
Baru saja akan di balas oleh Naura, handphonenya bergetar panjang pertanda sebuah panggilan masuk. Naura pun menggeser tombol hijau ke atas untuk menerima panggilan tersebut.
“ Assalamualaikum” sapa Naura ketika panggilan sudah tersambung.
“ Walaikumsalam.” Ucap seorang pria dari seberang.
“ Kau sudah makan?” tanyanya
“ ini masih makan bersamaan dengan kakak menelepon.” Jawab Naura.
“ bagaimana hari pertamamu dalam perkenalan dengan para siswa di sana? Ada masalah?” tanya pria tersebut yang bernama Arlan.
“ Alhamdulillah lancar kak! Mereka tidak seburuk dari rumor yang beredar di sekolah ini. Ya meskipun penampilan dan sikap mereka sesuai dengan rumor.” Ucap Naura.
“ Kau baik – baik saja?” tanya Arlan.
“ Kenapa kakak bertanya begitu? seakan – akan aku mau berperang saja. Aku baik – baik saja kok? kakak mengkhawatirkan aku?” tanya Naura.
“ Hanya memastikan saja, secara dirimu itu pasti akan kalah dengan anak – anak di sana?” kata Arlan.
“ Maksud kakak?” tanya Naura tidak mengerti.
“ Intinya kau harus terlihat lebih kuat oleh mereka agar kau tidak mudah ditindas. Kalau kau butuh bantuan jangan sungkan minta lah padaku.” Tawar Arlan.
“ Iya kak,aku akan mengingatnya. Terima kasih sudah mengingatkan ku kak!” ucap Naura
“ Ehm, baiklah lanjutkan lah makan siangmu!” Ucap Arlan.
“ Iya kak! Kakak juga jangan lupa makan siang.” Kata Naura mengingatkan.
“ Ehm. Assalamualaikum.” Tutupnya
“ Walaikumsalam.”
Panggilan pun terputus, Naura melihat layar handphonenya yang masih tertera nama dasar Jaelangkung yang selalu membuatnya tersenyum tanpa sebab.
Setelah menyadari ia tersenyum sendirian di ruang guru, Naura menepuk – nepuk kedua pipinya dengan tangannya agar ia tersadar. Dan dengan lahap ia melanjutkan makan siangnya hingga habis.
Setelah selesai makan, Naura keluar ruangan untuk mencari mushalla karena sudah memasuki waktu shalat Dzuhur. Ia pun turun ke lantai satu menuju mushallah yang berada di sebelah taman sekolah yang cukup luas dan rindang.
Sementara Arlan masih melihat layar handphonenya sambil tersenyum. Seketika senyuman itu memudar kala ia teringat akan dua perusuh yang akan datang ke kantornya. Dengan segera Arlan mengetik pesan dan mengirimnya ke salah satu sahabatnya.
Setelah mengirimkan pesan, Arlan beranjak dari kursi kebesarannya keluar ruangannya menuju alamat yang baru saja ia kirim kepada kedua sahabatnya.
__ADS_1
“ Selamat siang Tuan, apakah anda akan makan siang di luar?” tanya Axel kala bosnya keluar melewati ruangannya.
“ Ehm, aku akan pergi sendiri kau handle saja sisa pekerjaan yang belum selesai. Mungkin aku akan terlambat. Dan jangan lupa pantau terus persiapan acara grand opening hotel Green Mounth.” Titah Arlan.
“ Baik Tuan!” ucap Axel menundukkan sedikit tubuhnya hingga Arlan sudah tak terlihat dari hadapannya.
Arlan pun melajukan mobil hitamnya menuju lokasi yang sudah ia share kepada dua sahabatnya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mobil pun berhenti di sebuah rumah makan yang berada di pinggir sebuah danau buatan. Yang kini sudah berdiri kokoh sebuah hotel yang terletak di seberang danau.
Rumah makan tersebut terlihat sama seperti dua tahun yang lalu, tidak banyak ada perubahan meskipun sudah beberapa tahun berjalan.
Mobil pun sudah terparkir dengan rapi, ia pun bergegas masuk ke dalam untuk menemui kedua sahabatnya yang sudah cukup lama mereka tidak bertemu.
“ Selamat datang Tuan Arlan!” sapa seorang kepala pelayan paruh baya yang sangat setia telah bekerja dengan Arlan selama tujuh tahun dari rumah makan ini di dirikan. Ia lah yang menghandle semua masalah pengoperasian rumah makan ini.
“ Terima kasih pak Johny, bagaimana kabar anda selama ini?” tanya Arlan dengan sopan meskipun pak Johny salah satu orang nya, Arlan tetap sangat menghormati Pak Johny seperti orangtuanya.
“ Kabar saya baik Tuan! Lalu bagaimana kabar anda sendiri setelah dua tahun tidak pernah berkunjung sejak anda membawa seorang gadis.” Tanya pak Johny.
“ Ah, saya merasa sangat sehat di banding hari – hari sebelumnya.” Jawab Arlan.
“ Syukurlah tuan, mereka sudah menunggu anda 15 menit yang lalu.” Ucap pak Johny.
“ Baiklah pak, terima kasih atas kerja sama kalian dalam menjalankan rumah makan ini dengan baik.” Kata Arlan.
“ Baiklah, bulan ini kalian akan mendapat bonus atas kerja keras kalian. dan ini ada undangan untuk kalian semua.” Ucap Arlan sambil menyerahkan kartu undangan untuk menghadiri grand opening Hotel Green Mounth.
“ Terima kasih banyak tuan. Mari saya antar tuan.” Ucap pak Johny mempersilahkan Arlan untuk berjalan di depannya.
“ Ehm.”
“ Hai bro! Bagaimana kabar mu? Selamat atas hotelmu!” ucap Galih tatkala Arlan tiba di meja tempat Galih dan Dennis yang menghadap ke danau.
“ Semuanya baik dan berjalan lancar. Lalu bagaimana kabar kalian sendiri?” tanya Arlan balik.
“ Kabar kita tentu baik dong! Setelah dua tahun akhirnya kita dapat meluangkan waktu seperti ini.” Ucap Galih.
“ Ah bagus lah. Nih untuk kalian akan lebih baik kalian membawa pasangan untuk menghadirinya.” Ucap Arlan sambil menyerahkan dua buah kartu undangan gold VVIP kepada Galih.
“ Waw, tidak salah kita salah satu tamu undangan ini?” ucap Galih dengan gaya narsisnya.
“ Sudah jangan banya tanya, mari kita makan terlebih dahulu.” Ajak Arlan.
__ADS_1
“ Syukurlah kau berhasil mengembangkan rencanamu dengan baik.” Ucap Dennis.
“ Terima kasih atas dukungan kalian selama ini.” Seru Arlan.
“ Ehm.” Dehem Dennis.
Mereka pun menikmati hidangan makan siang yng terbilang cukup mewah. Hal ini di lakukan karena hari ini dianggap spesial oleh mereka atas berkumpulnya kebersamaan mereka setelah dua tahun mereka menghabiskan waktu mereka masing – masing dengan kesibukannya.
Setelah selesai menyantap makan siang mereka, mereka pun membahas masalah kerja sama yang akan mereka jalani.
Dennis kini juga sudah memegang perusahaan ayahnya sebagai seorang CEO dari H.K Group yang bergerak dalam bidang pariwisata.
Dennis mencoba untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan yang dipimpin oleh Arlan terkait dengan masalah pembukaan dan peresmian Hotel Green Mounth.
Sementara Galih, masih berusaha mengembangkan perusahaan yang bergerak dalam bidang penyediaan jasa yang dirikan sejak dua tahun yang lalu.
Meskipun Galih terkesan terlihat menghabiskan waktunya untuk bermain – main namun jika masalah pekerjaan ia dapat bersikap profesional.
Setelah selesai mempelajari berkas kerjasama antara Arial Black Group dengan H.K Group mereka pun membahas hal – hal yang lebih santai.
“ Kau tahu, sepertinya aku sudah menemukan calon isteri masa depanku.” Ucap Galih membuka suara.
“ Kau yakin! Nanti juga akan menjadi korbanmu selanjutnya.” Ucap Arlan meragukan ucapan Galih.
“ Tidak.”
“ Ya terserah kau saja. Nanti aku akan buktikan padamu ok.” Jawab Galih.
“ Ehm, aku jadi penasaran wanita seperti apa yang telah berhasil memasuki hatimu yang penuh dengan wanita.” ucap Arlan.
“ Suatu saat setelah berhasil meluluhkan hatinya, akan aku perkenalan padamu.” Ucap Galih.
“ Baiklah akan ku tunggu sampai waktunya tiba.” Kata Arlan.
“ Kau tahu, jika kuperhatikan wajahnya yang sedikit terhalang oleh hijabnya, aku seperti familiar banget dengan wajahnya yang mirip dengan seseorang.” Ucap Galih penasaran.
“ Siapa?” tanya Arlan dan Dennis bersamaan.
“ Entahlah, tapi aku sangat yakin wajahnya benar – benar tidak asing.” Ucap Galih.
“ Hah! Dasar. Semua wanita di matamu sama saja. Kambing saja kalau di dandani pasti akan kau dekati bukan?” Cibir Dennis.
“ Ah, kau keterlaluan Den, iya kali kambing. Aku masih normal kali.” Kata Galih kesal.
__ADS_1
“ Hahhhaaaaaaaa....” ejek Arlan dan Dennis menertawai Galih.
Mereka pun menghabiskan waktu hingga senja setelah dua tahun tidak mendapatkan kesempatan seperti ini. Sambil menyantap makanan mereka pun menikmati waktu senggang dengan santai di depan danau buatan yang terbentang di hadapan mereka.