Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 25 Dasar Jaelangkung


__ADS_3

" Selamat pagi adik - adik mahasiswa. Hari ini kita akan melaksanakan kegiatan mos di luar ruangan yaitu di puncak sekaligus melakukan kegiatan amal untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Jadi, kalian bersiap-siaplah naik ke bus masing-masing sesuai dengan fakultas kalian. Setiap fakultas akan di ketuai oleh satu orang dari panitia ospek. Kalian paham.” Kata Galih selaku ketua panitia ospek memberikan pengarahannya kepada para mahasiswa baru.


“ Pahaaaam kak.” Jawab para mahasiswa serentak


Para mahasiswa dari masing-masing fakultas segera menaiki bus yang telah disediakan yang didampingi beberapa orang mahasiswa senior.


Naura dan Abel telah menaiki bus nomor 12 tanpa sepengetahuannya Arlan juga menaiki bus yang sama.



Naura dan Abel memilih duduk di bangku bagian tengah tetapi tidak satu bangku. Abel memilih sebangku dengan cowok gebetannya. Sedangkan Naura hanya duduk sendirian. Melihat kesempatan itu, Arlan segera duduk di samping Naura.


“ Kak Ar....” kata Naura terkejut


“ Sssttt,” potong Arlan sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir.


“ Kenapa kakak ada di sini?” tanya Naura berbisik


“ Kau lupa, aku kan salah satu dari panitia ospek, ya jelas bisa dong.” Jawab Arlan santai. “ Sudah ah, aku mau tidur, jangan berisik jika kau tidak mau jadi pusat perhatian.” Lanjut Arlan pasalnya ia menyamarkan penampilannya dengan memakai topi hitam dan masker serta pakai jaket. Hal ini ia lakukan agar keberadaannya tidak menimbulkan kegaduhan di kalangan para mahasiswi baik yang senior maupun junior.


Melihat sikap Arlan yang aneh Naura hanya mengedikkan kedua bahunya tanda ia malas berdebat. Meskipun hal ini selalu membuat jantungnya berdegub dengan kencang. Ia pun mencuri pandang melihat Arlan yang sedang menyandarkan punggung dengan mata yang terpejam.


“ Kau beruntung bisa melihatku sepuasnya.” Bisik Arlan yang membuat Naura terkejut dan menjadi salah tingkah.


“ Si..apa juga yang melihat kakak.” Sanggah Naura


“ Tidak masalah, aku tidak keberatan kok.”


“ Jika pun aku dapat melihat kakak, itu karena kakak selalu muncul di dekatku secara tiba - tiba. Seperti jaelangkung saja, datang tak di jemput pulang tak diantar.” Oceh Naura dengan wajah yang memerah.


"Sudah lah jangan bohong.”

__ADS_1


“ Siapa yang bohong, kan emang benar kakak selalu datang dengan tiba - tiba.”


“ Tuh, wajahmu tidak bisa bohong.”


“ kenapa dengan wajahku?”


“ Merah Seperti tomat.”


Blush, seketika wajah Naura semakin memerah karena ia tidak bisa menutupi wajahnya yang merona. Hal ini membuat Arlan tersenyum puas telah menggoda Naura.


“ Iss,, kak Ar.....”


“ Jangan teriak, nanti kau akan menggemparkan penumpang bus ini.” Potong Arlan sambil membekap mulut Naura dengan tangannya. Sontak membuat mata Naura melebar dan suara degub jantungnya semakin kencang. Ini kedua kalinya posisi wajah Arlan sangat dekat dengan wajah Naura.


“ Ra, kau baik - baik saja di belakang?” tanya Abel yang berada di bangku depan setelah sempat mendengar kegaduhan dari bangku Naura.


“ Iy...a Bel, aku baik - baik saja. Tadi terbawa suasana karena sedang menonton drakor.” Bohong Naura.


“ Iya Bel, Kau tenang saja.”


“ Sudah ku bilangkan.” Kata Arlan


“ Is, inikan gara - gara kakak juga selalu membuatku terkejut.” Ucap Naura.


" Memangnya apa yang aku lakukan sampai kau terkejut?" Tanya Arlan


" Kakak sih gak melakukan apa - apa tapi kakak itu seperti jaelangkung." Kata Naura


" Ehm, kenapa kau bawa - bawa jaelangkung?" Tanya Arlan sambil mengernyitkan alisnya.


" Itu hanya perumpamaan saja kak, karena jaelangkungkan datang tak di jemput pulang tak diantar. Begitu juga kakak yang datangnya tak dijemput pulangpun tak di antar." Kata Naura

__ADS_1


" Is kau ini, kemarin kau memberi julukan jin Jono sekarang jaelangkung nanti apa lagi?" Ucap Arlan


" Ya mau gimana lagi kak, kakak kan memang seperti dengan mereka yang tiba - tiba muncul hanya saja kakak itu gan.....ups" Kata Naura langsung menutup mulutnya hampir saja ia keceplosan


" Hanya saja?" Kata Arlan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Naura sehingga mengikiskan jarak diantara mereka. Sontak saja membuat Naura menjadi gugup. Tubuh Naura seakan membatu ia tidak bisa bergerak, dengan jarak yang begitu dekat Naura bisa merasakan hembusan nafas Arlan yang beraroma mint. Tidak dipungkiri, meskipun Naura sangat gugup tetapi hatinya sangat menikmati hembusan nafas dan wajah Arlan yang dapat memabukkan jiwa Naura.


Begitu juga dengan Arlan, dengan situasi yang seperti ini sontak membuat degub jantungnya begitu kencang. Ada perasaan yang hangat dan nyaman menusuk ke dalam hatinya ketika melihat wajah Naura yang polos dengan jarak yang begitu dekat yang membuat jiwanya merasa damai.


Namun, Arlan dapat menutupi wajah meronanya dengan ekspresi datarnya. Apa jadinya jika Naura dapat melihat wajah Arlan yang merona seperti udang yang direbus. Hal ini akan sangat memalukan bagi dirinya.



Mereka berdua bagai tersihir dan dengan degub jantung yang sangat kencang, mereka sangat menikmati situasi ssperti ini. Namun tidak berapa lama Naura langsung tersadar dan langsung memundurkan kepalanya menghadap jendela. Dengan wajah yang merona dan hati yang berdebar - debar Naura berusaha menenangkan dirinya agar tidak sampai memalukan dirinya.


“ Ba...iklah kak, aku mau tidur agar tidak mabuk perjalanan” kata Naura gugup tanpa melihat Arlan. Naura berusaha memejamkan matanya meskipun bayang - bayang wajah Arlan masih sangat membekas di hatinya.


Melihat Naura merasa gugup dan malu membuat Arlan tidak bisa menahan tawanya. Sambil tersenyum ia menatap Naura yang memalingkan wajahnya.



Bus pun terus melaju, membelah jalan raya yang cukup padat. Perjalanan mereka membutuhkan waktu 2 jam. Tanpa sadar Naura sudah menuju ke alam mimpi dengan seulas senyuman di bibirnya. Melihat Naura sudah terlelap Arlan memindahkan kepala Naura ke pundaknya agar kepala Naura tidak terbentur di jendela bus. Melihat Naura yang tertidur dengan wajah yang damai membuat Arlan ingin menyentuh wajah polos tersebut. Arlan segera merogoh saku jaketnya guna mengambil ponselnya. Dengan gerakan yang cepat ia berhasil mencuri foto Naura yang sedang terlelap.



Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam, sampailah mereka di puncak.


“ Ra, bangun! Kita sudah sampai.” Kata Abel sambil menggoyang – goyangkan pundak Naura. Sontak membuat Naura membuka matanya, masih dalam keadaan setengah sadar Naura mengucek – ngucek matanya sambil celingukan melihat di sekitarnya.


"Kau mencari siapa Ra?” Tanya Abel


“ Ehm tidak ada Bel, sudah lama kita sampainya?” Kata Naura masih kebingungan karena ia tidak melihat Arlan di sampingnya. Sejak kapan ia sudah turun dari bus ini? ‘Dasar Jaelangkung.’ Gumam Naura.

__ADS_1


“ Tidak, baru 10 menit. Yuk, kita turun.” Ajak Abel dan mendahului Naura yang masih terlihat lesu karena baru terjaga. Naura pun segera mengemasi barangnya sambil celingukan dan menggeleng – gelengkan kepalanya ia pun segera turun menyusul Abel. ‘ Ehm, sudahlah. Nantikan dia muncul lagi.’ Gumamnya.


__ADS_2