
Drrrrrttttt drrttttttttt drttttttttt t ..... Naura terjaga ketika handphonenya bergetar. Dengan mata yang masih mengantuk ia asal menekan tombol hijau tanpa melihat panggilan dari siapa.
“ Halo Ra. Assalamualaikum..! kau dimana Ra, kenapa jam segini belum pulang?” tanya Dara dari seberang telepon
“ walaikumsalam, kakak kenapa nanya lagi sih, Naura uda sampai dari tadi lho. Kakak ganggu tidur Naura saja.” Ucap Naura dengan kesadaran yang masih 10 persen.
“ Apaa....kau bilang kau sudah sampai? Cepat katakan pada kakak, kau sekarang dimana? Kakak dari tadi menunggumu di kos tapi kau tidak ada pulang Raa....!” kata Dara khawatir.
Merasa ada yang aneh, dengan seketika Naura terlonjak dari posisi tidurnya dan memasang penglihatan yang tajam dan waspada ia melihat sekeliling yang ada disekitarnya.
“ Astaghfirullahalazim... kenapa aku bisa disini?” Teriak Naura terkejut yang membuat Dara semakin Khawatir.
“ Ra, kau tidak apa – apa? Apa yang terjadi? Jangan bikin kakak takut dong! Sekarang kau dimana?” tanya Dara
Mendengar suara teriakan seorang wanita, pak Bowo langsung terlonjak terjaga dari mimpinya.
“ Ah... neng Naura. Apa yang sudah terjadi” gumam pak Bowo langsung menghampiri mobil Arlan yang sudah terparkir dari tadi di halaman kos.
“ Neng Naura baik – baik saja?” tanya pak Bowo yang langsung membuka pintu mobil.
“ Hah,,, pak Bowo. Kenapa ada di sini? Dan ini...?” Ucap Naura yang masih terlihat linglung. Nyawanya masih belum terkumpul dan terisi penuh.
“ Halo Ra... halo!” teriak Dara dari seberang telepon semakin khawatir.
Mendengar suara dari handphone yang digenggam Naura, sontak membuat Naura membulatkan matanya, ia baru menyadari apa yang telah terjadi.
“ Ahh,, iya kak. Maaf kak! Kakak keluar sekarang!” teriak Naura tanpa sadar langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
“ Ha...” decak Dara. Ish dasar belum selesai bicara asal diputuskan saja. Dengan tergesa – gesa Dara keluar dari kamarnya dan melihat keadaan di depan.
Sesampai di depan kamarnya, ia langsung ke halaman parkiran kosan. Dengan mata yang membulat sempurna, Dara sangat terkejut telah terparkir sebuah mobil sport yang terkesan sangat mewah. Belum reda keterkejutannya, Naura keluar dari mobil dan mengobrol dengan pak Bowo di samping mobil.
“ Woow... ini mobil siapa Ra? Kenapa kau bisa keluar dari sana?” tanya Dara yang langsung menghampiri Naura dan pak Bowo. Dengan berdecak kagum Dara mengelilingi mobil sport tersebut.
“ Ck... ckkk. Cckkk seumur hidup bekerja pun, aku tidak akan bisa beli mobil ini?” ucap Dara ketika mengetahui harga mobil sport ini yang bernilai cukup fantastis setelah membrowser dari mbah Oogel.
Dengan tatapan yang tajam, Dara melihat Naura dari atas kepala hingga kaki.
“ Siapa kau sebenarnya ha...kenapa mobil ini bisa ada di sini bersamamu?” tanya Dara seolah – olah menginterogasi sang terdakwa.
“ Siapa lagi, ini aku Naura kak? Memangnya apa yang kakak pikirkan tentangku?”
__ADS_1
“ Heeehh, kalau kau Naura yang aku kenal. Kau harus menjelaskan ini semua.” Ucap Dara
“ Maaf neng, saya memotong pembicaraan kalian. Sebaiknya kalian masuk saja. Dan ini untuk neng Naura?” kata pak Bowo memotong pembicaraan mereka sambil menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Naura.
“ Untuk saya pak? Ini apa?” tunjuk Naura bingung
“ Ini titipan dari tuan Arlan neng, beliau tidak enak jika sampai membangunkan neng, makanya jam 11 tadi beliau pamit karena neng begitu nyenyak tidurnya.” Jelas pak Bowo
“ Haaahh...” ucap mereka bersamaan
“ Masa sih pak?” tanya Naura tidak percaya
“ Benar lho neng, bahkan tuan Arlan sempat menemani saya minum kopi. Sudah ah, saya mau ke pos jaga dulu neng.” Pamit pak Bowo meninggalkan mereka berdua.
“ Ra, kau berhutang penjelasan tentang situasi ini.” Ucap Dara menelengkan kepalanya menatap Naura yang terlihat begitu tegang.
“ Baiklah kak, nanti akan Naura jelaskan semuanya. tapi ayo kita masuk dulu. Naura mau mandi!” kata Naura yang langsung beranjak menuju kamar kosnya. Tidak ingin melihat mangsanya kabur, Dara mengekori Naura dari belakang.
“ Ish, kakak ini kenapa sampai mengikutiku ke kamar?” ucap Naura geleng – geleng melihat tingkah Dara.
“ Biari. Uekkk... sudah cepat sana mandi.” Usir Dara.
“ Sambil Naura menjelaskan, ini makanan sebagai pendamping kita begadang.” Ucap Naura mempersilahkan Dara menyantap makanan yang ia bawa.
“ Wah, benar – benar lezat makanan ini Ra. Kau benar – benar penuh misteri.” Ucap Dara sambil memakan dengan suapan yang besar.
Naura pun menjelaskan pengalamannya pada saat ia, baru tiba di kota ini. Mulai dari peristiwa di terminal, pertemuannya dengan keluarga Kusuma meskipun Naura juga tidak tahu siapa sebenarnya keluarga Kusuma tersebut. Namun jika ia menceritakan kepada temannya Abel dan yang lainnya. Mereka seakan – akan tidak percaya dan begitu beruntung jika bisa dekat dengan keluarga Kusuma tersebut.
Dengan ekspresi yang selalu berubah – ubah Dara masih setia dan tekun mendengar kisah Naura yang benar – benar penuh kejutan.
“ Benarkah itu Ra? Kau benar – benar beruntung bisa bertemu dengan keluarga Kusuma.” Ucap Dara setelah Naura selesai bercerita. Naura hanya menganggukkan kepalanya saja.
“ Masa sih kak, memangnya siapa sih keluarga Kusuma itu sebenarnya? Naura heran setiap menceritakan kepada teman Naura, ekspresinya juga sama seperti kakak.” Tanya Naura bingung
“ Kau tahu Ra, keluarga Kusuma adalah keluarga yang terpandang di negara ini. Tuan Rahardi Kusuma adalah pengusaha yang sukses memiliki banyak perusahaan, pemilik dari kampus tempat kau kuliah, pemilik sebuah Yayasan sekolah swasta terkenal di kota ini. Belum lagi yang lainnya. Hemmmm....” Jelas Dara menggebu – gebu.
“ Oh....” seru Naura santai
“ Haah, dasar kau Ra. Ekspresi mu gak seru. Kakak sudah begitu semangat menjelaskan ekspresimu hanya oh saja.” Ketus Dara kesal.
“ Terus, ekspresi Naura harus gimana kak? Apa harus menari – nari gitu? Kak! harta, jabatan, dan kekuasaan itu hanya titipan sementara dari Allah, jadi buat apa harus berlebihan begitu.” jelas Naura yang memang notaben nya gadis yang tidak terlalu memikirkan status seseorang.
__ADS_1
“ Ya sudah lah terserah kau saja Ra! Pokoknya kau sangat beruntung bisa mengenal langsung keluarga Kusuma. Kakak jadi iri deh.” Seru Dara
“ Alhamdulillah kak, ini semua berkat pertolongan Allah semata yang telah mengirimkan orang – orang baik untuk Naura dalam menuntut ilmu. Termasuk kakak lah orang kiriman dari Allah itu.” Jelas Naura bersyukur.
“ Ah.. kakak jadi terharu ne.. baiklah jika ini sudah kehendak dari Allah maka kita harus mensyukuri nya. Begitu kan Ra!” kata Dara ingin terlihat bijak di depan Naura.
“ Nah tu pintar.” Balas Naura singkat
“ Ish, kau ini. Kasih pujiannya pelit banget. Ohya ngomong – ngomong kotak yang di titipkan pak Bowo kira – kira isinya apa ya Ra?” tanya Dara kepo sambil melirik kotak yang ada di sebelah Naura
“ Ah iya, kotak. Aduh Naura lupa kak. Ya sudah Naura buka ya!” ucap Naura sambil memukul jidatnya yang cukup lebar.
Dengan hati – hati Naura membuka kotak kecil yang berwarna biru tersebut. Setelah mengetahui isi kotak tersebut sontak Naura dan Dara membulatkan matanya melihat benda mungil yang bersarang indah di dalam kotak.
“ Ge...lang!” ucap Naura dan Dara serentak dan saling pandang.
“ Wah, ini pertama kalinya kakak melihat gelang sebagus ini Ra! Lihat tiap ukirannya sangat mendetail ditambah ukiran bintang yang berada di tengah bulan. Sangat indah dan penuh makna. Ckckck.” Ucap Dara kagum
“ Benar kak, Naura juga baru pertama kali melihat gelang sebagus ini.” Timpal Naura
“ Kau benar – benar beruntung Ra! Tuan Muda Arlan bisa tertarik dengan mu. Wah senangnya, bisa mendapat adik ipar yang kaya. Hahahahahah” ucap Dara sambil mengkhayal.
“ Ish apaan sih kak. Jangan salah paham dulu siapa tahu kak Arlan hanya memberikan titipan dari tante Nissa atau mbak Aran. Karena kalau mereka memberikannya secara langsung pada Naura, pasti akan Naura tolak kak.” Ucap Naura meluruskan agar ia dan Dara tidak salah paham.
“ Dasar kau ya Ra! Terlalu polos. Tidak bisa membedakan mana ucapan rasa suka dan rasa berterima kasih.” kata Dara.
“ Sudahlah kak, Naura tidak mau berpikir terlalu jauh. Naura cukup sadar diri kok. Dunia kak Arlan dan dunia Naura sangat jauh berbeda.” Jelas Naura
“ Ehm... sederhana sekali pemikiranmu Ra!baiklah kakak tidak akan membahasnya lagi. Tapi jika Allah sudah berkehendak itu jodohmu mau bilang apa kau Ra!” Goda Dara
“ Ish apaan sih kak, ehm... jika sudah kehendak Allah ya sudah Naura akan terima dengan senang hati. Hehehehehe.” Ucap Naura tersipu malu
“ Tuh kan, kau langsung membayangkannya. Sudahlah Ra! Kalau kau juga suka dengan tuan Arlan jujur saja.” Ucap Dara
“ Ish malu dong kak. Naura sudah terlalu berharap jauh jika sampai menyukai kak Arlan. Sudah ah, Naura ngantuk mau tidur saja.” Ucap Naura sambil berbaring dan menutupi tubuhnya sampai kepala dengan selimut.
“ Dasar! Malu – malu kucing.” Kata Dara yang juga berbaring di sebelah Naura.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, suasana kamar Naura menjadi hening. Yang terdengar hanya suara hembusan nafas kedua gadis tersebut yang saling sahut – menyahut.
Waktu sudah hampir dini hari, jam alarm Naura yang berada di meja belajar sudah menunjukkan ke angka 03.00. Karena keasyikan mengghibah dan di temani beragam makanan yang enak, Dara pun enggan balik ke kamarnya sendiri. Pada akhirnya ia pun menginap di kamar Naura.
__ADS_1