
Arumi memarkirkan motornya didepan bengkel, dia melihat bengkel sepi hanya ada dua pekerja yang ada disana.
"Cak papi enek ndi (Bang papi ada dimana)?" tanya Arumi pada kariawan bengkel Deka.
"Ada diruangannya, tapi lagi ada tamu Rum," jawabnya.
"Oh, ya udah Rumi naik deh," jawab Arumi kemudian dia pun naik menuju ruangan biasa Deka menerima tamu, sejak membawa istrinya kekampung ini Deka memang tak tinggal disini, dia memilih tinggal dekat panti sesuai keinginan istri tercintanya.
Tok tok tok
"Masuk," Arumi mendengar suara dari dalam yang menyuruhya masuk.
Arumi pun masuk, alangkah terkejutnya kedua pria yang ada didalam ruangan ini karena gadis yang mereka bicarakan tiba tiba hadir didepan mata mereka, ya tamu yang dimaksud kariawan Deka adalah Yudha, dia datang kesini atas permintaan ibunya, untuk melihat secara langsung wanita yang akan dipinangnya.
Arumi melangkahkan kakinya dengan ragu ragu, karena sepasang mata itu menatapnya dengan tatapan tajam dan aneh menurutnya.
"Ada apa Rum, masuk aja ga usah takut," ucap Deka, Yudha pun mengkode Deka agar tak memberi tahu Arumi bahwa dia adalah pria akan meminangnya, Deka pun paham dengan itu.
"Emm papi masih ada tamu, Rum ngomongnya nanti aja deh," ucap Arumi.
"Ga papa Rum masuk aja, kamu mau ngomong apa, duduk sini, deketan sama masnya juga ga papa" pinta Deka sedikit menggoda Yudha, yang tampaknya sudah terpesona dengan Arumi.
"Permisi mas," ucap Arumi malu malu, Deka pun duduk bergabung dengan mereka.
"Heemm," jawab Yudha sok jaim.
"Kamu mau ngomong apa Rum?" tanya Deka.
"Gini pi, sebelumnya Rum minta maaf karena Rum ga ijin dulu sama papi tapi Rum penasaran sama mbak Arti pi," ucap Rum membuka obrolanya, dia merasa sedikit tak nyaman karena Yudha terus menatapnya.
"Penasaran kenapa Rum, mbak mu masih ga mau bangun belum mau makan juga kah?" tanya Deka khawatir.
"Iya pi, sebaiknya kita bawa mbak kerumah sakit karena mbak butuh nutrisi lebih, alangkah baiknya kalau kena infus biar ga lemas," jawab Arumi.
"Dia ga mau Rum, papi udah bujuk berkali kali," jawab Deka putus asa.
__ADS_1
"Tapi kita harus paksa pi, kalau ga kasihan babynya," jawab Rum, Deka melongo mendengar apa yang Arumi ucapkan, bukan hanya Deka, Yudha pun menatap tak percaya pada Arumi, sejenak suasana menjadi hening, Yudha dan Deka saling menatap sekilas, seolah otak mereka berhenti bekerja.
"Kamu tadi ngomong apa Rum, baby, baby siapa?" tanya Deka masih belum yakin dengan perkataan pertama Arumi.
"Baby yang di perut mbak Arti lah pi, siapa lagi," jawab Rum sesantai mungkin.
"Jadi istriku hamil, ah kamu jangan ngeprank Rum, jangan asal kamu, awas boong ga papi kasih uang jajan kamu," ucap Deka sambil tersenyum bahagia tapi juga masih ga percaya.
"Rum ga boong pi, ini buktinya," ucap Arumi sambil memberikan tespack pada Deka.
Dengan bodohnya Deka mengambil tespack itu, membolak balikannya bahkan karena sangat penasaran Yudha pun ikutan melihatnya.
"Mana Rum ga ada tulisan hamilnya?" tanya Deka.
"Iya nih, anak ini pasti boong bang mgeprank kita, kamu boong ya hah," ucap Yudha setengah membentaknya membuat Rum sedikit menciut.
"Enggak mas mana Rum berani boong, sini Rum jelasin," jawab Arumi, kembali menatap Yudha dengan muka sedikit takut.
"Yud kamu bikin dia takut," ucap Deka memperingatkan Yudha, tapi Yudha hanya tersenyum lucu membuat Deka tau kalau Yudha sengaja membuat Rum takut padanya, seketika Arumi konek, "Yud, Yud jangan jangan dia pria itu," batin Arumi.
"Rum kok diam, gimana ini cara bacanya," ucap Deka tak sabar.
Arumi pun mengeluarkan selembar ketas dan meminta Deka untuk membacanya, "Disini hanya positif negatif, tunggu (Deka kembali bacanya dengan lebih teliti) garis satu menandakan negatif yang artinya tidak hamil, garis dua menandakam positif berarti hamil," ucapnya, Arumi dan Yudha pun hanya mendengarkan ocehan Deka, Deka mencocokan hasil bacanya dengan alat tersebut.
Betapa bahagianya dia saat ini bahkan dia langsung memeluk Rum," Rum, Rum ini serus kan, kamu ga boong kan aku mau jadi ayah Rum, Ya Allah Rum," ucap Deka sambil memelu erat Arumi, Arumi hanya diam tak bergeming, dia tak tau harus berbuat apa ini adalah pertama kalinya dia dipeluk pria udah gitu arogan lagi, berasa ga bisa nafas.
"Pi, Rum ga bisa nafas pi huk huk," ucap Arumi, Yudha langsung menepuk pundak abangnya.
"Ahhh, ga mau tau Rum pokoknya aku seneng banget, makasih banyak Rum papi bakalan kasih kamu hadiah Rum," ucapnya sambil kembali memeluk erat Arumi.
"Bang bang, entar mati anak gadis orang dipeluk ampek batuk batuk gitu," ucap Yudha memperingatkan padahal kalau boleh jujur dia ga rela sih.
"Eh maaf Rum maaf, astaga saking seneng nya Rum," ucap Deka sambil meneteskan air mata bahagianya, Arumi hanya tersenyum kala itu.
"Yud, gue mau jadi ayah Yud," ucap Deka sambil memeluk Yudha, Yudha masih bersikap biasa biasa aja karena belum yakin dengan kabar yang dia terima.
__ADS_1
"Iye bang, kalau seandainya bener ni cewek ga boong, seriusan, pertanyaanya gimana dia sampai bisa ngetes si mbak yang ngredrama itu hobinya jangan jangan di cewek juga lagi ngedrama," ucap Yudha setengah mengintimidasi Arumi.
"Arumi ga boong mas dih, Rum tadi minta bidan Nisa buat periksa mbak Arti, dan mbak Arti juga lagi ga ngredrama kami seriusan tadi periksanya, kata bidan Nisa usia kandungan mbak juga masih sebulan lebih, ga tau tapi pastinya itu harus USG dulu," jawab Arumi tak kalah sengit membuat Yudha dan Deka melongo.
"Kamu panggil bidan kerumah Rum?" tanya Deka tak percaya.
"Iya pi maaf kalau Rum ga ijin dulu, tapi bidan itu sahabat Rum pi, ini ga ada unsur komersialnya pi, Rum murni minta tolong bahkan Rum bayarnya aja ngutang tunggu papi kasih uang jajan bayarnya kata dia ga usah gitu," jawab Arumi lugu membuat Yudha dan Deka kembali menatap heran kearah Arumi, astaga lugunya persis oon nya kayak Arti.
Yudha dan Deka pun tertawa terbahak bahak mendengarkan ucapan Arumi barusan, Arumi menatap heran kearah keduanya, apa lucunya kok ketawa, aneh batin Arumi.
"Astaga bang kita punya satu lagi ratu drama hahahahahaha," ucap Yudha kembali tertawa sangking gemasnya pada Arumi Yudha memukul mukul sofa yang dia dudukin.
"Nasib kita sama Yud hahahaha," balas Deka kembali tertawa, dilihatnya muka Rum yang bingung membuat mereka kembali tertawa.
"Papi sama mas ini ngapa ketawain Rum?" tanya Rum lugu, mereka tak menjawab malah ketawanya semakin kencang.
"Eh Rum, jadi kamu belum bayar tu sibidan?" tanya Deka.
"Belum pi, Rum bilangnya sih mau ngutang tapi dia bilang ga usah gitu," jawab Rum kembali dengan muka lugunya membuat Yudha kembali mentap gemas kearahnya.
"Ya udah nanti papi kasih uangnya kamu bayar ya, jangan ngutang lagi lain kali bilang papi kalau Rum ga ada uang jajan, ama mas yang ini juga boleh," ucap Deka sambil setengah menggoda Rum, anehnya Rum tak menyadarinya dia pun menjawab dengan jawaban yang super lugu, "iya pi,".
"Rum,"
"Saya pi,"
"Kenalin ini Yudha adeknya mbak kamu," ucap Deka, Arumi menatap terkejut dicampur bingung, dia tak tau harus menjawab apa, dia gugup dan takut.
"Ga usah takut Rum, masak sama calon suami takut," goda Deka, Arumi hanya tersenyum takut, dia memilih menundukan kepalanya karena Yudha terus menatapnya.
Kebahagiaan ini sungguh membuat Deka melayang, belum lagi kalau Arti tau bahwa apa yang selama ini dia impikan bisa menjadi kenyataan.
Tak menunggu waktu lagi, ahirnya Deka pun mengajak Yudha dan Arumi kerumah untuk melihat keadaan Arti, dia juga berniat membawa Arti kerumah sakit jika mau, terlebih dia juga ingin melihat ekspresi istrinya jika mendengar jawaban ini.
IMPIAN DEKA
__ADS_1
Bersambung....