Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 93 Acara Peresmian Hotel


__ADS_3

Mereka tiba di parkiran hotel tepat pukul 17.00. Dengan sangat hati – hati Naura turun dari mobil dengan mengangkat sedikit gaun bagian bawahnya agar saat melangkahkan kakinya tidak menginjak gaun bagian bawah.


Naura sempat tercengang dan kagum melihat hotel yang ada di depannya. Hotel yang memiliki bangunan yang megah dengan arsitektur yang sangat dramatis menjadikan hotel ini merupakan hotel bintang lima yang termewah dan termegah di negara ini. Hotel yang berhadapan langsung dengan Danau buatan yang terbentang luas di depan membuat suasana menjadi asri dan nyaman.


Dengan melihat di sekeliling hotel, tidak jauh dari tempat ia berdiri Naura melihat sebuah rumah makan yang terasa familiar di ingatannya. Ya, itu adalah Rumah Makan yang pernah ia kunjungi bersama Arlan dua tahun yang lalu.


Bangunan rumah makan tersebut terlihat semakin kokoh dan bersinar, ada rasa lega di hatinya rumah makan tersebut tidak terkena masalah apalagi sampai di tutup hanya gara – gara perselisihan antara dirinya dengan Tari yang memiliki kekasih seseorang yang sangat berpengaruh dalam dunia perbisnisan.


“ Ah, syukurlah rumah makan tersebut masih beroperasi. Jadi pemiliknya tidak gulung tikar dan para pegawainya tidak menjadi pengangguran.” Guman Naura merasa lega dengan memandang fokus ke arah rumah makan tersebut.


“ Ayo Ra! Jangan melamun terus!” ajak Aran yang melihat Naura fokus memandangi rumah makan yang terletak di seberang hotel.


“ Ah iya mbak. Maaf mbak!” ucap Naura tersadar ketika tangannya di tarik oleh Aran.


Naura berusaha menutupi rasa gugupnya saat memasuki hotel yang menurutnya sangat mewah dan megah.


Saat mereka melewati lobi hotel yang sangat luas dan berarsitektur sangat elegan dan mewah dengan berlantai kan dan dinding yang terbuat dari marmer yang mendominasi warna silver dan hitam dengan tiang – tiang tinggi yang kokoh. Dan langit – langit yang di desain sedemikian rupa membuat lobi hotel ini membuat para tamu merasakan sensasi yang berbeda.


“ Ck ck ck, benar – benar sultan yang menginap di hotel termewah ini. Benar – benar hebat sekali pemilik hotel ini.” Gumam Naura yang masih terdengar oleh Aran.


“ Kau menyukai hotel ini?” tanya Aran.


“ Tentu saja mbak, siapa sih yang tidak menyukai hotel sebagus ini. Ah tapi sayang, terlalu jauh angan – angan Naura mbak? Yang jelas biaya untuk menginap di hotel ini pasti dengan harga yang sangat fantastis bukan?” ucap Naura yang mengagumi arstitektur bangunan hotel ini.


“ Kenapa hanya jadi angan – angan saja, itu akan segera menjadi kenyataan.” Ucap Aran tersenyum.


“ Amin. Semoga doa mbak terkabulkan oleh Allah, meskipun menginap di hotel ini hanya satu malam tapi bagi orang seperti Naura akan sangat tersanjung bila memiliki kesempatan seperti itu mbak.” Jelas Naura.


“ Ah baiklah kalau begitu. ayo kita menuju ballroom dimana tempat pesta di adakan.


Kekaguman Naura tidak hanya sampai di lobi, saat memasuki ballroom hotel, Naura semakin di buat terkesima akan desain dan arsitektur yang mendominasi warna silver mix putih termasuk meja dan kursi.


“ Wah benar – benar sultan, kalau di kampung ini dapat membuat beberapa rumah dengan kebun yang dapat di manfaatkan.” Gumam Naura.


“ Hai Aran! Sapa seorang wanita yang jika diperhatikan memiliki usia yang sama dengan Aran yang berbalut gaun hitam panjang menutupi sampai bawah dengan belahan sebelah kanan hingga lutut.


“ Hai Franda! Apa kabarmu hah..” balas Aran yang memberi salam.

__ADS_1


Melihat wanita yang menyapa Aran dengan begitu sangat intim membuat Naura terkejut dan merasa tidak enak hati.


Ia langsung mengingat bahwa wanita yang menghampiri mereka adalah wanita yang pernah ia lihat berduaan dengan Arlan yang terlihat begitu sangat akrab.


“ Halo cantik! Siapa dia Aran.” Tanya wanita tersebut yang memiliki nama Franda.


Naura semakin tidak enak hati karena ia merasa sudah menjadi penghalang di antara mereka.


“ Ah kenalkan dia adalah Naura. Naura ini adalah sosok yang sudah menjadi penerang dalam keluarga Kusuma terutama Arlan.” Jelas Aran semangat.


“ Ah hai! Nama ku Franda.” Ucap Franda mengulurkan tangannya.


“ Saya Naura nyonya!” balas Naura yang menyambut uluran tangan Franda.


“ Jadi dia gadis itu Aran? Ah Arlan benar – benar membuka hatinya untuk gadis ini.” Oceh Franda yang membuat Naura semakin bingung.


“ Halo nyonya Aran!” sapa seorang pria yang berusia sekitar 40 an tahun yang langsung merangkul pundak Franda.


Melihat seorang pria yang tidak ia kenal langsung bergabung dengan mereka. membuat Naura tanda tanya siapa mereka ini sebenarnya.


“ Ah halo tuan Grazel! Terima kasih sudah hadir dalam acara pembukaan hotel ini.” Ucap Aran.


“ Ehm hampir tuan Grazel, saya berharap malam ini Arlan bertindak cepat.” Seru Aran.


“ Ah baiklah tuan Grazel dan Franda. Silahkan dinikmati acara ini. Kami izin permisi.” Ucap Aran.


“ Ah baiklah Aran, kami juga akan mengobrol dengan tamu yng lain.” Pamit Franda setelah memeluk Aran.


“ Ah terima kasih banyak.”


Mereka pun berpisah karena mereka juga akan menyapa dengan para tamu yang lain.


Aran mengajak Naura mendatangi meja keluarganya yang berada di depan podium.


“ Hai semuanya! maaf sudah menunggu kami.” Sapa Aran di meja depan yang terdiri Tuan Rahardi Kusuma, Nyonya Annissa Kusuma, suami Aran, nenek dan Vino.


Sementara Arlan tidak terlihat karena masih menyapa tamu – tamu yang telah hadir. Acara akan di mulai 30 menit lagi.

__ADS_1


“ Hai Aran! Kenapa lama sekali hah...?” ucap Bunda Nissa.


“ Maaf Bun! Aku punya alasan kenapa terlambat, ini akan menebus keterlambatan ku. Tada.....” ujar Aran memberi alasan agar ia tidak mendapat amukan dari bundanya. Lalu Aran menepikan tubuhnya sedikit ke kanan agar seseorang yang berada di belakangnya terlihat.


Melihat sosok yang ia rindukan, sontak nyonya Nissa menghamburkan tubuhnya untuk memeluk Naura.


“ Hai sayang! Kau cantik sekali, tante sangat merindukanmu tahu.” Ucap tante Nissa kemudian melepaskan pelukannya.


“ Maaf tante.” Ucap Naura singkat karena ia merasa bingung dan gugup menghadapi kumpulan keluarga yang sangat di segani dan di hormati di negeri ini.


“ Halo nenek!” sapa Aran sambil memeluk sang nenek.


“ Ah, kau dasar cucu durhaka tidak pernah mengunjungi nenekmu ya.” Omel sang nenek.


“ Maaf nek! Aku benar – benar minta maaf karena proyek baru ini yang menguras waktu dan tenaga.” Seru Aran sambil mengatupkan kedua tangannya ke depan.


“ Ohya Nek! Kenalkan ini Naura gadis yang sering di ceritakan itu.” Sambung Aran.


“ Halo Nek! Saya Naura.” ucap Naura


memperkenalkan diri sambil mencium punggung tangan nenek. Dan tak lupa Naura juga mencium punggung tangan tante Nissa dan tuan Rahardi.


“ Ah kau sangat sopan nak! Sudah lama sekali tangan ini tidak di cium oleh anak muda seperti mu.” Ucap nenek sambil melirik ke arah Aran.


Naura hanya tersenyum mendengar candaan keluarga Kusuma yang begitu hangat dirasakan oleh Naura.


“ Baiklah Naura, mari kita mengobrol!” ajak nenek menuntun Naura ke kursi kosong yang ada di sebelahnya.


“ Iya Nek!” ucap Naura.


Naura pun sudah menguasai keadaan dan membaurkan dirinya ke dalam keluarga Kusuma. Naura banyak bercerita tentang kehidupan dan keluarga yang ada di kampung.


Asyik saling bercerita, seseorang memotong pembicaraan mereka dari belakang.


“ Halo nenek!” ucap seorang pria dengan suara khasnya.


Entah mengapa mendengar suara yang tidak asing bagi Naura membuat jantungnya berdegub sangat kencang.

__ADS_1


Mereka pun menoleh ke arah asal suara tersebut, sontak membuat pemilik suara tersebut begitu terkesima dengan penampilan Naura yang mengenakan gaun yang membuatnya terlihat sangat cantik dan elegan.


“ Kau......” ucap sang pemilik suara tersebut dengan terbata.


__ADS_2