Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 37 Baper


__ADS_3

“ Anda tidak berhak untuk menutup rumah makan ini Tuan!” seru Pak Johny


“ Kau meremahkan ku hah,, kau hanya nya seorang staf rendahan. Beraninya kau! Akan kupastikan kau dipecat.” Teriak Tuan Hardi


“ Maaf Tuan, anda tidak berhak memecat saya karena saya tidak bekerja dengan anda. Saya punya wewenang di sini. Jadi anda dan kekasih anda silahkan pergi dari tempat ini. Anda sudah mengganggu kenyamanan para pelanggan kami, saya bisa saja memanggilkan petugas keamanan untuk mengusir kalian.” Ucap Pak Johny tenang


“ Kauu......beraninya kau mempermalukan aku hah... lihat saja akan kubalas kalian semuanya.” ancam tuan Hardi.


Merasa tersudutkan, apalagi pandangan para pelanggan yang begitu sinis menatap ke arahnya, tuan Hardi segera pergi.


“ Sayaang! Kenapa kita yang harus pergi? Mereka saja belum mendapat pelajaran.” Ucap Tari


“ Kau tenang saja sayang! Mereka tidak akan lepas dariku.” Ucap tuan Hardi sambil mengecup pipi Tari


‘ Cih, tidak tahu malu’ gumam Naura melihat pemandangan yang menjijikan di depannya


Dengan wajah yang cemberut, Tari pergi begitu saja meninggalkan kekasihnya.


“ Awas kalian...!” Ancam tuan Hardi sambil bergegas menyusul Tari


“ Dasar! Sudah tua malah tidak tahu diri. Segitu bucinnya dengan kak Tari. Iihhhh” kata Naura pelan


“ Maafkan atas gangguan tadi Tuan! Silahkan lanjutkan kembali. Saya undur diri dahulu.” Pamit pak Johny


“ Ehm..” Angguk Arlan sembari memberi kode kepada Johny yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.


“ Tidak apa – apa Pak! Terimakasih sudah membantu kami tadi.” Kata Naura lega


“ Tidak masalah Nona, ini sudah menjadi kewajiban kami!” Jawab pak Johny sembari mengundurkan diri dari hadapan Arlan.


“ Huft... benar – benar hari yang menegangkan! Bisa – bisanya orang seperti itu berani akan menutup rumah makan ini, memangnya siapa sih dia tu?” Celoteh Naura.


“ Kenapa? Kau takut?” tanya Arlan


“ Tidak, tetapi jika itu terjadi aku lah yang paling merasa bersalah!” jawab Naura sedih


“ Kenapa?”


“ Ya iyalah, gara – gara aku dan kak Tari rumah makan ini sampai ditutup lalu bagaiman dengan nasib para pekerja disini pasti mereka akan menjadi pengangguran.”


“ kau hanya mengkhawatirkan nasib para pekerjanya? Lalu bagaimana dengan nasib pemilik dari rumah makan ini?” tanya Arlan sambil menelengkan kepalanya menatap Naura.


“ Kalau pemiliknya pasti bisa membuka usaha yang lain secara pasti dia dari kalangan orang kaya. Lha, kalau para pekerjanya pasti mereka akan sulit untuk mencari pekerjaan lainnya.” Jelas Naura


“ Ehmmm, pemikiranmu terlalu jauh. Itu tidak akan terjadi!”


“ Kenapa kakak bisa seyakin itu?”


“ Ya jelas dong, pemiliknya juga tidak akan tinggal diam jika rumah makannya akan ditutup begitu saja.” Kata Arlan

__ADS_1


“ Benar juga! Ohya kak, memangnya siapa sih bapak – bapak tadi? Apa tidak kasihan ya dengan isterinya?”


“ Kenapa dengan isterinya?”


“ Ya jelas kasihan dong kak, suaminya selingkuh di belakangnya. Wanita mana yang bisa terima kalau pasangannya selingkuh. Dan bapak tadi sudah tua bukannya banyak – banyak beramal malah menambah dosa. Ih Naudzubillahminzalik deh.” Ucap Naura panjang lebar.


“ Sudahlah! Jangan kau pikirkan. Ayo kita pulang.” Ajak Arlan


“ Tapi kak, kita kan belum bayar”


“ sudah ku bayar.”


“ Hah, kapan?” seru Naura sambil menggaruk kepalanya seingatnya sejak tadi Arlan selalu bersamanya.


“ Permisi Tuan, ini pesanan Tuan tadi!” Ucap seorang pelayan sambil menyerahkan sebuah bungkusan kepada Arlan


“ Terima kasih.”


Mereka pun bergegas keluar dari rumah makan, yang di ikuti Naura dari belakang.


“ Nih, ambillah.” Ucap Arlan sambil menyerahkan sebuah bungkusan ke tangan Naura.


“ Apa ini kak?”


“ Ambil saja.”


Tanpa menghiraukan kebingungan Naura, Arlan bergegas menuju ke mobilnya dan langsung membukakan pintu untuk Naura.


Naura tidak ingin menunggu lama ia segera masuk ke mobil.


“ Terima kasih kak! Untuk yang kesekian kalinya kakak selalu membantuku. Aku bersyukur aku di kelilingi oleh orang – orang yang baik. Sebelumnya aku pernah berpikir bagaimana caranya menjalani hidup di perantauan apalagi kota sebesar ini tanpa adanya keluarga maupun teman. Apakah aku sanggup melaluinya?” cerita Naura menumpahkan segala uneg – unegnya selama ini.


“ Kau lupa! Apa yang sudah kau katakan?” ucap Arlan


“ Apa yang aku katakan kak?” tanya Naura heran


“ Ish kau ini, kau sendiri yang bilang jadikanlah Allah itu pendukung dan pelindungmu di mana pun kau berada.” Kata Arlan mengingatkan Naura.


“ Astaghfirallahalazim.... aku benar – benar lupa kak. Hehehehehh....” cengir Naura sambil menyengir kuda


“ Dasar kau...”


Arlan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang melintasi jalanan ibukota yang padat. Naura membuka kaca jendela mobil sambil menikmati pemandangan kota di malam hari. Tanpa disadari ia memejamkan matanya dan dengan nafas yang berhembus teratur Naura sudah terlelap menuju alam mimpinya.


Melihat di sampingnya tidak terdengar suara, Arlan hanya menggeleng – gelengkan kepalanya yang diiringi dengan senyuman di bibirnya.


“ Dasar tukang tidur.” Gumamnya


Arloji di lengan Arlan sudah menunjukkan ke angka sembilan. Mereka telah tiba di kosan, namun Naura masih terlelap dalam tidurnya. Dengan sabar Arlan menunggu hingga ia terbangun.

__ADS_1


“ Assalamualaikum pak!” sapa Arlan kepada pak Bowo sang satpam kosan.


“ Walaikumsalam Tuan Arlan. Sudah pulang? Neng Nauranya kemana tuan?” tanya pak Bow


“ Masih di dalam mobil pak, dia ketiduran. Saya tidak tega untuk membangunkannya. Apakah saya boleh menunggunya di sini?” Tanya Arlan


“ Oh,, boleh tuan...saya senang ada teman ngobrolnya..” kata pak Bowo


“ Terima kasih pak. Ohya ini ada cemilan buat bapak.” Kata Arlan menyodorkan sebuah bungkusan kecil ke tangan pak Bowo


“ Aduh tuan, kenapa repot – repot sih. Tuan sama saja dengan neng Naura, kalau habis pergi ke suatu tempat pasti membawakan saya oleh – oleh.” Jelas pak Bowo.


“ Benarkah!"


“ Iya tuan. Sebentar ya tuan sambil kita menunggu, saya buatkan kopi biar gak ngantuk.” Pamit pak Bowo


Arlan mengamati di sekitar kos – kosan. Meskipun terlihat kecil, namun terlihat nyaman dan sedap di pandang. Ada rasa lega di hatinya Naura mendapatkan tempat tinggal yang di rasa cukup aman.


Meskipun Arlan merasa lega, namun terbesit di hatinya sangat berat untuk berpisah dari Naura. Arlan menghela nafas panjang.


“ Huufffft... Mudah – mudahan kau berhasil mewujudkan semua impianmu.” Gumam Arlan.


“ Maaf tuan sudah menunggu lama. Ini kopinya dan cemilan yang tuan bawa tadi.” Ucap pak Bowo sambil meletakkan nampan yang berisi dua gelas kopi dan sepiring cake strowberry.


“ Terima kasih pak.” Seru Arlan sambil menyeruput kopinya.


“ Sama – sama tuan. Saya senang jika setiap tugas begini ada teman ngobrolnya.” Kata pak Bowo


“ Bapak sudah berapa lama kerja di sini?” tanya Arlan


“ sudah 10 tahun tuan.” Jawab pak Bowo


“ Cukup lama juga ya Pak! Ohya saya titip Naura di sini ya? Dan saya minta tolong sama bapak berikan ini kepada Naura.” ucap Arlan sambil menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna biru muda.


“ Ah. Baiklah Tuan akan saya sampaikan.” Ucap pak Bowo bingung


“ Baiklah pak! Saya permisi dahulu. Karena sudah malam dan kelelahan, Naura pasti masih terlelap. Biar kan saja dia pak kasihan kalau di bangunkan.” Ucap Arlan sembari berjalan keluar meninggalkan pos satpam pak Bowo.


“ Eh... tapi tuan...” seru pak Bowo semakin bingung atas sikap Arlan


Arlan hanya melambaikan tangannya dari luar pintu gerbang sambil terus berjalan melintasi jalan raya dan membiarkan pak Bowo sendirian dengan rasa kebingungannya.


“ Ah sudahlah.. dasar kelakuan anak – anak muda zaman sekarang! Banyak gengsinya. Kalau cinta kenapa tidak terus terang aja sih.” Cetus pak Bowo sambil menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal yang terus memperhatikan mobil sport Arlan yang terkesan sangat mewah.


“ Kenapa seenaknya begitu meninggalkan mobil mewah ini di sini begitu saja sih. Dan membiarkan neng Naura tertidur di dalam mobilnya.” Gumam pak Bowo yang mendekati mobil sport Arlan.


“ Wah, ini mah mobil yang sangat mahal. Seumur hidupku bekerja pun tidak akan mampu untuk membelinya. Dasar orang kaya kelakuannya suka – sukanya saja.” Sambung pak Bowo meneliti tiap sudut dan bagian mobil secara detail.


“ Ckckckck, pantes saja neng Naura betah dan nyenyak gitu tidurnya. Fasilitasnya mah seperti di hotel bintang lima. Eleh eleh....”

__ADS_1


Puas melihat – lihat mobil Arlan secara dekat, pak Bowo pun kembali ke pos jaganya sambil menikmati segelas kopi dan ditemani dengan sepiring cake strawberry.


__ADS_2