
Pukul 10.00 pagi di hari sabtu, Naura sudah rapi dengan balutan pakaian santainya. Ia memakai kaos biru muda yang dibalut dengan sweater cardigan berwarna hitam terjuntai sampai ke lutut yang dipadukan dengan celana sedikit melebar dengan hijab yang senada dengan warna kaosnya.
Sambil berbincang – bincang dengan pak Bowo, Naura menunggu seseorang untuk membayar janjinya.
“ Wah, tidak terasa ya neng sebentar lagi neng Naura akan selesai kuliahnya dan akan meninggalkan kosan ini deh!” ucap pak Bowo
“ Masih ada dua tahun lagi lho pak! Jadi jangan baperan gitu deh pak.” Kata Naura menghibur.
“ Tapi nanti tidak terasa lho neng, tahu – tahu sudah selesai. Buktinya bapak merasa baru kemarin aja neng Naura kemari eh ini tahunya sudah magang.” Seru pak Bowo.
“ Nanti kan Naura akan mencari pengalaman kerja di sini dulu lho pak, lagian kan ada pengganti Naura si Naya itu.” Ucap Pak Bowo.
“ Tapi tetap saja beda lho neng! Neng Naya orangnya cuek bapak mau mengobrol pun jadi segan.” Seru Pak Bowo.
“ Namanya udah dari sana dia seperti itu pak! Jadi mau di apakan lagi.” Ucap Naura.
“ Iya sih neng! Ohya ngomong – ngomong neng Naura mau kemana kok sudah rapi begini? Ada janjian ya?” tanya pak Bowo baru menyadari penampilan Naura yang sudah rapi.
“ Ah, Naura hanya ingin membayar utang kepada seseorang Pak!” jawab Naura.
“ Oh, mau kencan ya Neng!” goda pak Bowo.
“ Kencan apaan sih pak! Hanya jalan biasa aja kok. agar tidak menjadi beban bagi Naura saja jika tidak dibayar.” elak Naura.
“ Ah, iya pun gak papa lho neng! Bapak jadi penasaran siapa orangnya. Karena selama dua tahun ini bapak perhatikan neng Naura tidak pernah keluar di hari libur begini.” Ucap pak Bowo.
“ sebentar lagi bapak akan tahu siapa orangnya.” Jelas Naura sengaja tidak memberitahu siapa temannya.
“ Assalamualaikum!” sapa seorang pria menghampiri Naura dan pak Bowo yang sedang mengobrol di pos jaga.
“ Walaikumsalam.” Balas mereka bersamaan.
“ Tuan Arlan? Sudah lama tidak bertemu. Apa kabarnya tuan?” seru pak Bowo terkejut melihat sosok yang sudah lama tidak bertemu.
“ Alhamdulillah sehat pak! Pak Bowo sendiri gimana kabarnya?” tanya balik Arlan.
“ Kabar saya juga baik Tuan, sudah selalu mengucapkan rasa syukur di hari mulai senja ini Allah masih memberikan saya kesehatan.” Jawab Pak Bowo panjang lebar.
“ Syukurlah, bapak selalu terlihat bugar dan fit. Nah untuk membantu menjaga kesehatan bapak saya membawa ini untuk bapak.” Ucap Arlan sambil menyerahkan paperbag hitam kepada pak Bowo.
“ Apa ini tuan?” tanya pak Bowo sambil menerima paperbag dari tangan Arlan.
“ Ini sejenis minuman herbal pak untuk menjaga dan menambah stamina.” Jelas Arlan.
“ Oh, terima kasih tuan. Ah ya, setelah tidak lama bertemu, tuan Arlan terlihat semakin tampan dan gagah seperti para pengusaha – pengusaha muda yang sukses di luaran sana.” Puji pak Bowo.
“ Amin, terima kasih atas doanya pak. Ohya hari ini saya izin membawa Naura keluar sebentar ya pak?” izin Arlan dengan santun.
“ Ah iya, silahkan tuan. Saya percaya kepada tuan Arlan. Pantes saja neng Naura pagi – pagi sudah rapi dan baru kali ini setelah dua tahun tidak pernah keluar tiba – tiba akan keluar menghabiskan hari week end.” Goda pak Bowo.
“ Benarkah!” tanya Arlan tidak percaya.
__ADS_1
“ Masa saya bohong sih tuan, setelah dua tahun baru ini saya melihat neng Naura pergi keluar dengan seseorang dan ternyata itu adalah tuan.” Ucap pak Bowo.
“ Ish apaan sih pak Bowo ini, Naura kan jadi malu. Nanti di pikir kak Arlan malah aji mumpung pula.” Kata Naura kesal.
“ Ah, tidak apa – apa atuh neng.” Ucap pak Bowo.
“ Baiklah pak! Kalau begitu kami permisi. Assalamualaikum ” Pamit Arlan menyudahi perdebatan antara Naura dengan pak Bowo.
“ Walaikumsalam. Hati – hati di jalan.” Balas pak Bowo.
Naura dan Arlan segera menuju parkiran kos. Naura melihat motor sport yang sama sekali tidak berubah sama seperti ia pertama kali melihat motor tersebut. Motor yang terlihat benar – benar terawat tidak ada cacat sedikitpun.
Ditambah Naura semakin berdebar dan mengagumi Arlan yang terlihat semakin dewasa, tampan dan berwibawa. Meski hanya memakai kaos hitam yang di padukan dengan sebuah jaket berwarna hitam. Di tambah Arlan memakai topi yang semakin membuatnya benar – benar komplit.
“ Kau mau mengajak ku kemana?” tanya Arlan.
“ Ehm rahasia dong! yang jelas ini sesuai dengan keinginan kakak. Ayo kita berangkat agar tidak terlambat.” Ucap Naura berjalan mendahului Arlan melewati motor yang telah terparkir rapi di depan kos. Melihat Naura berjalan lurus keluar pintu gerbang, Arlan mengernyitkan kedua alisnya. Dengan rasa penasaran Arlan mengejar Naura agar mensejajarkan langkahnya.
“ Kenapa kau melewati motor itu juga?” tanya Arlan.
“ kita akan naik bus saja.” Jawab Naura enteng.
“ Haaah.”
Mereka berjalan menuju halte bus, sejujurnya ini pertama kalinya Arlan menggunakan transportasi umum.
“ Ayo kak kita naik, untung kita tidak terlambat.” Ajak Naura memasuki bus menuju pusat kota.
“ Sebenarnya kau akan membawa ku kemana? Kenapa harus menggunakan bus ini? Dan kau menyuruhku memakai pakaian seperti ini?” tanya Arlan.
“ Hari ini aku akan membuat hari kakak berwarna untuk mengganti hari – hari kakak selama dua tahun ini yang abu – abu. Pertama, hari ini adalah hari libur jadi kakak tidak perlu memakai pakaian yang formal. Kedua, lupakan sejenak masalah pekerjaan kakak. Khusus hari ini kakak harus merefresh ulang tubuh dan pikiran kakak agar segar kembali jadi jangan sampai bermutu.” Jelas Naura panjang lebar yang semakin membuat Arlan bingung.
“ Bermutu?” tanya Arlan dengan dahi yang berkerut.
“ Ehm, jangan sampai kakak jadi bermutu alias bermuka tua, usia masih 25 tahun tapi berwajah 35 tahun.” Jelas Naura.
“ Hahhh....”
Melihat wajah Arlan yang masih bingung, membuat Naura tidak bisa menahan tawanya.
“ Hahahahaah..kakak lucu dengan wajah yang seperti itu. Ternyata rumor itu tidak benar ya!” ucap Naura.
“ Apa? kenapa kau tertawa seperti itu?” seru Arlan sedikit kesal karena mendapat ejekan dari Naura.
“ Maaf kak! Intinya kakak jangan seperti robot yang terus – menerus memikirkan pekerjaan, sesekali kakak juga harus memikirkan diri kakak sendiri. Luangkanlah waktu sejenak agar tidak mudah stres dan itu tadi bermuka tua. Aku hanya ingin membuat kakak dapat tersenyum agar otot – otot wajah kakak tidak tegang dan kaku. Bayangkan saja mempunyai bos yang wajahnya selalu datar seperti cermin sangat lurus.” Jelas Naura.
“ Kau....ah terserah kau saja lah. Untung saja....” kata Arlan terputus.
“ Untung apa?” tanya Naura dengan mendekatkan wajahnya ke arah Arlan.
Melihat wajah Naura yang sangat dekat membuat Arlan merasa tidak dapat menahan debaran jantungnya yang sangat kuat. Ingin sekali wajah yang berada di depannya ia kecup sepuasnya. Namun, Arlan masih menjaga kewarasannya agar tidak khilaf. Ia memundurkan sedikit tubuhnya agar ada jarak di antara mereka.
__ADS_1
“ Tidak apa – apa.” ucap Arlan memalingkan wajahnya.
“ Ah kakak payah, ohya ini ada cokelat. Makanlah kak!” tawar Naura yang menyodorkan sebuah coklat kepada Arlan.
“ Aku tidak suka manis.” Tolak Arlan.
“ Ayo lah, hari ini adalah hari Naura jadi kakak tidak boleh menolak apa yang Naura katakan. Aaaaaaa” ucap Naura membuka mulutnya seolah – olah akan menyuapkan coklat ke mulut Arlan.
Melihat tingkah Naura yang semakin menantang, membuat Arlan langsung mengambil coklat dari tangan Naura dengan cepat dan memasukkan ke mulutnya sendiri Melihat tingkah Naura yang semakin menantang, membuat Arlan langsung mengambil coklat dari tangan Naura dengan cepat dan memasukkan ke mulutnya sendiri secara kasar.
“ Pelan – pelan saja kak makannya, ini Naura masih banyak.” Ucap Naura memberikan sekantong plastik kecil coklat.
“ Tidak, terima kasih.” tolak Arlan.
“ Baiklah kalau tidak mau” seru Naura memasukkan kembali coklatnya ke dalam tas ranselnya.
Drrttttt.....handphone milik Naura yang berada di dalam tasnya bergetar panjang. Naura pun melihat panggilan masuk yang tertera nama Andreal.
“ Halo! Walaikumsalam. Ada apa Al?” jawab Naura setelah menerima panggilan dari Andreal
“ Kau sedang apa Ra?” tanya Andreal dari seberang.
“ Lagi duduk.” Jawab Naura santai
Sementara Arlan hanya menguping pembicaraan mereka sambil memainkan ponselnya.
“ Apa kau ada acara?” tanya Andreal
“ Ehm, ada sih memangnya kenapa? Apa kau akan mengajak ku jalan – jalan?” pancing Naura.
“Ah, sayang sekali. Sebenarnya aku mau mengajakmu ke toko buku yang baru di buka. Kebetulan hari ini grand opening.” Jelas Andreal panjang lebar.
“ Toko buku? Benarkah?” ucap Naura girang.
“ Untuk apa kau berbohong, kau tahu jika kita datang hari ini kau akan mendapat potongan diskon sampai 80%. Atau kau batalkan saja janji mu itu?” kata Andreal.
Mendengar ucapan dari seberang telepon, wajah Arlan langsung berubah warna menjadi tomat dan langsung menyambar handphone Naura dari tangannya.
“ Dia sudah ada janji denganku.” Ucap Arlan langsung mematikan panggilan secara sepihak.
Melihat kelakuan Arlan yang tiba – tiba membuat Naura terdiam mematung dengan mulut yang masih terbuka.
“ Kau sengaja mengundang nyamuk?” ucap Arlan ketus.
Mendengar ucapan Arlan yang sedikit ketus, Naura langsung tersadar dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
“ Nah.” Arlan langsung mengembalikan handphone Naura ke tangannya.
Sementara di seberang telepon, terlihat Andreal begitu syok setelah mendengar suara seseorang yang sangat ia kenal.
“ Kak Arlan? Jadi dia langsung menemui Naura, dasar... pantas saja dia tidak bergabung makan siang di sini.” gumam Andreal.
__ADS_1