Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 107 Perasaan Naya


__ADS_3

“ Mas....” teriak Naura yang mengejar Arlan.


“ Ayo, jika kau tidak ingin terlambat melihat


atraksinya.” Ucap Arlan santai terus melangkah.


“ Ah dasar!”


Setelah berhasil mensejajarkan langkah Naura dengan Arlan, dengan tidak sabar Naura langsung menyerang Arlan dengan pertanyaan – pertanyaan yang beranak cucu ( seperti ujian yang pernah Othor alami semasa sekolah dulu. Soal uraiannya satu tapi beranak cucu bahkan sampe cicit – cicitnya).


“ Jadi, arsitek dari wahana ini adalah Mas sendiri? Kenapa mas tidak memberitahu aku sih? Dan selain menjadi arsiteknya jabatan mas apa di SeaWorld Blue ini? Pasti tidak sembarangan bukan sampai – sampai sang pengelolanya begitu menghormati Mas?” tanya Naura dengan beruntun.


“ Ah dasar kau ini? Kalau bertanya tu satu persatu jangan di borong semua. Kasihan kan yang gak dapat pertanyaan.” Ujar Arlan santai.


“ Ish,,uda lah Mas jangan berbelit- belit!” kesal Naura yang melangkah panjang mendahului Arlan.


Suasana Seaworld semakin ramai oleh pengunjung, terutama di salah satu wahana tempat di adakannya sebuah atraksi untuk menampilkan kebolehannya.


Puas melihat beberapa atraksi dan mengunjungi terowongan akuarium yang panjang dan luas, membuat Naura sangat senang.


“ Ah,, capeknya?” keluh Naura yang menyeka keringat di dahinya.


“ Minumlah!” ucap Arlan menyerahkan sebuah minuman kaleng dingin yang merebahkan tubuhnya di bangku kosong sebelah Naura.


“ Terima kasih mas!” ujar Naura langsung meneguk minuman dingin hingga sampai setengah.


“ Kau senang?”


“ Sangat senang mas! Terima kasih sudah membawaku kemari. Rasanya akan sulit bagiku move on dari tempat ini.”


“ Tentu saja, siapa pun yang datang kemari pasti akan kembali lagi. Begitu juga denganmu kapan pun kau ingin bilang saja padaku.”


“ Benarkah? Ah...enak juga ya punya calon suami yang multitalenta. Hanya tinggal ngomong saja akan terwujud.”


“ Asal itu kau, apapun yang kau inginkan jangan sungkan. Semua keinginanmu akan saya wujudkan ratuku!”


“ Ishhh, lebay banget sih Mas!”


“ kalau di depanmu gak masalah tu!"


“ Iya deh, yuk makan mas. Dah lapar neh.” Ajak Naura memegangi perutnya yang sudah berdendang ria.


“ Ayo. Akan ku bawa kau ke tempat makan yang rasa makanannya gak kalah dengan rumah makanku."


“ Benarkah! Eh tunggu mas.. dasar main tinggal aja.” Teriak Naura kesal yang selalu ditinggal begitu saja.


Ting....sebuah notifikasi pesan masuk. Dengan rasa malas Naya melihat siapa pengirimnya.

__ADS_1


“ Kak Galih? Dasar neh orang gak ada kapoknya.” Gumam Naya.


[ Lagi apa?]


[ Ku tunggu di kafe Garden’s jam 3! Awas kalau terlambat]


“ Ckk, seenaknya saja menyuruh orang!” omel Naya.


[ Iya]


Balas Naya singkat, meskipun ia cuek namun entah mengapa ia tidak bisa menolak ajakan Galih. Selama dua tahun ini Galih tak pernah bosan mendekati Naya meskipun Naya bersikap jutek dan ketus padanya.


Namun bukannya mundur malah membuat Galih semakin semangat untuk mengejar Naya.


“ Ada apa memanggilku Kak?” tanya Naya to the point setelah ia duduk di depan Galih.


“ Memangnya harus ada alasan jika ingin bertemu denganmu!” jawab Galih.


“ Pesanlah!” sambungnya.


“ Maaf kak! Jika tidak ada keperluan aku permisi!” ujar Naya ingin beranjak dari duduknya.


“ Duduklah! 10 menit saja.” Tahan Galih yang langsung mencekal lengan Naya.


Melihat wajah Galih yang terlihat tidak seperti biasanya membuat Naya luluh dan mengurungkan niatnya untuk pergi.


“ Hah, dasar merepotkan. Aku pesan roti bakar manis dan ice blnd saja.” Ketus Naya.


“ Aku di jodohkan oleh orangtua ku dengan anak rekan bisnis mereka.” ucap Galih membuka suara berharap Naya membelanya.


“ Terus? Kakak menerimanya?” tanya Naya.


“ Tentu saja aku menolaknya.”


“ Kenapa?”


“ Kenapa? Kau bertanya kenapa?”


“ Iya. Lalu aku harus tanya apa?”


“ Ah, sudahlah!” kesal Galih kecewa yang melihat respon Naya biasa saja seperti tidak terjadi apa – apa.


“ Maaf sudah menggangu waktumu. Dan terima kasih sudah datang!” ucap Galih langsung beranjak meninggalkan Naya.


“ Ohya, pesanannya sudah kubayar.” Ucap Galih sebelum pergi.


“ Baiklah!”

__ADS_1


Setelah Galih tak terlihat, bahu Naya bergetar menahan tangis agar air matanya tidak keluar.


“ Hiks hiks...maaf kak! Ini sudah ku duga pasti akan terjadi. Semoga kakak mendapat wanita yang lebih baik dan layak.” Ucap Naya dengan air mata yang keluar secara bersamaan.


“ Dasar bodoh! Apa yang kau harapkan si Nay!” imbuhnya dengan isak tangis yang masih tertahan.


Naya berusaha kuat di depan Galih agar Galih tidak berharap banyak pada Naya. Setelah kepergiannya, Ia pun melampiaskan kesedihannya seorang diri.


“ Permisi! Ini pesanan anda nona.” Ucap seorang waitress yang meletakkan pesanan mereka di meja.


Lamunan Naya terhenti saat mendengar ucapan seorang waitress.


“ Ah, iya terima kasih!” sambil mengusap air mata, Naya berusaha kuat meski hatinya sakit. Tidak bisa dipungkiri oleh hati Naya yang juga memiliki perasaan ingin memiliki.


“ Hah....dasar bodoh! Kalau tidak kuat kenapa masih berpura – pura sih....” ujar seorang pria yang baru beberapa menit ia dengar suaranya.


Mendengar suara yang tidak asing baginya, Naya mengangkat kepalanya dan melihat pemilik suara tersebut. Dengan mata yang membulat sempurna membuat Naya terkejut dan tidak menyangka keberadaan sosok yang ia kagumi telah berada di depannya lagi.


“ Ka..k Ga...lih?” dengan suara yang terkejut dan memerah membuat Naya semakin salah tingkah.


Dengan memberikan sebuah sapu tangan ke arah Naya, Galih langsung duduk di tempat yang baru saja ia tinggalkan.


“ Apaan sih! Untuk apa sapu tangan itu?” seru Naya berusaha menutupi wajahnya masih terlihat ada bekas air mata yang mengering.


“ Ambil saja, aku tidak ingin orang akan salah paham.” Paksa Galih.


Mengerti akan maksud Galih dengan perasaan malu Naya menerima sapu tangan dan mengusap wajahnya.


“ Makanlah!” titah Galih yang langsung menyantap hidangan miliknya.


“ Apaan sih! Aneh banget.” Cebik Naya yang tidak mengerti akan sikap Galih yang seolah – olah tidak terjadi apa – apa. padahal beberapa menit yang lalu, wajahnya terlihat sangat kesal. Lalu ini apa? kenapa ia bisa bersikap tenang seperti ini?. Kenapa ia bisa kembali lagi? Sekarang apa yang ia pikirkan tentangku yang sudah terciduk sedang menangis.


“ Huft...” dengan helaan nafas yang panjang membuat Naya tidak bisa menolak, dengan perlahan ia pun menyantap hidangan miliknya.


Sementara Galih hanya tersenyum melihat tingkah Naya yang membuatnya semakin ingin memiliki.


“ Ayo!” ajak Galih.


“ Eh...mau kemana kak?” tanya Naya bingung.


Tanpa menghiraukan pertanyaan Naya, Galih langsung beranjak meninggalkan meja dan keluar dari kafe.


“ Masuklah!” Titah Galih mempersilahkan Naya masuk ke mobil miliknya.


Seperti boneka yang dikendalikan Naya hanya menurut tanpa menolak ucapan Galih. Naya yang biasanya bersikap jutek dan ketus kali ini ia menjadi seorang gadis yang lemah dan penurut apalagi di depan Galih.


“ Ah, melihat sikapnya yang sangat penurut dan tidak banyak protes membuat wajahnya semakin menggemaskan saja sih! Jadi tidak sabar.” Gumam Galih yang terus mengembangkan senyuman di wajah tampannya.

__ADS_1


“ Dasar aneh.” Ketus Naya sebal melihat Galih sedari tadi terlihat senyum – senyum sendiri.


Galih melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi agar cepat sampai ke tempat tujuannya.


__ADS_2