
Selesai tahlilan Arti berkumpul dengan para ibu ibu disana, banyak yang bersimpati padanya, bagaimana tidak hari ini harusnya menjadi hari paling bahagia buat nya, tapi apa semua hancur seketika karena kemalangan nya.
Kabar tentang penyakitnya telah menghancurkan impian nya untuk hidup bersama orang yang sudah enam tahun menjalin kasih dengan nya.
Mereka saling menyayangi bahkan berjanji akan saling menemani hingga maut memisahkan, sayang nya cinta mereka tak mendapatkan restu dari orang tua mantan kekasihnya.
Meski hati Arti menolak keras keberadaan Deka( suaminya) toh nyatanya dialah yang mau menerima keadaan nya, meski itu dengan perasaan terpaksa.
Arti melirik Deka yang masih mengobrol dengan Yudha adeknya, mereka sok akrab sekali batin Arti.
"Buk, Arti boleh bertanya sesuatu?" tanya Arti duduk disebelah ibunya.
"Mau tanya apa Ar?"
"Kenapa bapak suruh Dewa nikahin Arti bukan kah kami masih ada hubungan darah ya?" tanya Arti penasaran.
"Enggak nduk, bunda nya Dewa itu anak angkat ibu sama bapak." jawab Uti Tika.
"Oh, kirain mbak kandung Arti, terus ayah dia kemana buk kok Arti ga pernah tau?" tanya Arti lagi.
"Ayah suamimu ada, dia adalah anak majikan bapakmu dulu." ucap Uti Tika, Arti tak bertanya lagi dia takut dinilai terlalu perduli terhadap Deka.
Malam semakin larut, tamu tamu yang tadinya hadir ikut mendoakan almarhum Kakung Sarjono satu persatu pulang kerumah mereka masing masing.
Uti Sri menemani Uti Tika dikamarnya, Arti juga sudah masuk kekamarnya.
"Abang masuk aja ke kamar mbak." suruh Yudha.
"Ga mau Yud takut mbak mu marah."
"Enggak lah masak ama suaminya marah." ucap Yudha.
"Aku sekamar ama kamu aja Yud ya." pinta Deka.
"Jangan, ga boleh udah sana, ayok Yudha anter." ucap Yudha mendorong tubuh Deka, Deka masih ragu dan agak menolak dorongan Yudha, tapi Yudha tak menyerah dia terus mendorong Deka agar mau masuk ke kamar kakak nya.
"Ketuk pintu nya bang." suruh Yudha.
"Ga berani aku Yud."
"Ya elah ama cewek ga berani, salah ni bapak cari suami buat mbak Arti." Yudha menggeleng gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Dih, enak aja." ucap Deka merasa sedikit tersinggung.
"Lah makanya ayok, masak takut ama istri sih."
Deka pun memberanikan diri mengetuk pintu kamar Arti.
Tok..tok..tok..
Arti yang masih duduk termenung diranjang segera memakai kerudung nya lagi dan membukakan pintu.
"Ada apa!" ucap Arti dibalik pintu.
"Ini Yudha mbak, abang mau masuk." ucap Yudha.
Deka pun menunjukan dirinya kemudian Arti membuka pintu nya lebih lebar agar Deka bisa masuk ka kamarnya.
Saat Deka sudah masuk ke kamar, Arti malah tak menghiraukan nya dia malah memilih merebahkan tubuhnya dan menutupnya dengan selimut.
Deka tak tau harus berbuat apa, dia juga hanya diam dan ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
Deka tak tahan didiemin, dia pun memilih bertanya.
"Mbak jangan diem dong." ucap Deka lagi.
"Aku harus apa." jawab nya, aku tau dia menangis.
"Mau ga Deka peluk, sini." tawar Deka.
"Enggak makasih." jawab Arti.
"Mbak marah sama Deka?" tanya Deka.
"Enggak ngapain aku marah sama kamu, aku hanya marah pada diriku sendiri." jawab nya masih memunggungi Deka.
"Kenapa mbak marah sama diri mbak, mbak kan ga salah." ucap Deka mencoba menenangkan istrinya.
"Siapa bilang aku ga salah, aku telah menghancurkan mimpi kekasihku Ka, dan keluargaku kehilangan bapak bagaimana bisa kami bilang ini bukan salahku dan lagi kamu harus menutup masa depan mu demi menikahi wanita mandul sepertiku." jawab nya.
"Mbak jangan ngomong gitu, yang bilang mbak gitu hanya dokter kan aku akan mencarikan mbak dokter terbaik supaya mbak sembuh dan bisa melahirkan seorang bayi." ucap Deka sambil memiringkan tubuhnya menatap iba pada wanita disampinya.
"Aku akan berusaha sembuh Ka, aku akan berusaha sembuh untuk nya." hati Deka kembali remuk ketika mendengar ucapan istrinya.
__ADS_1
"Apa aku boleh kembali padanya jika aku sembuh nanti?" tanya Arti lagi sambil menatap mata Deka, Deka yang masih tidak menyangka Arti bisa berucap seperti itu pun hanya tersenyum.
"Tentu saja mbak, mbak berhak memilih."jawab Deka dewasa, meski hatinya terasa teremas tapi dia tetap berusaha mengerti Arti.
"Aku tau Ka kamu terpaksa menikahiku kan, aku harap kita sama sama bisa menjaga diri kita apakah aku boleh tetap menjaga kesucianku untuk dia?" pertanyaan macam apa itu, ini sungguh gila ini terasa lebih sakit dibanding mendengar pernikahan Desvita mantan kekasihnya.
"Kenapa tidak semua sesuai yang mbak mau, tenang aja." jawab Deka sambil tersenyum.
"Makasih Ka atas pengertianmu, dia tadi menangis Ka waktu memutuskan tidak datang, aku pun mendengar orang tuanya bilang jangan mengharapkan wanita mandul itu. mau jadi apa kamu ucapnya, saat itu aku tau bahwa aku sakit ka, kenapa ga ada yang kasih tau aku soal ini, dia bilang sangat mencintaiku Ka, bahkan dia sudah memohon pada orang tua nya agar mengijinkan nya menikahiku tapi sayang orang tuanya kekeh ga ngijinin dia datang , dia juga ga mungkin menikahi aku tanpa restu juga kan." Arti bisa mengutarakan apa yang terjadi padanya saat dia dirias tadi.
"Sabar ya mbak, percaya saja jika kalian jodoh semua pasti akan kembali seperti semula." jawab Deka, huuffff apa ini apakah dia sama sekali tak mengganggapku, apa dia lupa bahwa akulah yang menikahinya tadi, apa kupingnya tak dengar bahwa kita berdua sudah mengikrarkan janji sehidup semati, ini sungguh gila aku pun mulai muak dengan takdir yang mempermainkanku.
"Apakah mbak marah jika malam ini aku numpang tidur disini?" tanya ku, aku harus hati hatikan sekarang, aku ga mungkin memaksakan sesuatu pada wanita yang hatinya masih terisi laki laki lain meskipun dia adalah istriku.
"Boleh, asal tetap jaga jarak," jawab nya masih berusaha membentengi dirinya, emang kamu pikir aku laki laki apaan, aku sering melihat wanita telanjang kau tau tapi aku sama sekali ga nafsu karena aku sudah berjanji akan menyentuh wanita yang aku cintai dan mencintaiku tentunya dan lagi aku hanya mau melakukan nya jika halal batin Deka.
Ada kemarahan yang menggebu dihati Deka akan perkataan istrinya, boleh kan aku tak menganggapku ada juga batin Deka.
"Apa aku boleh menikah lagi?" tanya Deka mencoba memancing apa yang ada dihati istrinya.
"Tentu saja ga ada yang nglarang kamu buat nikah lagi." jawab nya santai.
"Oke, jadi kita sebut apa hubungan kita?" tanya ku lagi, jujur aku hanya ingin tau apa yang ada dipikiranya tentang ku.
"Emang kita ada hubungan apa?" dia malah balik bertanya, aku rasa cukup sampai disini aku merasakan sakit, aku kita dia paham agama ternyata otaknya hanya memikirkan dirinya sendiri, ohh jadi kamu ga nganggep aku ya baik jangan pernah salahkan aku jika aku begitu juga batin Deka lagi
"Heemm, kamu bener aku hanya orang asing, oke baiklah kita tidur besok aku mau ke tempat kekasihku." ucap Deka sambil membetulkan posisi bantalnya.
"Kekasih yang mana?" tanya nya, ngapain tanya tanya kamu kan ga nganggep aku kan ingin rasanya Deka bertanya seperti itu.
"Bundaku lah siapa lagi." jawab Deka, entah mengapa ada sedikit rasa iba dihati Arti untuk Deka ketika pria yang ada disamping nya ini mulai memejamkan matanya.
Pikiran Deka melayang entah kemana, dia masih belum bisa mencerna apa yang terjadi padanya saat ini, begitupun Arti ada rasa yang berkecambuk didalam hatinya saat ini setelah obrolan nya tadi bersama Deka.
Ahhh, semua akan baik baik saja batin Arti.
Entah perasaan apa ini hanya hati yang tau.
IMPIAN DEKA
Bersambung...
__ADS_1