
“ Nay, gimana kabar kakakmu? Kok hari ini tidak ada menelepon?” tanya Emak kepada Naya saat mereka selesai melaksanakan shalat Isya berjamaah.
“ Kabar kak Naura baik – baik saja mak. Bahkan di hari pertama kuliah kak Naura sudah di jadikan asisten dosen dan yang lebih hebatnya dosennya ini adalah dosen yang terkenal kejam dan berdarah dingin yang memilih kak Naura secara langsung.” Jelas Naya.
“ Asisten dosen itu apa Nay?” tanya bapak.
“ orang yang membantu dalam memberikan pelajaran kepada mahasiswanya pak, dan selama menjadi asistennya biasanya akan mendapatkan gaji pak. Seperti itu yang Naya tahu.” Jelas Naya agar bapak mudah memahaminya.
“ Jadi, kakakmu itu bekerja lagi? Terus bagaimana dengan kuliahnya nanti? Bapak khawatir nanti kakakmu kecapekan.” Ucap bapak cemas.
“ Bapak gak usah khawatir, jadwal dan tugas asisten itu biasanya tidak bertabrakan dengan kuliahnya kak Naura kok pak.” Kata Naya dengan sabar.
“ Oh gitu toh, ya syukurlah semoga setiap langkah kakakmu selalu dipermudah dan diperlancar oleh Allah.” Doa emak yang diaminkan oleh Naya dan Bapak. Sementara Nanda selesai makan malam, ia sudah masuk kamar untuk mengerjakan PR sekolahnya.
“ Ya sudah pak, mak! Naya juga mau ke kamar ada tugas yang belum selesia Naya kerjakan.” Pamit Naya beranjak pergi menuju kamarnya.
“ Ya sudah, masuklah!” ucap bapak.
“ Semoga cita – cita Naura berhasil di raihnya ya pak! Baru beberapa bulan Naura tidak di rumah emak kangen banget pak.” Ucap emak.
“ Iya mak, kita sebagai orangtua selalu mendoakan anak – anak kita terutama Naura agar mereka selalu di beri perlindungan oleh Allah dimana pun mereka berada. Yang penting setiap hari Naura memberi kabar kan mak” Timpal bapak menenangkan emak.
“ Iya pak” ucap emak.
Semua mata memandang sinis ke arah Naura setiap kali Naura berjalan melewati para mahasiswi yang terlihat berbisik – bisik namun masih terdengar oleh Naura. Namun hal tersebut sudah menjadi santapan sehari – hari Naura yang sudah menjadi buah bibir di kampus tersebut. Sejak Naura resmi diangkat menjadi asisten dosen Pak Rangga, dalam sekejap Naura menjadi bintang kampus.
Meskipun telah menyebar gosip – gosip yang menyesakkan hati, mereka telah memandang Naura secara negatif. Bagaimana tidak, semua mahasiswa patah hati berjamaah. Mereka menganggap Naura menjadi asisten pak Rangga dengan cara yang kotor, entah bagaimana Naura merayu pak Rangga hingga berhasil meluluhkan hatinya.
Namun, semua itu tidak menjadikan Naura gentar dalam terus melanjutkan kuliah dan asisten dosennya. Naura tidak mengambil pusing atas gosip – gosip tentang dirinya selama kedua sahabatnya masih mendukung dan mempercayai Naura.
“ Cih, menjadi asisten dosen dengan cara naik ke atas ranjang pak Rangga! Hebat juga triknya, bagi ke kita dong!” cibir salah seorang mahasiswi tingkat empat tatkala Naura melewati geng mahasiswi yang sedang menggosip di bangku salah satu lobi menuju perpustakaan.
__ADS_1
“ Iya nih, kita juga mau lho menjadi asisten dosen apalagi dosennya pak Rangga. Setiap malam menghangatkan ranjangnya juga aku bersedia.” Timpal salah satu temannya.
Naura berusaha mempercepat langkahnya agar ia lebih cepat sampai di perpustakaan. Namun tanpa di duga salah satu dari kelima geng mereka mencekal tangan Naura dengan kuat. Sehingga Naura langsung terhenti dan berbalik ke arah mereka.
“ Cih.... ternyata kau bermodus dibalik penampilan hijabmu seperti ini ya! Kalau orang udik yang berasal dari kampung ya tetap saja orang kampung.” Ucap seorang wanita yang dilihat dari penampilannya yang berbeda dengan keempat temannya, ia merupakan ketua gengnya. Yang hendak menarik hijab Naura namun dengan cekatan Naura menepis dan berhasil memegang pergelangan tangannya.
“ Maaf ya kak, kakak boleh menghina ataupun mencemoohku, tapi jika kakak ingin berusaha melecehkan ku dengan cara ingin membuka hijabku aku tidak akan tinggal diam.” Ucap Naura dengan tegas dan berusaha menutupi ketakutannya sambil menghempaskan tangan salah satu lawannya.
Mereka tidak menyangka Naura bakal dapat melawan dengan mudahnya.
“ Maaf ya kak! Mohon saya di beri jalan.” Ucap Naura lagi lebih tegas dan berusaha agar tidak meladeni mereka.
“ Berani sekali kau hah...kau tidak tahu siapa aku?” teriak wanita tersebut dengan suara yang cukup tinggi sehingga menimbulkan keributan yang menarik perhatian para mahasiswa lainnya.
Melihat keributan yang sedang terjadi, mereka hanya menonton tanpa berniat melerainya. Mereka tidak ingin mendapat masalah jika berurusan dengan wanita tersebut. Ya wanita tersebut adalah Glori mahasiswi dari keluarga pengusaha yang cukup terpandang di kota ini sehingga membuatnya dapat semena – mena dengan mahasiswa yang dianggap rendah olehnya.
“ Maaf kak! siapa pun kakak kita mempunyai hak yang sama di kampus ini tanpa memandang status. Jadi saya tidak perlu tahu siapa kakak.” Ucap Naura tegas.
“ Heeh, berani sekali kau mengabaikan ku hah.. kau mau menantangku, ok! Akan ku pastikan kau keluar dari kampus ini.” Ancam Glori sambil menunjuk jarinya ke depan wajah Naura.
“ Saya di sini hanya ingin menuntut ilmu, siapa pun kakak saya tidak takut tapi saya masih menghargai kakak sebagai senior saya. Dan kakak juga tidak mempunyai hak untuk mengeluarkan saya dari sini?” Tantang Naura dengan wajah yang tegas padahal ia merasa takut jika ancaman wanita di depannya benar – benar terjadi.
“ Kauu......awas kau, kau tunggu saja hari pengeluaranmu dari kampus ini.” Teriak Glori semakin meradang melihat keberanian Naura dapat melawan ucapannya.
Tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri, Glori dan teman – temannya langsung pergi meninggalkan Naura begitu saja.
Melihat kegaduhan yang telah terjadi di depan para mahasiswa lainnya, membuat mereka begitu kagum melihat keberanian Naura yang dengan tegas selalu mematahkan setiap ucapan dari Glori.
__ADS_1
Di antara para mahasiswa tersebut, terlihat sesosok pria muda dengan matanya yang tajam memperhatikan Naura sejak tadi, dengan senyuman yang terukir mengembang di wajahnya menandakan ia begitu puas dengan sikap Naura. Setelah mereka mulai membubarkan diri, ia pun langsung pergi menuju ke perpustakaan agar tidak menjadi pusat perhatian dari para mahasiswa lainnya.
“ Hufffttt, ya Allah berikan hamba selalu kekuatan untuk menghadapi hal – hal seperti ini. Lindungilah hamba dari hal – hal yang tidak diinginkan.” Doa Naura dalam hati. Ia juga merasa takut jika ancaman kakak seniornya benar – benar terjadi. Apa yang akan ia katakan kepada keluarganya terutama kedua orangtuanya.
Dengan menarik nafas yang dala dan menghembuskannya perlahan, Naura juga bergegas pergi menuju ke perpustakaan untuk menghabiskan waktu senggangnya dengan menyelesaikan tugas – tugas kuliahnya.
“ Mahasiswa baru itu berani sekali dalam menghadapi Glori dan gengnya. Ya pantas saja ia di tunjuk langsung oleh pak Rangga menjadi asistennya. Ia mampu melawan fans pak Rangga yang iri pada dirinya termasuk Glori.” Puji salah satu mahasiswa tingkat tiga kepada temannya.
“ Iya kau benar, meskipun ia tidak tahu siapa Glori tapi ia sangat berani. Memang si Glori itu harus ada lawan yang seimbang agar ia tidak belagu sementang anak dari seorang pengusaha.” Timpal yang lain karena sudah begitu muak melihat tingkah Glori dan gengnya yang bertindak seenak jidat mereka sendiri.
“ Dan yang paling penting, semoga saja mahasiswa baru tersebut tidak di keluarkan dari kampus ini. Aku jadi kasihan melihatnya.” Ucap wanita yang memiliki rambut ikal bergelombang sebahu.
“ Iya Amin....” ucap kedua temannya serentak.
Keadaan benar – benar kondusif kembali, para mahasiswa kembali kepada aktivitas mereka masing – masing. Mereka cukup puas melihat kegaduhan tersebut yang benar – benar membuat Glori merasa harga dirinya jatuh setelah mendapat lawan yang imbang.
Tidak sedikit para mahasiswa yang begitu tidak suka melihat tingkah Glori dan gengnya yang menganggap diri mereka mahasiswa yang berpengaruh di kampus ini karena status keluarganya sehingga bersikap semena – mena terhadap mahasiswa yang dianggap tidak menurut kepadanya.
Di dalam perpustakaan yang begitu sangat luas dan memiliki koleksi buku yang lengkap dari berbagai jenis yang dapat mendukung fasilitas dari kampus bagi para mahasiswanya dalam perkuliahan mereka.
Setelah Naura berhasil mengambil beberapa buku yang berkaitan dengan tugasnya, ia pun menuju meja belajar untuk mengerjakan tugasnya dengan serius.
Di tengah keseriusannya Naura begitu menikmati dalam pengerjaan tugas – tugasnya. Tanpa ia sadari sesosok tubuh yang tegap dan atletis yang di balut dengan kemeja hitam dengan lengan yang digulung sampai siku memperlihatkan lengan yang kokoh dan tegap.
“ Jangan terlambat masuk di kelas tingkat Empat. Kau harus mempersiapkannya 15 menit sebelum perkuliahan dimulai.” Ucapnya yang sudah duduk di samping Naura.
__ADS_1
Mendengar suara yang tiba – tiba datang dari arah samping. Naura langsung menoleh dan dengan wajah terkejut mata yang membelalak lebar, mulut Naura membungkam seperkian detik tidak dapat berkata setelah melihat dengan jelas wajah yang begitu tampan dari pemilik suara tersebut.