Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 69 Galih vs Naya


__ADS_3

“ Haa.. Alhamdulillah selesai juga regitrasi ulangnya. Kampus ini benar – benar hebat seperti dalam mimpi saja bisa kuliah di sini.” Ucap Naya setelah keluar dari gedung Fakultas Fashion Designer.


Naya segera beristirahat untuk memanjakan matanya mengitari pelosok sekitar kampus. Langkahnya menuju taman yang berada di tengah – tengah gedung fakultas.


“ sejuknya, jadi ingin tidur di sini.” Ucap Naya setelah menjatuhkan dirinya ke bangku taman yang berada di bawah pohon yang rindang.


Sambil mengeluarkan bekal yang ia bawa dari kos, Naya segera menyantap dan tak pernah ketinggalan buku saku yang selalu ia bawa untuk dibaca setiap ada waktu senggangnya.


“ Permisi, boleh kah aku duduk di sini?” tanya seorang pria yang memakai kaos hitam dengan balutan jaket yang dipadukan dengan celana jeans hitam.


“ kenapa anda meminta izin padaku? Bukankah ini tempat umum?” ucap Naya yang hanya menihatnya melalui mata ekornya, ia masih fokus pada bukunya.


“ Ah, benar. baiklah!” seru pria tersebut tanpa sungkan langsung mengisi bangku kosong yang ada di sebelah Naya.


Melihat pria tersebut sudah duduk, Naya menggeser duduknya ke bangku ujung agar tetap menyisakan jarak diantara mereka.


Melihat Naya yang langsung menggeser duduknya membuat pria yang memiliki gaya rambut Semi long quiff yang terlihat terkesan seperti pria bad boy.


Naya tidak merespon atau pun berniat untuk mengajaknya mengobrol, ia benar – benar hanya fokus pada buku yang ia baca.


“ ehm, kau mahasiswa baru?” tanyanya.


“ Ehm.” Balas Naya dengan deheman saja.


“ Ah, sayang sekali kau sangat irit.” Ucapnya merasa kecewa.


Namun, Naya benar – benar tidak bergeming sama sekali. Ia hanya asyik dengan dunianya sendiri.


“ Kau mengambil jurusan Fashion Desaigner? Wah hebat sekali.” Ucapnya masih terus berusaha untuk mengajak Naya terus mengobrol.


“ Ehm.”


“ Ah dingin sekali sih, melihat saja dia enggan. Baru kali ini bertemu dengan wanita yang super cuek seperti ini.” Ucapnya dalam hati.


Melihat wanita dengan hijab yang berwarna milo senada dengan dress yang ia kenakan, membuat pria tersebut tersenyum misterius dengan pandangan yang tak terlepas dari wanita yang berada di sampingnya.


“ Jika aku memperhatikanmu, aku jadi teringat akan seseorang yang mempunyai wajah hampir sama denganmu.” Serunya.


“ Pacar?” tanya Naya


“ Tidak, lebih tepatnya calon pacar temanku.” Ucap pria tersebut.


“ Biasanya jika ada pertemuan pertama pasti akan ada pertemuan selanjutnya.” Kata nya berusaha mencairkan suasana.

__ADS_1


“ Benarkah?”


“ Tentu saja, apalagi kau adalah mahasiswa di sini akan sangat mudah bagiku menemukanmu.”


“ Sombong sekali.”


“ Kau tidak percaya?”


“ ehm.”


“ Baiklah, untuk membuktikannya aku akan membuktikan ucapanku. Kenalkan namaku...”


“ Ah, ternyata kau di sini? Kenapa kau tidak menunggu di dalam saja?” seru seorang pria yang memiliki tatanan rambut model pendek berponi.


“ Kau sudah selesai? Dasar mengganggu saja.” Ucapnya kesal.


“ Ayo, kita sudah ditunggu jika telat bisa – bisa dia akan membatalkan proyek kerjasama ini begitu saja.” Ucapnya.


“ Ehm. Baiklah kau tunggu saja.” Ucapnya pada Naya sebelum mereka beranjak meninggalkan taman. Namun tidak ada balasan dari Naya.


Melihat ada seorang wanita yang sedang duduk dengan buku yang ia baca, sebelum pergi ia pun mengintip sedikit wajahnya namun hanya dapat terlihat dari samping.


Setelah mereka pergi menjauh, Naya mencuri pandang melihat mereka yang sudah berjalan keluar taman menuju parkiran,yang terlihat hanya punggung mereka saja.


“ Siapa lagi korbanmu hah...” tanya Dennis yang hanya mengenakan kaos navy dengan blazer hitamnya sambil mengendarai mobil sport yang berwarna silver mix hitam dengan tenunan berlian serat karbon yang unik untu tampilannya. Karena sulitnya proses pembuatan, mobil ini hanya di produksi 4 unit di seluruh dunia.


“ Ah kau bicara apa sih, dia bukan korbanku tapi calon isteri masa depanku.” Jawab Galih.


Ya, pria yang menghampiri Naya adalah Galih, ia dan Dennis baru saja mengunjungi kampus untuk menemui seseorang setelah mereka pun menyelesaikan study S2 mereka.


“ Cih, percaya diri sekali kau hah...tapi jika kulihat kau gagal kan?” tebak Dennis.


“ Bukannya gagal hanya masih proses, karena ia calon isteriku masa depan untuk mendekatinya pasti akan membutuhkan suatu perjuangan.” Ucap Galih.


“ Ah terserah kau saja. Setelah dua tahun dengan kesibukan kita masing – masing sangat sulit untuk mencari waktu kita untuk berkumpul kembali. Dan ini adalah kesempatan yang sudah kita tunggu – tunggu bukan.” Ucap Dennis melajukan kecepatan mobilnya dalam membelah jalanan yang sedikit padat menuju perusahaan sahabat mereka.


“ Ya kita lihat saja nanti. Aku akan mendapatkan mu.” Gumam Galih yang menyenderkan punggungnya sambil memejamkan matanya dengan senyuman yang terus terukir secara jelas.


“ Hah dasar kau. Sekarang kau kena batunya kan!” ejek Dennis.


“ Biar kena batunya asal apa yang diharapkan dapat ku miliki.” Ucap Galih.


“ Ehm.. lihat saja nanti, kau bisa atau tidak meraihnya.” Tantang Dennis.

__ADS_1


“ Kau lihat saja, jika aku berhasil mendekatinya mobil ini akan jadi milikku.” Ucap Galih menantang Dennis untuk taruhan.


“ Ah sudahlah aku sudah bosan taruhan terus padamu. Karena sudah tahu siapa pemenangnya. Kata Dennis.


“ Cih sombong sekali. Ok aku setuju kita taruhan. Jika aku menang siap – siap berpisah dengan miss Silver ini.” Jawab Galih percaya diri.


Mobil sport milik Dennis terus melaju membelah jalan raya dengan kecepatan yang cukup tinggi.


“ Bagaimana bu Naura perkenalan dengan para siswa kelas 2 – E apa ada masalah?” tanya seorang guru paruh baya dengan ramah yang bernama bu Tiwi setelah Naura juga ikut bergabung di ruang guru.


“ Alhamdulillah lancar bu! Mereka tidak seseram yang di rumorkan.” Ucap Naura mengisi meja yang akan ia tempati selama magang.


“ Syukurlah kau bisa berinteraksi baik dengan mereka semoga ke depannya kau dapat beradaptasi.” Ucap bu Tiwi.


“ Iya bu. Amin.” Seru Naura.


“ Ohya bu, maaf kalau saya lancang, tadi ada seorang siswi datang terlambat 30 menit setelah jam pelajaran di mulai. Tanggapan dia dan siswa lainnya biasa saja seakan – akan itu adalah hal yang biasa ia lakukan.” Tanya Naura to the point karena masih terasa mengganjal di hatinya.


“ Ah iya, dia bernama Ayla. Dia merupakan siswa penerima beasiswa karena memiliki segudang berprestasi yang membawa nama sekolah kita ke mancanegara. Tapi karena suatu keadaan masalah keluarganya ia harus menanggung bebab itu sendirian di pundaknya. Karena ia terus semangat dalam pendidikannya pihak sekolah memberikan keringanan baginya agar ia tetap melanjutkan dan menyelesaikan sekolahnya selama ia dapat mempertahankan prestasinya.” Terang bu Tiwi panjang lebar.


“ Oh begitu ya bu, kalau boleh tahu masalah apa yang ia tanggung sampai ia bisa terlambat seperti itu setiap harinya?” tanya Naura.


“ Beberapa bulan yang lalu, ibunya sakit – sakitan ditambah ayahnya meninggalkan mereka begitu saja tanpa memperdulikan penyakit istrinya. Sehingga membuat Ayla menjadi tulang punggung untuk memenuhi kehidupan mereka dan membiayai perobatan ibunya.” Kata bu Tiwi.


“ Astaghfirullahalazim di usia nya yang masih belia ia harus menanggung beban seberat itu ya bu, dasar ayahnya orangtua yang tidak bertanggung jawab sampai hati meninggalkan mereka begitu saja.” Oceh Naura merasa geram dan prihatin melihat masalah Ayla.


“ Memangnya ia bekerja di mana bu dan apa pekerjaannya.”


“ Menurut ceritanya Ayla kerja paruh waktu di kafe sepulang sekolah pukul 16.00 sampai pukul 22.30 malam. Terus dini hari pukul 04.00 ia pergi ke pasar untuk membantu pamannya berjualan. Sepulang dari pasar ia merawat ibunya terlebih dahulu sebelum ia berangkat sekolah.


“ Ah begitu ya.” Ucap Naura masih selalu mensyukuri hidupnya. Ternyata masih banyak yang lebih sulit lagi dari dirinya. Dan sekeras itu kehidupan di kota besar ini.


“ Baiklah bu Naura, mari kita makan siang.” Ajak bu Tiwi untuk ke kantin yang telah disediakan pihak sekolah bagi guru – guru di sekolah ini sebagai salah satu fasilitas untuk mendorong dan memberi kenyamanan bagi para guru untuk mengajar di sekolah ini.


“ Maaf bu, karena saya tidak tahu ada makan siang yang di sediakan oleh pihak sekolah saya sudah membawa bekal dari kos.” Ucap Naura merasa tidak enak hati sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.


“ Ah baiklah, kalau begitu kami pergi ke kantin ya.” Pamit bu Tiwi.


“ Iya bu.” Balas Naura.


Setelah kepergian bu Tiwi dan guru – guru lainnya, Naura pun membuka bekal makan siang yang ia masak sendiri. Baru saja ingin menyuapkan nasi ke mulutnya handphone nya bergetar singkat pertanda sebuah pesan masuk.


“ Ah dasar.” Ucap Naura melihat nama si pengirim pesan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2