IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Menyebalkan


__ADS_3

Deka makin rajin kerestauran tempat istrinya bekerja, bahkan tak segan segan dia mengomeli Arti didepan para pekerja yang lain, membuat Arti marah dan sebel padanya ternyata menyenangkan.


Seperti hari itu, jam makan siang telah usai para kariawan diijinkan makan bergantian, tak terkecuali Arti, dia pun masuk kedalam dapur restauran dan bersiap mengambil makan.


Tak sengaja dia memakai piring kesayangan Deka, pas banget Deka melihatnya dari layar monitor dilaptopnya.


Deka tak menyianyiakan kesempatan itu, dia langsung mengangkat telpon di meja kerjanya dan mulai mengeluarkan kemarahanya pada kariawan yang mengangkat panggilanya tersebut.


"Siapa itu yang berani memakai piring kesayanganku?" tanya Deka pada kariawan nya


"Dia pegawai baru pak bos, maaf mungkin dia belum tau," jawabnya.


"Apa ga ada yang kasih tau dia?"tanya Deka.


"Maaf pak bos kami lupa," jawab nya lagi, biasanya juga biasa aja kalau ada yang pakai piring nya lah kenapa ini dijadiin masalah batin kariawan itu.


"Suruh pegawai itu keruanganku, beritahu dia kesalahan nya, bilang padanya bawa piring berisi makanan itu sekalian, mengerti,"ucap Deka sambil menutup langsung panggilanya, kariawan itu pun tak menunggu waktu lagi dia pun segera menyampaikan pesan Deka pada Arti.


"Mbak Arti,"


"Ya,"


"Pak bos minta mbak Arti keruangan nya, bawa sekalian piring plus makanan nya," ucap nya, dalam hati Arti heran.


"Ngapain, dia ngajak makan bareng, dih ogah," ucap Arti sedikit jutek.


"Ih, bukan mbak, pak bos marah soalnya mbak pakai piring kesayangan nya," jawab kariawan itu, Arti hanya melongo tak percaya.


"Apa ini piring kesayangan nya, ada emang orang begitu?" tanya Arti tak percaya.


Deka pun melakukan panggilanya lagi dan membuat sang penerima telpon itu mengidik ngeri.


"Mana dia kenapa ga naik naik?" tanya Deka.


"Bentar pak bos(kariawan itu menjauhkan gangang telpon itu, dan kembali memberitahu Arti), mbak cepetan naik pak bos marah ni," ucap nya, Deka yang mendengar ucapan kariawan nya langsung menutup pangilanya sepihak.


Dibawah Arti masih menggerutu heran plus tak percaya, "Nyebelin banget sih, piring aja dipermasalahin, kemarin nol, sapu, lap piring sekarang piringnya besok apa lagi," gerutu Arti, para pekerja yang ada di dapur pun menertawakan kemarahanya, ternyata lucu juga dia pantesan pak bos hobi banget bikin dia marah, batin semuanya.

__ADS_1


Arti pun menurut dan membawa makanan nya keruang kerja Deka.


"Masuk," suruh Deka, dengan muka cemberut Arti pun masuk.


"Siang pak," sapa Arti.


"Hemm," jawab Deka cuek, ngapain suruh kesini kalau cuma dicuekin aneh gerutu Arti dalam hati.


Deka menatap Arti dengan tatapan kemarahan nya,"Siapa yang ijinin kamu pakai barang kesayanganku?" tanya Deka.


"Maaf pak saya ga tau," jawab Arti.


"Duduk," perintah Deka, Arti pun menurut dan duduk disofa ruangan kerja Deka.


"Kamu isi piringku dengan apa itu?" tanya Deka, Arti pun menyodorkan piringnya.


"Kalau nanya nya pakek suara dijawabnya juga pakai suara, gimana sih," hardik Deka lagi masih menunjukan kekesalanya.


"Bapak kenapa sih marah mulu sama saya, perasaan ama yang lain bapak ga pernah marah dah," Arti berusaha protes.


"Siapa bilang, piring ini kemarim ada yang pakai juga bapak ga marah, ga sururuh dia orang kesini ga diomelin juga kayak Arti," protes Arti lagi.


"Itu karena aku ga lihat, jangan merasa sok aku bedain kamu," balas Deka.


"Terus bapak maunya apa?" tanya Arti, bagus batin Deka.


"Malam ini kamu pulang ketempatku, aku sedang ingin sama kamu," ucap Deka dengan nada khas bossy nya.


"Ingin, ingin apa?" tanya Arti gugup.


"Ingin hubungan suami istri lah apa lagi," jawab Deka, Arti melihat tak ada sedikitpun wajah bercanda disana.


"Dih, enggak," jawab Arti sambil mendekap tubuhnya.


"Siapa yang memberimu ijin menolak, aku bosan makan wanita beli, aku mau makan punya kamu," ucap Deka.


"Kamu suka melakukanya dengan wanita seperti itu?" tanya Arti heran plus marah.

__ADS_1


"Kenapa, kamu pikir istriku cuma kamu!" jawab Deka mulai suka mempermainkan emosi Arti.


"Ga mau aku, minta istrimu yang lain aja, menjijikan," gerutu Arti.


"Ga ada penolakan,kamu mau aku pecat adekmu, aku buat ibukmu sakit, ya terserah kalau kayak gitu" ancam Deka.


"Apa maksud kamu ngomong kayak gitu?" tanya Arti sambil beranjak dari duduknya.


"Heh, kamu pikir apa hah, kamu udah aku beli dari keluargamu jadi jangan macam macam," tambah Deka, astaga Deka haruskah mempermainkan nya sampai seperti itu.


"Enggak, enggak ibu sama bapak ga mungkin melakukan itu," ucap Arti ketakutan, dia ga menyangka bahwa nasibnya setragis itu.


"Heh, kamu ga percaya baca aja ini, bisa kan baca (Deka memberikan sertifikat tanah yang kemarin dia tebus bersama Yudha, Arti pun membuka dan membacanya, disana juga ada surat perjanjian palsu yang ditanda tangani Yudha dan cap jempol kedua orang tuanya, entah dari mana Deka dapat ide jahil itu), masih mau bukti kalau kamu udah aku beli hah!" tambah Deka.


"Enggak, enggak ini ga mungkin," ucap Arti, hendak beranjak dari duduknya.


"Berani kamu keluar dari ruangan ini maka jangan harap keluargamu selamat dariku," ancam Deka lagi, astaga Deka kamu ma bener bener.


Arti kembali menjatuhkan tubuhnya, matanya berkaca kaca, "Udah ga usah drama biasa nya kamu juga rela rela aja nglayanin nafsuku," ucap Deka mulai lagi mengobrak abrik emosi Arti.


"Enggak kamu pasti boong," ucap Arti masih ga mau menerima apapun yang Deka ucapkan.


"Mana ada aku boong, coba kamu lihat ini," Deka memberikan ponselnya pada Arti, disana ada foto foto mesra mereka, bahkan ada foto dirinya sedang tersenyum lepas dipangkuan Deka.


"Kamu yakin ini kita?" tanya Arti tak percaya, bahkan difoto itu dia tak mengenakan hijabnya.


"Ya kamu lihat aja itu kamu bukan?" Deka melirik Arti geli, mukanya serius sekali sih.


"Udah sini jangan lama lama pegang ponselku, itu mahal," ucap Deka, "Dih menyebalkan sekali sih," gerutu Arti.


"Ngapaim menggerutu gitu mau ngomong ya ngomong aja sih," tambah Deka.


Arti diam sejenak, dia menutup mukanya air matanya tiba tiba meluncur begitu saja, dia menyesali kenapa dia tak ingat apa apa, benarkah apa yang dikatakan barusan adalah benar, banyak pertanyaa yang menghantui pikiran Arti, Apa yang harus aku lakukan Tuhan, jika aku menolaknya berarti aku membunuh keluargaku, batin Arti bergejolak tak menentu.


IMPIAN DEKA


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2