IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Tak Ada Pilihan Lain


__ADS_3

Pagi menjelang Arti suara azan subuh berkumandang, Uti Tika yang mendengar itu langsung bangun dan bersiap membersihkan dirinya, Uti Tika terpana melihat pemandangan yang menurutnya tak lazim, barusan malam tadi putrinya marah marah kini terlihat nyaman dipelukan pria yang semalam dia judesin.


"Dek, dek," ucap Uti Tika sambil menggoyang goyangkan tubuh putranya.


"Eemmmhh, apa buk," jawab Yudha masih merasakan berat dimatanya.


"Coba kamu lihat mereka," tunjuk Uti Tika.


"Apaan buk,"


"Itu loh," tunjuknya lagi sambil tersenyum geli.


"Hahaha, dasar ga tau malu mereke kira kita apaan buk," ucap Yudha ikutan tertawa pelan, dasarnya Yudha dia pun iseng diambil nya foto mereka sedang berpelukan, terasa nyaman rasanya, Yudha pun ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan.


"Kita tinggalin mereka aja buk, mereka kira kita apaan," umpat Yudha.


"Ayok Dek, sepertinya mereka udah baikan, " jawab Uti Tika, mereka pun memilih pulang tanpa pamit.


.....


Arti merasa tubuhnya menahan beban yang sangat berat, Arti berusaha mendorong tubuh besar Deka yang menindihnya.


"Pak, pak," panggil Arti.


"Apaan han," jawab Deka.


"Tolong menjauhlah aku ga bisa gerak," ucap Arti, seketika Deka sadar bahwa dia telah menindih tubuh istrinya.


"Oh, maaf han," ucap Deka langsung beranjak dari pembaringan mereka.

__ADS_1


Deka memutuskan untuk membersihkan dirinya dan melaksanakan kewajibanya sebagai muslim yang baik, Arti terus memperhatikan suaminya, terbesit rasa iba disana, Arti tak ingin menjadi beban pria baik ini, seketika pikiran berpisah pun datang lagi.


"Pak, Arti pengen ngomong," ucap Arti.


"Ngomong aja han, kamu mau ngomong apa?" tanya Deka sambil melipat sajadahnya dan mendekati istrinya.


"Arti mau kita pisah aja pak," ucap Arti serius, ini bukan pertama kalinya Arti menginginkan pisah darinya, tapi kali ini keinginan Arti sungguh tak bisa dibendung.


"Apa kamu yakin han?" tanya Deka.


"Aku yakin pak, aku mohon tolong lepaskan aku, biarkan aku hidup sendiri, melihatmu membuatku merasa tercekik," ucap Arti lagi, Deka menatap lagi mata wanita yang sangat dicintainya, saat ini bukan hanya Arti yang merasakan sesak didadanya, terlebih Deka dia juga merasakan hatinya sangat hancur, pikiranya kalut ga tau harus berbuat apa.


"Apakah ga ada cara lain selain cerai han, apakah tidak bisa kita saling mengenal lagi seperti dulu," ucap Deka pelan, jujur kali ini Deka tak bisa memaksa Arti karena istrinya sudah mengatakan berasa tercekik jika melihatnya.


"Aku ga mau pokoknya, aku ga tau siapa kamu, aku ga cinta sama kamu rasanya menjijikan jika kamu sentuh aku, pokoknya aku ga mau," ucap Arti lagi, Arti memang selalu terbuka dengan perasaan nya, Deka tau itu.


"Itulah yang kamu rasakan bila berada didekatku han?" tanya Deka lagi meyakinkan apa yang barusan dia dengar.


"Baiklah han, jangan nangis lagi jika kamu bisa bahagia tanpaku aku bisa apa, kamu mau nya kapan nanti bilang aja, untuk sementara boleh lah aku disini merawatmu sampai sembuh?" tanya Deka berharap Arti masih berbaik hati padanya untuk mengizinkan nya menghabiskan sisa sisa waktu bersama sebagai sepasang suami istri.


"Enggak, aku ga mau pokoknya kamu jangan disini, kalau kamu masih disini aku cabut ni selang infus," ancam Arti, seketika Deka terkejut dengan tindakan nekat Arti.


"Segitu bencikah kamu sama aku han," ucap Deka memelas.


"Jangan panggil aku begitu, aku muak," teriak Arti sambil mendorong tubuh Deka agar menjauh darinya.


Deka tak mampu berucap lagi, hatinya sudah hancur tak sanggup lagi rasanya berdiri, penolakan berkali kali dia rasakan, bahkan tidak hanya dikehidupan ini, dikehidupan sebelumnya Arti pun seperti ini.


Deka mengambil ponsel dan juga kunci mobilnya, Deka mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan dua card Atm milik Arti, dan meninggalkan nya diatas meja disamping ranjang pasien dimana Arti masih diam membisu.

__ADS_1


"Ini milikmu yang masih aku bawa, aku sudah ganti semua, terimakasih atas pengorbananmu selama mendampingiku, maaf jika aku hanya meninggalkan luka untukmu, maaf jika aku membuatmu sesak, kamu boleh mencari pengacara sekarang apapun syarat yang kamu ajukan jika aku bisa aku akan penuhi, kamu boleh kerumahku dan mengambil barang barangmu, nanti kuncinya aku titipin ke Yudha, kirim aja surat cerai yang kamu kehendaki pada kuasa hukumku, tanya aja pada Yudha dia tau kok, semoga kamu bahagia tanpaku han, Assalamualaikum," selesai mengeluarkan isi hatinya Deka pun keluar dari ruangan rawat Arti, Deka pun mengirim pesan pada Yudha bahwa semua sudah berahir, dan meminta Yudha menjaga wanita yang dicintainnya.


Deka memilih meninggalkan kota kelahiran istrinya dan mengahiri semua sampai disini, dia juga memilih kembali kekampung halaman nya dan menghabiskan sisa hidupnya disana.


....


Yudha yang mendapat pesan dari Deka pun seketika langsung tancap gas kerumah sakit.


Yudha terlihat sangat geram dengan kakak perempuan nya.


"Apa maksudnya ini mbak?" tanya Yudha masih berusaha menahan emosinya.


"Dia udah bilang kan ngapain nanya," ucap Arti cuek.


"Yudha sungguh ga paham dengan apa yang mbak mau, salah abang apa mbak?" tanya Yudha.


"Dia ga salah apa apa, hanya mbak aja yang ga mau ama dia," jawab Arti santai.


"Yudha harap mbak ga nyesel dengan keputusan bodoh mbak ini," ucap Yudha.


"Kamu tenang aja, mbak udah pikirin semuanya," jawab Arti seolah tak terjadi apa apa.


"Mbak,," ingin rasanya Yudha mengatakan apa yang ada dihati dna otaknya, tapi Arti ga bisa menerima kejutan, jika dia kejang lagi maka nyawa nya yang jdi taruhan nya.


"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan," batin Yudha, Yudha pun duduk termenung dan mencoba menghubungi Deka, sayang pinsel Deka tidak aktif.


"Bang, abang dimana astaga," ucap Yudha khawatir.


Arti tak mau menghiraukan adeknya, dia memilih merebahkan tubuhnya di ranjang rawatnya, dalam lubuh hatinya yang paling dalam Arto juga berharap Deka bisa bahagia dan menemukam wanita yang bisa memberikan keturunan untuknya, tidak sepertinya yang hanya bisa memwberikan beban untuk Deka.

__ADS_1


IMPIAN DEKA


Bersambung...


__ADS_2