
"Ak."
"Heemm"
"Bangun subuh dulu." ucap Arti.
"Jam berapa han."
"Jam setengah enam, ayo keburu habis waktu subuh." ucap Arti sambil mengelus dada suaminya.
"Baiklah, astaga capek banget rasanya." ucap Deka, Arti hanya tersenyum melihat suami tampan nya yang masih menguap, ah menguap saja dia tampan batin Arti sambil menatap wajah sexy suaminya.
"Kenapa han?" tanya Deka heran.
"Aak tampan pantesan aja cewek cewek yang lihat Aak histeris." ucap Arti menceritakan apa yang dia tangkap selama ini.
"Kamu ini han terus aja."
"Serius baby istrimu ini ga boong, ahhh sepertinya aku harus merawat kecantikanku agar suami tampanku ini tak melirik cewek lain disekitarnya." canda Arti dengan senyuman manis miliknya, Deka malah gemas melihat tingkah lucu Arti, digelitik perut rata istrinya.
"Aaaa, ampun Ak stop, dih aak rusuh." ucap Arti sambil mencekal tangan kekar suaminya agar tak menggelitikinya.
"Habis kamu lucu istriku ." ucap Deka.
"Kenyataan Aak."
"Ga mulai deh." jawab Deka sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Aak jangan dirapiin, aak lebih sexy kalau rambutnya awut awutan gitu." goda Arti lagi, dia sudah bersiap siap lari jikalau Deka bertindak rusuh lagi, benar saja Deka sudah bersiap menerkam nya.
"Enggak kena hahahaha." Arti pun berlari meninggalkan suaminya ga masih gemas padanya.
Deka hanya tersenyum, ahirnya dia pun memilih masuk kekamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.
Dikamar mandi dia memikirkan kembali kilas balik kehidupanya, dari masa masa SD nya, uti yang selalu menggendong nya ketika dia sakit, membelikanya seekor kambing dihari ulang tahun nya, membuatkannya nasi kuning dan menyuruhnya membagi bagikan pada teman teman sekelasnya, duh indah sekali masa masa itu.
Rasa kangen kini menyeruak disanubarinya, dia ingin sekali bertemu dengan wanita tua itu, "Pasti pacarku itu kesepian sekarang, mau ga ya kalau aku bawa beliau kesini." gumam Deka sambil membubuhkan sampo di kepalanya.
Deka kembali mengingat ketika dia meminta ijin pada utinya untuk merantau demi mendapatkan restu orang tua mantan kekasihnya.
"Ah, bodoh sekali aku ini." gumam nya.
"Tapi kalau ga gitu, aku ga mungkin bisa sesukses ini." gumam nya lagi.
Lamunan Deka buyar ketika terdengar ketukan pintu kamar mandinya.
"Ak, buruan udah siang belum sholat loh." ucap Arti dari depan kamar mandi.
"Bentar han lagi pakai baju." jawab Deka, Arti pun menyiapkan sajadah dan sarung untuk suaminya.
"Makasih pacarku." goda Deka.
"Sama sama mantan pacarke, eh kita kan ga pernah pacaran yak." jawab Arti sambil tersenyum malu pada suaminya, Deka hanya melirik manja pada istrinya.
Arti menunggu suaminya yang sedang melaksanakan kewajiban ya sebagai muslim, dia mau bagaimanapun kok tampan sih batin Arti, ah selalu aku bisa gila karena mu suamiku.
Deka mengecup bibir istrinya yang masih melamun, Arti kembali tersipu malu.
"Hehe aak, hari ini mau pakek baju apa?" tanya Arti.
"Pakek baju biasa aja han, mau ke bandara jam 12an ntar." jawab Deka.
"Jemput pak Bos kah ak.!"
"He em, sama ibu ratu yang bawel itu." ucap Deka.
"Jangan gitu ak, kalau ga ada dia kita bisa aja ga bisa kenal." jawab Arti.
"Hehehe, gadis penakut itu beneran jadi istri bosku." ucap Deka.
Arti dan Deka saling melepar senyum, setelah selesai mengganti pakaian nya Arti mengajak Deka menyantap masakan nya.
"Enak ga ak?" tanya Arti.
"Enak han, kok kamu tau ini kesukaan ku?" tanya Deka.
"Tau lah ak, bude suka ceritain aak kalau kita lagi masak bareng," jawab Arti.
" Ooo, kok pagi pagi ini udah dapet sayuran plus ikan segar dari mana?" tanya Deka.
"Semalem Arti pesen sama tukang sayur langganan."
__ADS_1
"Tukang sayur nya cewek apa cowok?"
"Astaga aak, masak tukang sayur juga ditanyain, dih,"
" Ya kan wajar aak nanya soalnya aak tau kamu suka taruhan." jawab Deka.
" Ya kali tukang sayuran dipakek bahan taruhan, ada ada aja aak ni."
" Ya siapa tau."
"Tukang sayur nya mas mas ak, ganteng juga macam aak puas." jawab Arti geram.
" Loh kok kamu yang marah harusnya aak dong yang marah, istri aak di tatap sama mas mas tukang sayur." jawab Deka.
"Tau ah aak, aneh aneh aja yang dibahas."
"Pokoknya kamu ga boleh deket deket sama cowok lain selain aak." ucap Deka.
" Hahahahaha, aak cemburu ni."
" Wajar dong."
"Iya pakduka raja hamba sudah tau titah pakduka, siap laksanakan pokoknya." jawab Arti, Deka tersenyum mendengar jawaban istrinya, gemes jadinya.
......
Deka telah bersiap untuk menjemput kedatangan big bos nya, Arti membantunya menyiapkan kunci mobil ponsel dan juga dompet suaminya.
" Tas kerjanya dibawa ga ak?" tanya Arti.
"Dibawa han, nanti sekalian laporan ama beliau." jawab Arti.
"Ntar malem mau di masakin apa?" tanya Arti.
"Heemm, ga usah deh han kayaknya aak pulang nya bisa tengah malem atau bisa juga ga pulang, big bos aak suka aneh aneh." jawab Deka.
" Ya sekarang dia kan udah ada istri ak, masak mau cari aak terus."
"Iya juga ya, lupa aak."
" Dih aak belum juga jadi bapak bapak.'
" Hehehe,"
****
Dibandara...
Deka tersenyum melihat kedatangan bos sekaligus sahabatnya ini, wajahnya terlihat lebih fres dan sumringah.
"Siang bos, siang nona." sapa Deka.
"Heemm." jawab Vincent, Deka ingin tertawa melihat kemesraan Stella dan bos nya, mereka bergandengan tangan seolah tak ingin lepas.
"Mana mobil?" tanya Vincent.
"Ada bos sudah siap." jawab Deka, memencet tombol kunci untuk membuka mobil mereka, Deka membukakan pintu untuk istri bosnya, mereka saling lirik sebenernya mereka ingin saling meledek, tapi tak nyaman karena ada Vincent ditengah tengah mereka.
"Aku didepan ga papa kan mom?" tanya Vincent pada Stella.
"Ga papa sayang." jawab Stella, Uih manggailnya udah mom, gila bos gue gargep tenan, Deka kembali ingin tertawa tapi ditahan nya.
"Jangan pura pura lo kampret, gue tau lo mau ketawa." hardik Vincent pada Deka, Deka hanya tersenyum dan memakai kaca matanya serta mulai melajukan kendaraan nya.
"Ga bos, saya seneng ahirnya bosku bahagia." jawab Deka, Vincent memilih tak menghiraukan Deka.
"Gimana semua aman?" tanya Vincent.
"Aman bos, tapi ada masalah pribadi yang ingin saya sampaikan padamu bos."
"Apa itu?"
"Face to face bos."
"Oke." jawab Vincent, dia sangat tau bahwa asistenya ini sangat menghargai privasi.
"Mom, mau ikut kekantor apa pulang?" tanya Vincent pada istrinya.
"Terserah kamu aja sayang aku ngikut." jawab Stella, istri idaman bener dah.
"Kamu pulang aja ga papa kan tunggu aku dirumah, istirahat pasti kamu capek banget kan." ucap Vincent, Stella mengangguk sambik tersenyum manis pada suaminya.
__ADS_1
"Antar istri gue pulang aja ka atau ga kita pulang aja deh ga usah ngantor, bicara dirumah bisa kan ?" pinta Vincent.
"Bisa bos, yang penting hanya kita." jawab Deka.
Deka membawa mobilnya dengan hati hati, dia sangat tau standard bosnya ketika dijalan raya, itu salah satu yang disukai Vincent dalam diri Deka, Deka selalu mengutamakan dirinya dari pada dirinya sendiri.
....
Diruang kerja rumah Vincent...
"Ada apa, apakah ada yang gawat?" tanya Vincent.
"Sangat bos, ini menyangkut ayah biologisku." jawab Deka.
"Apa itu?"
"Bos, pemilik Victoria hotel adalah ayah kandungku ." ucap Deka.
"Hah, kamu serius?" tanya Vincent.
"Aku serius bos,"
"Giamana lo bisa seyakin ini?" tanya Vincent.
Deka pun membuka profile Gibran Abimanyu di ponselnya.
"Coba bos perhatikan ini." Deka pun memberika ponselnya pada Vincent, Vincent pun memperhatikan foto yang ada di ponsel anak buahnya.
"You are veru much like twins (kalian mirip sekali seperti kembar)." ucap Vincent sambil mengerutkan dahinya tak percaya.
"Awalnya aku juga kaget bos, rasanya seperti mustahil aku bisa bertemu dengan orang yang membuatku." jawab Deka masih berusaha hati hati berbicara dengan bos nya.
"Lalu apa yang mau lo lakuin sekarang?" tanya Vincent.
"Ingin rasanya aku kasih tau beliau sekarang bos, tapi rasanya tak mungkin."
"Apa ada masalah lain selain ini?" tanya Vincent.
"Aku ingin menyelamatkan beliau dari cengkraman istrinya bos." jawab Deka.
"Maksud lo?"
"Jadi selama ini istrinya hanya memanfaatkan nya bos, dia hanya menginginkan harta ayahku,"
"Apakah dia tak tau jika istrinya seperti itu?" tanya Vincent.
"Tau bos, justru dia bilang sangat lelah dan aku takut dia tak mampu lagi menahan beban berat ini, istrinya sangat gila dan keterlaluan bos dia hobi shoping dan judi terlebih dia juga gila sex, teman teman nya kebayakan sosialita dan mafia bos, aku ga tau lagi harus bilang apa bos, ayahku menjual hotel nya untuk melunasi hutang hutang istrinya dimeja judi." ucap Deka menceritakan sedikit tentang kekhawatiran nya.
"Lalu apa yang bisa gue bantu?" tanya Vincent.
"Maukah bos membeli hotel itu untuk ku, aku akan mengembalikan uang bos bertahap." pinta Deka.
"Aku tak ingin aset keluargaku hilang begitu saja bos, dan sebenarnya beliau juga menawarkan perusahan nya pada kita juga, jujur aku sangat kasihan bos, untuk masalah perusahaan biarkan aku sendiri yang akan membantunya mempertahankan miliknya, aku akan katakan padanya bahwa dia tak sendiri dia berhak atas milik dan kerja kerasnya." tambah Deka.
"Apa kamu sudab menyelidiki nya sejauh ini?" tanya Vincent penasaran, ga mungkin dong Deka bis bicara seperti ini tanpa dia cari tau kebenarnya, pikir Vincent.
"Sudah bos." jawab Deka, jawaban itu sesuai dengan apa yang Vincent harapkan.
"Oke aku akan membantumu." jawab Vincent juga.
"Terimakasih banyak bos, aku ga tau bagaimana caranya aku membalasmu bos."
"Jangan bicara begitu, tanpamu aku juga ga mungkin bisa seperti ini." ucap Vincent, meski baru empat tahun mereka bersama tapi rasanya kebersamaan itu terasa seperti saudara kandung bahkan bisa dibilang lebih dekat.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Vincent.
"Saya akan fokus pada masalah keluarga dulu bos, tentu saja aku butuh bimbingamu." ucap Deka.
"Tak masalah gue dukung niat baik lo dan semoga lo berhasil." ucap Vincent.
"Makasih banyak bos, semoga Allah mempermudah tujuanku."
"Tuhan selalu bersama orang orang baik Deka, bukankah itu yang selalu kamu katakan padaku, oia apakah istrinya yang kesini waktu itu?"
"Anda benar bos, dia juga berkawan dengan ibu tiri anda."
"Emak tiri kita berdua sama sama gila Deka hahahahah." ucap Vincent sambil bercanda.
"Mereka sama sama ular bos."
"Heemmm kamu benar."
__ADS_1
IMPIAN DEKA
Bersambung...