang tidak dia mengerti.


"Ini harta milik bos besarku Yud, laporan bulanan, gaji pegawai dan lain lain." jawab Deka.


"Abang acounting?" tanya Yudha.


"Bukan." jawab nya.


"Lalu?"


"Asisten pribadi ngrangkap supir rangkap teman rangkap sahabat bisa dikatakan juga istrinya hahahaha," jawab Deka asal.


"Hah, jadi abang gay?" ucap Yudha, Deka melirik adik iparnya dengan tatapan terkejut juga.


"Enggak lah ngawur kamu, aku normal ya." jawab Deka geram.


"La tadi bilang nya?"

__ADS_1


"Aku hanya bercanda Yud, astaga." ucap Deka.


"Huuff lega aku bang, kirain abang gay."


"Hahahaha, kamu ini."


Tak lama Deka mendapatkan panggilan Vidio dari Vincent, Yudha tak begitu paham dengan apa yang mereka bicarakan soalnya bahasa mereka campur aduk, tapi Yudha percaya bahwa hubungan abang nya dengan bos nya boleh dibilang seperti saudara dan sahabat.


"Bang, itu tadi bos abang?" tanya Yudha.


"Iya dia bosku."


"Anjayy bang, kelihatanya bukan orang sembarangan."


"Emang ada ya orang sembarangan." goda Deka.


"Bukan bang maksudku itu dia kelihatan tajir." jawab Yudha.


"Kamu itu, nglihat orang jangan dari hartanya." ucap Deka.


"Ya itu kan umum bang." ucap Yudha.


"Heemm."


Sudah hampir sebulan Deka ditinggal dirumah Arti berarti hampir sebulan juga dia menjadi suami Arti.


Arti bukan wanita yang mudah ditaklukan rupanya, dia hanya melakukan hal sesuai dengan keinginan nya.


Malam itu Deka ingin membicarakan perihal keinginan nya untuk kembali ke jawa dan sekalian bertanya apakah Arti mau ikut dengan nya apa masih mau stay disini.


"Mbak." Arti hanya melirik malas pada Deka.


"Sepertinya Deka ga bisa lama lama disini soalnya Deka masih banyak kerjaan dijawa, mbak mau ikut Deka apa masih masih mau disini?" tanya Deka dengan suara halusnya.


"Apaan sih, kalau mau pulang ya pulang aja sana ngapain nanyain aku mau ikut apa ga, kita kan udah sepakat ga ada apa apa diantara kita." jawab Arti ketus, tu kan salah lagi gue


"Ya aku kan cuma nanya mbak, bagaimanapun aku suamimu entah mbak mau mengakuinya apa tidak." jawab Deka apa adanya, Arti kembali meliriknya dengan tatapan permusuhan.


"Aku pengen kerja lagi, aku mau pulang ke Jakarta." jawab nya, oke jika itu mau kamu batin Deka.


"Boleh ga masalah, boleh minta nomer regkening kamu?" tanya Deka.


"Buat apa?" tanya Arti sambil merapikan baju baju nya dan menyusun nya dilemari miliknya.

__ADS_1


"Ya selama aku jadi suami kamu aku kan berkewajiban nafkahin kamu mbak." jawab Deka.


"Ga usah aku ga butuh." ucap nya kembali menolak Deka.


"Aku tau itu, aku hanya ga ingin menulis dosa dipundakku." jawab Deka, kemudian dia pun beranjak dari tempat duduknya dan mengambil koper yang ada di pojok ruangan dan mulai memasukan baju bajunya disana.


Arti membiarkan Deka merapikan baju bajunya tanpa mencegahnya.


"Aneh kenapa marah bukan kah dari awal sudah sepakat." gumam Arti.


"Aku ga marah mbak, aku hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah aku tanda tangani, mbak tanggung jawabku sekarang baik itu didunia maupun diahirat." jawab Deka masih merapikan barang barang nya lagi.


Arti diam, dia paham dengan apa yang Deka maksud.


"Sudah lah ga usah sok sok an jadi suami kamu," ucap Arti masih berusaha keras menolak Deka dengan kata kata pedasnya.


Jujur saja ucapan terahir Arti sangat menyakiti perasaan nya, dia pun mengambil ponselnya dan segera memesan tiket untuk nya kembali ke Jawa, terserah Arti mau ikut apa enggak yang penting dia sudah berusaha semampunya untuk bertanggung jawab pada kewajiban nya.


Koper Deka sudah siap, bahkan dia juga sudah memasuka berkas berkasnya ditas rangselnya.


"Mbak sekai lagi aku tanya, mbak mau ikut aku apa enggak?" tanya Deka.


"Enggak dibilang, maksa banget sih." ucap Arti dengan nada ketusnya.


"Baiklah." Deka mengambil ponselnya lagi dan menghubungi agen tiket yang dia pesan untuk perjalananya besok.


"Mas, tiketnya satu aja atas nama Deka Kurnia sejati." ucap nya, Arti malah tak perduli dia malah memilih masuk kekamar mandi dan membersihkan dirinya.


Deka menggeleng gelengkan kepalanya, "Astaga mimpi apa aku punya istri ga tau aturan kayak gitu." gumam Deka.


Deka membuka lagi aplikasi diponselnya, dia melihat album foto pernikahanya dengan Arti.


"Akan kah aku sanggup bertahan dengan penolakanya Tuhan, aku sudah berusaha tapi terus mendapat penolakan darinya." gumam Deka.


Deka mengambil bantal diranjang dan mulai merapikanya di sofa, iya sejak malam pertama pernikahan mereka Arti tak mengijinkan Deka tidur diranjang nya, karena Deka pernah tak sengaja memeluknya dan Arti marah besar padanya, ahir nya mau tak mau Deka memutuskan tidur di sofa agar tak melakukan kesalahan itu lagi.


Deka pura pura memejamkan matanya, dia ingin tahu apa yang akan Arti lakukan setelah tau dia akan pergi meninggalkan nya.


Arti adalah Arti wanita keras kepala yang tak perduli dengan perasaan siapapun sejak Anji memutuskan jalinana kasih mereka.


Meski ini tak adil untuk Deka, dia tetap tak perduli, yang dia mau hanyalah aku adalah aku, dia tak akan pernah perduli lagi dengan orang orang yang ada disekitarnya meskipun itu adalah suaminya.


IMPIAN DEKA

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2