
Seakan dikejar waktu aku pun berusaha menelan mentah mentah kegugupanku, ku lihat nafas kakung Sarjono makin tersegal segal, matanya makin tidak lagi fokus
Mbak Arti menangis sambil menciumi tangan bapaknya, aku tau dia pasti terpaksa menerima ini sama sepertiku, tapi kami berdua tak ada pilihan lain selain mengiyakan keinginan terahir Kakung Sarjono.
"Menikah ya." ucap kakung Sarjono pada putrinya.
"Iya pak Arti mau nikah." jawab nya sambil menangis dan menangis.
Yudha memanggil penghulu yang ada diluar untuk menikahkan kami berdua, dikamar itu hanya ada aku dan Arti sebagai mempelai, kakung Sarjono sebagai wali nikah, Uti Sri , Uti Tika dan Yudha menjadi saksi ikrar janji yang akan aku ucapkan untuk menjaganya, selalu setia dan memghormati Arti sebagi istriku.
Aku mengucapkan ijab Qobul ini dengan lancar hanya dengan satu tarikan nafas, entah kenapa nama Arti Cahaya Bening begitu lancar aku ucapkan seolah aku sering melafalkan nya.
"Saksi Sah?" tanya penghulu yang masih menjabat tanganku, "SAH." jawaban itu keluar dari bibir seluruh saksi yang menyaksikan pernikahan dadakan kami, meski aku hanya sebagai pengantin pengganti entah kenapa kebahagiaan sedikit menggelitik hatiku. Ya Tuhan inikah anugrah yang kau berikan padaku tanpa aku minta, dia kah pengganti kekasihku yang telah engkau pisahkan dengan caramu, aku masih belum mengerti dan belum bisa memahami ini.
Penghulu kembali membacakan doa seusai para saksi mengatakan sah, Kakung Sarjono tersenyum lebar, semua saksi mengamini doa panghulu untuk kelanggengan rumah tanggaku dengan Arti, sayang ya suasana kebahagiaan yang barusan aku rasakan terganti suasana pilu, karena saat itu juga Kakung Sarjono menghembuskan nafas terahirnya, beruntung nya Yudha masih bisa menuntunya dengan menyebut asma Allah dengan lancar, dia menatap ku lagi setelah itu seolah mengatakan tolong jaga putriku dan aku pun menjawab dengan agukan.
Kakung Sarjono telah menutup matanya untuk selama lamanya, meninggalkan tanggung jawab yang sangat besar padaku yaitu memintaku untuk menjaga putrinya, Ya Tuhan mungkin kah aku sanggup sedangkam aku belum memahami apakah ini nyata atau mimpi, ahhh aku pikirkan nanti yang penting jalani dulu apa yang ada didepan mataku.
Alunan merdu lantunan ayat suci Al quran mengiringi jenazah kakung Sarjono yang terbaring kaku di tempatnya, semua keluarga terpukul akan musibah ini, harusnya hari ini adalah hari yang membahagiaakan buat mereka karena putri mereka naik kepelaminan, tapi apa semua berbalik 180 derajat karena pihak pengantin pria membatalkan sepihak acara ini.
Ah, Tuhan sudah berkehandak tidak perlu disesali, mungkin ini memang rencana terbaik yang dia rancang untuk kita semua.
Aku memikul jenazah pria penyelamatku dan ibuku, bahkan dia memberikan putrinya padaku, air mataku terus mengalir mengiringi kepergian nya, dialah sosok pria yang aku anggap sebagai ayahku meski baru beberapa hari aku mengenalnya.
Tanah merah menjadi tempat peristrirahatan nya yang terahir, doa selalu ku panjatkan untuknya agar dia mendapat tempat terbaik disisi Allah pemilik hidup dan mati.
__ADS_1
Aku melihat Yudha memapah Arti, ingin rasanya aku peluk wanitaku dan menenang kanya tapi aku takut dia akan menolak ku.
Uti Tika beberapa kali pingsan dipemakaman, wanita tua yang selalu setia mendampingi dan merawat suaminya ini tak kuasa menahan perpisahan yang menyakitkan ini.
Aku menggendong wanita tua itu kemobil diikuti oleh Uti Sri dan ibu Surti yang terlihat juga shock tapi berusaha keras tegar.
"Le, istrimu mana?" tanya Uti Sri padaku.
"Masuk mobil Yudha ti, ga papa kita bawa Uti Tika aja (Saat itu juga aku melihat istriku pingsan didepan mobil Yudha) bentar ya Ti, Istriku pingsan." aku pun segera keluar mobil dan berlari menghapiri istriku.
"Yud." panggilku.
Tanpa aku sadari aku langsung membopong tubuh istriku dan masuk kedalam mobil milik Yudha.
"Yud, kamu bawa mobil itu aja, biar mbak mu aku yang bawa." pinta ku, Yudha pun paham dia pun segera mengiyakan.
Aku semakin panik karena dia tak kunjung bangun, kuputuskan untuk melajukan kendaraanku, dia masih saja terlelap kulirik lagi dia ada rasa lucu juga membayangkan reaksinya ketika dia tau aku membuka kerudung dan kancing bajunya.
Mobil yang dikendari Yudha sudah sampai didepan rumah, kulihat Uti Tika sudah sadar dia sudah bisa berjalan masuk kerumahnya dengan dipapah oleh Uti Sri dan ibu Surti.
Yudha mendekati mobilku, aku pun membuka kaca mobilku sedikit.
"Biar aku aja yang bawa mbak mu Yud." ucap ku.
"Baik bang." jawab nya, huff untung dia tak melihat kondisi mbak nya, kalau lihat malu aku terciduk oleh nya.
__ADS_1
"Mbak, mbak." panggilku sambil menepuk nepuk pipi nya pelan, halus sekali pipi ini, dicium dikit ga papa kali ya, aku sedikit memanfaatkan kesempatan ini ku kecup kening wanita ini dan mencium aroma harum pipinya, duh jangan sampai orang nya tau kalau aku telah mengambil kesempatan ini untuk nakalin dia.
"Mbak, mbak Arti, mbak.." dia sedikit bergerak pertanda dia sudah mulai sadar, pelan pelan dia membuka mata nya, saat melihatku dia pun terkejut.
"Siapa kamu, ngapain kamu dikamarku." astaga mbak ini mobil batinku, aku pun tersenyum melihat tingkah nya.
"Saya Deka mbak." jawab ku.
"Ngapain kamu dikamarku." tanya nya, dia pun duduk dan tersadar bahwa kita sekarang berada di mobil, dia kembali terkejut karena rambut yang tadi digulungnya seketika jatuh dan terurai, dia pun memegang kepalanya dan mencari hijab nya.
"Ahhh, mana mana mana kerudungku, apa yang kamu lakukan hah." ucap nya panik, aku pun santai saja menanggapinya dengan senyumanku.
"Itu dipangkuan mbak kan hijab nya." jawab ku menggunakan gaya santaiku, dia istriku ini bantinku.
"Kamu ngapain buka buka kerudungku hah, mau mesum ya." jawab nya sambil merapikan rambutnya, matanya pun melihat kancing bajunya yang tadi ku buka.
"Ini, ini apa ini kamu ngapain aku Deka." ucapnya ketakutan.
"Aku ga ngapa ngapain kamu mbak, tadi mbak pingsan, habis itu aku cuma buka kerudung mbak aja biar mbak ga sesak." jawab ku apa adanya
"Jangan pernah kayak gini lagi, awas kalau kamu berani macam macam." ancam nya, aku belum menjawab ancamannya tapi dia sudah membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar.
"Astaga dia galak sekali." gumam ku, aku hanya menatap kepergiannya dengan perasaan tak menentu, Ya Tuhan apa yang aku lakukan tadi, meskipun aku hanya pengantin pengganti untuknya tapi aku tetap suaminya kan, aku ga salah kan, boleh kan aku begitu tadi.
IMPIAN DEKA
__ADS_1
Bersambung....