
Melihat Andreal bersungut – sungut sangat kesal, Aran menghampiri Andreal yang sedang duduk di gajebo taman belakang.
“ Ada apa dengan mu hah.” Tanya Aran langsung mengisi bangku kosong yang ada di depan Andreal.
“ Kakak tahu kenapa kak Arlan tidak bergabung makan siang dengan kita? Padahal ini kan acara untuk penyambutan dia kembali dari Luar Negeri?” tanya Andreal.
“ tidak, dia hanya bilang ada urusan yang harus dia selesaikan hari ini.” Ucap Aran apa adanya.
“ Kakak tahu, sekarang dia sedang bersama siapa?” tanya Andreal yang mendapat gelengan kepala dari Aran. “ sekarang kak Arlan sedang jalan dengan Naura.” sambungnya
“ Oh pantes saja, dia tidak ikut makan siang di rumah ternyata dia sudah ada janji dengan Naura terlebih dulu. Ckckcckk dasar anak itu, mau sampai kapan main tarik ulur.” Seru Aran.
“ Ah kak Arlan memang payah, dia tidak pernah peka. Padahal awal kuliah dulu, aku sengaja lho kak membuat kak Arlan kesal karena aku bersusaha mendekati Naura tapi hubungan mereka hanya jalan di tempat saja. Tidak ada perkembangan.” Ucap Andreal meluapkan kekesalannya.
“ Sudahlah, kita lihat saja apa rencana Arlan selanjutnya. Asalkan ia tidak di serobot oleh pria lain.” Kata Aran.
“ Ayo kita makan sekarang, buat apa kita mengkhawatirkannya. Sia – sia saja.” Imbuhnya beranjak dari duduknya keluar dari gajebo menuju meja makan yang sengaja ditata di taman belakang rumah.
Andreal pun mengembuskan nafasnya secara kasar, ia pun menyusul Aran untuk bergabung dengan yang lain.
“ Kenapa kakak mematikannya begitu saja?” tanya Naura tidak mengerti akan sikap Arlan.
“ Tidak apa – apa. kalau kau sudah ada janji kenapa kau menyanggupinya?” tanya Arlan balik.
“ Aku kan tidak tahu kalau Andreal akan menelepon? Lagian memang aku gak ada janji dengan siapa pun.” Ucap Naura
“ Ah sudahlah!” kata Arlan masih kesal.
“ Kakak marah?” tanya Naura dengan hati – hati.
“ Untuk apa aku marah!” ucap Arlan dengan juteknya.
“ Ah baiklah! Maaf sudah mengganggu hari kakak. Sekarang setelah keluar dari bus ini tinggalkan saja kekesalan kakak disini agar suasana hati kakak dapat menikmati waktu libur kakak dengan tenang.” Seru Naura berusaha mendinginkan suasana hati Arlan yang sedikit panas.
Melihat wajah Arlan yang masih kusut seperti pakaian yang belum di setrika. Naura pun memasang wajah sedihnya.
“ Kalau wajah kakak masih di tekuk begitu, kita batalkan saja hari ini. Kalau dilanjutkan akan sia – sia saja itu artinya aku akan terus berhutang pada kakak.” Ucap Naura dengan nada sedih.
Mendengar ucapan Naura yang ingin membatalkan janjinya, Arlan pun langsung menatap wajah Naura yang masih terlihat sedih.
“ Ehm, lanjutkan saja hari ini.” Ucap Arlan dengan wajah seperti semula.
“ Ah sepertinya kakak terpaksa melakukannya.” Ucap Naura dengan akting sedihnya.
“ Baiklah, jangan membuang waktu. Awas kalau hari ini tidak sesuai dengan harapanku.” Ancam Arlan seperti biasa.
“ Kakak yakin?”
__ADS_1
“ Ehm....”
“ Ok lah, mari kita bersenang – senang hari ini.” Ucap Naura girang. ‘ hihihi berhasil juga akting ku, meskipun masih kesal tapi dia pasti berat jika dibatalkan.’ Ucap Naura dalam hati sambil melirik wajah Arlan yang masih datar.
“ Terima kasih kak!” ucap Naura dengan senyuman yang ia buat semanis mungkin agar dapat meluluhkan kekesalan Arlan.
Melihat senyuman dari wanita yang ia sukai membuat Arlan menjadi gugup. Apalagi jarak wajah Naura sangat dekat dengan wajahnya.
“ Ehm. Biasa aja dong seperti anak kecil saja.” Ucap Arlan ketus untuk menutupi kegugupannya.
“ Biari. Uekkkkk.” Balas Naura sambil menjulurkan lidahnya.
“ Ish dasar kau.”
“ Hihihihihiiiii.”
Bus pun berhenti di halte tempat tujuan Naura. Dengan wajah yang masih tersenyum Naura mengajak Arlan untuk keluar dari bus.
“ Ayo lah kak, tersenyum sedikit. Biar gak bermutu tahu.” Goda Naura yang sukses membuat Arlan semakin kesal.
“ Kau....”
Naura bergegas berjalan ke depan dengan langkah yang lebar.
“ Dasar, masih saja tidak berubah.” Gumam Arlan mengejar Naura.
“ Sebenarnya, kau akan mengajakku kemana sih? Kenapa harus repot – repot berjalan kaki seperti ini.” Tanya Arlan kesal.
“ Pertama kakak harus melemaskan otot – otot kakak agar tidak kaku. Pasti kakak tidak pernah berjalan sejauh ini kan? Kedua kali ini aku akan mentraktir kakak ala masyarakat biasa. Bahagia itu gak harus yang mewah dan mahal kak. Bahagia itu kita yang membuatnya sesuai dengan versi kita sendiri.” Ucap Naura panjang lebar berceramah sambil menikmati coklat yang ia bawa.
“ Ehm...”
“ Ah kakak payah, masih saja pelit suara. Aku sudah panjang lebar ngomong tanggapan kakak hanya ehm saja.” Ucap Naura kesal.
Setelah berjalan sekitar 15 menit dari halte bus sampailah mereka ke tempat tujuan mereka.
“ Tadaaaaaa. Ini lah tempat dimana aku akan mentraktir kakak seharian.” Ucap Naura bangga. Ia berharap tempat pilihannya tidak membuat Arlan kecewa.
“ Taman Bermain? Kekanak – kanakan sekali.” Dengus Arlan.
“ Ah biari saja, yang penting tempat ini dapat menghilangkan stres dan penat akibat pekerjaan yang tiada habisnya. Ayo kak!” ajak Naura masuk ke dalam. Setelah Naura membeli tiket masuk dan beberapa cemilan kesukaannya.
Memasuki area taman bermain, suasana begitu sangat ramai dan riuh. Di setiap wahana permainan terdengar sangat jelas teriakan – teriakan dari para pengunjung yang mencoba menguji adrenalin mereka.
Melihat hal tersebut, membuat Arlan menjadi ragu. Naura dapat melihat wajah Arlan yang sedikit gugup.
“ Kakak takut?” tanya Naura.
__ADS_1
“ Tidak, hanya tidak terbiasa saja. Ini adalah hal pertama kalinya aku mengunjungi tempat seperti ini.” Ucap Arlan menutupi kegugupannya.
“ Kakak tenang saja, permainan disini pasti menyenangkan semua. Nampaknya saja menakutkan tapi kalau kita sudah berada di sana, pasti akan berbeda. Ayo lah kak kita mencoba naik itu saja.” Tunjuk Naura pada sebuah wahana permainan yang bernama kora – kora yang terdiri dari sebuah gondola berbangku terbuka dengan desain kapal bajak.
“ Nah untuk permainan awalnya kita mulai dari sana saja kak! Kan tidak terlalu ekstrem.” Ajak Naura tanpa sadar menarik tangan Arlan menuju ke wahana Kora – kora. Melihat antusias Naura yang besar sampai tidak menyadari ia telah memegang tangan Arlan membuat Arlan hanya tersenyum dan mengikuti langkah Naura tanpa menolaknya.
“ Nah, kakak jangan malu – malu untuk berteriak sekencang – kencangnya agar meluapkan rasa penat dan stres di hati ini.” Ucap Naura setelah mereka sudah berada di bangku barisan ketiga.
Dengan hati yang berdebar, Arlan menutup matanya saat kora – kora tersebut mulai bergerak perlahan berayun ke depan dan ke belakang. Selang beberapa menit gerakan ayunan kora – kora tersebut menjadi sedikit kencang yang membuat Arlan tanpa sadar berteriak dengan keras.
Melihat Arlan yang berteriak, Naura juga berteriak dengan kencang. Suara teriakan mereka saling beradu dengan para pengunjung lainnya.
Wajah Arlan sudah terlihat santai dibanding di awal menaiki wahana permainan. Ia sudah menikmati setiap wahana permainan yang terdapat di taman bermain tersebut.
Dengan perasaan yang senang, mereka melanjutkan menaiki wahana permainan roller coaster, ontang – anting, hysteria, halilintar, turangga – rangga, tornado, kicir – kicir dan memasuki istana hantu.
“ Hosh hosh hosh, capek juga ternyata. Suara ku hampir habis karena kebanyakan teriak.” Ucap Naura sambil menyenderkan punggungnya di senderan bangku yang tersedia di taman bermain.
“ Kau senang?” tanya Arlan
“ Tentu saja kak, ini sangat menyenangkan. Tidak terasa hari sudah mau memasuki waktu ashar. Ayo kak kita cari mushalla di sini.” Ajak Naura.
“ Kau tidak lelah?” tanya Arlan.
“ Tidak. Setelah melaksanan shalat ashar kita lanjutkan wahan permainan selanjutnya. Kakak masih sanggup?” tantang Naura.
“ Kau menantangku? Baiklah siapa yang kalah akan memenuhi satu permintaan dari yang menang. Bagaimana?” ucap Arlan menantang balik Naura.
“ Ok. Siapa takut.” Jawab Naura dengan percaya diri.
Mereka pun berjalan mencari mushalla untuk memenuhi kewajiban mereka.
Setelah 20 menit mereka beristirahat, mereka mengisi perut mereka terlebih dahulu sebelum memulai kembali menaiki wahan permainan.
“ Ayo kita makan dulu.” Ajak Arlan
“ Ayo kak, ternyata keasyikan bermain kita jadi telat makan siang. Pantes saja penghuni perut ini demon saja daritadi.” Ucap Naura sambil mengelus – elus perutnya yang datar.
“ Kau mau pesan apa? pesanlah.” Tawar Arlan.
“ Lho kok kakak yang menawariku. Seharusnya aku yang berkata seperti itu.” Ucap Naura tidak terima.
“ Ah baiklah. Kalau begitu aku pesan ikan bakar, cah kangkung dan udang goreng.” Ucap Arlan mengalah.
“ Baiklah kak, kalau gitu pesanan kita sama saja.” Ucap Naura.
Mereka makan dengan lahapnya. Seharian mereka menghabiskan waktu untuk bermain melepaskan rasa penat tanpa memikirkan masalah pekerjaan.
__ADS_1
Baru kali ini Arlan benar – benar dapat menikmati waktu senggangnya dengan perasaan yang tidak terbebani. Benar – benar terlepas dari masalah pekerjaan yang tiada hentinya.