Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 29 Jatuh Pingsan


__ADS_3

Cahaya fajar sudah mulai menampakkan dirinya untuk menerangi alam semesta dari kegelapan. Naura terjaga dari tidurnya dan meregangkan otot – ototnya dengan kuat. Ia melirik jam yang ada di handphonenya dan beralih di sebelahnya. Ternyata Abel dan Nadia masih tertidur dengan pulas. Jam masih menunjukkan pukul 05.30 udara di luar masih terasa dingin dan sejuk.



Naura pun segera pergi keluar dan melakukan aktivitas – aktivitas ringan untuk meregangkan ototnya. Ia sudah merasa baikan dan nyeri perutnya pun sudah tidak sakit. Ia pun menyalakan api untuk memasak air dan bersiap – siap berberes membersihkan dirinya.


Setelah Naura selesai, ia pun kembali ke tenda dan membangunkan kedua sahabatnya.


“ Ayo bangun Abel, Nadia ini sudah jam 06.00 kita akan berkumpul jam 07.00 lho. Ayo cepat nanti kita ketinggalan bisa –bisa kita kena sanksi sama kakak senior.” Ucap Naura sambil mengoyang –goyang tubuh Abel dan Nadia.


“ Iya iya ini kita bangun kok.” Kata Abel sambil menguap lebar.


Dengan rasa terpaksa Abel dan Nadia segera bangun dan mencuci wajah serta menggosok gigi. Sementara Naura menyiapkan minuman teh hangat untuk dirinya dan kedua temannya.


“ Ra bagaimana perutmu? Sudah baikan?” tanya Abel


“ Alhamdulillah Bel, sudah baik.”


“ Oh syukurlah, jadi tim kita lengkap sayang sekali jika kau tidak bisa mengikuti kegiatan kita hari ini.”


“ Iya Bel.”


“ Ohya aku mau gosip terhangat dan bisa menjadi viral ne.” Kata Abel semangat


“ Gosip apa Bel?” tanya Nadia penasaran. Sementara Naura tidak menanggapinya ia tidak suka terlibat dengan gosip – gosip yang belum jelas kebenarannya.


“ Tapi nanti saja ya ceritanya. Kita kan sudah mau kumpul ne.” Kata Abel menunda ceritanya


“ Yaaaahh, gak seru kamu Bel!” ucap Nadia kecewa


Abel merasa senang telah mengerjai Nadia ia tahu kalau Nadia orangnya sangat kepoan dengan suatu gosip hal ini sangat berbanding dengan Naura.


Mereka pun bergegas berkumpul dan bergabung dengan tim mereka masing – masing. Kali ini jumlah dalam satu tim berjumlah 10 orang mahasiswa dari berbagai jurusan. Mereka akan melaksanakan kegiatan outbound yang berisi game dan permainan yang menyenangkan. Selain itu, pada kegiatan outbound ini memiliki tujuan seperti meningkatkan kerjasama dalam satu tim untuk mencapai tujuan, penyampaian informasi yang tepat kepada seseorang maupun kelompok, membentuk jiwa kepemimpinan yang bertanggungjawab, membentuk konsentrasi yang tinggi untuk memunculkan dan mengembangkan ide atau daya cipta yang ada.


__ADS_1


Adapun kegiatan outbound yang akan dilakukan oleh para mahasiswa berupa outbound training, arum jeram, paint ball, flaying fox, fun outing, family gathering dan tentunya bercamping.


Setelah para mahasiswa berkumpul semua dalam satu tim masing – masing para senior yang sekaligus panitia ospek juga ikut berbaris di depan semua mahasiswa baru. Galih selaku ketua panitia ospek sebelum memulai kegiatan memberikan pengarahan terlebih dahulu.


Arlan dan senior panitia ospek lainnya berbaris di belakang Galih. Pandangan Arlan mencari sosok seorang gadis yang telah mengacaukan pikirannya menjadi tidak tenang. Dari barisan sebelah kirinya ia melihat sosok yang ia cari. Ya gadis tersebut ialah Naura, ia sempat khawatir jika sakit perut yang dialami Naura belum sembuh. Melihat Naura bergabung dalam barisan, ia menjadi lega sekaligus cemas. Namun rasa itu semua dapat disembunyikan dengan ekspresi wajahnya yng selalu datar dan dingin sehingga orang lain tidak dapat menebak ekspresi wajahnya.



Tepat pukul 08.00 semua mahasiswa telah siap untuk melaksanakan rencana kegiatan yang telah dijelaskan oleh Galih. Semua mahasiswa beserta timnya melakukan kegiatan outbound tersebut dengan semangat dan penuh kekompakan dengan timnya. Begitu juga dengan tim Naura, meskipun Naura sedang mengalami datang bulan tidak menyurutkan semangatnya dalam melakukan setiap kegiatan. Sementara para tim panitia ospek akan menilai cara main para tim dalam melaksanakan setiap kegiatan game dan permainan yang ada.



Pandangan Arlan tidak terlepas dari sosok Naura, ia seakan – akan bersiap siaga jika terjadi sesuatu kepada Naura. melihat senyuman dan semangat Naura yang begitu tulus dan polos tanpa disadarinya bibirnya membentuk lengkungan yang cukup lebar sembari sesekali menggeleng – gelengkan kepalanya.



Melihat wajah Arlan tersenyum tulus, membuat seorang wanita yang tidak jauh darinya terlihat tidak senang sembari mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Ia pun memperhatikan arah pandangan Arlan. Ia menangkap sesosok gadis muda berhijab hitam yang telah menjadi objek pandangan Arlan.


‘ Sial, kenapa kau tertarik dengan wanita yang seperti itu. Rendah sekali seleramu kak Arlan. Selama ini kau tidak pernah memberikan senyuman itu kepadaku. Tetapi hari ini dengan mudahnya kau tersenyum hanya dengan melihat gadis itu dari jauh.’ Gumam wanita itu geram.


Meskipun dengan wajah yang menahan emosi, wanita tersebut hanya bisa melihat pemandangan yang membuat hatinya semakin terbakar. Ia hanya bisa melihat Arlan dari jauh tanpa bisa menggapainya. Selama tujuh tahun ia memendam rasa sukanya kepada Arlan, namun rasa sukanya selalu diabaikan oleh Arlan tanpa perasaan sedikitpun.



“ Apaan sih. Gak lihat aku lagi menilai setiap tim juga.” Kata Arlan terkejut namun keterkejutannya dapat ia tutupi.


“ Yah baguslah, menilai setiap tim dengan sebuah senyuman. Pantes saja para mahasiswa baik yang junior maupun senior sangat bersemangat mengikuti MOS kali ini.” Goda Dennis sambil melihat Naura yang sedang melakukan kegiatan outbound training bersama timnya dengan semangat yang disertai tawa yang lebar.


“ Itu bukan karena aku, kan memang setiap penerimaan mahasiswa baru selalu melakukan ospek seperti ini kan. Dan satu lagi siapa yang tersenyum.” Kata Arlan dengan wajah kesal dan tidak menghiraukan kicauan Dennis.


“ Ya ya ya, senyumanmu tu aku rasa sudah ada yang punya ya sekarang.” Ucap Dennis senang sambil tertawa yang cukup keras sehingga anak – anak yang tidak jauh dari mereka terhenti sejenak dari kegiatan mereka yang sontak melihat ke arah merek. Begitu juga tim Naura, Naura tidak sengaja melihat ke arah Arlan dan Dennis. Naasnya pandangan Naura bertemu dengan pandangan Arlan, dalam sekian perdetik mereka saling pandang yang membuat rona wajah Naura menjadi merah. Melihat hal itu membuat Arlan menjadi gemas ingin mencubit pipi chubby Naura. merasa ditatap terus Naura menjadi salah tingkah dan tidak fokus dalam permainan. Dalam keadaan tersebut, seorang mahasiswa pria dari tim lain terlihat berlari sangat kencang menuju Naura. Tanpa bisa mengerem larinya ia berteriak memperingati Naura agar ia minggir dari jalannya.


“ Awaaass.....” belum sempat Naura minggir, begitu menoleh ke asal suara Naura melebarkan matanya dengan wajah yang terkejut dan.....


Bruuuuuugggggghhhhhh, tubuh Naura limbung dan jatuh terguling ke tanah seketika pandangan di sekitar Naura berputar dan gelap.

__ADS_1


“ Naura.......” teriak Abel dan Nadia bersamaan. Tanpa mereka duga, Arlan berlari kencang ke arah Naura dan langsung menggendong tubuh Naura menuju ke tenda medis. Melihat hal itu, membuat Andreal tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.


Melihat kejadian yang ada di depan semua mahasiswa sontak membuat mereka sangat terkejut dengan pemikiran mereka masing – masing. Kegiatan para tim di tunda sejenak, semua mahasiswa mulai berbisik – bisik mengapa Seorang Arlan begitu cekatan menolong seorang gadis yang tidak dikenal dengan menunjukkan wajah yang begitu khawatir.



Abel dan Nadia segera menyusul Arlan yang tengah menggendong Naura menuju tenda medis. Dengan sangat hati – hati Arlan meletakkan Naura di ranjang dan menyelimutinya.


“ Tidak apa – apa Lan, ia hanya syok saja sebentar lagi juga ia akan sadar.” Jelas Jenni selaku seseorang di bagian medis yang bertanggungjawab di tenda medis tersebut. Ia menyadari kekhawatiran di wajah Arlan.


“ Lalu bagaimana dengan tubuhnya yang terjatuh ke tanah tadi?” Tanya Arlan


“ Tidak ada yang terluka kok, hanya lengannya sedikit tergores kena akar pohon.” Jelas Jenni “ luka di lengannya sudah aku bersihkan dan di obati. Jadi kau jangan begitu khawatir dong.” Timpalnya tersenyum.


“ Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Arlan merasa tidak nyaman.


“ Tidak apa – apa, aku hanya senang saja.” Ucapnya terus tersenyum sambil melihat Arlan.


“ Is apaan sih, lanjutkan saja pekerjaanmu.”


“ Ehm baiklah tuan Arlan, kau tunggui saja ia sampai sadar.” Ucap Jenni berlalu menuju mejanya yang berada di balik tirai tempat tidur pasien.


Melihat perdebatan antara Arlan dan bu Jenni, Abel dan Nadia hanya saling pandang tanda tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Arlan tersadar di ruangan itu, tidak hanya mereka bertiga dengan tatapan datarnya ia melihat ke arah Abel dan Nadia. Sementara yang dilihat hanya diam tak bersuara, mereka takut untuk sekedar menanyakan kondisi Naura.


“ Kalian kembalilah ke tim dan lanjutkan permainan kalian. wanita ini tidak apa – apa aku akan menyusul dan katakan kepada mereka, wanita ini izin dalam mengikuti semua kegiatan hari ini. Ia butuh istirahat yang cukup.” Jelas Arlan panjang lebar yang membuat semakin mereka tercengang dan kaget.


“ Baai.....k kak” ucap Abel dan Nadia gugup melihat tatapan Arlan yang sangat dingin. Dengan mencuri pandang mereka melirik ke arah Naura yang sedang terbaring di tempat tidur. Tanpa membuang waktu merekapun bergegas keluar dari tenda.


Di luar, semua tim melanjutkan permainan mereka meskipun di dalam pemikiran mereka masing – masing menyimpan tanda tanya yang cukup besar setelah melihat secara langsung tindakan Arlan yang di luar dugaan. Di tambah ekspresi wajah Arlan yang terlihat sangat mencemaskan Naura.



Beberapa jam kemudian, kelopak mata Naura bergerak – gerak dan tak lama matanya pun terbuka. Dengan memegangi kepalanya yang masih terasa pusing ia melihat di sekitarnya.


“ Akhirnya kau bangun juga, dasar gadis tukang tidur.” Ucap seorang pria yang duduk di ranjang kosong sebelah ranjang Naura.

__ADS_1


Mendengar suara seseorang Naura menoleh ke arah asal suara yang berada di sampingnya.


“ Ka....uuu. Kenapa kau ada di Sini?” tanya Naura terkejut


__ADS_2