
“ Bagaimana persiapan Acara Grand Opening Hotel Green Mounth tersebut?” tanya Tuan Rahardi ayahnya Arlan saat mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.
“ Sudah rampung 90% Yah, mudah – mudahan acaranya berjalan dengan lancar.” Harap Arlan.
“ Ya. Selamat kau sudah berhasil mengembangkan bisnismu dan melebarkan sayap perusahaanmu menjadi semakin lebar.” Puji ayah Arlan.
“ Terima kasih yah!” ucap Arlan.
“ Lalu apa kau tidak ingin membawa pasanganmu ke acara tersebut?” tanya Nyonya Nissa bundanya Arlan.
“ Menurut Bunda, siapa yang cocok untuk mendampingiku?” tanya Arlan.
“ Menurutmu?” ucap bunda bertanya balik.
“ Ya Bunda kenapa malah tanya balik sih.” Kata Arlan
“ Lha, kan kau yang menentukan sendiri, memangnya berapa banyak wanita yang sudah kau dekati?? Hah” ucap Bunda sedikit kesal karena putra nya benar – benar tidak peka akan keinginan bundanya.
“ Apa aku punya waktu luang sebanyak itu bun?” ucap Arlan.
“ Makanya segera di ikat agar tidak keduluan pria lain.” Kata Aran menyerobot pembicaraan bunda dan adiknya.
“ Kau benar Ran, adikmu ini selalu saja sok jual mahal tidak memberi sinyal kepada Naura. tapi ia sangat senang jika menghabiskan waktu bersama Naura.” ejek bunda kesal.
“ Ah Bunda dan mbak mulai lagi deh! Kita kan sedang membahas tentang pembukaan Hotelku. Kenapa malah bahas tentang perasaan sih.” Ucap Arlan.
“ Ngeyel banget sih, entar kalau ada saingan, baru tau rasa deh.” Ejek Aran
“ Ah, masih terlalu cepat. Aku masih ingin fokus ke bidang perhotelan agar dapat semakin luas.” Ucap Arlan.
“ Kita lihat saja Bun, mau sampai kapan ia akan main kucing – kucingan dengan Naura.” ketus Aran.
“ Sudahlah sayang, jangan di goda terus, kasihan tuh” ucap Rozi menenangkan Isterinya.
“ Gemas saja lho mas, lihat sikapnya yang gak tegas.”
“ Ya sudah, kita jangan ikut campur masalah percintaan Arlan, sebaiknya kita juga harus mempersiapkan untuk acara tersebut.
Mereka pun terus menggoda Arlan yang selalu bermain tarik ulur. Mereka sudah yakin dengan perasaan Arlan ke Naura. karena selama 23 tahun ini, mereka baru pertama kali melihat Arlan begitu sangat antusias dan senang jika berhubungan dengan seorang wanita.
Sikapnya yang sangat cuek, dingin dan datar terhadap sekitar apalagi terhadap para gadis yang sudah berusaha menggodanya. Namun, hal yang berbeda saat ia bertemu dengan Naura, sikapnya yang begitu sangat antusias dan hangat dalam menghabiskan waktu bersamanya.
“ Kita lihat saja nanti deh, yang jelas aku masih suka dengan wanita kok. jadi bunda dan mbak Aran tidak perlu khawatir.
“ Iya ya, kami percaya. Tapi awas saja kalau kau ketinggalan dari para pria yang ingin mengantri mendekati Naura secara Naura adalah gadis yang limited edition lho yang sangat sulit di temui pada zaman sekarang. Kata Aran mengingatkan.
__ADS_1
“ Harapan bunda sih, kau membawa Naura agar hadir ke acara tersebut dan seandainya kau melamarnya di acara istimewa tersebut akan lebih menyenangkan buat bunda” Harap Bunda.
“ Bunda terlalu tinggi mengkhayalnya. Melamar anak orang tidak semudah membeli baju bun. Lagian Arlan masih menikmati momen pendekatan terlebih dahulu.” Jawab Arlan memberikan pengertian.
“ sudahlah, kalian kenapa sih dari dulu selalu memojokkan Arlan.” Potong Ayah menengahi perdebatan mereka.
“ Benar Yah, bunda dan Mbak Aran selalu main keroyok. Kan curang tu namanya.” Adu Arlan seperti anak kecil.
“ Ish apaan sih. Kayak anak kecil saja.” Cibir Aran
“ Biari uekkk.” Ejek Arlan menjulurkan lidahnya segera berlari menuju lantai 2.
“ Ishh.. kau benar – benar ya.” Kesal Aran ingin melempar bantal kursi tetapi meleset karena Arlan sudah kabur duluan.
“ Kalian ini, masih saja tetap seperti anak kecil. Kau tidak malu di lihat suamimu?” ucap bunda sambil menunjuk suami Aran, sementara yang di tunjuk hanya tersenyum.
“ Biarkan saja bun, aku sudah paham dengan sifatnya yang masih kekanak – kanakan dan mungkin saja ini bawaan dari kandungannya.” Ucap Rozi suami Aran.
" Kandungan? kau hamil Aran?" tanya bunda terkejut bercampur bahagia.
" Hehehe,iya bun.. sudah 8 minggu!" Jawab Aran dengan seringaian kudanya.
" Benarkah! Alhamdulillah. Kenapa kau tidak memberi tahu bunda hah..kau sengaja menyimpan kabar gembira ini untukmu sendiri hah.." seru bunda kesal.
" Maaf bun, kami tidak bermaksud untuk menyembunyikannya, aku baru tahu kemarin kalau ternyata aku hamil lagi. Itu pun berkat anjuran dari Arlan." Terang Aran.
" Iya bun,Arlan curiga dengan sikap Aran belakangan ini ia menduga kalau Aran hamil karena sikapanya tidak seperti biasa malah lebih pekaan Arlan di banding dengan si pemilik tubuh." Jelas Rozi.
“ Hah, baiklah semoga kita semua selalu rukun seperti ini.” Harap Ayah yang diaminkan oleh mereka bertiga.
“ Amin.”
Sementara Arlan merasa puas sudah membalas kakaknya. Ia pun membaringkan tubuhnya ke ranjang king bersize nya yang bernuansa silver. Sambil memainkn handphonenya Arlan mengirim pesan ke nomor seseorang.
[ Kau menyukainya?]
10 menit menunggu balasan, akhirnya Arlan tersenyum mendapat pesan balik.
[ Sangat suka kak, terima kasih banyak atas semua buku – bukunya kak]
[ Syukurlah. Semoga bermanfaat bagimu.]
[ Ah sangat bermanfaat sekali kak, semua bahan – bahan kuliah ku ada di buku yang kakak beri. Bahkan bahan untuk menyusun skripsi nanti sudah tersedia.]
[ Baguslah semoga kau cepat menyelesaikan kuliahmu dengan nilai yang sempurna]
__ADS_1
[ Amin. Terima kasih banyak kak. Semoga Allah membalas semua kebaikan kakak, dimurahkan rezeki dan selalu di beri kesahata. Amin]
[ Amin. Kau berlebihan]
[ Tidak kak, kalau hanya do’a saja aku sanggup kok.]
[ Ohya, ngomong –ngomong kenapa kakak bisa mendapatkan buku tersebut yang sesuai dengan kebutuhanku.]
[ Hahaahaha. Itu salah satu kemampuanku yang lainnya]
[ Ah, sombong sekali. Menyesal pula aku bertanya pada kakak]
[ Hahahahahha.]
[ Baiklah, semoga besok magang mu berjalan lancar]
[ Iya kak. Terima kasih. Assalamualaikum]
[ Walaikumsalam]
“ Ah, saatnya mandi.” Gumam Arlan menuju ke kamar mandi.
Selesai dari ritual mandinya, ia menuju ruang kerja favoritnya. Ia pun menelepon orang kepercayaannya yang sudah bekerja dengannya selama tiga tahun terakhir.
“ Ada yang bisa saya bantu Tuan?” tanya seseorang dari seberang telepon.
“ Bagaimana persiapan acara Grand Opening Hotel Green Mounth?” tanya Arlan.
“ Sudah 99 % rampung Tuan, semua kartu undangan sudah di sebarkan.” Jawab Axel asisten Arlan.
“ Baiklah kerja bagus. Setelah ini selesai ambillah cuti seminggu dan bonus yang akan aku kirimkan.” Ucap Arlan yang selalu puas dengan kinerja asistennya yang dapat diandalkan.
“ Terima kasih Tuan.”
“ Ohya satu lagi, bagaimana persiapan dari Tuan Hardi Ginanjar. Kau sudah memberikan kartu VVIP kepada keluarganya?” tanya Arlan.
“ Sudah Tuan!” jawab Axel.
“ Baiklah” ucap Arlan memutuskan panggilan telepon.
“ Ah, aku sudah menantikan hari ini, bagaimana reaksimu saat kita bertemu tuan Hardi Ginanjar.” Gumam Arlan tersenyum membayangkan wajah Hardi jika mereka bertemu nanti.
Selama dua tahun menjalin kerjasama, Arlan sengaja tidak pernah menemui secara langsung saat mereka membuat janji. Hanya Axel yang selalu menghandle semua urusan yang berkaitan dengan proyek Hotel Green Mounth ini.
“ Jadi tidak sabar melihat wajah aroganmu ketika mengetahui sosok Arlan yang selama ini pernah kau hina.” Ucap Arlan.
__ADS_1
Sambil wajah yang tersenyum terukir jelas di wajahnya Arlan melanjutkan memeriksa pekerjaannya yang baru saja ia dapat melalui E-mail yang di kirim oleh asistennya.