
Dua Tahun kemudian.
“ Alhamdulillah, Naya di terima di Universitas yang sama dengan kak Naura Mak, Pak!” ucap Naya girang kala mendapat sebuah surat tentang penerimaan mahasiswa baru dari pihak sekolah.
“ Alhamdulillah Nay, emak sangat bersyukur kau di terima!” kata emak bersyukur.
“ Iya Nay, bapak ikut senang kau bisa menyusul kakakmu. Semoga kalian dapat menyelesaikan kuliah kalian dengan baik.” Tambah Bapak.
“ Iya mak, ohya kak Naura di mana Mak?” tanya Naya celingukan karena tidak menemukan keberadaan kakaknya di teras rumah.
“ Kakakmu masih di ladang bersama Nanda. Ya sudah kamu susul sana.” Perintah Emak.
“ Iya mak, Naya pamit ke ladang dulu ya!” pamit Naya langsung berlari menuju ladang yang berada di belakang rumah.
Melihat kelakuan Naya seperti anak kecil, emak dan bapak hanya menggeleng – gelengkan kepalanya.
“ Perasaan emak kok jadi gk enak seperti ini ya pak!” ucap Emak merasa cemas.
“ Emak kenapa lagi toh, bukannya senang melihat Naya diterima kuliah kok malah terlihat cemas gitu. Apalagi yang menjadi pikiran emak?” tanya bapak.
“ Emak masih kepikiran masalah Naura setahun yang lalu. Meskipun sekarang sudah mereda tapi emak kok merasa takut masalah itu akan muncul lagi.” Imbuh emak.
“ sudahlah mak masalah yang lalu biarlah, jangan di ingat – ingat lagi.” Ucap bapak menenangkan emak.
“ Iya pak, mudah – mudahan tidak akan timbul fitnah lagi.” Harap emak.
Ya setahun yang lalu, Naura diterpa sebuah fitnah bahwa sejak ia pergi ke kota untuk kuliah juga mencari sampingan menjadi simpanan om – om untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kuliahnya di kota besar.
Semua masyarakat desa sangat geger dan percaya begitu saja akan berita yang tidak pasti kebenarannya. Apalagi berita tersebut di perkuat dengan adanya foto pertemuan Naura dengan Laras di sebuah kafe. Mereka menduga Laras lah yang mengajak Naura untuk mengikuti jejaknya.
Karena selama ini mereka juga menganggap Laras telah menjadi seorang simpanan para pengusaha. Hal ini ditunjukkan kehidupan orangtuanya yang mulai meningkat menjadi sebuah tanda tanya besar. Dari mana Larasa mendapatkan uang sebanyak itu hanya bekerja sebagai babysitter di kota.
Namun dalam beberapa bulan kemudian berita tersebut perlahan – lahan mereda meskipun masih ada satu dua orang yang terus membahasnya.
“ Kak Naura, Nanda......Naya lulus....” Teriak Naya sambil berlari menghampiri Naura dan Nanda yang masih beristirahat di dalam pondok kecil yang dibuat bapak di pinggir ladang.
“ Jangan lari Nay, kami gak kemana – mana kok!” teriak Naura ketika Naya hampir tiba.
“ Hosh ...hosh....ini kak surat kelulusan Naya.” Ucap Naya mengatur nafas sambil menyerahkan sebuah surat kepada Naura.
__ADS_1
“ Alhamdulillah Nay, kamu diterima di Kampus yang sama dengan kakak.” Ucap Naura setelah membaca isi surat kelulusan Naya.
“ Alhamdulillah kak Nay, semoga kakak dapat mewujudkan impian kakak.” Timpal Nanda.
“ Amin, ini semua berkat doa bapak emak, kakak dan kamu Nanda.” Seru Naya.
“ Kalau begitu kita nunggu apa lagi, ayo Nanda temani kakak belanja. Kakak akan masak yang enak untuk menyambut kelulusan Naya.” Ucap Naura semangat.
“ Baiklah kak.” Ucap Nanda.
Mereka pun pergi meninggalkan pondok menuju ke rumah dengan rasa syukur dan semangat. Naura berharap apa yang di cita – citakan Naya dapat terwujud sama seperti impiannya sendiri.
“ Sebelum kita menyantap hidangan yang ada di meja makan ini, untuk mengucapkan rasa syukur kita kepada Allah swt karena rahmat dan rezeki-Nya lah kita masih diberi makanan yang enak ini dalam mensyukuri kelulusan Naya. Mari kita berdoa bersama – sama. Nanda kamu pimpin doa nya.” Ucap Bapak selalu mengajari anak – anaknya untuk bersyukur akan rezeki yang diberi oleh Allah.
Setelah mereka berdoa, mereka pun menyantap makan malam yang begitu sederhana tetapi begitu terasa hangat akan kekeluargaan yang sangat kental.
“ Kapan kamu akan berangkat Nay?” Tanya bapak setelah makan malam selesai.
Seperti biasa, setelah melakukan makan malam dan shalat isya berjamaah, keluarga bapak selalu berkumpul di ruang tamu.
“ Naya bareng kak Naura saja Pak!” jawa Naya
“ Iya pak, Naya biar satu kos saja dengan Naura agar lebih menghemat ongkos. Nanti biar Naura tanya – tanya dengan teman – teman Naura tentang kerja paruh waktu.” Ucap Naura.
“ Iya mak! Ya itung – itung untuk membantu biaya hidup Naya mak.” Jawab Naya.
“ Emak sih gak keberatan asal kamu jangan melupakan kuliah kamu.” Ucap emak mengingatkan.
“ Siap mak!” kata Naya.
“ Naura akan selalu mengingatkan Naya mak kalau Naya macam – macam di sana.” Seru Naura.
“ Tuhkan mak, kalau ada kak Naura mudah – mudahan Naya akan aman mak secara kakak kan cerewet.” Kata Naya.
“ Ish kau ini Nay, kakak cerewet gini kan kalau kalian berbuat salah.” Bela Naura.
“ Iya lho kakak, justru kakak cerewet Naya selalu bersyukur punya kak Naura yang selalu mengingatkan.” Ucap Naya agar Naura tidak semakin cemberut.
“ Ohya bagaimana masalah magang kakak? Kakak sudah meninjau sekolah tempat magang kakak nanti?” tanya Naya penasaran.
__ADS_1
“ Oh itu Alhamdulillah sudah kelar semua Nay, kau tahu kakak magang di sekolah satu yayasan dengan kampus ini. Bisa di bilang sekolah elit yang hanya siswanya berasal dari anak – anak konglomerat semua.” Ucap Naura.
“ Wah hebat dong kak, mana tahu kakak bisa kecantol dengan salah satu guru laki – laki yang ada di sekolah tersebut.” Kata Naya.
“ Ish apaan sih kau Nay, kita ini gak setara lah dengan mereka. kakak pun minder.” Ucap Naura
“ kakak jangan bilang gitu kalau jodoh kan gak kemana kak. Di mata Allah kita ini sama semua tidak mengenal harta benda apalagi kekuasaan. Yang membedakan kita hanya iman dan taqwa kita kak.” Cetus Naya memberi ceramah kepada Naura.
“ Cieeeee, sudah semakin dewasa dan bijak ya adik kakak ini.” Ucap Naura sambil mencubit pipi Naya.
“ Ih sakit tau kak, jangan pegang – pegang.”
Dengus Naya kesal mengusap – usap pipinya yang chubby.
“ Sudah – sudah! Bapak dan emak sangat bersyukur di karuniai anak – anak yang sholeh dan sholeha seperti kalian. semoga semua impian dan cita – cita kalian dapat terwujud dan siapapun jodoh kalian bapak dan emak tidak masalah yang penting masih dalam satu iman dan memiliki akhlak yang bagus.” Ucap Bapak memberi nasehat kepada ketiga anaknya.
“ Amin.” Ucap mereka berempat serentak.
“ Ya sudah Nay, semua berkas – berkas kamu sudah di siapkan? Karena kau akan registrasi ulang lagi. Dan lusa kita sudah kembali. Karena kakak hari seninnya sudah mulai magang.” Kata Naura.
“ Iya kak, yang lain sudah Naya siapkan, besok Naya akan ke sekolah meminta surat keterangan hasil Ujian nya terlebih dahulu.” Jawab Naya.
“ Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah swt.” Doa emak yang terlihat sedih.
“ Amin. Emak jangan sedih dong! Kitakan pergi untuk menuntut ilmu mak! Kami selalu mengharapkan doa emak dan bapak.” Kata Naura menenangkan emak.
“ Ya mau gimana lagi, rumah pasti akan terasa sunyi tanpa anak gadis emak.” Ucap emak.
“ Kan masih ada Nanda lho mak! Kita akan berusaha pulang setiap libur semester mak kalau tidak ada halangan.” Ucap Naura.
“ Iya mak! Jadi emak jangan sedih ya!” bujuk Naya.
“ Sudah lah mak, kita hanya bisa mendoakan mereka saja. Nanti juga kita akan terbiasa.” Timpal bapak.
“ Ya baiklah, awas kalau kalian lupa mengabari emak ya!” ucap emak mengancam.
“ Asiaaap mak! Kita akan selalu memberi kabar.” Ucap Naura.
Naura sudah dua minggu berada di rumah. Meskipun ia tidak pulang di setiap libur semester karena kesibukannya menjadi asisten dosen membuatnya sulit meluangkan waktu untuk pulang kampung. Selama Naura kuliah, ia baru dua kali pulang kampung di saat libur semester.
__ADS_1
Dan libur semester kali ini, Naura tidak banyak mendapat tugas dari Pak Rangga sehingga Naura bisa menyempatkan pulang kampung. Di tambah di tingkat lima ini Naura akan magang di salah satu sekolah yang berada dalam naungan kampus swasta yang elit ini.
Sayang, magang kali ini Naura harus berpisah dengan Abel. Tempat magang mereka tidak sama. Naura akan magang di sekolah yayasan Pelita Bunda milik kampus ini. Sedangkan Abel akan magang di sebuah sekolah swasta yang juga tak kalah bergengsi dengan yayasan Pelita Bunda.