Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 111 Hari Wisuda Naura


__ADS_3

“ Kyaaaa.....Selamat ya untuk kita semua! Akhirnya kita bisa mengikuti moment yang sangat bersejarah ini dengan personel yang lengkap!” teriak Abel sambil merangkul kedua sahabatnya Naura dan Nadia.


“ Hei! Kenapa mereka saja yang di peluk? Kami juga sahabatmu kan?” omel Frans yang tak terima.


“ Enak saja! Bukan muhrim tahu!” cebik Abel memonyongkan bibirnya ke depan.


“ Kalau begitu, ayo segera ku halalkan.” Ujar Frans.


“ Dasar kau....! pergi sana.”tolak Abel.


“ Sudahlah! Di hari yang spesial ini mengapa kalian masih seperti anak – anak saja sih!” ujar Andriel menengahi perdebatan mereka.


“ Ah... Alhamdulillah! akhirnya kita bisa menyelesaikan pendidikan selama empat tahun ini dengan nilai yang memuaskan.” Ucap Naura bersyukur.


“ Hei...bagaimana sehabis acara ini, kita merayakannya di restoran kak Arlan?” ujar Andriel.


“ Setuju......!” teriak yang lain kecuali Naura.


“ Kenapa kalian memilih makan di Restoran Mas Arlan?” tanya Naura.


“ Ya tentu saja biar bisa dapat gratisan dong... iya gak!” ujar Abel.


“ Iya dong!” timpal Nadia.


“ Ehem...! Apanya yang gratis!” tanya suara bariton milik seorang pria yang tidak asing bagi mereka.


“ Eh!! Kak Arlan.”


“ Mas Arlan.”


Ucap mereka serentak dengan wajah yang pucat.


“ Selamat ya untuk junior – junior kakak yang sudah menyelesaikan pendidikan kalian dengan baik.” Ucap Galih memberi selamat.


“ Ah, kak senior datang juga?” ucap Abel.


“ Pastinya dong! Meskipun karena seseorang juga sih!” lirik Galih menatap Arlan, sementara yang di lirik hanya cuek tanpa menghiraukan orang – orang di sekitarnya.


“ Selamat ya sayang! Akhirnya selangkah lagi untuk menghalalkanmu!” ucap Arlan menghampiri Naura sambil memberikan sebuah buket bunga yang cukup besar dan sebuah boneka panda.


“ Ah, terima kasih Mas!” ujar Naura dengan wajah yang memerah dengan tangan yang penuh.

__ADS_1


“ Ehem.. benar ya! Kalian berdua yang pemilik bumi ini yang lain hanya mengontrak.” Seru Galih.


“ Biari, kau juga akan mengalaminya. Akan ku tunggu hari itu.” Ancam Arlan.


“ Ish ish ish,, tapi tidak sama denganmu kali.” Bela Galih.


“ Sudahlah, sampai kapan kalian akan berdebat seperti ini. Acara akan di mulai.” Ucap Dennis buka suara setelah melihat perdebatan di antara mereka.


“ Ah, iya. 15 menit lagi.” Ucap Naura.


Setelah sempat terjadi perdebatan yang tak berfaedah, mereka pun segera masuk ke aula.


Hari yang menjadi spesial bagi Naura dan teman – temannya dalam mengikuti ritual acara wisuda dan penyerahan ijazah yang selama empat tahun mereka perjuangkan.


Dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur yang terpancar di wajah mereka mengiringi langkah menuju kursi para peserta wisuda.


Selama empat tahun, Naura berjuang menempuh pendidikan dalam menggapai cita – citanya meskipun banyak batu kerikil yang menghalangi jalannya.


Dengan penuh keyakinan, kesabaran dan penuh doa yang selalu mengiringi langkahnya hingga ke titik pencapaian berhasil dari usahanya selama ini.


Melihat wajah kedua orangtua Naura yang mulai keriput, rasa lega menyusup ke hati Naura yang sudah berhasil membanggakan nama mereka dan menepis pemikiran masyarakat yang memandang rendah masalah pendidikan.


“ Awas luntur tu make up!” seru Naya menyenggol lengan Naura.


Naura berada di meja urutan paling depan bersama keluarganya dan Arlan. Acara wisuda berjalan dengan tertib dan secara khidmat.


Naura tak henti – hentinya mengucapkan rasa syukur atas kenikmatan Allah berikan hingga di akhir masa pendidikannya ia di beri kenikmatan masih dapat berkumpul dengan keluarga dan seorang pria yang selama ini menjadi penyemangatnya selama menempuh pendidikan.


“ Kau baik – baik saja?” tanya Arlan cemas melihat wajah Naura yang terlihat sedih.


“ Kenap Mas?” tanya Naura balik.


“ Kenapa wajahmu seperti itu?”


“ Ah! Naura baik – baik saja Mas. Naura hanya terharu bisa sampai ke titik ini dan bersyukur di kelilingi oleh orang – orang yang Naura sayangi.” Ucap Naura.


“ Nikmatilah hasil kerja kerasmu selama ini. Kau pantas mendapatkannya!” seru Arlan.


“ Iya Mas! Terima kasih selama ini sudah mensuport Naura.”


“ Ehmmm...”

__ADS_1


Suasana aula begitu terasa hidup, wajah – wajah bahagia terpancar dari setiap wisudawan / wisudawati yang berhasil melewati berbagai rintangan dalam menjalani masa pendidikan mereka selama empat tahun ini.


Matahari sudah beranjak di atas kepala, acara wisuda yang sakral telah selesai dengan lancar. Para orangtua, kerabat, dan sahabat saling memberi selamat kepada mereka yang wisuda. Dan tak lupa untuk membuat kenang – kenangan mereka berfoto – foto ria dalam meluapkan rasa kegembiraan mereka.


Begitu juga dengan Naura dan sahabat – sahabatnya tak ingin ketinggalan dalam momen ini.


Dengan gaya yang rempong, mereka mengeluarkan ekspresi mereka dengan lepas tanpa menyisakan perasaan yang suram.


“ Siap ya.. satu..dua..tiga....” cekrek Galih berperan sebagai fotografer cabutan untuk mengambil foto Naura dan keluarganya.


Selesai beberapa jepretan, Galih dan Arlan pun tidak ingin ketinggalan untuk berfoto bersama pujaan hati mereka masing – masing.


“ Alhamdulillah, selamat ya nduk! Kau berhasil menyelesaikan kuliahmu dan semoga cita – citamu segera terwujud.” Ucap Bapak dengan rasa haru.


“ Amin...iya Pak! Terima kasih pak, semoga apa yang kita harapkan segera terkabul.” Doa Naura dengan tulus.


“ Amiiinn..” mereka yang berada di sana juga turut mengaminkan doa Naura.


waktu sudah menunjukkan pukul 14.20 waktu setempat, setelah para orangtua memberi selamat kepada anak – anak mereka dan sahabatnya sudah undur diri.


Suasana pelataran aula, masih terlihat ramai oleh para kerabat dan sahabat wisudawan/ wisudawati yang sedang asyik berselfi ria dan berlomba – lomba memamerkan hasil jepretan mereka di akun media sosial mereka masing – masing.


“ Gimana rencana selanjutnya? Hah...apa tidak ada acara makan – makan nih!” lirik Galih menyipitkan matanya ke arah Arlan.


“ Kenapa kau menatapku seperti itu?” teriak Arlan.


“ Ish kau ini gak peka! Dasar.” Lirikannya berubah haluan ke arah Naura.


“ Kenapa hah... apa yang kakak harapkan dariku?” tanya Naura mengerti akan maksud tatapan Galih.


“ Bujuklah bucin mu itu Ra!” bujuk Galih.


Setelah melakukan beberapa isyarat – isyarat dalam saling membujuk akhirnya dapatlah kata final untuk acara selanjutnya.


“ Ehm, baiklah karena hari ini hari spesial calon imamku akan kuberikan diskon 50 % di restoranku.” Ucap Arlan yang sontak mendapat serangan tatapan tajam dari beberapa pasang mata.


“ Mas!” Naura mencubit pinggang Arlan.


“ Awwww....ok..ok..ok... Ayo ku traktir kalian semua makan!” ringis Arlan menahan tawa plus sakit.


“ Yeaaaaahhhhhh, ayo makaaaannnnnn!” sambut mereka dengan teriakan yang mengiringi langkah mereka menuju restoran untuk merayakan hari wisuda Naura dan sahabat – sahabatnya.

__ADS_1


Dengan di iringi bersenda gurau mereka memasuki mobil mereka masing – masing. Arlan dan Naura dalam satu mobil, Galih memaksa Naya agar satu mobil dengannya, Dennis bermain solo, sementara Andreal satu mobil dengan Abel, Nadia dan Frans.


__ADS_2