Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 31 Gosip 1


__ADS_3

“ Mulai sekarang kau harus lebih berhati – hati lagi ya. Tadi mahasiswa yang menabrakmu menitipkan ini kepada ibu. Dan menyampaikan permintaan maafnya. Dan minumlah vitamin suplemen makanan ini sebelum kamu tidur dan sesudah makan pagi.” Ucap Bu Jenni sambil menyerahkan bungkusan yang berisi buah apel dan sebotol kecil vitamin.



“ Iya bu. Saya juga salah tidak sempat untuk menghindar karena tidak fokus. Terimaksih ya bu.”


Kata Naura menerima bungkusan dari bu Jenni.


“ Iya sama – sama. Ohya nama kamu Naura?”


“ Iya bu.”



“ Ehm.... Naura ya!” kata Bu Jenni manggut – manggut



“ Memangnya ada apa ya bu?” tanya Naura tidak mengerti melihat ekspresi bu Jenni.



“ Tidak ada apa – apa. Sudah berapa lama kamu kenal dengan Arlan?” tanya bu Jenni



“ Baru sebulan ini bu, waktu itu tidak sengaja bertemu di kampus pada saat saya registrasi ulang bu. Waktu itu saya malah di tuduh mencuri lho bu. Padahal saya tidak sengaja melihat sebuah motor sport yang sangat keren. Melihatnya saya teringat dengan adik saya yang sangat menyukai motor seperti itu. Tanpa sadar saya mendekati motor itu bu dan pada saat ingin memegangnya, kak Arlan berteriak dari belakang menuduh saya pencuri.” Jelas Naura panjang lebar yang di angguk – anggukan bu Jenni.



“ Terus apa yang terjadi?” tanya bu Jenni semakin penasaran



“ Ya kami saling berdebat bu, saya menjelaskan kalau saya bukan pencuri. Saya juga mahasiswa di kampus itu yang sedang registrasi ulang. Eh, kak Arlannya tidak percaya dan bersikeras menuduh saya mencuri.”



Melihat ekspresi Naura yang sedang menjelaskan pertemuannya dengan Arlan membuat bu Jenni manggut – manggut dan tersenyum.



“ Ibu tahu, kalau saya ingin mencuri motor sport yang gede seperti itu bagaimana saya membawanya, saya tidak bisa mengendarai motor gede bahkan motornya lebih gede dibanding tubuh saya bu. Bisa – bisa saya penyet dong di timpa motor. Seharusnya kak Arlan bisa berpikir sampai ke situ. Ini malah kekeh menuduh saya pencuri.” Tanya Naura sedikit kesal jika mengingat kejadian itu.



“ Terus, reaksinya gimana Ra?”


“ Kak Arlan terus menatap saya dengan tajam bu, meskipun takut saya juga membalas tatapannya. Agar membuktikan saya memang tidak mencuri.”



“ Apa, kau menatapnya?” tanya bu Jenni tidak percaya, ia kagum dengan Naura ia merupakan orang dan gadis pertama yang berani membalas tatapan seorang Arlan sampai berdebat dengannya.



“ Kenapa bu?”


“ Ehm, tidak apa – apa Ra! setelah mendengar penjelasanmu. Ibu juga sependapat dengan Arlan kalau kau adalah seorang pencuri.”



“ Haah.... Maksud ibu apa menuduh saya? Kalau ibu tidak percaya, ibu bisa tanya langsung kak Arlan adakah yang saya curi dari dia?” tanya Naura tidak terima dituduh mencuri.



“ Hahhahahahaaaaa, kamu lucu Ra dengan ekspresi seperti itu? Pantas saja Arlan begitu khawatir denganmu.” Kata bu Jenni



“ Maksud ibu bagaimana? Saya tidak mengerti. Kenapa kak Arlan khawatir?” tanya bu Jenni



“ Kau tahu Ra, sewaktu kau pingsan Arlan dengan rasa khawatir dan tergesa – gesa menggendongmu untuk membawamu sampai kesini. Dia juga cukup lama menunggumu siuman.” Jelas bu Jenni


“ Masa sih bu, kak Arlan segitu khawatirnya dengan saya?” kata Naura dengan wajah yang memerah, berarti ia tidak bermimpi melihat Arlan yang berlari kearahnya dan langsung menggendongnya. Mengingat dirinya berada dalam gendongan Arlan sontak membuat wajahnya semakin memerah.


Deg, mengingat kembali kebaikan keluarga Arlan karena rasa hutang budi, ia langsung menepis perasaannya yang terlalu lancang. Ia pasti berpikir kebaikan Arlan juga karena rasa utang budi. Ia memukul – mukul kepalanya pelan agar ia tersadar dari mimpinya.



“ Ada apa Ra? Kepalamu masih sakit?”

__ADS_1



“ Ti...daak bu, kalau begitu saya permisi balik ke tenda ya bu.” Pamit Naura untuk menghindar dari tatapan bu Jenni, ia tidak ingin bu Jenni salahpaham dengannya.



“ Baiklah Ra, kau hati – hati di jalan ya.”


“ Iya bu, terimakasih.”


“ Ehm.”



Selepas kepergian Naura, bu Jenni mengambil ponselnya dan memejet nomor seseorang untuk meneleponnya. Dengan wajah yang tersenyum ia menceritakan semua yang didengarnya dari cerita Naura tadi.



“ Naura... bagaimana keadaanmu?” tanya Abel khawatir sambil memeluk sahabatnya.



“ Aku sudah tidak apa – apa kok Bel. Aku sudah cukup puas tidur siangnya. Jadi badanku sudah kembali fresh.” Jawab Naura sambil mengangkat tangannya sembari memamerkan oto – ototnya.



“ Syukurlah Ra, kita lega melihatmu balik ke tenda.” Kata Nadia



“ Is, memangnya kalau aku gak balik ke tenda aku mau kemana lagi lho Nad.” Ucap Naura.



“ Ya kan mana tau, kau di opname di tenda medis.” Jawab Nadia



“ Tidak separah itu kok, aku hanya butuh istirahat saja.” Kata Naura



“ Ok guys, karena Naura sudah balik ke tenda mari kita minum teh hangat ini.” Ucap Abel memberikan dua gelas teh ke Nadia dan Naura.




“ Huft, hangatnya. Tubuhku remuk semua mengikuti kegiataan hari ini.” Kata Abel setelah menyeruput teh hangatnya.



“ Iya Bel, sama tubuhku juga remuk semua. Tapi karena kegiatan ini sangat menyenangkan jadi setimpal lah.” Timpal Nadia.



“ Is, enak ya kalian bisa mengikuti kegiatan ini.” Kata Naura pura – pura sedih



“ Sudahlah Ra, namanya juga kau ada musibah. Eh tapi musibah ini membawa berkah kan.” Kata Abel



“ Berkah gimana Bel? Aku jatuh terguling ke tanah kok kamu bilang berkah sih?” ucap Naura



“ Ya berkah dong Ra, kau adalah wanita pertama yang disentuh kak Arlan apalagi sampai digendong begitu. kau tahu, semua mahasiswa seketika bengong melihat sikap kak Arlan yang begitu terkejut dan khawatir berlari menghampirimu dan langsung menggendongmu menuju tenda medis lho.” Jelas Abel begitu semangat



“ Iya Ra, kami juga tidak percaya melihat kejadian yang begitu di luar dugaan. Kak Arlan yang tercap sebagai manusia es, tiba – tiba dengan lembut dan hangatnya menggendongmu seperti itu.” Timpal Nadia.



“ Aku jadi curiga, apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?” Tanya Abel yang menatap tajam Naura



“ I..tu...bagaimana aku menjelaskannya ya.” Ucap Naura sambil menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.


__ADS_1


“ Ehm baiklah, melihat ekspresi mu yang gugup, aku menyimpulkan diantara kalian telah terjadi sesuatu. Kenapa kak Arlan bisa bersikap seperti itu. Sementara waktu aku jatuh karena menabrak tubuhnya, dia malah menatapku tajam dan pergi


begitu saja tanpa sepatah katapun.” Ucap Abel.


“ Ehm baiklah teman – teman lain kali aku akan menceritakannya pada kalian. Diantara kami tidak ada apa – apa.” Ucap Naura



“ Sudahlah Bel, jangan dipaksa Naura untuk bercerita.” Kata Nadia menenangkan Abel. “ Dan kau masih ada utang gosip padaku lho Bel,” Tagih Nadia.



“ Gosip apa Nad?” tanya Abel lupa



“ Is kau lupa? Tadi pagi kau kan mau cerita tapi karena kita buru – buru mau berkumpul makanya tidak jadi deh?” Jelas Nadia mengingatkan Abel.



“ Ah iya... aku mau cerita mengenai kak Arlan nih.” Jelas Abel semangat yang disambut Nadia dengan begitu antusiasnya dan duduk manis untuk mendengar cerita Abel. Sementara Naura asyik sendiri dengan ponselnya. Ia mengirim chat kepada Naya.



“ Begini, tadi malam sewaktu aku pergi ke tenda medis untuk mengambil obat sakit kepala, aku bertemu dengan kak Arlan mengendap – endap mencari sesuatu. Awalnya aku pikir dia seorang pencuri lalu dengan memberanikan diri aku meneriakinya dari belakang.”



“ Kak Arlan? Sakit apa kak Arlan. Lalu apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Nadia menggebu – gebu. Mendengar nama Arlan disebut – sebut, diam – diam Naura menajamkan pendengarannya sambil bermain ponsel.



“ Kau tahu Nad, ternyata kak Arlan tidak sakit, ia mencari sesuatu yang sangat luar biasa dan bagi seorang Arlan itu adalah peristiwa yang sangat mustahil.” Ucap Abel berbelit – belit seperti ular yang sedang melilitkan tubuhnya di pohon.



“ Apa sih Bel, bikin penasaran aja.” Kata Nadia kesal



“ Sabar dong, kau tahu Nad. Kak Arlan mencari pembalut dan minuman pereda nyeri haid.” Kata Abel semangat



“ Apaa...aaa?” teriak Nadia sangat terkejut



Byuuuurrrrr, Naura seketika menyemburkan minuman yang telah masuk ke mulutnya ketika mendengar ucapan Abel.


Uhuk,Uhukkk, uhuk... Seketika Naura langsung terbatuk – batuk.


“ Kau tidak apa – apa Ra?” tanya Nadia dan Abel bersamaan. Melihat ekspresi Naura yang begitu terkejut mereka saling pandang dan menatap Naura dengan tajam. Melihat kedua sahabatnya menatapnya begitu tajam membuat tubuh Naura merinding.



“ Aku tidak apa – apa kok, tehnya masih panas lidahku sedikit terbakar.” Bohong Naura



“ Ehm, benarkah?” tanya Abel penuh selidik ia pun langsung meminum tehnya juga.



“ Ehm,,,,, panas apaan Ra, malah sudah dingin lho.” Kata Abel menatap tajam Naura.



“ It...uuuu punya ku masih panas Bel,” jawab Naura gugup.



Di tengah – tengah kegugupan Naura, ia diselamatkan oleh Andrean dan Frans yang datang menghampiri mereka di tenda.



“ Hai girls, sudah waktunya makan malam. Ayok kita makan.” Kata Frans.



“ Kau kenapa Ra, wajahmu kok memerah begitu?” tanya Andreal penasaran.


__ADS_1


Ia melihat percakapan para gadis ini begitu seru hingga mereka tidak menyadari kedatangan dia dengan Frans. Andreal terus saja menatap Naura. yang masih terlihat gugup begitu.


__ADS_2