
Sinar matahari perlahan – lahan menembus celah – celah pentilasi jendela kamar Naura telah mengusik kenyamanan tidur Naura yang begitu nyenyak sepanjang dini hari. Dengan rasa malas dan mata yang sulit untuk di buka lebar, Naura meraba – raba handphonenya yang berada tidak jauh darinya. Ia membuka layar kunciya dan melihat angka yang tertera di depan layar handphone.
‘ Astaghfirallahalazim.. ya Allah! Ternyata sudah siang banget. Untung lagi cuti shalatnya. Heheheheeh’ gumam Naura yang bergegas bangun dari tidurnya. Ya hari sudah mulai merangkak siang karena jam sudah menunjukkan ke angka 11.
Naura segera merapikan tempat tidurnya, dengan mengingat – ingat ia pun melihat di sekitar kamarnya, ia merasa ada yang kurang.
“ Ya Allah kak Dara, kemana dia ya! Astaghfirallahalazim. Kenapa aku bisa lupa. Akibat tadi malam sampai begadang jadi bangunnya kesiangan deh!” ucap Naura terkejut sambil menepuk jidatnya. Dengan cepat ia pun langsung menelepon nomor kak Dara.
Tut tut tut......
“ Halo Ra! Sudah bangun! Dasar tukang tidur.” Ucap Dara dari seberang
“ Halo kak! Kakak dimana? Jam berapa kakak tadi bangun? Naura bangun kakak sudah tidak ada di kamar.” Tanya Naura
“ Kakak sedang berada di luar, ada kerjaan sedikit. Mungkin kakak malam pulangnya. Kau saja sudah kakak bangunkan tapi tidak bangun – bangun juga. Ya sudahlah kakak tinggal saja.” Jawab Dara
“ Iya kak. Hehehehehhe! Baru kali ini Naura bangunnya kesiangan.” Ucap Naura sambil nyengir kuda
“ Ya sudah, untung hari sabtu. Kau masih libur kan! Istirahatlah. Tadi kakak sudah memanaskan kembali makanan tadi malam.” Kata Dara
“ Ish, baik banget kakak ku ini. Terima kasih ya kak!” ucap Naura sok imut
“ Ehm,, sudah sana mandi. Bau tau...Assalamualaikum” tutup Dara sambil mematikan teleponnya.
“ Walaikumsalam.” Balas Naura sendiri.
‘ Dasar, main matikan aja. Tapi ya sudahlah. Hari ini aku mau bermalas – malasan.’ Gumam Naura yang segera bergegas untuk beres – beres membersihkan diri dan kamar kosnya yang sudah tiga hari ditinggalkannya.
Selama satu jam beres – beres, Naura segera menyantap makanan yang sudah disediakan oleh Dara. Sayup – sayup terdengar suara adzan, Naura segera menghabiskan makanannya. Tiba – tiba ia langsung menepuk jidatnya dengan kuat.
“Astaghfirallahalazim.. ya Allah! Mobil. Ya mobil kak Arlan kan masih di luar. Bagaimana dengan nasibnya ya.” Ucap Naura yang asal menyambar hijab instan yang langsung dipakainya. Dengan berlari kecil Naura keluar kamar menuju depan halaman kos.
“ Assalamualaikum Naura! kok tumben baru nampak!” sapa seorang gadis yang seumuran dengan Dara salah satu penghuni kos tersebut.
“ Eh walaikumsalam kak! Iya kak, Naura kesiangan bangunnya. Tadi malam hampir mau pagi baru tertidur kak.” Jelas Naura yang langsung terhenti langkahnya.
“ Mau kemana sih Ra? Kok buru – buru begitu?” tanyanya lagi.
“ Itu kak May, Naura mau memastikan sesuatu di parkiran.” Ucap Naura terbata – bata.
“ Memangnya ada apa di parkiran Ra?” tanya gadis tersebut yang bernama Maya
__ADS_1
“ Apa kakak melihat mobil terparkir di sana?” tanya Naura
“ Mobil? Mobil siapa Ra? Kakak sejak pagi tidak ada melihat mobil.” Jelas Maya sedikit bingung
“ Masa sih kak? Tapi itu...” ucap Naura terpotong karena handphone yang ada di saku celananya bergetar.
“ Sebentar ya kak. Naura mau mengangkat telepon dulu.” Pamit Naura sedikit menjauh dari Maya.
“ Baiklah Ra! Kakak juga mau bersiap – siap mau bekerja” ucap Maya yang di angguki Naura.
Naura melihat sebuah nama yang tidak asing muncul di layar handphonenya, dengan segera Naura menggeser tombol warna hijau.
“ Assalamualaikum.” Ucap Naura memberi salam
“ Walaikumsalam, sudah bangun? Dasar tukang tidur!” ucap seorang pria dari seberang.
“ Iya. Maaf kak! Naura benar – benar tidak sengaja sampai tertidur begitu!” kata Naura merasa tidak enak
“ Ehm, tidak masalah. Sekarang bersiap – siaplah temani aku ke toko buku.” Ucap Arlan yang langsung memutuskan panggilan telepon secara sepihak.
“ Tap..i kak! Ish dasar belum sempat ngomong uda main matikan aja!” omel Naura
“ Assalamualaikum Pak Bowo!” sapa Arlan yang menghampiri pak Bowo di pos jaga.
“ Walaikum salam Tuan Arlan. Wah sudah lain lagi neh yang dibawa!” canda pak Bowo
“ Biar lebih cepat pak.” Ucap Arlan
“ Benar tuan. Saya masih muda dulu lebih enak pakai motor.” Kata pak Bowo
“ Iya pak, terima kasih sudah menjaga mobil saya pak!”
Ah...tidak masalah tuan, lagian mobil tuan sebelum matahari terbit sudah dijemput kok. Jadi saya tidak terlalu was – was dititipi mobil semahal itu.”
“ Bapak bisa aja, itu mobil hanya mobil biasa kok pak. Lagian saya tidak ingin membuat penghuni kos ini menjadi salah paham.” Jelas Arlan.
“ Itukan menurut tuan.”
“ Tapi untung saja tuan datang di jam seperti ini, kosan sudah sunyi. Kalau tidak mereka akan sangat heboh melihat cowok plus gandengannya yang w.o.w gitu tuan.” Ucap pak Bowo sambil tertawa kecil
“ Ada – ada saja pak Bowo ini, memangnya saya kenapa pak! Saya juga sama dengan cowok – cowok lainnya.” Kata Arlan merendah
__ADS_1
“ Aduh!tuan benar – benar hebat selain paras, sifatnya juga sangat baik.”puji pak Bowo
“ Asslamualaikum kak, pak Bowo! Maaf kak! Telah menungg lama.” Sapa Naura
“ Walaikumsalam” jawab Pak Bowo sendirian sementara Arlan terpana dengan penampilan Naura yang semakin cantik meskipun penampilan Naura sederhana dengan memakai celana kulot berwarna hitam yang dipadukan dengan kaos dalaman berwarna putih yang dilapisi sweter cardigan hitam sampai menutupi bawah lutut serta hijab yang berwarna putih dengan wajah yang di beri polesan sedikit bedak dan lipstik yang tipis yang telah berhasil menghipnotis Arlan.
“ Kak Arlan!” panggil Naura sambil melambai – lambaikan tangannya di depan wajah Arlan.
“ Ah iya, ayo kita pergi.” Ucap Arlan terlihat gugup namun berhasil ia sembunyikan.
“ Kami pamit dulu ya pak Bowo. Assalamualaikum.” Ucap Naura
“ Iya Neng, kalian hati – hati di jalan.
Walaikumsalam.” Balas pak Bowo tersenyum ketika melihat tingkah Arlan yang benar – benar sudah di mabuk cinta.
“ Nah, pakai lah!” Ucap Arlan sambil menyerahkan helm ke tangan Naura
“ Sudah kak, ayo kita berangkat...!” Ucap Naura bersemangat
“ kenapa kau semangat begitu?” tanya Arlan
“ Jelas semangat dong kak, karena kita kan pergi ke toko buku.” Jawab Naura
“ Dasar kau ini, seperti anak kecil saja.” Ucap Arlan
“ Biari, daripada anak kecil yang sok dewasa.” Kata Naura
“ Ehm, berpeganganlah” perintah Arlan. Dengan rasa canggung Naura hanya memegang ujung jaket Arlan. Melihat Naura yang canggung, Arlan pun melajukan motornya dengan kecepatan yang sedang. Kali ini ia tidak ingin mengerjai Naura.
Arlan mengajak Naura ke toko buku yang terbesar dan terlengkap di kota ini yang berada di tengah pusat kota. Sambil menikmati pemandangan kota Naura tidak henti – hentinya mengucapkan rasa syukurnya atas nikmat dan kekuasaan- Nya yang begitu luas.
Setelah satu jam menembus padatnya jalanan ibu kota, mereka pun tiba di toko buku tersebut. Melihat bangunannya saja sudah membuat Naura terkagum – kagum.
“ Wahhh... ini toko bukunya kak?” tanya Naura takjub
“ Iya. Kenapa ekspresimu berlebihan begitu?” tanya Arlan tidak menyangka melihat respon Naura yang begitu antusias.
“ Ya jelas dong kak, ini toko buku yang terbesar yang pernah ku datangi kak! Tokonya saja sudah mengalahkan bangunan hotel – hotel bintang lima di sono.” Jelas Naura
“ Ayo masuk!” Ajak Arlan yang diikuti oleh Naura. ia tidak ingin kehilangan jejak Arlan. Bisa – bisa ia akan tersesat. Masa ia Naura gadis berusia 18 tahun bisa tersesat di toko buku. Apa kata Arlan nanti, Ia tidak bisa menyembunyikan entah kemana lagi wajahnya. Mau disembunyikan di tong sampah sudah pada penuh oleh sampah – sampah dari masyarakat.
__ADS_1