Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 60 Hari Pertama Magang


__ADS_3

"Nay! Kakak pergi ya. Kamu di kos saja jangan keluar terlalu jauh. Makannya sudah kakak siapkan di meja.” Pamit Naura kepada Naya yang masih berbaring di ranjang.


“ Iya kak! Hati – hati di jalan.” Balas Naya dengan suara seraknya.


“ Assalamualaikum.”


“ Walaikumsalam.”


Naura pergi meninggalkan kosnya dengan di temani motor bebeknya yang sudah enam bulan ini menemaninya. Naura berhasil membeli motor seken dari uang yang ia kumpulkan selama ini. Agar ia tidak bersusah payah lagi pergi kuliah maupun bekerja menggunakan bus umum.


Hari masih terlalu pagi, jam masih menunjukkan pukul 06.00. karena hari ini Naura pertama magang, ia harus lebih awal datang ke sekolah agar tidak terlambat di hari pertama ia masuk.


Dengan memakai pakaian baju putih yang di mix dengan rok hitam dan kerudung hitam, Naura melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju sekolah Pelita Bunda tempat ia magang nanti.


Perjalanan memakan waktu selama 45 menit. Naura memasuki pintu gerbang sekolah tersebut dan langsung menuju parkiran. Suasana di sekitar sekolah sudah terlihat ramai oleh para siswa yang hadir.


Yayasan Pelita Bunda ini terdiri dari Jenjang Taman Kanak – kanak ( TK ), jenjang Sekolah Dasar ( SD ), Jenjang Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) dan jenjang Sekolah Menengah Atas ( SMA ). Kebetulan Naura akan magang pada jenjang SMA.


Setelah memarkirkan motornya, ia pun melihat di sekitar untuk mencari anak – anak magang lainnya. Tidak jauh darinya ia melihat seorang wanita yang jika di perhatikan usianya lebih tua 2 tahun dari Naura. ia pun bergegas menghampirinya untuk bertanya lokasi ruangan aula sekolah ini dalam penyambutan anak magang baru.


“ Selamat Pagi Bu! Permisi, saya ingin bertanya bu, aulanya di mana ya?” tanya Naura Ramah.


“ Pagi! Kamu mahasiswa magang itu ya?” tanya wanita tersebut.


“ Benar bu, saya mahasiswa dari kampus Pelita Bunda.” Jawab Naura.


“ Oh, kamu jalan terus saja, nanti belok kanan. Nah nanti akan terlihat bacaan Aula. Kamu masuk saja.” Ucap wanita tersebut yang memakai kemeja putih berbalut blazer hitam dengan penataan rambut yang di gulung ke atas dengan rapi.


“ Baiklah bu, kalau begitu saya permisi. Terima kasih bu.” Tutur Naura dengan membungkukkan sedikit tubuhnya dan meneruskan perjalanannya.


“ Iya sama – sama.” Ucapnya


Naura bergegas menuju aula yang berada di ujung jalan. Sesampai di depan pintu aula, Naura mengatur nafasnya dan membaca doa sebelum memasuki aula.


Suasana di dalam sudah terlihat ramai, banyak mahasiswa yang sudah mengisi kursi – kursi yang kosong. Naura menuju kursi barisan nomor tiga dari depan podium.

__ADS_1


“ Maaf, kursi ini apakah sudah ada yang punya?” tanya Naura sebelum menduduki kursi yang kosong kepada seorang wanita berambut sepundak yang duduk di sebelah kursi kosong.


“ Oh, silahkan duduk! Belum ada yang isi kok.” jawabnya ramah.


“ Terima kasih.” ucap Naura senang sambil menjatuhkan bokongnya ke kursi.


Naura melihat arloji di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan angka 07.40.


“ Huft, Alhamdulillah masih ada waktu dan tidak terlambat.” Gumam Naura sambil melihat di sekitar gedung aula.


Ia sangat mengagumi desain interior aula sekolah ini, benar – benar luas, rapi, indah yang membuat betah meski berlama – lama di dalamnya.


“ Hai! Kenalkan nama ku Hani” sapa seorang gadis berambut panjang yang di kucir tinggi yang duduk di sebelah Naura.


“ Hai juga, nama ku Naura salam kenal Hani, semoga ke depannya kita bisa kerja sama ya.” Balas Naura sambil memberikan senyum terbaiknya.


“ Iya. Semoga kita bisa menjadi teman selama magang di sekolah ini. Aku dengar dari kampus Pelita Bunda hanya 30 orang yang berhasil di terima magang di sini. Aku beruntung termasuk ke dalamnya.” Ucap Hani.


“ Benarkah! Jadi pengajuan magang di sini tidak di terima begitu saja?” tanya Naura yang sama sekali tidak tahu. Pasalnya dirinya lah yang di ajukan untuk magang di sekolah ini.


“ Oh....begitu ya!” ucap Naura menganggukkan kepalanya.


“ Dan satu lagi yang tidak kalah pentingnya, aku dengar kali ini pemegang yayasan ini sudah di alihkan kepada anak laki – lakinya yang sudah selesai S2 nya di Luar Negeri. Aku dengar beliau sangat tampan, berkharisma dan seorang CEO dari perusahaan yang ia rintis. Sudah paket komplit deh. Duh jadi tidak sabar ingin melihat bagaimana sosok sebenarnya.” Oceh Hani panjang lebar.


“ Kau hebat Hani, banyak sekali info yang kau dapat.” Puji Naura yang memang tidak tahu informasi apapun. Hanya sekedar tentang info tentang yayasan ini saja.


“ Tentu saja, aku punya sepupu yang bekerja di yayasan ini.” Ucap Hani.


“ Oh benarkah.”


Mereka pun terus mengobrol ria sambil menunggu pukul 08.00. mereka terlihat sudah begitu akrab. Tanpa terasa terdengar suara dentingan jam yang menandakan jarum jam sudah di angka 8.


Suasana ruangan seketika menjadi hening mereka begitu berdebar akan melaksanakan magang di sekolah ini. Terlihat kepala sekolah dan beberapa guru memasuki aula dan langsung mengisi kursi yang sudah di sediakan di podium depan.


Setelah para mahasiswa memberi salam, salah seorang guru memulai acara penyambutan kepada mahasiswa magang di sekolah ini.

__ADS_1


Setelah acara di buka, kepala sekolah pun memberikan kata sambutannya untuk mengucapkan selamat datang di sekolah ini.


Suara tepuk tangan terdengar bergemuruh memenuhi ruangan aula. Selang beberapa menit, masuklah beberapa pria dengan setelan jas hitam berjalan duluan yang di susul oleh seorang pria muda yang berusia sekitar 25 tahun yang berjalan dengan gagahnya dengan balutan setelan jas berwarna hitam langsung menuju kursi yang telah di sediakan.


Suasana sedikit riuh karena suara bisikan – bisikan dari mahasiswa yang mengagumi ketampanan dari sang pria yang berada di podium depan.


“ Ra! Lihatlah pemilik yayasan ini ternyata aslinya ganteng banget.” Ucap Hani mengagumi ketampanan pria tersebut.


Seketika pandangan pria tersebut mengarah ke arah Hani khususnya tepat mengarah ke wajah wanita berhijab yang berada di sebelahnya. Dengan senyuman yang terukir sangat indah pria tersebut terlihat senang dapat melihat wajah yang sangat ia rindukan selama dua tahun ini.


“ Ya Allah Ra! Ia tersenyum ke arah kita. Aduh! Bisa kena serangan jantung deh. Makin ganteng maksimal dengan wajah yang tersenyum seperti itu.” Ucap Hani kegirangan ia tidak menyangka mendapatkan tatapan dan senyuman dari seseorang yang ia idolakan.


Melihat teman sebelahnya begitu heboh sendiri, Naura pun melihat seperti apa sosok yang begitu di idolakan.


Pupil mata Naura melebar setelah melihat sosok yang berada di depannya dengan tatapan yang begitu tajam dan dengan senyuman yang masih terukir di wajahnya.


Deg, jantung Naura seketika berdegub sangat kencang dan wajah yang merona saat pandangan mereka saling beradu.


“ Ya Allah! Kenapa jantung ini tidak bisa di kondisikan sih!” ucap Naura sambil memegangi dadanya.


Setelah dua tahun tidak bertemu tidak disangka dapat bertemu kembali dengan wajah dan tampilan yang semakin tampan yang sukses membuatnya tidak dapat menahan hatinya yang sudah terbawa jauh oleh pesona pria tersebut.


Dengan senyum yang canggung, Naura tidak dapat menatap wajah pria yang berada di depan podium dengan lama, Naura langsung menundukkan kepalanya agar dapat menyembunyikan kegugupan wajahnya.


“ Kak Arlan! Kenapa ada di sini? Mengapa wajah dan auranya sangat berbeda? Bagaimana ini?” gumam Naura sendiri.


Melihat kegugupan Naura secara tiba – tiba, Hani menyenggol lengannya dan berbisik.


“ Ra! Kau baik – baik saja? Apa kau juga terlena dengan pesona dari pemilik baru yayasan ini? Ya wajar saja sih tidak dapat di pungkiri, beliau benar – benar sangat tampan dan berkharisma. Siapapun yang melihatnya pasti akan klepek – klepek.” Ucap Hani sambil melirik ke depan.


“ Iya! Aku baik – baik saja Hani. Kau jangan khawatir. Kita fokus saja dengan acaranya jangan sampai kita ditegur karena berisik.” Seru Naura mengalihkan fokus Hani.


“ Iya Ra! Kau benar.” Ucap Hani sambil terus mencuri pandang ke arah Arlan yang sesekali melihat ke arah mereka. Ini kesempatan emas bagi Hani dapat melihat secara langsung wajah tersenyum dari seorang Arlan Putra Kusuma pewaris dari A.K Group.


Acara penyambutan mahasiswa magang berjalan dengan lancar dan khidmat. Meskipun ada mahasiswa yang tidak konsentrasi mengikuti acara tersebut dan berharap dapat keluar dengan cepat dari ruangan yang menurutnya terasa sesak.

__ADS_1


__ADS_2