Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 85 Maling Teriak Maling


__ADS_3

“ Apa kabar tuan Ginanjar?” sapa Rangga dingin.


Melihat interaksi di antara keduanya dengan ekspresi wajah yang berbeda – beda membuat Tari dan Naura penasaran.


“ Kau kenal dengan dia sayang!” tanya Tari angkuh.


“ Maafkan saya Tuan Rangga, sudah mengganggu kenyamanan makan malam anda. Saya pamit undur diri.” Ujar tuan Hardi tanpa memperdulikan Tari yang sudah terlihat kesal karena ia tidak ingin menyinggung Rangga.


“ Apa dia mainanmu tuan Ginanjar? Saya harap anda segera melepasnya jika anda ingin selamat.” Kata Rangga memberi peringatan.


“ Ah, saya akan mengingatnya tuan. Saya permisi.” Kata tuan Hardi pergi meninggalkan meja Rangga sambil menarik lengan Tari.


“ Sayang, kenapa kita yang harus pergi sih, dia belum aku beri pelajaran. Gimana sih! Kenapa kau harus takut dengan pria tersebut?” oceh Tari tidak terima akan sikap Hardi yang tiba – tiba langsung menciut di depan pria yang bersama dengan Naura.


“ Tutup mulutmu Tari, dia bukan orang sembarangan. Kalau kau ingin selamat lupakan saja wanita itu.” Ancam Hardi terus keluar meninggalkan restoran tempat mereka sempat makan malam.


“ Cih dasar payah.” Seru Tari kesal dan dengan kasar ia menepis tangan Hardi dari lengannya berjalan meninggalkan Hardi.


“ Bapak mengenal pria tua yang bersama kak Tari tadi?” tanya Naura yang dari tadi penasaran.


Selama ini Naura tidak pernah tahu seperti apa kehidupan pribadi pak Rangga. Meskipun selama dua tahun ia menjadi asisten dosenny namun mereka tidak pernh membahas masalah pribadi.


Bahkan pak Rangga sampai mengenal dengan tuan Hardi Ginanjar yang seorang pengusaha yang cukup terkenal. Bahkan ia merasa gentar dalam berhadapan langsung dengan Pak Rangga. Naura semakin penasaran dengan pria yang berada di sampingnya. Seberapa berpengaruhnya kah Rangga di dalam dunia perbisnisan padahal ia hanya lah seorang dosen.


“ Tidak terlalu kenal hanya tahu saja.” Ucap Rangga singkat.


“ Oh, syukurlah mereka segera pergi, saya sebenarnya malas berdebat dengannya tapi karena ucapannya sangat keterlaluan membuat saya jadi geram ingin meremas – remas mulutnya yang lentur itu.” Ucap Naura dengan kedua tangan yang tergenggam kuat.


“ kau hebat dengan berani melawan musuhmu!” puji Rangga.


“ Sebenaranya saya tidak menganggapnya musuh pak! Saya juga tidak tahu sejak dulu dia selalu ikut campur dengan urusan saya. Saya heran apa yang dia iri kan dari saya.” Ucap Naura.


“ Ya wajar saja kalau dia merasa iri denganmu, karena kau mempunyai segalanya.” Ucap Rangga.


“ Maksud bapak? Ah ya, saya selalu bersyukur karena Allah sudah menciptakan saya dengan fisik yang sempurna. Tapi dia juga kan sama dengan yang lain nasibnya lebih beruntung jika dibanding dengan orang – orang di luaran sana. Sudah tua tapi masih anak – anak.” Ujar Naura.


“ Ya, apa yang kau miliki tidak ada di dalam dirinya. Nah sekarang kau bisa tidur dengan nyenyak karena masalah mu sudah selesai.” Ucap Rangga.

__ADS_1


“ Selesai pak? Memangnya bapak sudah tahu siapa dalangnya?” tanya Naura semakin bingung.


“ Kau akan tahu besok. Dan salah satu pelakunya adalah wanita yang tadi. Kau tenang saja dia tidak akan mengganggumu lagi.” Kata Rangga.


“ Salah satu, maksud bapak pelakunya lebih dari satu orang? Ah benar – benar tidak masuk akal, seberapa bahayanya sih saya ini di mata mereka sampai – sampai berbuat hal kenakan – kanakan seperti ini.” Ujar Naura.


“ Ya kau benar – benar sangat berbahaya. Ayo pulang!” ajak Rangga dengan kebingungan yang tergambar di wajah Naura.


“ Benarkah saya orang yang berbahaya?” tanya Naura dengan wajah polosnya yang membuat Rangga menjadi gemas ingin mencubit wajah tersebut.


‘ Ah kau benar – benar berbahaya, sudah berhasil membuat hidupku tidak tenang.’ Ucap Rangga dalam hati.


Dengan senyuman yang terukir, membuat Naura semakin bingung akan sikap Rangga yang selalu berubah dengan cepat.


“ Sudahlah jangan kau pikirkan. Nanti akan ku tinggal kau di sini.” Ancam Rangga yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Melihat Rangga dengan wajah yang serius, membuat Naura pasrah dan segera berlari menyusul Rangga.


“ Terima kasih pak sudah mengantar saya pulang!” ucap Naura setelah tiba di depan pintu gerbang kos.


“ Baik pak. Assalamualaikum!” pamit Naura segera memasuki halaman kos menuju kamarnya. Setelah Naura masuk ke dalam Rangga pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Tok..tok..tokk “ Assalamualaikum! Nay, buka pintunya.” Ucap Naura.


“ Walaikumsalam, iya sebentar kak!” jawab Naya.


Tidak lama pintu pun terbuka dengan Naya yang sudah memakai piyama yang bermotifkan salah satu tokoh kartun anak – anak yang sangat populer.


“ Ah, ternyata kakakku ingat pulang juga ya!” ledek Naya.


“ Apaan sih Nay! Bukannya prihatin malah ngeledek.” Ujar Naura membaringkan tubuhnya di kasur mininya.


“ Ih kakak, bukannya langsung mandi malah berbaring di kasur. Cepat sana mandi setelah itu kakak harus menjelaskan semuanya kepada Naya. Cepat sana!” usir Naya sambil menarik lengan Naura agar beranjak dari kasur.


“ Ish cerewet banget sih, iya ya ini kakak akan mandi.” Sungut Naura berjalan menuju kamar mandi.


Naya benar – benar bingung melihat sikap Naura yang terlihat biasa saja setelah sebuah fitnah yang sudah menyerang dirinya.

__ADS_1


“ Ah dasar! Selalu saja bersifat tegar padahal hatinya lemah.” Gumam Naya diam – diam memuji ketegaran hati Naura dalam menghadapi masalah yang menyerangnya.


Sambil menunggu Naura mandi, Naya pun melanjutkan membaca buku dari pemberian Arlan. Naya benar – benar menghabiskan waktunya untuk belajar sebelum ia memulai perkuliahannya.


“ Kau sudah kembali?” Tanya Rangga saat mengunjungi Arlan di apartemennya. Ya selama Arlan kembali ke negara nya ia memutuskan untuk tinggal sendiri di Apartemen yang sudah ia miliki sejak tiga tahun yang lalu. Agar ia dapat lembur dalam bekerja tanpa memikirkan jadwal pulangnya.


“ Sudah kak! Baru saja sampai.” Ucap Arlan yang masih mengenakan kemeja putihnya dengan lengan yang di gulung sebatas siku.


“ Bagaimana perjalananmu?” tanya Rangga.


“ Ah lebih menegangkan di banding menghadapi klien yang bandel. Ternyata lebih sulit berhadapan langsung dengan orangtua dari wanita yang disukai. Seperti mempertaruhkan kehidupan selanjutnya.” Jelas Arlan


“ Ah syukurlah! Ku harap kau bertindak cepat sebelum aku benar – benar tidak akan memberimu celah lagi.” Ujar Rangga mengingatkan.


“ Terima kasih kak! Dan maaf sudah salah paham!” ucap Arlan menyesali perbuatannya yang sudah berpikir buruk tentang kakak angkatnya.


“ Ehm, dengan kau sudah membereskan masalah Naura di kampung aku sudah memaafkanmu. Sekarang kau uruslah di sekolah tempat magang Naura.” ucap Rangga.


“ Ah satu lagi, apa kau sudah mengajaknya untuk menjadi pendampingmu di acara hotelmu itu?” tanya Rangga.


“ Belum kak!” jawab Arlan menggelengkan kepalanya.


“ Ah dasar payah!” ujar Rangga sambil membaringkn tubuhny di sofa.


Melihat kelakuan Rangga yang begitu cerewet membuat Arlan tersenyum dan segera menimpuk Rangga dengan bantal sofa.


“ Kalau mau tidur pulang lah, jangan di sini.” Ucap Arlan.


“ Dasar pelit, sebentar saja aku benar – benar lelah habis makan malam dengan asisten dosenku.” Ucap Rangga dengan mata yang terpejam dan bibir yang tersungging senyuman.


“ Apa?” ujar Arlan dengan wajah yang kaku.


“ Ah dasar, kondisikan dulu wajahmu. Siapa suruh kau lambat.” Ujar Rangga ringan.


“ Ah....” dengus Arlan yang ikut berbaring di sisi sofa sebelah Rangga.


“ Akhirnya hari yang berat ini terlewati juga.” Ucap Arlan memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2