Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 77 Debu - Debu Gosip


__ADS_3

Saat Naura memasuki halaman parkir sekolah dengan berjalan kaki, ia merasakan suasana yang mencekam dengan aura yang berbeda dengan hari biasanya. Semua mata menatapnya dengan tatapan yang sinis dan menjijikkan.


Meski merasa tak nyaman, Naura terus berjalan ke ruang guru yang berada di lantai atas.


“ Ish sayang sekali ya penampilannya yang polos seperti itu hanya di jadikan modus dalam melaksanakan kerjaan kotornya. Dan anehnya mengapa ia diterima magang di sekolah yang bermartabat ini sih!” cetus seorang salah satu siswa kepada temannya saat Naura lewat di depan mereka.


“ Iya nih, aku kasihan dengan pakaiannya Kan jadi ikutan kotor karena perbuatannya. Atau jangan – jangan ia memakai siasat kotornya itu agar bisa magang di sekolah ini.” Timpal temannya yang berambut dengan gaya bob.


Mendengar desas – desus yang menyudutkannya, Naura hanya menatap sekumpulan siswa yang sedang mengghibahi dirinya dengan tatapan yang bingung.


“ Mereka bicara apa sih, kenapa menatapku seperti itu?” gumam Naura sambil terus berjalan tanpa menghiraukan suara desas – desus yang semakin ramai.


Tiba di lobi lantai 2 seseorang menarik lengannya dengan kuat dan membawanya ke pintu darurat.


“ Hei lepaskan! Siapa kau hah..” teriak Naura yang hanya dapat menatap punggungnya dari belakang.


Sesampai di tangga darurat, Naura sangat terkejut melihat seseorang yang menarik lengannya.


“ Kau.....apa yang....”


“ Ssttt....ibu jangan berisik” ucap pria tersebut dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya.


“ Apa yang kau lakukan hah?” tanya Naura dengan suara yang sudah di kondisikan.


“ Ini, lihatlah!” ucap Vixel sambil menyodorkan sebuah foto – foto yang ada di forum sekolah di layar handphonenya.


Dengan mata yang membulat sempurna, Naura mengambil handphone dari tangan Vixel dan melihatnya dengan seksama.


“ Astaghfirullahalazim...ini.... bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Naura dengan bibir yang gemetar.


“ Jadi ibu tidak mengetahui foto – foto ini?” tanya Vixel


“ Pantas saja semua orang berbisik dengan tatapan yang aneh saat melihatku.” Ucap Naura sudah mengerti keadaan yang telah terjadi.


“ Kau dapat darimana foto ini?” tanya Naura.


“ Dari forum sekolah bu!” jawab Vixel


“ Astaghfirullahalazim, fitnah apa lagi ini ya Allah. Kau tahu siapa yang mengirimnya?” tanya Naura.


“ Untuk saat ini, aku belum tahu bu. Aku hanya ingin memastikan saja apa benar yang di dalam foto ini adalah ibu?” tanya Vixel balik.


“ Ehm benar, apa kau percaya dengan apa yang tertulis di sana?”


“ Tidak, baiklah sepulang sekolah ibu harus menjelaskannya padaku.”

__ADS_1


“ Baiklah, terima kasih Vixel kau sudah mempercayai ku. Ngomong – ngomong bagaimana kabarnya Ayla? Bagaimana sekalian kita kesana. Kebetulan ada yang ingin saya sampaikan.” Ucap Naura.


“ Sekarang ayo kita keluar agar keadaannya tidak semakin runyam.” Ajak Naura pergi duluan meninggalkan Vixel.


“ Baiklah.” Ucap Vixel menunggu Naura agar keluar terlebih dahulu.


Dengan sedikit ragu, Naura memasuki ruang guru dengan perlahan, untung saja ia datang sedikit lebih awal.


“ Selamat pagi.” Sapa Naura kepada beberapa orang staf dan guru yang sudah berada di posisinya.


“ Pagi.” Jawab mereka.


Naura berjalan menuju mejanya. Jadwal mengajarnya akan dimulai satu jam lagi, sambil menunggu waktu ia pun membuka bungkusan yang ia beli di warung pinggir jalan. Dengan segera Naura melahap makanannya dengan perlahan sambil melirik kesegala ruangan.


“ Ah, ternyata kau orangnya. Hebat ya masih ada waktu untuk makan dengan santai dan tenang begitu.” ucap salah satu guru wanita yang terlihat masih muda memakai pakaian blazer pink dusty dengan bawahan rok selutut.


“ Maaf bu, maksud anda apa ya?” tanya Naura menghentikan kegiatan makannya.


“ Ah, kau tidak tahu masalahmu sendiri. Dasar ya! Kelihatannya polos tapi munafik jadi orang. Apa kau tidak lihat beritamu di forum sekolah ini hah...kau benar – benar berani sekali mencoreng nama baik sekolah ini dengan pekerjaan kotormu itu.” Cetus guru wanita tersebut yang bernama Gaby.


“ Gaby, tenanglah! Jangan menghakiminya sendiri. Kita bicarakan ini secara baik – baik. Saya sudah mengkonfirmasi kepada operator yang bertanggungjawab dengan masalah ini dan menyuruhnya agar segera di hapus dari forum.” Tutur Bu Tiwi.


“ Apa lagi yang dijelaskan sih bu, uda jelas – jelas yang di dalam foto itu adalah dirinya kenapa masih di sangkal sih.” Ketus Gaby.


Sementara Naura hanya tertunduk mendengarkan perdebatan sesama guru – guru yang ada di ruangan ini.


“ Maafkan saya bu, saya akui itu adalah benar diri saya. Kemarin malam saya memang berada di hotel tersebut tetapi saya bekerja sebagai staf cabutan dalam acara pertunanga anak seorang pengusaha yang ternama di negera ini. Kalau ibu tidak percaya saya bisa membuktikannya.” Jelas Naura.


“ Lalu siapa pria yang bersamamu itu?” tanya Gaby.


“ Ehmmmm....it...uu”


“ Pria yang ada di dalam foto tersebut adalah saya.”


Potong seorang pria yang sudah berada di ruang


guru membantu Naura untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


Semua orang yang berada di ruang guru sangat terkejut akan sosok yang berada di depan mereka.


“ Pak Rangga...?” Ucap mereka secara bersamaan.


“ Ya benar, kemarin malam saya tidak sengaja bertemu dengan Naura di hotel tersebut. Naura memang benar bekerja sebagai staf pengganti dan karena ia merasa kurang enak badan saya tidak sengaja bertemu dengannya di lobi hotel dan mengantarkannya pulang.” Jelas pak Rangga.


“ Ah benarkah pak Rangga?” tanya Gaby.

__ADS_1


“ Lalu apa hubungannya dia dengan bapak?” tanyanya lagi.


“ Naura adalah asisten saya sejak dua tahun yang lalu dan kebetulan saya adalah dosen pembimbingnya saat ia melakukan magang di sekolah ini. Jadi saya juga bertanggung jawab dengan keselamatan dirinya. Masalah rumor – rumor yang telah beredar di forum sekolah itu hanyalah fitnah dan saya berjanji akan mencari siapa di balik ini semua.” Ucap Rangga tegas.


“ Ah syukurlah. Saya juga mencurigai ada seseorang yang ingin mencelakai Naura dengan menyebarkn rumor yang tidak benar.” kata bu Tiwi.


“ Sekarang saya harap, masalah ini jangan di besar – besarkan. saya tidak akan membiarkan seseorang yang sudah mengusik mehidupanku dengan cara kekanak – kanakan seperti ini.” Ucap Rangga.


“ Baiklah pak Rangga! Terima kasih anda sudah datang untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Karena saya khawtir jika masalah ini dibiarkan akan berdampak pada nama baik Naura dan sekolah. Dan tentunya para siswa juga akan tidak menghargai Naura sebagai guru mereka.” ucap bu Tiwi selaku kepala ruangan yang bertanggung jawab di bagian jenjang SMA.


“ Baiklah saya permisi. Dan saya pastikan semua foto – foto yang ada di forum akan saya blokir sekaligus si pengirim dari kehidupan ini.” Ucap Rangga tegas .


“ Dan kau, sepulang sekolah aku ingin berbicara denganmu.” Ucap Rangga menunjuk Naura yang masih dengan posisi menundukkan kepalanya.


“ Baik pak!” jawab Naura.


Selepas kepergian Rangga, bu Tiwi menghampiri Naura.


“ Duduklah Naura. sekarang semuanya sudah jelas, karena pengakuan dari pak Rangga tidak diragukan lagi.” Ucap bu Tiwi.


“ Terima kasih Bu! Saya juga tidak menyangka kenapa foto – foto tersebut bisa di ambil oleh si pelakunya. Jika pun benar itu foto asli tentunya si pelaku juga berada di tempat yang sama denganku.” Jelas Naura.


“ Kau benar, apakah kau ada mencurigai seseorang yang tidak suka denganmu?” tanya bu Tiwi.


“ Entah lah bu, saya tidak ingin berburuk sangka pada seseorang itu akan menjadi fitnah nantinya.” Jawab Naura.


“ Ah dasar kau, dengan trik apa kau bisa mendekati pak Rangga dan menjadikanmu sebagai asistennya.” Cetus Gaby.


“ Diamlah Gaby, kau jangan berburuk sangka pada Naura. saya yakin Naura tidak seperti itu.” Seru bu Tiwi.


“ Ibu kenapa selalu membela dia sih! Dia kan hanya seorang anak magang yang baru beberapa hari. Ibu jangan terkecoh dengan penampilan luarnya saja.” Seru Gaby tidak senang.


“ Diamlah! Sekarang kau masuklah ke kelasmu.” Titah bu Tiwi.


Dengan perasaan yang sangat mendongkol Gaby meninggalkan ruang guru dengan menghentakkan kakinya.


Melihat hal itu, bu Tiwi hanya menggeleng – gelengkan kepalanya.


“ Nah sekarang kau juga masuklah ke kelas mu! Kau jangan takut mengahadapi cibiran – cibiran dari para siswa. Hadapilah jika kau tidak bersalah.” Ucap bu Tiwi.


“ Baik Bu. Terima kasih sudah mempercayai saya.” Ucap Naura.


“ Ehm....”


Dengan perasaan yang sedikit lega, Naura mempersiapkan mentalnya agar ia tidak di serang oleh siswanya. Baginya masih ada orang – orang yang mempercayainya itu sudah cukup menguatkannya.

__ADS_1


__ADS_2