
“ Maaf sayang! Tadi aku lagi meeting untuk persiapan acara nanti malam! Kau bisa datang ke pesta itu, tetapi aku tidak bisa menemani mu.” Ucap Hardi melalui telepon selulernya.
“ Ah terserah anda tuan.” Ketus Tari.
“ Jangan ngambek dong sayang! Setelah acara ini selesai aku janji akan memenuhi permintaanmu. Bagaimana?” bujuk Tuan Hardi
“ Basi. Sudahlah aku mau mempersiapkan diriku untuk acara malam ini.” Ucap Tari dengan enggan.
“ Baiklah sayang, akan ku transfer uang belanja mu.” Kata tuan Hardi dengan bujuk rayunya.
“ Ehm.” Dehem Tari yang langsung memutuskan panggilan telepon secara sepihak.
“ Dasar! Ah bikin mood ku semakin buruk saja. Lebih baik aku ke salon untuk merileks kan tubuh dan pikiran ini.” Gumam Tari berjalan menuju salon langganannya yang tidak jauh dari tempat ia turun dari taksi.
Setelah cukup lama memilih gaun yang sesuai dengan Naura, akhirnya pilihan mereka berdua jatuh pada gaun yang memiliki aksen brokat dengan potongan A-line ini terlihat menawan, praktis dan meskipun terlihat sederhana namun terkesan mewah dan elegan saat digunakan . Desain yang bold dari sentuhan kain tile membuat gaun ini memiliki volume lebih pada bagian rok dengan paduan warna kuning keemasan yang terlihat kalem.
“ Wah, sangat sesuai dengan tubuhmu Ra! Mbak suka melihatnya. Gaun ini sesuai dengan karaktermu yang sederhana tetapi terlihat elegan.” Puji Aran saat Naura mencoba gaun pilihan mereka.
“ Benarkah Mbak? Naura pikir jika memilih gaun ini akan terlihat seperti gadis kampung.” Ucap Naura.
“ No no no, bahkan desain gaun sekarang memodifikasi gaya tradisional yang di mix dengan gaya anak muda zaman sekarang. Itu terlihat eksotis.” Ucap Aran.
“ Terima kasih mbak.”
“ Ok. Sekarang kita ke ruang make up penata rias yang akan meriasmu masih dalam perjalanan, kita tunggu saja dia di sana.” Ajak Aran.
“ Baik mbak.” Jawab Naura yang mengekori Aran dari belakang.
Sembari menunggu, mereka pun menggunakan waktu untuk mengobrol dan temu kangen karena hampir dua tahun mereka tidak bertemu. Terutama Aran yang memiliki jadwal yang padat dalam mengelola butiknya yang cukup bergengsi di negara ini karena banyak perusahaan besar yang ingin menggandengnya untuk memperkuat kedudukan mereka dalam mempromosikan produk – produk mereka.
Aran juga menjelaskan apa yang harus Naura lakukan saat menghadiri acara malam ini agar Naura tidak gugup jika sudah berbaur dengan orang – orang yang di anggap asing oleh Naura.
“ Selamat Siang nyonya.” Sapa seorang wanita yang tidak jauh beda usianya dengan Aran.
__ADS_1
“ Ah Hani! Akhirnya kau datang juga. Mari kita buat Naura menjadi tokoh utama dalam acara malam ini.” Titah Aran setelah Hani sang penata rias telah tiba.
“ Baik nyonya.” Ucap Hani.
“ Ah bukankah ini nona yang pernah ku rias beberapa tahun yang lalu?” ucap Hani ketika memperhatikan wajah yang tidak asing baginya.
“ Benar mbak!” ucap Naura.
“ Ah beruntung sekali aku bisa merias kembali dirimu nona. Baiklah! Kesempatan kali ini akan ku buat nona menjadi tokoh utama terhebat dalam sejarah tuan Arlan.” Ujar Hani bersemangat.
“ Baiklah, kalau begitu aku permisi! Aku tidak mau mengganggu kalian.” pamit Aran meninggalkan ruang tata rias.
“ Baik nyonya.” Seru Hani
Hani pun memulai memoles wajah Naura yang tidak pernah tersentuh oleh make up, yang membuat Hani dapat mengembangkan bakatnya sekaligus bereksperimen dengan model make up yang sesuia dengan karakter Naura yang sederhana namun terkesan elegan.
Setelah satu jam menghabiskan waktu untuk mencoret – coret wajah Naura. Akhirnya wajah Naura nampak berbeda jauh lebih cantik dan menawan.
Naura pun menatap dirinya di pantuan cermin yang ada di depannya. Hani memoleskan make up yang natural dan sederhana karena sesuai dengan karakter Naura yang simple. Namun tidak mengurangi keanggunan dan menghilangkan binar kecantikan alami dari wajahnya. Dengan polesan lip cream warna merah bata untuk lipstik, pada bagian mata memakai pensil alis warna hitam ditambah eyeshadow warna cokelat emas untuk kelopak mata. Dan terakhir winged eyeliner untuk kesempurnaan paripurna.
“ Benarkah ini wajah saya mbak?” tanya Naura tidak percaya dengan wajahnya yang sudah dipoles.
“ Benar dong nona! Pertanyaan nona sama saja seperti pertama kali saya rias. Kenapa nona sampai terkejut begitu melihat wajah sendiri.” Ucap Hani.
“ Benar mbak, saya memang tidak percaya bahwa saya bisa juga secantik ini. Hihihihi....” Canda Naura.
“ Nona pada dasarnya memang sudah cantik, jadi tinggal di poles sedikit saja akan terlihat semakin cantik.” Ujar Hani.
“ Ah mbak bisa saja, kita semua di ciptakan oleh Allah memang cantik – cantik semua sekarang tinggal kita lah yang harus pandai bersikap, mensyukuri pemberiannya atau merasa kurang puas akan nikmat Nya.” Ucap Naura.
“ Nona benar, ah beruntung sekali tuan Arlan mendapatkan nona sudah cantik wajah juga cantik akhlaknya.” Puji Hani.
“ Maksud mbak gimana ya?” tanya Naura benar – benar bingung akan ucapan Hani.
__ADS_1
“ Ah maaf nona, maksud saya keluarga tuan Kusuma termasuk tuan Arlan sangat beruntung bisa bertemu dengan anda.” Dalih Hani yang hampir keceplosan dan membuat Naura curiga.
“ Ah mbak bisa aja, justru saya yang merasa beruntung bisa bertemu dengan mereka, karena mereka tidak memandang status dan latar belakang saya yang berasal dari kampung.” Jelas Naura.
“ Iya nona, saya sangat setuju bahwa keluarga tuan Kusuma dalam bergaul tidak pernah memandang status seseorang.
“ Ok sekarang kita keluar menemui nyonya Aran. Beliau juga pasti sudah bersiap – siap untuk menghadiri acara malam ini.” Ujar Hani membantu Naura berdiri dan berjalan ke luar dari ruangan.
“ Baik mbak! Terima kasih mbak sudah membantu saya.” Ucap Naura
“ Ah tidak masalah nona, ini sudah menjadi tugas saya. Dan saya berharap saya mendapat kesempatan merias nona dalam acara pernikahan nanti eh upssss.” Ceplos Hani yang baru tersadar akan ucapannya yang spontan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
“ Maaf nona!” imbuhnya
Naura semakin bingung akan sikap Hani yang selalu menjurus bahwa acara malam ini akan menjadi acara yang tidak biasa. Namun, rasa penasarannya di simpannya dalam – dalam.
“ Nyonya kami sudah selesai.” Ucap Hani memberitahukan kepada Aran yang berada di ruangannya.
Wah! Kau benar – benar cantik Ra! Mbak benar – benar pangling melihatmu.” Ucap Aran terkejut melihat sosok yang sangat anggun dan menawan yang sudah berdiri di depannya.
“ Terima kasih Hani, kau sudah membantu kami.” Ucap Aran.
“ Tidak masalah nyonya, saya yakin nona Naura akan menjadi tokoh utama yang terkenal.
“ Iya Hani, aku juga berpikiran yang sama.” Seru Aran.
“ Terima kasih mbak! Mbak juga terihat sangat cantik.” Jawab Naura.
“ Ah baiklah, ayo Naura kita berangkat sekarang! Jangan membuat Arlan menunggu terlalu lama.
“ Iya kak. Ayo!” ujar Naura percaya diri.
Mereka pun pergi meninggalkan butik menuju hotel dimana tempat digelarnya acara tersebut. Dengan mobil sedan Aran bersama sang supir yang selalu siap mengantarkan majikannya.
__ADS_1