Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 43 Seperti Anak Sultan


__ADS_3

“ Astaghfirallahalazim....” teriak Naura terkejut . sontak membuat Rangga sedikit khawatir namun ia tidak bisa berbuat apa – apa.


“ Aduh, dasar kau ya Naura, mau makan martabak tapi kau tidak membawa minumnya. Huh dasar masih muda sudah pelupa. Bagaimana ini kan gak lucu makan martabak tidak ada minumnya bisa mendelik mata ini..” ucap Naura sambil celingukan melihat isi kamar mana tahu ada dispenser yang telah disediakan secara kamar VVIP gitu loh...


‘ Hem, ternyata gadis itu mengkhawatirkan makanannya. Bikin penasaran saja.’gumam Rangga dengan mata yang masih terpejam. Ia hanya bisa mendengar gerak – gerik Naura terkadang ia memicingkan matanya sedikit untuk mengintip.


“ Ah, Alhamdulillah ada dispenser bahkan ada kulkasnya lagi. Ternyata seperti ini kamar VVIP di rumah sakit semuanya lengkap seperti di rumah sendiri. Bahkan lebih besar dari kamar kos ku.” Ucap Naura sendiri setelah mengambil air minum ia pun menjatuhkan bokongnya di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur pasien.


“ Hah, lumayan! Bisa merasakan menjadi anak sultan meskipun hanya dua jam. Khikkhikkhik...” ocehnya.


Rangga hanya bisa tersenyum mendengar semua ocehan Naura. Bahkan ia tidak curiga sedikitpun mengenai siapa sebenarnya Rangga kenapa ia bisa dirawat di kamar VVIP.


‘ Dasar gadis polos, ternyata hanya makanan saja yang ada dalam pikirannya.’ Ucap Rangga dalam hati.


“ Alhamdulillah.. perutku menjadi kenyang setelah makan martabak ini plus segelas cokelat hangat yang lezat. Maaf ya pak Rangga, saya mengambil sedikit keuntungan dari kamar ini, saya mengambil minuman coklat yang ada di lemari sana. Ya itung – itung puding saya menjaga pak Rangga.” Ucap Naura kepada Rangga seolah meminta izin.


Naura memperhatikan Rangga dengan seksama, belum ada tanda – tanda untuk siuman.


Merasa jenuh dan mata sudah tidak bisa diajak kompromi untu terjaga, Naura merebahkan tubuhnya di sofa yang cukup luas untuk tubuh mungilnya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Naura sudah terjun ke alam mimpinya.


Setelah suasana menjadi sunyi dan tidak ada suara yang terdengar, Rangga membuka matanya dan bangun dari ranjangnya. Ia menghampiri Naura, yang sudah terlihat damai dalam tidurnya.


Rangga pun mengambil selimutnya dan menyematkannya ke tubuh Naura. Rangga berjongkok tepat di depan wajah Naura, memperhatikannya secara detail. Dalam memandang wajah tidur Naura tanpa di sadari Rangga ada sedikit getaran yang menelisik hatinya.


“ Hem, kau benar – benar gadis yang unik. Kepribadianmu sangat menarik. Bisa – bisanya kau bersedia melakukan ini demi orang yang belum kau kenal sama sekali.” Gumam Rangga


Puas melihat wajah Naura, Rangga pun merogoh handphonenya yang berada di saku celananya. Kemudian ia pun memanggil seseorang untuk segera tiba di ruangannya.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, pintu kamarnya dibuka oleh seseorang yang baru ia panggil lewat telepon. Pria tersebut tidak jauh berbeda dengan Rangga. Ia memiliki tubuh atletis yang tinggi, otot – otot tubuhnya tidak dapat disembunyikan oleh kaos dan dibalut denga jaket kulit yang dimelekat di tubuhnya.


“ Hai bro! Gimana kabarmu?” tanya nya saat menyenggol siku Rangga.


“ Seperti yang kau lihat!” ucap Ragga.


“ Percuma saja rasa khawatirku tadi sempat kuberikan padamu.” Kata pria tersebut.


“ Kau sudah menemukannya Arya?” tanya Rangga kepada tamunya yang bernama Arya.


“ Sudah dong, ternyata dia dari HJK Group. Ia melakukan itu karena sakit hati kontrak kerjasama perusahaannya dengan perusahaan kita kau batalkan secara sepihak.” Jelas Arya yang merupakan Asisten Rangga dalam membantunya mengurus perusahaan sekaligus sahabat sejak mereka kecil.


“ Sudah ku duga, dari awal aku sudah curiga, tidak mungkin dia menerima begitu saja. Ternyata diam – diam dia merencanakan ini.” Ucap Rangga


“ Lalu apa yang akan kau lakukan kepadanya?” tanya Arya penasaran. Ia tahu jika Rangga tidak akan berbelas kasih kepada lawannya jika mereka bermain curang dengannya.


“ Dasar kau, sejak dulu kau tidak mau memberitahu apa rencanamu tahu – tahu sudah ada hasilnya.” Cebik Arya yang merasa sampai detik ini Rangga tidak mau berbagi cerita dengannya.


“ Kau tidak perlu tahu prosesnya, tapi rasakan saja hasilnya. Ayo kita pergi dari sini.” Ajak Rangga


“ Tunggu, kau tidak mau memberitahuku di mana gadis yang telah menolongmu itu?” tanya Arya yang menyapu sekeliling ruangan dengan pandangan elangnya.


Matanya tertuju ke sebuah sofa yang sudah terbaring seorang gadis kecil dengan suara dengkuran halusnya. Merasa penasaran, Arya beranjak ingin menghampirinya. Namun, belum sempat melangkah tubuhnya segera di tarik oleh Rangga menuju pintu keluar. Dengan rasa penuh kecewa dan kesal, Arya mengikuti langkah Rangga untuk keluar padahal ia sangat penasaran dengan wajah gadis yang sedang tertidur pulas tersebut.


“ Payah kau Rangga, aku kan hanya ingin melihat dari dekat wajahnya. Siapa tahu dia adalah jodohku.” Ucap Arya setelah mereka keluar dari kamar.


“ semakin kau penasaran dengan gadis tersebut, bonus mu selamat tiga tahun akan hangus.” Ancam Rangga serius.

__ADS_1


“ Kenapa kau tiba – tiba begitu pelit dengan seorang gadis. Tidak seperti sikapmu sebelumnya.Hah...” ucap Arya kesal. Meskipun demikian, Arya mengikuti perintah Rangga dari pada ia mengorbankan bonus tahunannya selama tiga tahun yang akan hangus begitu saja.


“ Lalu bagaimana dengan nasib gadis tersebut?” tanya Arya di perjalanan untuk keluar dari rumah sakit.


“ Kau tidak usah mengkhawatirkannya, nanti ada Leon yang mengurusnya.


“ Ish, dasar kau..tapi kenapa kau begitu perduli padanya?”


“ Aku masih punya hati nurani. Aku tidak akan melupakan kebaikan seseorang dengan tulus pada ku. Ucap Rangga santai


“ Owh benarkah? Akhirnya hati nurani mu terpakai juga ya...” ledek Arya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Rangga.


“ Payah kau Rangga. Gak seru.” Cibir Arya yang mulai curiga bahwa Rangga bisa mempercayai Naura dengan mudah.


Ya, Rangga merupakan seorang pria yang tidak mudah begitu saja mempercayai orang lain, baik itu rekan – rekan kerjanya, maupun rekan sesama dosennya. Terlebih bagi orang asing yang baru di kenalnya.


Untuk membantunya dalam mengurus perusahaan, ia mempercayai Arya sebagai asistennya.


Jika dalam perkuliahannya ia mempercayai, Leon dan Mixel. Namun kali ini, entah mengapa ia merasa timbul rasa kepercayaannya yang mengangkat Gadis tersebut menjadi asisten dosennya.


Sejak pertama kali Rangga mendengar teriakan Naura di toilet yang mengeluarkan semua uneg - unegnya seperti teriakan anak kecil yang sedang merajuk karena tidak di beri uang jajan oleh ibunya.


Hal tersebut bisa membuat Rangga tersenyum dan tertawa melihat tingkah lucunya yang benar - benar polos dan terlihat natural.


Padahal selama hidupnya wajah Rangga tidak pernah terukir sebuah senyuman. Entahpun ia sudah lupa bagaimana rasanya tersenyum. karena kisah perjalanan hidup Rangga yang begitu berat dan menyedihkan, untuk bertahan hidup ia hanya fokus kepada kelangsungan hidupnya untuk memperluas sayap perusahaannya.


Tanpa memikirkannya secara matang, Rangga menjadikan Naura sebagai asisten dosen. Meskipun ia baru satu hari menjadi asisten Dosen Rangga sudah melihat kejujuran, dan kepolosan Naura dapat meluruhkan prinsipnya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2