Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAN 44 Menjadi Asisten Dosen


__ADS_3

Drrrrrrttttt.......Naura langsung tersentak dari tidurnya saat handphonenya terus – menerus berdering. Dengan perasaan yang masih setengah sadar Naura segera mengambil handphone dari dalam tasnya.


“ Hemmmm,, halo”


“ Nauraaaa....kau dimana? Kenapa kau semalam tidak pulang hah....” terdengar suara teriakan dari seberang seperti suara cempreng emak – emak yang memanggil anaknya.


“ Astaghfirallahalazim... kenapa sampai teriak begitu sih kak! Kakak sampai mengusir malaikat baik di tubuh Naura.” ucap Naura santai.


“ Kau.... sadar lah dahulu sebelum bicara. Wajar saja lah kakak berteriak seperti ini, setelah kakak mengetahui dari pak Bowo bahwa kau semalam tidak pulang ke kos. Kau sudah termasuk tanggung jawab kakak tahu.” Omel Dara seperti mengomeli anaknya yang ketahuan menumpahkan minyak goreng.


“ Maksud kakak apa sih, tapi tunggu dulu......”


Senyap beberapa detik.. Naura masih mencerna apa yang sedang terjadi.


“ Ya Allah kak, kakak benar Naura tidak pulang. Dan ini Naura ketiduran di kamar.....” belum siap Naura melanjutkan katanya, sudah di potong langsung oleh Dara.


“ Apa....kau tidur di kamar siapa hah?” potong Dara


“ Tenang dulu kak! Jangan teriak – teriak begitu, Naura belum siap ngomong sudah kakak potong saja.” Omel Naura.


“ Huft,,, ok baiklah sekarang kakak sudah tenang. Jelaskan agar kakak bisa tenang.” Ucap Dara sambil menarik nafas pelan.


Setelah Dara tenang, Naura pun menjelaskan semua peristiwa yang telah terjadi padanya yang menyebabkannya harus menginap di rumah sakit dan tidak pulang ke kosnya. Meskipun Dara belum bisa tenang sepenuhnya setidaknya Dara tahu alasan Naura tidak pulang. Dan Naura berjanji setelah di kos ia akan menceritakan kembali dengan lebih detail lagi.


“ Permisi Nona! Ini titipan dari Tuan Rangga.” Ucap sang supir yang mengantarkan Naura ke rumah sakit. Sambil meletakkan paperbag dan sekotak bekal makanan di atas meja.


“ Apa ini pak? Ah iya, Pak Rangga. Apakah beliau sudah siuman. Maafkan saya pak? Saya telah lalai menjaga pak Rangga. Saya tidak sengaja ketiduran sampai pagi.” Sesal Naura langsung beranjak menuju tempat tidur Rangga.


“ Lho? Pak Rangganya kemana pak? Kenapa beliau tidak ada?” tanya Naura merasa heran.


“ Beliau sudah diizinkan pulang Nona, jadi Tuan sekarang sudah berada di rumahnya.” Jelas sang supir yang bernama Leon.


“ Kenapa saya tidak dibangunkan saja pak. Ah bagaimana ini, beliau pasti kecewa dengan sikap saya.” Ucap Naura sedih.


“ Nona jangan khawatir, Tuan memang sengaja tidak membangunkan nona karena nona pasti sangat lelah telah menolong Tuan. Dan ini sabagai ucapan terima kasih beliau. Dan satu lagi pesannya, jika nona tidak ingin nilai semester ini terancam maka nona jangan sampai terlambat.” Kata Leon menjelaskan.


Sejak dini hari setelah kedatangan Arya, Rangga sudah meninggalkan kamarnya. Melihat Naura tertidur begitu pulasnya ia pun tidak sampai hati untuk mmbangunkannya. Selama Naura terlelap, Leon di tugaskan menjaga Naura di luar kamar tentunya tanpa sepengetahuan Naura.

__ADS_1


“ Ah ya, saya hampir lupa pagi ini ada jadwal di kelasnya pak Rangga. Aduh bagaimana ini.....” ucap Naura mondar – mandir bingung harus berbuat apa.


Melihat Naura begitu gelisah, Leon segera membantu Naura.


“ Nona boleh kok memakai toilet kamar ini. Dan ini pakaian ganti anda Nona.” Ucap Leon sambil menunjuk paperbag yang ia bawa ganti.


“ Benarkah Pak! Alhamdulillah.. kalau begitu saya numpang toiletnya ya pak!” pamit Naura langsung menuju toilet dan tak lupa ia membawa paperbag pakaian gantinya.


Tanpa membuang waktu, Naura bergegas bersiap – siap untuk berangkat kuliah. Ia tidak mau nilainya akan terancam jika sampai terlambat.


Setelah 15 menit membersihkan diri, Naura terlihat sangat cantik dan menawan dengan pakaian yang ia kenakan. Pakaian gamis berwarna coklat milo yang memiliki renda di bagian kerah dan rok yang mengembang sangat pas ukurannya dengan tubuhnya dengan kombinasi hijab berwarna putih.


“ Wah, bajunya cantik banget dan sangat cocok dengan badanku.” Gumam Naura merasa heran bagaimana pak Rangga bisa tahu ukuran bajunya.


“ Ah sudahlah,, yang terpenting untuk hari ini bisa selamat sampai kampus tepat waktu.” Gumam Naura.


“ Mari nona, saya antar anda ke kampus.” Tawar Leon.


“ Tidak perlu repot pak, saya bisa naik bus.” Tolak Naura.


“ Ini salah satu perintah Tuan, agar nona bisa selamat sampai kampus.” Ucap Leon.


“ Baiklah pak! Demi nilai saya.” Ucap Naura pasrah


Mereka pun, segera meninggalkan kamar VVIP Green Rumah Sakit swasta yang terkenal di kota ini.


“ Terima kasih pak? Sudah merepotkan bapak!” ucap Naura sambil membungkukkan sedikt tubuhnya.


“ Tidak perlu sungkan Nona, ini sudah menjadi tugas saya.” Balas Leon sambil melajukan mobilnya ke jalan raya.


“ Ah Alhamdulillah, akhirnya malam yang menegangkan terlewati dengan aman dan terkendali. Dan yang paling penting aku tidak terlambat. Masih ada waktu untuk sarapan.” Ucap Naura melihat jam tangan yang ada di lengannya.


Dengan langkah yang lebar, Naura menuju taman yang berada di gedung Fakultas Seni.


“ Naura! apa kabar?” sapa Andreal yang tidak sengaja melihat Naura berjalan ke arah taman.


“ Oh Al. Alhamdulillah sehat! Kau sendiri bagaimana kabarmu?” tanya Naura

__ADS_1


“ Ya seperti yang kau lihat. Ngomong – ngomong kau ngapai berjalan menuju taman Fakultas Seni?” tanya Andreal menelisik wajah Naura dengan tajam.


“ Jangan melihatku seperti itu? Aku hanya ingin menyiapkan materi dari dosen yang kelasnya ada di fakultas seni. Jadi jangan berpikiran yang macam – macam.” Jelas Naura secara tegas karena ia tahu apa yang ada dipikiran Andreal.


“ Oh... aku pikir karena ada sesuatu. Jadi sekarang kau telah menjadi asisten dosen?” tutur Andreal.


“ Iya, ini karena aku dapat hukuman menjadi asisten pak Rangga selama dua hari.” Terang Naura.


“ Apa? Pak Rangga? Kau menjadi asisten beliau?” tanya Andreal tidak percaya.


“ Iya, kenapa kau begitu terkejut?” tanya Naura balik.


“ Ehm... ini menarik Ra. Setelah kepergian kak Arlan kau sudah dapat gantinya.” Kata Andreal asal ceplos.


“ Apa maksudmu Al? Kau berpikir aku ini perempuan apa. Hah..” teriak Naura sedikit tersinggung.


“ Tenang dulu Ra! Bukan seperti yang kau pikirkan, aku hanya masih tidak percaya, kau dengan mudahnya bisa menjadi asisten pak Rangga yang terkenal dengan julukan Dosen berdarah dingin.” Jelas Andreal.


“ Ah sudahlah Al, terserah kau mau berpikiran apa tentang ku, sekarang aku harus ke kelas agar nilaiku tidak terancam. Bisa – bisa aku telat jika meladenimu mengghibah.” Ucap Naura kesal sambil pergi meninggalkan Andreal menuju gedung fakultas seni.


“ Eh.. dia ngambek..ah kau – benar istimewa Naura setelah kau berhasil menaklukkan Kak Arlan sebagai manusia es balok itu sekarang kau berhasil menghangatkan dosen berdarah dingin tersebut. Ckckckc ini bisa bakalan seru melihat mereka berdua memperebutkan perhatian Naura. manusia es balok vs dosen berdarah dingin. Hahahaahha..” ucap Andreal sambil tertawa seru meninggalkan fakultas seni.


Naura terus melangkahkan kakinya menuju ruangan dosen untuk mengambil buku dan peralatan proyektor dan laptop serta modul yang berisi materi perkuliahan pak Rangga di kelas Tingkat enam.


Tok...tok..tok...Naura mengetuk pintu ruang dosen dengan tubuh yang sedikit gemetar.


“ Permisi! Selamat pagi pak/ bu.” Ucap Naura ketika masih berada di ambang pintu, ia melihat hanya ada beberapa dosen di dalam ruangan tersebut.


“ Pagi! Mencari siapa ya nak?” tanya dosen wanita paruh baya yang memakai blazer abu tua dengan ramah.


“ Saya adalah asisten nya pak Rangga. Saya ingin mengambil bahan ajar perkuliahan beliau di kelas tingkat enam.” Jawab Naura.


“ Oh.. sebelah sana meja pak Rangga. Kau mahasiswa baru?” tanyanya lagi.


“ Benar bu! Saya Naura mahasiswa tingkat satu jurusan keguruan.”


“ Ehm,,hebat ya baru masuk saja sudah menjadi asisten dosen apalagi asistennya pak Rangga!” ucap salah satu dosen yang masih terlihat muda begitu sinis memandang Naura.

__ADS_1


“ Maaf bu, ini karena saya mendapat hukuman dari beliau karena waktu kelasnya berlangsung saya telah melanggar peraturan dari beliau.” Terang Naura ia tahu apa maksud dari ucapannya.


Sementara dosen wanita muda tersebut menatap Naura semakin tajam dan sinis. Ada rasa ketidaksukaannya pada Naura yang telah dianggap merebut posisinya.


__ADS_2