Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 48 Rangga Yudistira


__ADS_3

Sesampainya Naura di kos tersayangnya terutama ranjang favoritnya. Naura langsung melakukan Video Call sambil rebahan kepada Naya setelah Naura membersihkan tubuhnya.


Tut tut tut.....tidak menunggu lama panggilan pun di angkat oleh Naya yang memang sebelumnya mereka sudah janjian sepulang Naura kerja akan melakukan panggilan Video Call untuk mengobati rasa rindu mereka.


“ Assalamualaikum Nay! Emak, bapak dan Nanda mana?” ucap Naura


“ Walaikumsalam kak! Emak ini ada di samping Naya, bapak tadi setelah pulang dari menghadiri hajatan tetangga langsung tidur. Dan Nanda main dengan temannya.” Kata Naya


“ Emak apa kabar? Maaf ya mak Naura baru bisa menelepon setelah dua hari tidak menelepon. Karena sebentar lagi akan libur semester, banyak sekali tugas – tugas dari dosen – dosen mak, belum lagi menghadapi ujian semester. Jadi Naura masih fokus untuk belajar.” Ungkap Naura merasa bersalah kepada emaknya.


“ Tidak apa – apa kok Ra! Yang penting kau di sana sehat – sehat saja, jangan pernah telat makan dan meninggalkan shalat.” Ucap Emak selalu mengingatkan Naura dalam dua hal tersebut.


“ Iya Mak, Insya Allah Naura tidak pernah lupa nasehat – nasehat dari emak dan bapak.” Kata Naura.


“ Kau sudah makan Ra?” tanya emak.


“ Sudah mak, dan ini hari Naura sudah gajian dari kafe. Jadi emak tidak usah mengirimi Naura uang ya. Gaji ini cukup kok untuk sebulan mak.” Ucap Naura


“ Lalu bagaimana dengan biaya kuliahmu, kalau kau mengerjakan tugas dan untuk membeli buku?” tanya Emak khawatir.


“ Emak jangan khawatir, ini udah semua kok, kalau buku mudah – mudahan Naura tidak perlu membeli, kan bisa pinjam dari perpustakaan.” Ucap Naura ‘bagaimana mau beli mak! Orang dari awal Naura sudah dibelikan buku dengan harga yang tinggi, Naura saja sangat terkejut apalagi ema dan Naya tahu, bisa – bisa buku – buku itu emak gadaikan, hihihi.’ Ucap Naura dalam hati.


“ Benar tu Ra! Uang mu cukup. Karena semenjak kau kuliah kau tidak pernah meminta uang lagi dengan emak.” Kata Emak


“ Iya mak, uangnya di tabung aja mak, untuk biaya kuliah Naya nanti. Nanti Naura juga akan membantu Naya mencari pekerjaan paruh waktu di sini.” Imbuh Naura.

__ADS_1


“ Hemmm baiklah Ra! Kau baik – baik di sana ya! Jangan macem – macem ingat emak dan bapak di kampung.” Ucap Emak mengingatkan.


“ Iya Mak! Naura akan selalu ingat nasehat – nasehat emak dan bapak serta doa emak dan bapak selalu Naura harapkan.” Pinta Naura.


“ Insya Allah Naura setiap sujud emak dan bapak selalu kami selipkan doa – doa buat kamu dan adik – adikmu!” ucap emak.


“ Ah emak! Naura jadi kangen. Sebentar lagi akan libur semester Insya Allah Naura pulang ya.” Rengek Naura.


“ Iya pulang lah, nanti akan emak masakkan yang enak – enak.” Kata emak.


“ Ish udah deh, jangan cengeng gitu. Katanya mau menjadi seorang guru yang hebat.” Sindir Naya yang sudah mengambil alih handphonenya.


“ Iya ya....kan wajar dong kalau kakak sedih, hampir setengah tahun kali kakak hidup diperantauan tanpa orangtua. Awas kau ya Nay, kau akan berada di posisi kakak. Huuuuu.” Dengus Naura kesal.


“ Yeaaah gitu aja ngambek, entar gak dimasakkan emak lho.” Ledek Naya.


“ Ya sudah Ra! Ini sudah larut kau tidur lah. Emak juga sudah ngantuk. Kau baik – baik di sana ya! Assalamualaikum.” Ucap emak menyudahi obrolan di telepon.


“ Iya Mak! Walaikumsalam.” Balas Naura.


Setelah hampir 30 menit menelepon emak, Naura melihat jam yang ada di layar handphonenya. Angka di wallpaper handphone sudah menunjukkan angka 21.50. kalau untuk di kampung angka tersebut sudah memasuki tengah malam menjelang pagi. Sementara bagi di kota sudah tidak mengenal waktu angka berapa pun yang muncul.


Naura membuka – buka kembali handphonenya dan membuka sebuah pesan dari Dasar Jaelangkung.


“ Ehm... di sini sudah jam 10 malam kira – kira di sana jam berapa ya?” ucap Naura sambil menghitung mundur waktu di negara Swiss memakai jari tangannya.

__ADS_1


“ Sudah jam 5 sore juga di sana ya. Ah sudah lah mungkin dia masih sibuk. Meskipun setelah beberapa bulan tidak ada kabar, baru hari ini mengirimi pesan. Benar – benar Jaelangkung. Meskipun jauh di sana tetap mengetahui bagaimana keadaanku.” Gumam Naura sambil memeluk erat gulingnya dan pelan – pelan menutup matanya untuk beristirahat.


“ Ternyata CEO dari perusahaan terkemuka R.Y Group memiliki waktu yang senggang, sehingga kesempatan ini akhirnya tiba juga untuk menjalin kerjasama secara langsung.” Ucap Arlan basa – basi kepada rekan bisnisnya seakan – akan mereka mempunyai hubungan di luar pekerjaan mereka.


“ Ya kau benar, beberapa bulan terakhir aku memiliki waktu senggang yang cukup.” Ucap pria yang berasal dari R. Y Group.


“ Apa kabar kak Rangga!” tanya Arlan kepada pria yang di panggil Rangga yang merupakan kakak angkatnya.


Ya Rangga merupakan anak yang sempat di asuh oleh neneknya ketika Rangga berusia 10 tahun ketika kedua orangtuanya telah meninggalkan dirinya sendirian di dunia ini. Dalam pengasuhan neneknya, Arlan yang masih berusia 3 tahun mendapat teman bermain yang selalu berada di sisinya. Menginjak usia 15 tahun Rangga di kirim oleh nenek Arlan melanjutkan Studinya ke Luar Negeri. Dan menduduki bangku kuliahan Rangga mulai merintis perusahaan ayahnya yang di wasiatkan kepada nenek Arlan untuk diberikan kepada Rangga jika usianya sudah menginjak 20 tahun. Dengan belajar dan bekerja keras Rangga berhasil menjadi pengusaha muda dan profesor muda yang berprestasi. Sehingga menjadikan perusahaan milik ayahnya menempati posisi perusahaan tiga besar di negara Eropa yang melahirkan banyak anak cabang perusahaan di berbagai negara.


Ayah Rangga yang bernama Kendra Yudistira merupakan orang yang bekerja pada keluarga Kusuma dari ia berusia 20 tahun hingga ia mempunyai anak yang bernama Rangga Yudistira. Namun malang, di usia Rangga berusia 10 tahun Kendra dan istrinya mengalami kecelakaan mobil yang menyebabkan mereka meninggal dunia saat perjalanan ke rumah sakit, sementara Rangga masih menemani Arlan bermain di rumah nenek Arlan. Sehingga ia selamat dari peristiwa kecelakaan tersebut.


“ Ah, aku juga menunggu kesempatan ini sejak tiga tahun yang lalu. Dan sekarang kau berhasil membuktikannya.” Ucap Rangga.


“ Apakah ada seseorang lagi yang kau percayai sehingga kau memiliki waktu luang yang cukup kak?” tanya Arlan mecmicingkan matanya menatap pria yang ada di depannya yang memiliki wajah tampan 11 12 dengannya.


“ Ya begitu lah, entah kenapa aku mempercayainya begitu saja sehingga ia ku jadikan asisten dosen ku.” Ucap Rangga menerawang ke depan membayangkan wajah Naura yang bgitu polos dan menggemaskan.


“ Ah, apa Kau sekarang jatuh cinta padanya?” selidik Arlan. Pasalnya ia juga tidak sengaja mendapat sebuah informasi dari orangnya, bahwa asisten dosen Rangga adalah seorang mahasiswi tingkat satu dari jurusan keguruan yang bernama Naura Eka Febriana.


Ternyata aura dari Naura begitu kuat sehingga bisa meluruhkan hati dinding baja dan gunung es sekaligus.


Meskipun Arlan merasa khawatir bahwa gadis yang menarik hati Rangga adalah gadis yang sama dengan gadis yang meluruhkan hatinya juga. Tetapi ia bersikap secara profesional dalam pekerjaannya. Arlan tahu masalah pribadi dapat mempengaruhi kinerja dalam masalah pekerjaannya. Oleh sebab itu ia mampu menutupi rasa kekhawatirannya di depan Rangga agar tidak mengacaukan hubungan kerjasama mereka di dalam pekerjaan.


“ Ah, entahlah. Aku juga gak mau menyimpulkannya begitu saja.” Ucap Rangga sambil mengedikkan kedua bahu nya ke atas.

__ADS_1


“ Ah baiklah, kita sudah banyak memakan waktu untuk bernostalgia, sekarang mari kita bahas kontrak kerjasama kak1!” ucap Arlan menyudahi pembahasan masalah pribadi mereka.


“ Ah ya kau benar, setelah lima tahun kita tidak pernah menghabiskan waktu bersama. Baiklah mari kita bahas masalah pekerjaan ini.” Timpal Rangga yang mulai membuka dan mempelajari isi dokumen perjanjian yang akan mereka jalin.


__ADS_2