Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 71 Kekhawatiran Vixel


__ADS_3

“ Selamat ya sayang, proyek mu berhasil!” ucap seorang wanita muda yang berambut panjang dengan balutan dress selutut bergelayut manja di lengan sang pria paruh baya.


“ Ah tentu saja sayang, ini semua berkatmu. Kau benar – benar membawa keberuntungan dalam hidupku.” Seru pria tersebut yang tak lain adalah Hardi Ginanjar.


“ tentu saja, Tari gitu loh.” Ucap Tari Bangga.


“ Ah, kau benar – benar membuatku terus tergila – gila padamu.” Ucap Hardi sambil mengecup pucuk kepala Tari.


“ Lalu apa aku tidak bisa hadir ke acara Grand Opening Hotel Green Mounth tersebut!” rengek Tari.


“ Tentu saja kau akan hadir, tapi...”


“ Tapi?”


“ Iya sayang, aku tidak bisa datang bersama mu. Aku akan membawa istriku.” Seru Hardi


“ Ehm baiklah, aku akan menemui di sana tanpa di ketahui istrimu sayang!” kata Tari


“ Baiklah sayang, terima kasih kau mengerti akan posisiku.” Ucap Hardi sambil menyerahkan sebuah kartu undangan VIP dan selembar cek yang tertulis senilai 50jt.


“ Belilah keperluanmu dengan cek ini.” Imbuhnya.


“ Terima kasih sayang, kau benar – benar pengertian.” Ucap Tari senang dan memberikan sebuah kecupan di pipi kanan Hardi.


“ Ehm....”


“ Baiklah semuanya, kami pamit pulang duluan ya!” pamit seorang guru wanita yang berusia sekitar 25 tahun.


“ Iya bu Vera.” Ucap Naura, Bu Tiwi dan Bu Sisi bersamaan.


Hari sudah menunjukkan pukul 15.00 satu persatu para guru sudah pulang meninggalkan ruang guru. Yang tersisa hanya tiga guru saja.


“ Kalau begitu ayo kita pulang, kau sudah selesai membuat laporannya kan Ra!” tanya Bu Tiwi kepada Naura.


“ Ah, iya bu tapi tinggal sedikit lagi. Apakah saya boleh satu jam lagi di sini untuk menyelesaikannya?” tanya Naura.


“ Baiklah, silahkan Ra. Nanti akan saya beritahu satpam.” Ucap bu Tiwi.


“ Terima kasih bu.” Ucap Naura.


“ Kami duluan ya Ra!” pamit bu Tiwi dan Sisi.


“ Iya Bu.” Jawab Naura.


Setelah kepergian bu Tiwi dan Sisi, Naura meregangkan tubuhnya untuk melenturkan otot – ototnya. Tanpa membuang waktu, Naura menyiapkan laporan kegiatannya mengajar yang akan di kumpul pada besok hari.


Drrtttt....notifikasi pesan masuk ke handphonenya Naura. melihat nama pengirimnya, Naura dengan segera membuka dan membalasnya.


[ Sudah pulang?]


[ Belum]


[ Lembur?]

__ADS_1


[ Tidak, hanya menyelesaikan laporan yang akan di periksa besok.]


[ Ehm... cepatlah diselesaikan agar kau segera cepat pulang.]


[ Iya, terima kasih kak]


“ Ah dasar! Benar – benar seenaknya saja. Sudah 10 menit tidak di balas. Coba kalau aku yang seperti itu. Langsung di telepon.” Gumam Naura melanjutkan menyelesaikan laporannya.


Tik..tik..tik.....suara jarum jam terus berdenting menemani kesibukan Naura yang sudah tenggelam dalam pekerjaannya.


Tiiikkk.....Naura menekan enter pada keyboard di laptopnya dengan sedikit keras.


“ Ah. Alhamdulillah selesai lebih cepat. Untung saja gak sampai satu jam. Jadi bisa ke kafe lebih cepat.” Gumam Naura sambil merapikan meja kerjanya.


Naura pun bergegas meninggalkan ruang guru menuju lantai satu Ia berjalan ke parkiran.


Saat hendak melajukan motor bebeknya, tangannya langsung mematikan starternya.


“ Ah, aku meninggalkan tempat bekalku di atas.” Gumam Naura turun kembali dari motornya untuk mengambil tempat bekalnya yang tertinggal di ruang guru.


Saat melewati lantai dua, tepatnya di dekat toilet secara samar – samar Naura mendengar suara rintihan tangisan dari dalam toilet siswi perempuan. Langkahnya terhenti dan menajamkan pendengarannya.


“ Suara orang menangis? ah bikin bulu kudukku merinding saja. Tapi masih siang begini masa sih..” ucap Naura merasa penasaran tetapi merinding ingin melihat suara siapa yang berada di toilet.


“ Coba periksa saja lah, bismilahirahim.” Ucap Naura dengan langkah yang perlahan – lahan berjalan mendekati toilet untuk memeriksa asal suara tersebut.


Sesampai di depan toilet, dengan langkah yang sedikit gemetar Naura memasuki toilet secara mengendap – endap.


Dengan perlahan Naura membuka pintu dan betapa terkejutnya ia melihat seorang siswi sudah tergeletak di lantai dengan tubuh yang sudah lemas dengan kesadaran yang masih sedikit tersisa.


“ Astaghfirullahalazim, apa yang terjadi padamu hah.” Ucap Naura terkejut yang secara spontan ia membalikkan tubuh siswi tersebut dan meletakkan kepalanya di pangkuan Naura.


“ Ayla? Apa yang terjadi padamu?” tanya Naura sambil berusaha agar ia masih terjaga.


“ Tolo..ng say..a bu...saki..t” ucap Ayla terbata – bata sambil memegangi perutnya.


“ Bagaimana ini? Ah sudahlah. Ayo ibu papah kamu.” Ucap Naura berusaha membantu Ayla untuk berdiri.


“ Ayo, Ayla kamu pasti bisa. Ayo berdiri kamu harus bertahan agar ibu dengan mudah memapah kamu keluar dari toilet ini.” Seru Naura memegangi tubuh Ayla agar dapat berdiri.


Dengan sekuat tenaga, Naura berusaha memapah Ayla yang sudah setengah sadar. Sambil tertatih – tatih Naura berhasil membawa Ayla keluar dari toilet menuju lobi lantai 2, Naura membaringkan tubuh Ayla di bangku panjang.


Keringat sudah membasahi tubuh Naura, namun itu tidak dirasakannya lagi. Ia berusaha mencari pertolongan menuju parkiran ke pos jaga satpam. Dengan langkah seribu Naura menuruni tangga dengan kecepatan yang maksimal.


Bruuukkkk....tubuh Naura terpental saat berada di anak tangga yang terakhir. Tanpa ia sadarai ia menabrak seseorang yang berada di depannya.


“ Astaghfirullahalazim.. aw ya Allah sakit sekali.


Kalau jalan lihat – lihat dong.” Omel Naura berusaha berdiri dan melihat pemilik wajah yang telah menabraknya.


“ Kau.....” Seru Naura ketika tubuh tersebut mengulurkan tangannya untuk membantu Naura berdiri.


“ Ibu tidak apa – apa? maaf saya tidak melihat anda.” Ucapnya menyesal.

__ADS_1


“ Ah, saya tidak apa – apa! syukurlah kamu masih di sini Vixel.” Ucap Naura dengan nafas yang masih naik turun.


“ Ada apa bu? Kenapa ibu terlihat panik begitu?” tanya Vixel.


“ Saya butuh pertolonganmu, Ayla sedang sakit ia berada di lantai 2.” Ucap Naura sambil mengatur nafasnya. Namun belum sempat Naura menjelaskan lebih detail lagi, Vixel sudah tidak berada di tempatnya. Ia langsung berlari ke lantai 2 meninggalkan Naura begitu saja.


“ Hei, Vixel tunggu saya. Main kabur aja. Huhh.” Ucap Naura kesal dan menyusul Vixel ke lantai 2.


“ Ayla, apa yang terjadi padamu?” tanya Vixel dengan raut wajah yang sangat cemas melihat keadaan Ayla yang sudah sangat pucat. Tanpa berpikir panjang ia pun menggendong tubuh langsing Ayla keluar dari lobi.


Melihat Ayla sudah berada di dalam gendongan Vixel, Naura pun mengekori Vixel dari belakang, Naura memperhatikan wajah Vixel yang terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Ayla.


“ Ayo bu kita ke rumah sakit, tolong ibu pangku Ayla.” Ucap Vixel setelah meletakkan tubuh Ayla di bangku belakang mobil sedan berwarna silver.


“ Ah iya baiklah.” Kata Naura


Dengan kecepatan yang maksimal, Vixel dengan lihai mengendarai mobilnya di jalan raya yang selalu menyalip mobil – mobil lain. Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka pun tiba di rumah sakit yang terdekat.


Dengan sigap, Vixel langsung menggendong Ayla menuju UGD sambil memanggil perawat.


Sementara Naura hanya bisa terbengong melihat situasi yang ada di depannya. Dengan jalan yang gontai ia pun menyusul Vixel ke dalam UGD.


“ Maaf! Mohon di tunggu di sini. Pasien akan menjalani pemeriksaan dengan segera.” Ucap perawat wanita yang menyambut kedatangan Vixel.


“ Iya sus, terima kasih.” ucap Naura.


Mereka pun menunggu Ayla di tangani oleh dokter di lobi UGD.


“ Tenanglah, Ayla pasti baik – baik saja.” Ucap Naura menenangkan Vixel yang sedari tadi mondar – mandir seperti setrikaan.


“ Ah dasar kau, tampangnya aja sok playboy tapi menghadapi teman yang sakit kau sudah begitu khawatir melebihi seorang suami yang sedang menemani istrinya melahirkan.” Cibir Naura.


“ Maaf bu!” ucap Vixel.


“ Duduklah, kita hanya bisa menunggu kabar dari dokter.” Bujuk Naura menenangkan Vixel.


“ Di lihat dari wajahmu yang begitu sangat khawatir terhadap keadaan Ayla, ibu semakin curiga nih.” Ucap Naura asal menebak.


“ Maksud ibu apa?” tanya Vixel


“ Kau menyukai Ayla kan?” tebak Naura yang sontak membuat wajah Vixel merona seperti wanita yang memakai blush on.


Blush,,,,wajah merona Vixel tidak dapat di tutupi olehnya.


Saat mereka sedang mengobrol, dari arah belakang terdengar seseorang memanggil nama Naura dengan jelas.


“ Naura....!” panggil seorang pria dari arah belakang.


Mendengar namanya di panggil oleh seseorang, Naura menoleh ke asal suara. Terlihatlah seorang pria muda dengan tampilan yang casual dengan kaos polos abu – abu yang di padukan dengan celana jeans hitam dan sepatu sneaker putih plus aksesoris jam tangan mewah Alexandor Crispy yang melingkar di pergelangan tangannya berjalan menghampiri Naura dan Vixel.


Melihat sosok yang sudah tidak asing lagi, membuat Naura terkejut bisa bertemu di Rumah Sakit.


“ Kau......” ucap Naura dengan nada terkejut.

__ADS_1


__ADS_2