Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 72 Menjadi Staf Pengganti


__ADS_3

“ Sedang apa kau di sini Ra?” tanya pria tersebut setelah mendekati mereka.


“ Al? Kau juga lagi apa di sini?” tanya Naura balik.


“ Ah, aku baru saja menemui ayahku di sini.” Jawab Andreal.


“ Hah, sakit apa Al?” tanya Naura.


“ Ah beliau tidak sakit tapi ia bekerja di sini.” Jawab Andreal yang menelisik sosok pria muda yang masih berseragam SMA sedang bersama Naura.


“ Oh,,, aku sedang mengantarkan siswa ku yang sedang sakit.” Ucap Naura.


“ Ah, baiklah. Aku pikir kau yang sakit. Sayang sekali aku buru – buru kalau tidak aku ingin mengobrol denganmu.


Ok Ra! Sampai jumpa di acara kak Arlan ya” Pamit Andreal.


“ Hahhh, acara kak Arlan?” tanya Naura tidak mengerti.


“ Ah dasar payah. Ternyata dia juga belum memberitahumu ya? Maaf aku keceplosan.” Kata Andreal.


“ Maksudmu apa Al?” tanya Andreal


“ Biar kak Arlan sendiri yang akan memberitahumu.


Ok!” seru Andreal meninggalkan Naura di lobi UGD.


“ Baiklah, hati – hati Al!” ucap Naura.


“ Permisi! Mana keluarga pasien?” tanya seorang perawat yang baru saja keluar dari bilik pemeriksaan yang ada di UGD.


“ Saya sus!” ucap Naura dan Vixel bersamaan sambil menghampiri suster yang masih berdiri di depan bilik.


“ Pasien sudah melewati masa kritisnya, untungnya belum terlambat jadi sakitnya tidak terlalu parah.” Jelas sang suster.


“ Ah syukurlah.”


“ Alhamdulillah ya Allah.” Ucap mereka serentak


“ Baiklah untuk masalah administrasinya silahkan di selesaikan agar pasien dapat di pindahkan ke ruang rawat.” Ucap suster.


“ Iya sus.” Kata Vixel.


“ Bu, saya ke depan sebentar. Tolong jaga Ayla dulu ya.” Ucap Vixel.

__ADS_1


“ Baiklah, kalau kau butuh bantuan bilang saja sama ibu.” Tawar Naura.


Vixel pun mengikuti suster menuju bagian administrasi. Agar Ayla dapat di tindaklanjuti dan mendapatkan perawatan yang baik.


“ Ah, syukurlah kau tidak apa – apa.” gumam Naura setelah melihat Ayla yang terbaring lemah di brankar UGD.


Perlahan mata Ayla terbuka pandangannya langsung menangkap sosok yang ia kenal.


“ Bu Naura? kenapa ada di sini?” tanya Ayla dengan suara yang lemah.


“ Bagaimana perasaanmu? Mana yang sakit.” Tanya Naura.


“ Aku tidak apa – apa bu, hanya mengantuk saja.” Elak Ayla.


“ Ah dasar kau ya! Sudah jelas – jelas kesakitan masih saja berbohong.” Oceh Naura.


“ Maaf bu! Sudah merepotkan. Dan terima kasih.” ucap Ayla.


“ sudahlah, semuanya akan baik – baik saja. Sekarang kau harus fokus pada kesehatanmu.” Nasehat Naura.


“ saya sudah tidak apa – apa bu! Jadi kita pulang saja. Aku khawatir dengan ibu.” Kata Ayla.


“ Baiklah, Vixel yang akan mengurusnya nanti.” Ucap Naura.


“ Iya Vixel, apa kau pikir ibu sendirian yang membawa mu kemari? Ibu tidak sengaja menemukanmu tergeletak di lantai toilet dengan merintih kesakitan. Dan kebetulan ibu bertemu dengan Vixel tanpa berpikir panjang Vixel menggendongmu dan membawamu ke rumah sakit.” Jelas Naura panjang lebar.


“ Benarkah bu!” ucap Ayla tidak percaya akan penuturan Naura.


“ Ehm... begitulah. Dan kau tahu wajah Vixel sepanjang perjalanan terlihat sangat mengkhawtirkan keadaanmu.” Ucap Naura bersemangat.


“ Ah. Masa sih bu?” tanya Ayla tidak percaya dengan tingkah Vixel yang selama ini tidak pernah melihat Ayla.


“ Sayang sekali, keadaannya darurat jadi saya tidak bisa untuk merekamnya agar kau percaya.” Ucap Naura.


“ Begitu ya.”


“ Dari sikapnya yang sangat khawatir kepadamu, saya dapat menyimpulkan kalau Vixel itu menyukaimu.” Terang Naura.


“ tidak mungkin bu, secara selama ini jangankan untuk berbicara melihatku saja ia enggan, apalagi aku ini hanya lah wanita dari keluarga miskin dan tidak cantik.” Ucap Ayla.


“ Ah payah kamu, kalau sudah jodoh tu tidak akan memandang status, jelek pun kamu kalau di matanya cantik mau bilang apa? mungkin ia melihat dari sifat kamu yang membuatnya merasa nyaman.” Jelas Naura.


“ Sudah lah bu jangan dibahas lagi. Nanti saya akan mengucapkan terima ksih padanya karena sudah menolong saya.” Kata Ayla.

__ADS_1


“ Ah iya baiklah, maaf seharusnya kamu masih butuh waktu untuk istirahat. Kalau begitu saya permisi.” Ucap Naura.


Drrrtt....drttt....drrttt.............. handphone Ayla yang berada di dalam tas terus berdering membuat Naura mengurungkan niatnya untuk keluar ruangan. Ia pun mengambil tas Ayla yang berada jauh dari ranjang.


“ Terima kasih bu.” Ucap Ayla.


“ Hai Ayla, kau jadikan malam ini? Aku sudah mendaftarkanmu sebagai staf tambahan jadi jangan kau sia – sia kan ya kesempatan ini. Upahnya cukup besar lho.” Ucap seorang wanita dari seberang.


“ Iya, aku akan datang. Terima kasih.” tutur Ayla.


“ Kau mau kemana dengan kondisi seperti itu hah, apa kau akan merepotkan orang lain di luaran sana?” seru Naura ketus.


“ Ibu jangan khawatir saya baik – baik saja. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas bantuan ibu. Sekarang ibu bisa pulang.” Ucap Ayla.


“ Ah sekarang kau sudah berani ya! Kau membuatku menjadi seorang guru yang tidak bertanggung jawab pada siswanya ya. Kau kejam sekali!” seru Naura.


“ Sekarang berikan alamatnya, saya akan menggantikan mu.” Ucap Naura tegas.


“ Tapi bu...”


“ Sudahlah, anggap saja ini adalah tanggungjawab seorang guru kepada siswanya. Kalau hanya untuk malam ini saja saya tidak keberatan.” Kekeh Naura.


“ Sebagai gantinya kau harus benar – benar menjaga kesehatanmu agar lusa kau dapat ke sekolah lagi. Dan awas kalau kau membolos.” Ancam Naura.


“ Baik bu. Sekali lagi maafkan saya bu karena sudah merepotkan ibu.” Kata Ayla benar – benar merasa tidak enak hati. Karena baru pertama kalinya i merepotkan seseorang secara selama ini ia hanya mengandalkan dirinya sendiri karena tidak ada yang pernah memandangnya.


“ Baiklah, saya permisi dulu. Titip salam sama Vixel. Assalamualaikum.” Pamit Naura.


“ Walaikumsalam.”


Setelah memaksa Ayla untuk bersedia digantikan dan mendapatkan alamat tempat ia bekerja paruh waktu, Naura bergegas menuju alamat yang ia pegang.


“ Ah, terpaksa pakai bus umum deh. Motorku masih tertinggal di sekolah.” Gumam Naura saat berada di parkiran rumah sakit. Sembari berjalan ke halte bus, Naura melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


“ Ah masih jam 17.30 masih sempat shalat di sana.” Ucap Naura.


“ Memangnya kerja apa sih, kok hanya dibutuhkan satu malam saja. Mudah – mudahan pekerjaan yang kau terima tidak melanggar aturan.” Gumam Naura menebak – nebak pekerjaan yang bagaimana yang akan ia gantikan.


Sambil berpikir Naura terus melanjutkan perjalanannya dengan bus menuju tempat ia akan bekerja.


Sesampai di alamat tujuan Naura mematung di depan sebuah gedung yang sangat megah dan menjulang tinggi. Sambil mengatur nafas ia pun menarik nafasnya dalam – dalam sebelum memasuki gedung tersebut.


“ Masya Allah, megah sekali hotelnya. Hotel The King’z, baru kali ini melihat langsung hotel semewah ini. Ayo Naura kau pasti bisa." seru Naura menyemangati dirinya.

__ADS_1


"Bismillahirahmanirahim.” Ucap Naura sebelum melangkahkan kakinya memasuki hotel.


__ADS_2