
Dengan hembusan nafas yang lembut Arlan meniup belakang telinga Naura yang membuat Naura bergidik merinding.
" Mas hentikan! geli tahu.." Rengek Naura dengan suaranya yang terdengar menggoda di telinga Arlan.
" Ehmm...kau suka kan! aku juga suka dengan suaramu itu." bisik Arlan.
" Mas...!" lonjak Naura menjaga jarak dari Arlan.
" Hahahaahahahahaa,," melihat kepanikan Naura membuat Arlan tidak dapat menahan tawanya.
" Kenapa kau lari? ayo kita makan." ucap Arlan mengusap air mata di pelupuk matanya akibat tertawa lepas.
" Maaass..!" teriak Naura kesal sudah berhasil menjadi korban kejahilan suaminya..
" Hahahaahaaaaaa.....Apa yang kau pikirkan hah..!" ucap Arlan berjalan mendekati Naura dan ctakkkk sebuah sentilan mengenai dahi Naura.
" Auww....sakit tahu mas!" Cebik Naura dengan bibir yang di manyunkan dan mengusap - usap dahinya yang terasa panas.
cuup..sebuah kecupan kilat telah mendarat di bibir Naura yang masih manyun.
" Ishh...kenapa selalu menyerang tiba - tiba sih!" cetus Naura..
" Salah siapa tuh bibir di manyunkan gitu. Kan gak salah dong kalau suami mu ini tergoda. Tapi hanya di depan ku saja, awas kalau di depan umum apalagi pria." Ancam Arlan mengingatkan.
" Iya ya....Ayo makan tadi katanya ngajak makan." ucap Naura menuju meja makan yang di susul oleh Arlan.
Dengan wajah yang cemberut, Naura menyantap hidangan makan siang mereka. Melihat hal itu membuat Arlan senyum - senyum sambil menyantap makan siangnya.
" Sudah makan saja, nanti tersedak lho.." ucap Naura.
" Puuftt..."
Arlan pun dengan serius menghabiskan makanannya.
" Kau mau berkeliling pantai?" Ajak Arlan setelah selesai menyantap makanan mereka.
" Iya mau mas!" jawab Naura semangat.
Setelah Isoma, mereka berjalan - jalan keluar kamar mengitari pantai di sekitar penginapan. Arlan yang menggenggam erat tangan Naura berjalan berdampingan di pinggir laut. Pasir putih yang membentang luas, angin laut yang berhembus cukup kencang yang menerpa hijab serta gaun Naura yang cukup panjang.
Menikmati udara pantai yang panas tetapi lembab membuat mereka sudah berjalan cukup jauh dari penginapan.
" Mas! capek. Kita duduk dulu yuk! " rengek Naura dengan nada yang sengaja di lembutkan.
" Ehm...."
Mereka pun duduk di pasir putih dan meluruskan kaki ke depan agar tersapu oleh air laut. Naura benar - benar menikmati perjalanan bulan madu mereka.
__ADS_1
Drtt..drttt...drtttt....suara handphone Naura terus berdering menandakan sebuah panggilan video call
" Assalamualaikum bun." sapa Naura setelah menerima panggilan video call
" Walaikumsalam! Kalian sudah sampai kan Ra?" tanya bunda Nissa dari seberang.
" Alhamdulillah, sudah sampai dengan selamat bun! ini Naura dan Mas Arlan sedang keluar jalan - jalan menyusuri pantai..
nih lihat deh bun, sangat indah bukan pantainya? Mbak Aran benar - benar tahu tempat yang sangat menakjubkan untuk berbulan madu." ucap Naura mengitari handphonenya untuk memamerkan keindahan pantai tempat mereka duduk.
" Syukurlah kalian telah sampai dengan selamat. Tentu saja, mbak mu kan berkecimpung di dunia fashion dia juga berkecimpung di dunia travel, jadi dia sangat berpengalaman mengenai hal seperti itu. Bersenang - senang lah kalian. Semoga bunda mendapat cucu dari kalian ya." Harap bunda Nissa.
" Hehehehe...iya bun. Insya Allah Allah segera menitipkan momongan kepada kami." ucap Naura dengan melirik ke arah Arlan yang di balas dengan anggukan dan senyuman yang menggoda.
" Aminn...!" ucap bunda Nissa dan Aran bersamaan.
" Eh, mbak Nissa ada di situ juga bun?" tanya Naura
" Iya.. bunda kangen dengan si cantik Vienna. Makanya bunda paksa ia kemari." jelas bunda.
" Ohhh... Terima kasih banyak ya mbak atas kadonya...benar - benar kado yang sangat hebat." teriak Naura senang.
" Jangan teriak - teriak gitu juga kali. Macam anak kecil saja." tegur Arlan terasa sakit telinganya akibat suara Naura yang nyaring.
" Biari..ueek.. anak kecil gini pun uda bisa buat anak kecil juga tahu.." ejek Naura balik.
" Ish...sok nantang nanti di tantang balik malah kabur melarikan diri .."
" Eheemmm..." terdengar suara deheman yang kuat dari seberang telepon menandakan bahwa video callnya masih tersambung.
"Eh...Maaf bunda!" cengir Naura merasa malu karena terciduk akan tingkahnya yang seperti anak kecil. Sementara Arlan hanya mengedikkan kedua bahunya ke atas
" Ya sudah, kalian lanjutkan saja debatnya di ranjang. Bunda akan tunggu hasilnya..ok!" ujar bunda Nissa.
blush. .. wajah Naura langsung merona ia pun menundukkan kepalanya ke bawah untuk menutupinya.
Grebb...Arlan mengambil alih handphone dari tangan Naura.
" Baiklah bun..tunggu saja hasilnya sambil berdoa semoga apa yang kita inginkan segera terwujud." sambung Arlan.
" Baiklah.. kalau begitu semoga berhasil. Assalamualaikum." balas bunda Nissa menutul panggilan video call.
" Walaikumsalam..." balas Arlan dan Naura bersamaan.
Suasana menjadi hening, pikiran Naura telah ikut traveling juga. Ia begitu berdebar jika mengingat kamar penginapan mereka yang telah di dekor layaknya kamar pengantin baru.
Hanya terdengar suara deburan ombak yang saling kejar - kejaran yang di dorong oleh angin laut menuju daratan.
__ADS_1
" Apa yang kau pikirkan?" tanya Arlan di tengah - tengah suara deburan ombak yang sampai menyentuh kaki mereka.
" Ah...tidak apa - apa mas!" jawab Naura terbata.
" Ayo kita kembali ke kamar. Hari ini cukup berkelilingnya, besok akan ku ajak kau snorkeling dan diving untuk melihat keindahan terumbu karang bawah laut."
" Benarkah mas"
" Ehm..."
" Yeahhhh....asyik" Ucap Naura kegirangan sambil meloncat - loncat kecil.
" Perhatikan langkahmu!" ujar Arlan memberi peringatan.
" Mas tenang saja, Naura bisa kok menjaga keseimbangan tubuh." Ucap Naura dengan mengerlingkan sebelah matanya.
" Ehm, terserah kau saja." kesal Arlan melajukan langkahnya.
" Eh...tunggui Mas!" teriak Naura yang mengejar langkah Arlan agar dapat berjalan beriringan.
Greb, setelah berhasil mengejar Arlan, Naura langsung memeluk lengan Arlan dan bergelayut manja.
Melihat tingkah Naura yang manja dan merasa tidak malu - malu lagi membuat Arlan tersenyum senang sambil mengelus - elus kepala Naura dan tak lupa meninggalkan sebuah kecupan di ubun - ubun Naura.
Naura semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Arlan. Dengan di iringi canda tawa merekapun berjalan kembali menuju ke penginapan.
Hari mulai beranjak sore, udara pantai sudah terasa sejuk dengan di iringi angin yang bertiup sepoy - sepoy. Setelah selesai melaksanakan shalat Ashar, Arlan dan Naura menikmati waktu sore mereka di balkon kamar dengan di temani teh hangat dan makanan ringan.
" Kenapa mbak Aran memilih tempat ini mas?" tanya Naura dengan mulut yang penuh..
" Itu sesuai dengan karakter mu, yang sangat mencintai produk lokal."
" Hehehe,,benar sekali, heran aja melihat orang - orang sekarang yang berlomba - lomba memamerkan foto - foto mereka di media sosial dengan bangga telah berfoto di tempat wisata luar negeri. Sementara mereka belum tahu keindahan tempat wisata yang ada di dalam negeri ini tak kalah dengan di luaran sana. contohnya tempat ini kan." jelas Naura panjang lebar.
" Apa kau tidak tertarik untuk ke luar negeri?" tanya Arlan.
" Ehmmm,tertarik sih tertarik tapi sebelum itu Naura ingin menjelajahi yang ada di dalam negeri dulu. Setelah puas baru deh pergi ke luar."
" Dasar norak!"
" Biari, norak - norak begini bisa menjadi isteri sultan kan, isteri dari seorang CEO Arial Black Group yang menjadi perusahaan nomor satu baik di dalam maupun luar negeri." Ucap Naura dengan bangga.
" Ish dasar narsis, percaya diri sekali sih!"
" Tapi mas suka kan..hehehhehhe.. Naura gitu lho seorang model saja bisa ......"
Cuuupp,Arlan langsung membungkam bibir Naura agar tidak banyak bicara seperti burung beo. Meskipun selalu mendapat serangan yang tiba - tiba Naura dapat membalasnya.
__ADS_1
Mendapat umpan balik dari Naura, Arlan pun tidak menyia - nyiakan kesempatan untuk menyerang lebih. Arlan semakin dalam menyesap dan mencium bibir Naura yang sudah menjadi candu baginya.
Dengan perlahan, Arlan menggendong tubuh Naura ala bride style yang langsung membawanya masuk ke dalam kamar tanpa menghentikan aksinya yang kian semakin memanas.