
“ Kau hampir membuatku patah hati!” ucap Arlan menghela nafas
“ Kan kakak yang memulainya, bikin sakit jantung saja. Apa – apaan coba menuduhku seorang pencuri.” Balas Naura dengan memanyunkan bibirnya.
“ Tolong kondisikan bibirnya tuh.” Tunjuk Arlan.
“ Memangnya kenapa dengan bibir ku?
Mengganggu kakak?” tanya Naura.
“ Sangat mengganggu?”
“ Apa hubungannya?”
“ Ehm, apa kau tidak takut jika ku serang? Aku tidak menjamin bisa mengendalikan diri ini.” Jelas Arlan mendekatkan wajahnya ke wajah Naura.
“ Ahhh, awas aja kalau kakak macam – macam dengan ku. Lagian ini tempat umum tahu.”
“ semua tamu sudah pulang semua, yang lain juga sudah beristirahat di kamar mereka masing – masing. Jadi, ruangan yang luas ini sudah sepi.” Gertak Arlan.
“ Ah sudahlah kak! Jangan membuatku takut.” Cibir Naura sambil melanjutkan makannya.
Ruang ballroom sudah sepi, hanya tinggaal beberapa orang saja yang masih bertahan untuk menghabiskan malam mereka. Arlan dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya terus menatap Naura yang sedang melahap hidangannya.
“ Selain tukang tidur, ternyata kau nafsu kebo juga ya! Sudah berapa banyak makanan yang sudah masuk ke lambungmu tu hah!” sindir Arlan.
“ Biari, hidangan ini tidak boleh di sia – siakan, kapan lagi bisa menikmati hidangan dari hotel yang bergengsi ini.” Ucap Naura terus mengisi mulutnya hingga penuh tanpa menghiraukan Arlan.
“ Ckckck...Dasar kau ya! Terima Kasih sudah menerima lamaranku. Ah...aku sudah tidak sabar untuk menghalalkanmu.” Ucap Arlan tulus.
Blush....wajah Naura langsung memerah aktivitasnya terhenti. Dengan memberanikan diri, Naura menatap wajah Arlan lekat – lekat.
“ Aku yang seharusnya berterima kasih kak! Kakak sudah membuat hariku sangat bahagia. Malam ini adalah momen yang paling bersejarah bagiku. Di lamar dengan pria idaman dengan cara yang sangat romantis. Aaaahhh sudah seperti kisah dalam novel saja.” Jelas Naura.
“ Ehm.....apa kau bahagia?” tanya Arlan.
“ Tentu saja, aku pikir cintaku bertepuk sebelah tangan. Ternyata kakak membalas perasaanku.” Ucap Naura dengan senyuman yang lebar.
“ Terima kasih, untuk ke depannya aku akan berusaha membuat hari – harimu selalu tersenyum seperti ini.”
“ Terima kasih kak!tapi aku sangat penasaran, bagaimana kakak bisa menyukaiku?” tanya Naura serius menatap mata Arlan.
“ Ehm, entahlah aku juga tidak tahu, yang penting saat bersamamu aku merasa nyaman.” Ucap Arlan.
“ Baiklah, kau juga istirahatlah! Ini sudah larut.” Titah Arlan saat Naura selesai dengan hidangannya.
“ Iya kak! Sekali lagi terima kasih, kakak sudah menjemput keluargaku untuk hadir dalam acara ini. Aku permisi kak!” pamit Naura.
“ Ehm...” jawab Arlan singkat
“ Ish dasar pelit.” Ketus Naura berlalu meninggalkan Arlan.
__ADS_1
Melihat tingkah Naura yang kesal, membuat Arlan tersenyum sambil menatap punggung Naura yang sudah menjauhi ruang ballroom.
Tep...sebuah tangan mendarat di pundak Arlan.
“ Selamat ya Lan, akhirnya kapal kalian berlayar juga. Jika terlambat sedikit saja, sudah ku ambil alih tuh.” Ucap Rangga langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi.
“ Terima kasih kak! Meskipun terlambat aku tidak akan mau mengalah.” Balas Arlan.
“ Hahahahahahahha.....dasar kau ya!”
Arlan dan Rangga menghabiskan waktu mereka karena masalah pekerjaan membuat mereka sangat sibuk sehingga tidak memiliki waktu luang untuk sekedar minum kopi saja.
“ Lusa aku akan terbang ke Swiss ada proyek yang harus ku tangani.” Ucap Rangga memulai pembicaraan dengan segelas jus di tangannya.
“ Ah, berapa lama kakak akan tinggal?” tanya Arlan.
“ Entahlah! Mungkin akan memakan waktu yang lama.”
“ Jaga diri kakak di sana, semoga kakak cepat di pertemukan jodoh.” Harap Arlan.
" Tentu kak! Aku akan menjaga nya dengan nyawaku sendiri." ucap Arlan bersungguh - sungguh.
" Cih Narsis sekali kau ini!"
“ Kakak harus datang ke pernikahanku nanti meskipun kakak sangat sibuk. Dan beri aku kado pernikahan yang sangat mahal.” Ucap Arlan.
“ Kau jangan khawatir. Akan ku persiapkan semuanya.”
“ Aku tidak sabar untuk menantikannya. Baiklah kak, ini peintah dari ku. Malam ini temani aku minum sampai pagi.” Ucap Arlan sambil mengangkat gelasnya.
“ Baiklah, siapa takut. Ayo bersulang.” Balas Rangga.
“ Hati – hati di jalan ya Pak, Mak! Ah Naura masih ingin bapak dan emak tinggal lebih lama lagi di sini. Iyakan Nay!” ucap Naura setelah melepaskan pelukannya dengan emak.
“ Iya kak!” balas Naya
“ Kalau bapak dan emak di sini lebih lama lagi, bagaimana nasib kebun di kampung nduk!” jelas bapak memberi pengertian.
“ Iya Ra! Lagipula Nanda juga harus sekolah kan!” imbuh emak yang dianggukkan Nanda.
“ Baiklah! Hati – hati ya pak, mak! Jaga bapak dan emak ya Nanda.” Ingatkan Naura.
__ADS_1
“ Tentu dong kak! Sekarang Nanda menjadi anak kesayangan di rumah lho!” ejek Nanda.
“ Bagus – baguslah kau sekolah dan belajar dengan rajin. Awas kalau nilai mu lebih rendah dari kami.” Ancam Naya menunjuk wajah Nanda dengan jari telunjuknya.
“ Iya ya, cerewet amat sih, emak aja gak pernah sampai kayak gitu marahnya.” Cebik Nanda.
“ Kau ini....”
“ Sudahlah! Kalau kalian bertengkar terus, bapak dan emak akan terlmbat naik bus nya.” Ucap bapak melerai pertengkaran Naya dan Nanda.
“ Baiklah, hati – hati di jalan ya pak! kalau sudah sampai rumah jangan lupa telepon ya pak!” ucap Naya terus mencium punggung tangan bapak dan emak bergantian.
Begitu juga dengan Naura, yang masih terasa berat untuk melepas kepulangan emak dan bapak ke kampung.
“ Iya nduk! kalian juga, jaga diri dan kesehatan selama di sini. Assalamualaikum.” Pamit bapak dan emak.
“ Walaikumsalam.” Jawab Naura dan Naya bersamaan.
Bapak, emak dan Nanda masuk ke dalam bus. Setelah melambaikan tangan hingga bus melaju secara perlahan keluar meninggalkan terminal.
“ Ayo kak! Kita juga harus pulang.” Ajak Naya
“ Iya Nay.”
Kakak beradik itu pun bergegas meninggalkan terminal menuju angkot untuk kembali ke kos mereka.
Sebelum meninggalkan hotel, Arlan sudah menyuruh sopirnya untuk mengantarkan keluarga Naura ke kampung, namun bapak menolaknya secara halus karena merasa tidak enak sudah merepotkan. Bapak beralasan mereka sekalian ingin merasakan perjalanan jauh dengan menggunakan angkutan umum.
“ Bapak benar – benar hebat ya kak! Bisa – bisanya menolak tawaran kak Arlan untuk di antar dengan mobil yang mewah begitu. kalau naik bus kan perjalanan akan semakin lama.” Ucap Naya.
“ Bapak dan emak, dari dulu tidak mau merepotkan orang lain lho Nay, kau ini gimana sih masa gak paham juga dengan watak bapak.” Jelas Naura.
“ Yeaah, kak Arlan kan bukan orang lain lagi, dia itu sudah calon mantu lho.”
“ Masih calon. Ingat Nay calon.” Ucap Naura dengan menekankan kata calon.
“ Ah sama saja kali!”
Naura hanya menggelengkan kepalanya yang malas untuk berdebat dengan Naya.
__ADS_1
“ Ah terserah kau saja lah.”