Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 42 Kejadian Yang Tak Terduga


__ADS_3

" Enaknya makan martabak saja lah.” Naura langsung mendatangi lapak si abang penjual martabak yang selalu mangkal di depan gang kosannya.


Sambil terus membayangkan martabak manis kesukaannya Naura sampai menelan air liurnya sendiri dan mengecap – ngecap mulutnya.


“ Aduh jadi gak sabar neh, membayangkannya saja sudah ngences begini. Huh dasar kau Naura.” ucapnya sendiri.


Tidak sabar untuk menikmati seporsi martabak manis coklat kacang kejunya Naura mempercepat langkah kakinya menuju lapak para pedagang yang tidak jauh dari gang masuk kosannya.


“ Bang martabaknya satu ya, yang masih panas.” Ucap Naura kepada si abang penjual martabak


“ Baik dek! Kalau mau yang panas tunggu sebentar ya” balas kang martabak


“ Oke bang!”


Sambil menunggu martabak pesannya, Naura duduk dibangku yang telah disediakan sambil mengirim pesan kepada Naya adiknya.


[ Assalamualaikum! Sudah tidur belum Nay! Kakak masih di luar ne, menunggu martabak. Kalau di kampung jam segini sudah tidak ada lagi yang berkeliaran di luar kan..jadi kangen ma bapak, emak dan kalian.] tulis Naura dan segera menekan send.


Setelah menunggu 10 menit tidak ada balasan dari Naya. Yang berbarengan dengan selesainya pesanan Naura.


“ Ini dek martabaknya!” ucap penjual martabak sambil menyerahkan bungkusan ke tangan Naura.


“ Berapa bang?” tanya Naura sambil membayar martabaknya.


“ lima belas ribu aja dek!” jawab penjual martabak


“ Makasih ya bang!” ucap Naura sambil meninggalkan lapak penjual martabak.


“ Sama – sama dek!”


Naura melanjutkan perjalanannya menuju kos sambil menjinjing bungkusan martabaknya sambil menghirup dalam – dalam aromanya.


“ Ehmmm, aromanya saja sudah sedap apalagi rasanya... ehmmmmm jadi gak sabar untuk sampai di kos.” Ucap Naura mengangkat tinggi – tinggi bungkusan martabaknya sampai ke depan hidungnya.


Sepanjang perjalanan, Naura selalu mengumandangkan shalawat – shalawat Nabi. Saat Naura ingin menyeberang, dari kejauhan ia melihat mobil sedan hitam yang melaju kencang tapi jika di perhatikan laju mobil tersebut terasa aneh dan mengganjal. Selang beberapa detik, mobil tersebut menabrak trotoar dengan sangat keras.


Ciiiittttttt.....bruuuuukkkkkkkkkkk “ Astaghfirullahalazim... Ya Allah! Apa yang sedang terjadi?” ucap Naura terkejut melihat kecelakaan tunggal yang ada di depannya. Tanpa di sadari Naura jiwa penolongnya langsung tergerak untuk melihat keadaan penumpang mobil tersebut. Naura tidak menghiraukan keadaan yang ada disekitarnya.


Dengan secepat kilat Naura mengetuk – ngetuk jendela kaca mobil dengan cukup keras. Tidak lama kemudian pintu mobil terbuka dan keluarlah seorang pria bertubuh jangkung yang usianya 10 tahun lebih tua dari Naura.

__ADS_1


“ Tolong bawa tuan saya ke rumah sakit secepatnya Nona!” ucap pria tersebut langsung membuka pintu belakang mobil dan segera mengeluarkan sang majikannya yang tidak sadarkan diri dari mobil.


“ Astaghfirullahazim... ini kan..!” ucap Naura sangat terkejut melihat pria yang di papah oleh sang supir.


“ Cepat Nona, bawa tuan saya dari sini sebelum di sadari oleh para pengendara lainnya.” Mohon sang supir.


“ Tapi.... Pak! Dengan apa saya mengantar beliau?” tanya Naura bingung tidak tahu harus berbuat apa – apa.


“ Sebentar lagi akan ada mobil yang menjemput, jadi nona pergilah dengan mobil itu.” Kata sang supir yang masih menahan rasa sakit akibat luka di kepala yang ia derita.


Benar saja, selang beberapa menit datanglah sebuah mobil sedan berwarna silver datang menghampiri mereka.


“ Cepat masuk Nona!” teriak sang supir dari dalam mobil.


Tanpa memikirkan apa – apa Naura bergegas menaiki mobil di kursi penumpang sambil memapah pria yang baru dikenalnya. Ya, pria tersebut adalah Rangga, insiden kecelakaan ini bukanlah tanpa sebab. Hal ini biasa terjadi dalam persaingan dunia bisnis yang tidak sehat dan sportif.


Begitu juga dengan Rangga yang selama 10 tahun telah terjun ke dunia bisnis tidak luput dari segala ancaman dari para pesaingnya yang begitu iri melihat perkembangan perusahaannya yang begitu pesat. Dengan sengaja mobil yang ditumpanginya telah disabotase oleh seseorang yang tidak bertanggungjawab.


“ Ayo Nona kita sudah sampai.” Ucap sang supir yang jauh lebih muda bila di banding dengan sang supir yang satunya.


“ Baikk...lah Pak!” Naura hanya bisa mengekori sang supir yang memapah sang majikannya menuju ruang UGD Rumah Sakit.


Dengan cekatan dua orang perawat langsung mendorong brankar yang telah di isi oleh Rangga.


“ Terima kasih Nona! Sekali lagi saya mohon temani sebentar Tuan saya sampai ia di bawa ke ruangan rawat inap. Dan ini segala sesuatu yang akan Nona butuhkan.” Ucap sang supir sambil menyerahkan beberapa barang yang akan membantu Naura dalam penyelesaian pendaftaran pasien di rumah Sakit ini.


“ Tapi Pak! Kenapa harus saya jika bapak juga ada di sini.” Tanya Naura.


“ Maaf Nona! Saya masih ada lagi pekerjaan yang harus saya selesaikan malam ini juga, jadi saya mohon titip sebentar Tuan Rangga.” Mohon sang supir


“ Lalu, bagaimana dengan keadaan pak supir yang tadi?” tanya Naura


“ Nona jangan khawatir, beliau baik – baik saja.” Jawabnya


“ Tapi pak masalah administrasinya bagaimana? Saya tidak tahu apa – apa tentang beliau.”


“ Nona tenang saja, semua sudah saya urus.. sekitar 2 jam lagi saya akan kembali lagi kemari. Selama saya pergi, saya mohon sekali lagi nona untuk menjaga tuan saya.” Ucap sang supir lalu pergi meninggalkan Naura sendirian di ruang tunggu.


“ Pa...kk!” kesal Naura kepada sang supir yang pergi begitu saja.

__ADS_1


Dengan perasaan yang bercampur aduk tidak karuan, seperti seporsi gado – gado menu komplit Naura mondar – mondir di depan UGD menunggu keadaan pak Rangga.


Selama 30 menit pemeriksaan, keluarlah seorang pria paruh baya yang memakai jaz putih panjang dan di lehernya tergantung staetoskop berjalan menghampiri Naura.


“ Selamat malam nona! Apakah anda wali dari pasien.” Tanya pria paruh baya tersebut yang merupakan seorang dokter yang menangani Rangga.


“ Malam dok! Benar dok saya adik dari pasien. Bagaimana keadannya sekarang dok?” ucap Naura berbohong.


“ Keadaan pasien sudah membaik, beliau hanya mengalami luka ringan lengannya hanya tergores dari pecahan kaca. Beliau hanya mengalami syok saja. Jadi dengan istirahat yang cukup mudah – mudahan besok pagi keadaannya sudah semakin membaik. Sekarang pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP kamar Green.” Jelas sang dokter.


“ Baik dok, terimakasih.” Ucap Naura yang di angguki oleh sang dokter dan berpamitan meninggalkan Naura.


Di ruangan yang sangat luas bak di kamar hotel bintang lima yang memiliki fasilitas lengkap membuat Naura kagum.


“ Wah, jadi ruangan VVIP rumah sakit seperti ini? Melebihi kamar di hotel – hotel sono tuh. Ternyata benar ada di dunia nyata tidak hanya terdapat di dunia drama saja.” Gumam Naura menelisik lebih detail isi ruangan tersebut.


Ia melihat seorang pria masih terbaring tidak sadarkan diri di sebuah ranjang yang berukuran king size. Dengan perlahan Naura mendekati dan ingin melihat keadaan Pak Rangga dari dekat.


“ Sebenarnya apa yang terjadi pak Rangga? sampai bapak mengalami kecelakaan seperti ini? Semoga bapak cepat pulih ya!” ucap Naura


" Dan satu lagi pak! Saya minta maaf sudah berbohong kepada dokter tadi, saya bilang kalau saya adalah adik bapak.. jadi kalau bapak sudah sadar jangan mengurangi nilai saya ya pak!" imbuh Naura memohon sambil mengatupkan kedua tangannya di depan.


Sementara secara diam – diam tanpa sepengatahuan Naura, Rangga sudah siuman sejak masuk ruangan hanya saja ia tidak ingin di lihat Naura dalam keadaan seperti ini terlebih Naura merupakan orang yang baru ia kenal.


“ Ah ya, aku hampir lupa dengan nasibnya. Aduh bagaimana ini?” ucap Naura tersentak ketika ia teringat dengan nasib martabaknya.


Dengan cepat ia keluar dari kamar menuju ruang tunggu UGD dimana ia tadi meninggalkannya di bangku di lobi.


Melihat tingkah Naura yang begitu khawatir, membuat Rangga mengernyitkan kedua alisnya. Ia juga penasaran apa yang terjadi dengan mahasiswinya tersebut.


“ Kenapa dia begitu khawatir? Memangnya apa yang sudah membuatnya seperti itu?” gumam Rangga membuka matanya ketika Naura keluar dari ruangannya.


Dengan perlahan, Rangga berusaha bangun dari pembaringannya dan ia pun mencari handphone yang berada di dalam tas yang terletak di meja sebelah tempat tidurnya. Kemudian ia melakukan panggilan kepada seseorang di seberang sana.


Dengan terburu – buru Rangga kembali ke posisi semula, ketika pintu kamar terlihat ada yang membukanya dari luar.


Cekleekkk...handle pintu berputar dan pintu pun terbuka, muncullah sosok Naura dengan wajah leganya karena ia berhasil membawa martabaknya.


Ketika masuk ruangan, Naura teringat akan sesuatu dan langsung membuatnya menepuk dahinya karena sudah lupa membawanya.

__ADS_1


“ Astaghfirallahalazim....” ucap Naura cukup kuat begitu kaget ketika sudah memasuki kamar.


__ADS_2