Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 88 Naura vs Carissa


__ADS_3

Suasana kelas kembali heboh dan riuh dalam membahas rekaman cctv yang telah tersebar di forum tiga puluh menit yang lalu.


Mereka masih menebak – nebak siapa orang di balik ini semua yang rela membantu Naura untuk membersihkan nama baiknya.



Melihat suasan kelas yang tidak kondusif lagi, Naura pun menghentikan kegiatan belajar mengajarnya dan beralih untuk ikut serta membahas permasalahan yang ada di forum.



“ Siapa pun itu orangnya, saya mengucapkan terima kasih dan terutama saya tidak luput mengucapkan rasa syukur kepada Allah karena sudah menggerakkan hati seseorang untuk membantu saya dalam meluruskan kesalahpahaman ini.” Ucap Naura penuh rasa syukur.



“ Iya bu, kami juga sangat senang mendengar berita ini. Semoga saja pelaku penyebar fitnah ibu segera di beri sanksi.



“ Ohya dan sangat di sayangkan ya, jika benar salah satu pelakunya adalah si Carissa itu benar – benar sudah membuat tuan Hermawan malu.” Ucap Olive.



“ Iya kau benar! anak dari seorang donatur dan pengusaha yang cukup di segani akan tercoreng namanya baiknya karena perilaku anaknya sendiri.” Imbuh Reya.


“ Apakah ibu ada hubungan dengan yang namanya Carissa itu?” tanya Tara.


“ Carissa? Sepertinya tidak asing ya namanya?” ucap Naura berusaha mengingat – ingat nama Carissa yang pernah ia ingat tapi dimana.


“ Astaghfirullahalazim,,, iya saya baru ingat Carissa. Ya Carissa yang pernah saya temui saat baru pertama kali masuk kuliah tempo hari.” Ucap Naura langsung terbayang sekelebatan memori yang muncul.


Mereka pun semakin penasaran akan kehidupan pribadi bu Naura yang bisa dekat dengan orang – orang yang cukup berpengaruh di kota ini.


“ Sejak kapan ibu mengenal Carissa itu? Secara dia adalah orang yang sangat arogan dan sulit untuk di jangkau.” Ucap Reya.


“ Husst, kau kecilkan suaramu Reya, jika ia mendengar ucapanmu itu kau bisa kena masalah tahu.” Ucap Via mengingatkan.


“ Tidak mungkin dia berada di sekolah ini, dia kan memiliki jadwal yang sibuk sebagai model. Tapi sayang ya, ternyata sifat dan rupa tidak sesuai.” Cela Reya yang benar – benar tidak menyukai sikap arogannya Carissa.


“ Ah terserah kau saja, tapi apa yang kau ucapkan memang ada benarnya juga. Seorang model kelas atas tidak di sangka bisa melakukan hal yang tidak terpuji seperti itu. Jika hal ini mencuat ke publik apa yang terjadi dengan nasib karirnya. Hah, dasar kalau berindak tidak berpikir terlebih dahulu.” Ucap Olive membenarkan ucapan kedua temannya.

__ADS_1


“ Ah sudahlah kok malah kita yang heboh bergosip, sementara bu Naura yang tokoh utamanya saja bersikap tenang.” Ucap Via begitu salut melihat ketenangan guru yang ada di depan mereka.


“ Sudah tidak apa – apa. Saya yakin jika kita mendapat masalah kita tidak pernah merasa sendirian ada Allah yang selalu ada dan siap membantu jika kita mengadu dan menyerahkan segala permasalahan kita kepada Nya.” Jelas Naura.


“ Oh pantes ibu sangat tenang bahkan setelah mengetahui siapa pelakunya ibu masih tetap tenang dan tidak sibuk ingin membalasnya.” Ucap Dhea.


“ Saya yakin jika kita berserah diri kepada Allah, semua akan terselesaikan sesuai rencana Nya. Jadi ibu harap bagi kalian yang masih mempunyai masa depan yang panjang, jika terkena masalah ibu harap kalian jangan putus asa ingatlah Allah di mana pun kalian berada.” Nasehat Naura.


“ Baik bu, kami akan mengingat semua nasehat ibu.” Ucap para siswa serentak.


“ Alhamdulillah jika kalian mendengarkan ucapan saya.” Ucap Naura.


Triiiiiiiiinggg..........tringgg.......... suara bel tanda istirahat berbunyi. Setelah Naura mengizinkan mereka keluar, merekapun langsung berhamburan keluar untuk menghirup udara bebas.


Drtt..handphone Nauran berdering bertanda sebuah notifikasi pesan masuk.


[ Ke rooftop sekarang]


Pesan dari dasar Jaelangkung.


“ Ehm, apaan sih kenapa masih menghubungi aku padahal dia sedang dekat wanita lain. Ish memang dasar jaelangkung.” Gumam Naura.


“ Ah sudahlah, temui saja yang penting nanti jaga jarak saja dengannya.” Gumam Naura meraih ranselnya segera keluar kelas menuju rooftop.


Setelah Naura membuka pintu, maka terlihat lah sosok pria yang tidak asing di mata Naura, sosok tersebut membelakangi pintu berdiri memandang lurus ke depan.


“ Ah, jantung ini kenapa semakin kencang sih berdetaknya. Dasar kau Naura baru melihat punggungnya saja sudah seperti ini. Dan kenapa sih semakin hari ia semakin terlihat berkilau saja membuat sulit bagiku untuk berpaling. Huft .” Gumam Naura memegangi dadanya saat melihat punggung Arlan yang di balut dengan kaus hitam yang dipadukan dengan blazer abu rokok mix hitam dan celana jeans hitam dan tak lupa sepatu sneaker putih. Membuat Arlan terlihat semakin tampan dan bergaya kasual.


“ Kau baik – baik saja?” tanya Arlan yang langsung membalikkan tubuhnya menghadap Naura.


“ Ah! Kenapa kau berpaling ke arahku sih! Bikin sakit jantung aja.” Gumam Naura masih membatu di posisinya.


“ Temani aku makan siang!” Ajak Arlan berjalan menuju sebuah meja dengan dua kursi yang sudah tertata beberapa menu di atas meja.


“ Hah! Jadi kakak memanggil ku kemari hanya untuk menemani kakak makan? Ah ternyata seorang CEO memiliki banyak waktu luang ya!” ucap Naura tersadar setelah mendengar ucapan Arlan.


“ Dan kenapa kakak bisa dengan bebas keluar masuk ke sekolah ini? Apa keberadaan kakak tidak di sadari oleh orang lain? Gimana jadinya ya jika para penggemar kakak mengetahui sang idol mereka berkeliaran di sekitar mereka?” oceh Naura.


“ Kau jangan khawatir, itu juga salah satu kemampuanku!” ucap Arlan membanggakan dirinya.

__ADS_1


“ Ish sombong sekali!” cibir Naura.


“ Cepat kemari, jika kau tak ingin menyesal.” Ucap Arlan yang sudah menempati salah satu kursi.


Dengan langkah yang berat dan degub jantung yang tidak bisa di ajak kompromi, Naura perlahan berjalan menuju meja dan menduduki kursi yang berada di depan Arlan.


“ Makan lah!” titah Arlan yang masih menatap ke wajah Naura yang sudah beberapa hari ia rindukan.


“ Ehm baiklah jika kakak memaksa.” Ucap Naura tanpa segan langsung menyantap hidangan yang ada di depannya.


“ Ehhmmm, enak sekali! Kakak beli di mana makanan ini semua.” Tanya Naura begitu terlena akan kenikmatan rasa makanan yang telah


memasuki kerongkongannya.


“ Aku yang memasaknya sendiri?” ucap Arlan.


“ Apa? kakak yang memasak. Uhuk uhuk....” ucap Naura terbatuk karena terkejut mendengar penuturan Arlan.


“ Ehm, kau tidak percaya?” ujar Arlan.


“ Ah tidak, pasti kakak akan bilang itu termasuk salah satu kemampuanku!” ucap Naura menirukan ucapan Arlan.


“ Ah, hahahhahaa....kenapa kau berpikir kalau itu yang akan aku ucapkan!” tanya Arlan.


“ Tentu saja, kenarsisan kakak akan muncul jika di puji. Ya meskipun itu memang harus ku akui.” Ucap Naura.


“ Habiskan lah!” seru Arlan.


“ Ehm, baiklah kalau kakak memaksa. Aku tidak akan sungkan lagi.” Ucap Naura langsung melahap semuak hidangan yang ada di depannya.


“ Alhamdulillah, terima kasih kak atas makan siangnya.” Ucap Naura ketika selesai menghabiskan makanannya.


“ Ehm..” dehem Arlan terlihat senang melihat nafsu makan Naura yang tidak berubah.


“ Ohya kak, apa kakak yang membantu ku membongkar pelaku yang telah menyebarkan foto – fotoku itu” tanya Naura.


“ Menurutmu?” tanya Arlan balik.


“ Ah iya, itu juga pasti perbuatan kakak bukan! Terima kasih kak sudah membantu ku. Dan kakak masih mempercayaiku.” Ujar Naura menerawang kejadian beberapa waktu yang selalu menimpa dirinya. Dimana Arlan juga selalu siap dan hadir dala menyelesaikan permasalahan yang di hadapi oleh Naura.

__ADS_1


__ADS_2