
“ Hati – hati ya Nduk! Apa pun yang terjadi dalam rumah tanggamu, kau sebagai seorang isteri harus menurut apa kata suamimu, selalu meminta izin jika kau ingin keluar rumah.” nasehat emak sebelum Naura berangkat.
pr
“ Iya Mak! Naura akan selalu ingat pesan – pesan emak dan bapak.” Ujar Naura dengan terisak.
Setelah saling berpelukan, mereka melepas kepulangan Naura bersama suaminya kembali ke kota.
“ Axel, tolong kau masukkan koper – koper ini ke bagasi mobil.” Titah Arlan kepada asistennya.
“ Baik Tuan."
“ Mulai sekarang tanggungjawab Naura, bapak serahkan kepadamu nak Arlan. Jadilah imam yang sesuai dengan syariah agama.” Ucap bapak menasehati menantunya.
“ Iya pak! Jika kelak aku khilaf tolong bapak jangan sungkan untuk menegurku.” Balas Arlan.
“ Baiklah! Hati – hati kalian di jalan. Kalau sudah sampai jangan lupa kalian memberi kabar.” Titah bapak.
Naura memeluk emak dengan erat yang di iringi dengan airmata. Setelah berpamitan mereka pun menuju mobil yang sudah di sediakan.
“ Da dadaah... Assalamualaikum...” teriak Naura melambaikan tangannya lewat jendela mobil yang perlahan – lahan melaju ke jalanan.
Pukul 21.00 Naura meninggalkan rumah dan kampung halaman yang sudah membesarkannya selama 22 tahun ini. Malam ini kehidupan Naura akan memasuki lembaran baru bersama sang suami yang akan menemaninya di sisa hidupnya.
“ Ah, lihat mata mu sudah seperti tersengat lebah begitu.” goda Arlan melihat Naura yang masih sesenggukan.
“ Maaf mas! Naura masih terbawa perasaan, yang akan menjalani hidup baru bersama mas ke depannya. Jelas Naura sedih dong meninggalkan emak, bapak, Naya dan Nanda.” Jelas Naura.
“ Kan kita bisa mengunjungi mereka jika kau kangen.” Ucap Arlan menenangkan Naura.
“ Iya mas, makasih.”
“ Ehm....nah kau coba buka kado dari mbak Aran dan suaminya.” Titah Arlan sambil menyerahkan sebuah kotak dan amplop berwarna pink.
“ Ehm, kira – kira apa isinya ya mas!” tebak Naura sambil menggoyang – goyangkan kotak yang berukuran sedang.
“ Kalau yang itu nanti saja di buka, sekarang buka saja amplop itu.”
“ Kenapa Mas!”
“ Belum butuh saja.”
“ Maksudnya?” tanya Naura tidak mengerti.
“ Nanti juga kau akan tahu jika sudah melihat isinya.”
__ADS_1
“ Ah apa si mas! Bikin orang penasaran saja.”
“ Buka saja amplopnya.”
Dengan mengesampingkan rasa penasarannya, Naura menuruti perkataan suaminya sekarang ia tidak ingin berdebat dan membantah.
“ Ini?” dengan wajah yang terkejut Naura mengangkat beberapa lembar voucher paket liburan, tiket pesawat bahkan tiket nonton.
“ Kau suka?”
“ Sangat suka Mas, ini benar – benar kado yang sangat mengejutkan. Mbak Aran terlalu matang untuk menyiapkan sebuah surprise sebagai kado pernikahan kita. Darimana mbak Aran mendapatkan ini semua?” tanya Naura dengan wajah terkejut bercampur haru.
“ Kau lupa siapa mbak Aran itu? Dia adalah seorang wanita yang memaksakan diri untuk mendapatkan keinginannya dengan cara apapun. Chanelnya sangat luas apalagi dukungan dari mas Rozi. Tidaklah sulit bagi seorang Aran.” Jelas Arlan.
“ Ah, benar – benar hebat ya kekuasaan yang dimiliki seseorang.”
“ Kau juga bisa menggunakannya.”
“ Ehm....untuk saat ini masih belum di butuhkan mungkin suatu saat Naura akan menggunakannya.” Ucap Naura dengan sebuah senyuman karena sebuah ide telah terlintas dan singgah di pikirannya.
“ Baiklah! Apapun itu kau tinggal bilang saja.”
“ Iya Mas. Terima kasih. ohya ngomong – ngomong kapan akan kita pakai tiket ini Mas?” tanya Naura.
“ Kau lihat saja jadwal penerbangannya.”
“ Hah,,besok jam delapan pagi?”
“ Kenapa? Kau masih lelah?” tanya Arlan khawatir melihat ekspresi Naura yang terlihat keberatan.
“ Ah, enggak mas! Secepat itu? Ehm Naura pikir akan...”
“ Akan apa? kau mengharapkan sesuatu akan terjadi?”
“ Ah, enggak. Itu....” gagap Naura sambil menggaruk kepalanya.
“ Kau tenang saja, apa yang kau pikirkan akan terjadi di waktu yang tepat dan akan menjadi sebuah momen yang spesial dan indah dalam hidupmu.” Goda Arlan.
“ Memangnya apa yang Naura pikirkan? Kenapa Mas bicara seperti itu?” ucap Naura dengan wajah yang merona menahan malu karena Arlan dapat membaca pikirannya.
“ Ehm... sudahlah jangan terlalu keras memikirkannya. Sekarang kau istirahatlah karena perjalanan kita masih membutuhkan beberapa jam lagi.”
“ Kita mau kemana Mas?”
“ Ke hotel.”
__ADS_1
“ Oh...baiklah! kalau begitu Naura tidur sejenak ya Mas.” Ucap Naura langsung menyandarkan kepalanya di pundak Arlan.
“ Ehm..tidurlah agar kau tidak lelah!”
Arlan pun mendaratkan sebuah kecupan di dahi Naura sebelum ia tertidur pulas. Baik Arlan maupun Naura mereka serasa mimpi bisa sampai ke jenjang yang halal. Sekarang dengan status baru mereka, mereka pun tak sungkan dan takut lagi jika terjadi kontak fisik. Kini Naura sudah bebas dan halal jika di sentuh oleh Arlan.
Dengan penuh rasa kasih sayang yang besar, Arlan mengelus – elus pipi dan memeluk Naura dengan erat. Dengan tersenyum Arlan memandangi wajah Naura yang semakin hari semakin cantik dan meresahkan akan naluri kelelakiannya.
Kini wanita yang beberapa tahun silam telah mengganggu ketenangan hidupnya telah berada di dekapannya dengan wajah yang meneduhkan jiwanya.
“ Aku akan cuti selama seminggu.” Ucap Arlan kepada Axel yang sedang fokus mengemudi.
“ Baik Tuan, semoga anda menikmati perjalanan bulan madu dan membawa oleh – oleh yang sangat di nantikan oleh semua orang.” Seru Axel.
“ Kau tenang saja, dengan senang akan aku kabulkan.”
“ Aku tidak sabar menantinya. Sekali lagi, selamat atas pernikahan anda tuan, aku senang melihat anda bahagia dengan wanita yang anda cintai.” Ucap Axel dengan tulus.
“ Terima kasih! segera lah kau menyusul agar hidupmu tidak garing.” Ledek Arlan.
“ Cih... Anda mengejekku padahal beberapa tahun yang lalu anda lebih garing dibandingkan dengan ku.”
“ Ck...dasar kau! Tapi sayangnya itu sudah berlalu dan tidak membutuhkan waktu yang lama.”
“ Hahahahahha....ternyata pengaruh nyonya sangat besar bagi hidup anda tuan.”
“ Ah terserah kau saja. Karena suasana hatiku sedang baik, bonusmu masih aman.” Cebik Arlan.
“ Syukurlah! Semoga suasana hati anda setiap hari selalu baik dan bahagia agar kesempatan ini sering – sering terjadi.”
“ Hei...jangan melewati batas!”
“ Puftt.....hahahhaha.”
“ Perhatikan jalanmu.”
Dengan tawa yang masih keluar dari mulut Axel, ia pun tetap fokus mengendarai mobil dengan sesekali melirik Arlan dari kaca spion.
Ini kesempatan yang langka ia bisa mengerjai sang bos sekaligus sahabatnya.
Ya, Arlan dan Axel sudah menjadi sahabat sejak tujuh tahun yang lalu dimana Axel merupakan seorang anak yatim piatu yang pernah merasakan hidup di panti asuhan. Berkat bantuan dari keluarga Kusuma, Axel dapat merasakan bangku pendidikan hingga kejenjang universitas.
Melihat skill dan kemampuan Axel yang tidak biasa, membuat Arlan tidak menyia – nyiakan bakatnya. Arlan pun langsung menjadikan Axel sebagai asistennya maupun rekan kerja dalam membantu mengurus perusahaan yang ia dirikan sendiri di samping mengelola anak perusahaan milik ayahnya.
Karena Axel merasa berhutang budi, dengan senang hati ia menerima tawaran Arlan dan berjanji akan melayani keluarga Kusuma sepenuh hati.
__ADS_1
Saat mereka sedang berdua, bahasa yang mereka gunakan tidaklah bersifat formal sebagaimana hubungan seorang sahabat bukan hubungan seorang bos dengan anak buahnya.