
“ Selamat datang tuan! Silahkan menikmati makan malam dengan nyaman.” Ucap pelayan kepala kepercayaan Arlan yaitu pak Johny setelah mereka tiba di rumah makan milik Arlan.
“ Terima kasih pak Johny!” ucap Arlan yang di ikuti anggukan kepala dari yang lain.
Mereka pun masuk secara bergantian ke ruangan yang sudah disedikan beserta berbagai macam hidangan yang terlihat lezat dan mewah.
“ Wah.....! ini benar acara makan malam?” ujar Naura tertegun.
“ Ish, norak banget sih Ra!” ledek Abel.
“ Biar! kan memang benar lho menu makan malam ini benar – benar terlihat sangat lezat dan mewah sekali.” Ujar Naura.
“ Ehm, kau benar Ra! Apa ini tidak berlebihan.” Kata Abel.
“ Ini makan malam yang di luar dari bayanganku. Aku pikir ini makan malam yang biasa saja tetapi ini benar – benar makan malam yang sangat mewah.” Sambung Nadia.
“ Kalian ini ya! Norak banget sih! Ayo kita duduk dan mulai makannya.” Tegur Andreal yang melihat tiga sahabat tersebut paling heboh sendiri.
“ Ah iya.. Maaf!” ucap mereka bertiga.
Arlan, Naura, Naya, Galih, Dennis, Andreal, Abel dan Nadia mengambil posisi duduk masing – masing.
Arlan seperti biasa mengambil kursi yang berada di depan kursi Naura.
“ Kenapa kau begitu terkejut?” bisik Arlan yang mendekatkan sedikit wajahnya ke arah Naura.
“ Tii..daak apa – apa kak! Menu malam ini benar – benar sangat istimewa.” Ujar Naura sedikit gugup karena jarak diantara mereka hanya beberapa centi saja.
“ Tentu saja, malam ini adalah hari yang sangat istimewa dalam hidupku karena melihat seseorang yang sangat spesial bagiku telah menyelesaikan pendidikannya dengan sempurna. Itu berarti akan selangkah lebih maju menuju kehalalan bagiku.” Ucap Arlan.
Blusshhh...mendengar penjelasan Arlan membuat Naura seperti orang yang benar – benar sangat berharga dan spesial.
“ Ah, kakak bikin malu saja. Ini kan baru kelulusan sidang skripsi saja.” Ucap Naura.
“ Itu berarti kau sudah luluskan? Tinggal menunggu wisudanya saja.” Ujar Arlan.
“ Benar sih kak! Ya sudahlah, terima kasih atas traktiran makan malamnya.” Ucap Naura.
“ Ehm...ini belum seberapa masih ada yang lainnya lho.”
“ Benarkah! Aku tidak sabar menantinya.”
“ Kau tunggu saja.”
“ Ehem...hemmmmm. mau sampai kapan kalian akan berbisik - bisik seperti itu hah... dasar kalian ini.” Ujar Galih kesal melihat kemesraan Arlan dan Naura yang berbisik – bisik.
“ Maaf kak! Kalian lanjutkan saja makannya jangan hiraukan kami.”
__ADS_1
“ Sudahlah Galih! Biarkan mereka menikmati masa pacaran mereka.” bela Dennis.
“ Ah....baiklah lanjutkan saja tanpa hiraukan kami.” Ucap Galih yang masih merasakan kedongkolan di hatinya.
“ Hahahahhaahhahaha......” tawa Arlan dan Naura bersamaan melihat wajah Galih yang di tekuk.
Sementara yang lain hanya memperhatikan perdebatan mereka tanpa berani ikut campur mengeluarkan suara.
Abel, Nadia, Naya dan Andreal hanya dapat saling pandang satu sama lain sambil melanjutkan menyantap hidangan yang ada di depan mereka.
“ Ternyata kalau mengenal mereka lebih dekat begini, image di luaran sana yang telah melekat kepada mereka tidak lah benar kan! Aslinya mereka hangat dan tidak kaku.” Ucap Abel.
“ Kau benar Bel, pantes saja Naura selama ini kelihatan santai saat berhadapan dengan mereka.” imbuh Nadia.
“ Kalian mengghibahi orang tapi orangnya ada di depan mereka.” tegur Andreal.
“ Kita kan ngomongnya yang baik – baik aja lho Al!” ujar Abel
“ terserah kalian saja lah!”
“ Ohya kak! Sejak kapan kalian juga berteman dengan mereka!” tanya Naya yang melirik ke arah tiga sekawan yang terkenal akan kecuekannya.
“ Baru – baru saja lho, selama ini Naura merahasiakannya dari kami.” Jelas Nadia.
“ Ya karena kalian adalah sahabat Naura yang paling rempong dan heboh.” Potong Galih.
“ Ah! Kak Galih?” seru Abel dan Nadia terkejut.
“ Kalau mau menggosip jangan sampe kedengaran langsung ma orangnya dong! Enggak kreatif banget.” Cetus Galih.
“ Maaf kak!” sesal Abel dan Nadia.
“ Sudahlah! Ini karena image kalian yang sudah tertanam kuat di hati para fans kalian. makanya sangking asyiknya mengghibahi para idolnya mereka jadi tidak sadar tuh!” jelas Andreal.
“ Benarkah seperti itu?” tanya Dennis penasaran.
“ Benar!” jawab Abel dan Nadia bersamaan yang langsung tersadar akan ucapan mereka dengan spontan mereka menutup mulut mereka.
“ Hahahhahahahahaaaa.....” tawa Andreal seketika meledak karena sudah tidak dapat menahannya.
“ Tapi setelah mengenal lebih dekat dengan mereka image itu tidak lah benar.” jelas Abel
“ Benar! ini berkat Naura lho karena dia kita bisa mengenal orang – orang yang di luar jangkauan bahkan bisa makan satu meja seperti ini.” Imbuh Nadia membenarkan.
“ Ah! Kalian terlalu berlebihan tahu. Memangnya kalian pikir mereka ini siapa hah...kenapa terlalu memuja mereka. mereka juga hanya manusia biasa tahu....” oceh Naura yang membuatnya kesal sudah mengidolakan orang secara berlebihan.
__ADS_1
“ Memangnya kau menganggap mereka seperti apa Ra?” tanya Abel balik.
“ Ya sama seperti kita, sama – sama makhluk ciptaan Allah hanya saja nasib mereka lebih beruntung saja.” Ucap Naura enteng.
“ Benar juga sih! Tapi kan....”
“ Sudahlah! Kita lanjutkan saja makannya. Pamali lho makan sambil mengobrol.” Potong Naura yang melahap makanannya dengan suapan yang penuh.
“ Ah dasar kau ini...” cebik Abel.
Arlan dan yang lain hanya menonton perdebatan ketiga sahabat tersebut.
“ Ohya Lan! Kapan kalian akan menghalalkan hubungan ini?” tanya Dennis serius membuat yang lain juga merasa penasaran. Pasalnya Arlan maupun Naura tidak pernah membahas pernikahan mereka karena Naura masih fokus untuk menyelesaikan kuliahnya.
“ Aku sih tergantung pada Naura kapan ia siap, besok pun aku bisa untuk menikahinya.” Ucap Arlan tanpa beban.
“ Cieeeehhh yang sudah gak sabar...” ejek Galih.
“ Ya iyalah, kalau bisa cepat kenapa gak di segerakan saja daripada nanti akan menjadi fitnah.” Jelas Arlan sambil melirik ke arah Naura.
“ Bagaimana Ra?” tanya yang lain serentak.
“ Apa?” tanya Naura balik melirik ke arah Arlan meminta bantuan.
“ Ah kau payah! Kapan kau akan siap menjadi nyonya Arlan Putra Kusuma hah...” jelas Abel.
“ Kau tunggu saja surat undangannya. Lagian ini hari baru lulus sidang skripsi kan. Jangan buru – buru deh!” ujar Naura.
“ Baiklah! Kami akan setia menantikan surat undangan dari kalian.” kata Andreal.
“ Ohya, kabar kak Rangga bagaimana? Kakak tidak berubah sama sekali.” Tanya Galih pada Rangga yang sejak tadi hanya diam sebagai pendengar yang budiman.
“ Masih sama! Tidak ada yang berubah.” Jawab Rangga singkat.
“ Kak Galih salah, kak Rangga sudah ada perubahan sedikit tuh!” ucap Andreal.
“ Apa?” tanya Galih.
“ Kak Rangga sudah mulai bersahabat, baru kali ini ajakanku di terima sudah bertahun – tahun kalau mengajak kak Rangga pasti selalu di tolak dengan seribu alasan.” Jelas Andreal.
“ oh benarkah! Suatu kemajuan yang bagus.” Puji Galih.
“ Ngomong – ngomong, apa rumah makan ini milik tuan Arlan?” tanya Abel yang sejak tadi penasaran.
“ Jangan panggil aku tuan, aku tidak setua itu.” Sanggah Arlan.
“ Eh....maaf!” ucap Abel.
Suasana menjadi hening melihat keseriusan wajah Arlan yang dengan tegas menegur ucapan Abel.
__ADS_1