
“ Selamat pagi adik – adik mahasiswa sekalian! Hari ini merupakan hari terakhir kita melaksanakan kegiatan penyambutan mahasiswa baru dalam acara malam persahabatan di puncak ini. Untuk penutupan acara ini kita akan melaksanakan kegiatan amal kepada masyarakat desa yang ada di sekitar puncak ini. Yang kegiatan amal ini akan kita adakan sampai pukul 12.00 siang nanti. Jadi saya harap, mohon kerjasamanya kepada teman – teman mahasiswa sekalian agar kegiatan ini terlaksana dengan lancar dan cepat. Paham semuanya!” Ucap Dennis selaku wakil Ketua Panitia Ospek
“ Paham Kak!” teriak semua mahasiswa serentak.
Setelah selesai memberikan pengarahan, semua mahasiswa di arahkan pergi menuju desa setempat sesuai tim mereka masing – masing.
“ Haaah akhirnya selesai juga kegiatan kita hari ini ya! Setelah dari sini aku akan tidur seharian ah....” ucap Abel meregangkan otot – ototnya.
“ Iya Bel, kau benar. Aku sudah tidak sabar segera pulang ke rumah dan berbaring di ranjang favoritku.” Timpal Nadia sambil cengar – cengir membayangkan berbaring di ranjangnya.
Cuaca di puncak selalu terasa sejuk dan segar, hamparan bukit – bukit dan gunung sangat elok untuk dipandang. Siluet perbukitan di kawasan puncak terlihat sangat cantik terlihat di sekitar puncak warna hijau mendominasi pemandangan. Dalam perjalanan menuju desa, semua mahasiswa berjalan dengan semangat sambil bersenandung ria yang saling sahut – menyahut.
Dari barisan belakang, Galih dan Dennis menghampiri tim Naura dan teman – temannya yang sedang asyik bersenda gurau. Sontak saja kedatangan mereka membuat Abel dan Nadia sangat terkejut mereka tidak menyangka idola kampus mereka menghampiri dan bergabung dalam tim mereka.
“ Hai selamat pagi semua! boleh kita bergabung” Sapa Galih yang diiringi dengan senyuman Dennis. Melihat hal itu membuat Abel dan Nadia menjadi salah tingkah.
“ Pa...gii kak, silahkan kak dengan senang hati kami menerima kakak.” Ucap Abel tidak dapat menyembunyikan kegirangannya. Ini kesempatan baginya bisa berbicara secara langsung dengan mereka.
“ Terima kasih! bagaimana kegiatan penerimaan mahasiswa baru ini? Apakah menyenangkan?kalian boleh kok memberikan kritik dan sarannya demi kenyamanan kegiatan yang diadakan di kampus kita ini?” Ucap Galih
“ Sangat menyenangkan kak, kegiatan ini penuh makna dan banyak memberikan pelajaran buat kami.” Jawab Abel yang di angguki oleh Nadia. Sementara Naura hanya diam memperhatikan mereka. Ia berharap Galih dan Dennis tidak menyapanya seakan tidak saling kenal. Jika ini terjadi pastinya akan membuat dunia pengghibahan akan terus memanas.
“ Oh syukurlah, kami selaku ketua dan wakil ketua merasa senang mendengar pendapat para junior kampus kita ini. Jadi untuk ke depannya kami akan terus meningkatkan kualitas kegiatan kampus ini.” Imbuh Dennis sambil melirik ke arah Naura.
“ Iya kak, kami sangat beruntung diterima di kampus ini dan menjadi salahsatu mahasiswanya.” Ucap Nadia yang tak kalah senang.
Melihat keakraban mereka, Frans dan Andreal yang berada di barisan depan hanya bisa melihatnya dari jauh.
Sedangkan Arlan hanya memandangi Naura dari belakang, ia tidak bisa mencegah Galih dan Dennis yang ingin menghampiri mereka. Ia tidak ingin membuat kegaduhan jika ia juga ikut bergabung yang akan membuat Naura semakin tidak nyaman.
“ Hai Ra! Bagaimana denganmu? Apakah kau menikmati kegiatan kita ini?” tanya Galih tiba – tiba. Sontak saja membuat Abel dan Nadia terkejut dan memberikan tatapan tajam ke arah Naura seakan meminta penjelasan yang sejelas – jelasnya.
“ Sa...ngat menikmati kak. Banyak kegiatan ini memberikan nilai yang positif.” Jawab Naura terbata – bata
“ Bagaimana keadaanmu?” Timpal Dennis
__ADS_1
“ Sudah membaik kak, saya bersyukur karena bisa mengikuti kegiatan ini sampai selesai.” Kata Naura.
“ Oh syukurlah, kalau begitu semoga ke depannya lebih baik lagi. Ok!” ucap Galih
“ Iya kak, terima kasih.” kata Naura
“ Baiklah, semoga hari kalian menyenangkan. Dan lain kali kita akan mentraktirmu makan siang ya Ra.” Ucap Dennis lembut dengan senyuman mautnya.
“ Haaaaaah,” spontan Abel dan Nadia begitu syok mendengar undangan Dennis untuk Naura.
“ Bai..klah kak!” jawab Naura gugup. Ia merasa merinding semakin horor mendapat tatapan dari Abel dan Nadia.
“ Sampai jumpa lagi.” Pamit Galih sambil melambaikan tangannya berjalan menuju barisan depan.
“ Iya kak.” Jawab Abel dan Nadia
Sepeninggal Galih dan Dennis, langsung saja Abel dan Nadia menginterogasi Naura.
“ Jelaskan kepada kami Ra!” Rongrong Abel dan Nadia tidak sabar
Sambil terus berjalan mereka menuruni puncak menuju desa Naura menceritakan semua kejadian yang dia alami selama datang ke kota dari pertemuannya dengan Tante Nissa yang telah menyelamatkan Vino cucunya, sampai pertemuannya dengan Arlan di parkiran Fakultas Seni, undangan makan malam keluarga Kusuma yang mempertemukan Naura dengan tiga keluarga tersohor di negeri ini termasuk Galih dan Dennis. Tanpa ada yang dilewatkan dan ditutupi oleh Naura.
“ Waaaahhh, kau hebat Ra! kenapa kau tidak cerita padaku sih Ra!” Omel Abel
“ Maaf Bel, aku bukannya sengaja menyembunyikannya hanya saja aku takut kau tidak percaya dengan ucapanku.” Kata Naura.
“ Ehm, baiklah kalau begitu. Aku benar – benar beruntung bisa bertemu dan berteman denganmu duluan Ra. Ternyata kau benar – benar gadis desa yang sangat baik.” Ucap Abel yang tidak bisa marah jika melihat wajah polos Naura.
“ Kau benar Bel, mungkin jika wanita lain akan menjadi sombong dan belagu jika bisa berkenalan dengan ketiga keluarga tersohor tersebut.” Timpal Nadia “ Aku juga merasa beruntung bisa kenal denganmu Ra.” Sambungnya
“ Iya juga sih. Pantes saja dari kejadian di tenda medis malam itu dan kejadian kemarin yang kak Arlan langsung menghampiri dan menggendongmu dengan wajah khawatirnya. Ternyata dia begitu perhatian ya, dan aku sudah menduga manusia es itu sudah mulai mencair.” Ucap Abel panjang lebar
“ Maksudmu apa Bel?” tanya Nadia tidak mengerti
“ Ish, masa kau tidak paham sih Nad, kak Arlan kan selama ini dijuluki dengan manusia es karena dia begitu dinginnya dengan orang lain apalagi dengan seorang wanita. Melihat ia begitu khawatir dengan keadaan Naura aku berani menyimpulkan Kak Arlan sudah tertarik dengan Naura.” Ucap Abel percaya diri sambil manggut – manggut seperti seorang detektif yang berhasil memecahkan sebuah teka – teki.
__ADS_1
“ Benarkah? Kau hebat Ra. Bisa mencairkan es tersebut.” Kata Nadia
“ Ish kalian apaan sih, kenapa ucapan kalian ngelantur gitu. Kalian sudah salah paham, kak Arlan begitu karena memang keluarga mereka sangat baik terlebih mereka merasa berhutang budi padaku makanya kak Arlan bersikap begitu padaku.” Ucap Naura menjelaskan, di dalam hatinya ia juga merasa takut mengartikan perhatian Arlan kepadanya ia menepis perasaannya agar tidak salah paham.
“ Ehm benarkah begitu. Tapi mengapa perasaanku berkata lain ya!” Ucap Abel seakan – akan berpikir keras.
“ Ah sudahlah! Terserah kalian saja kalau tidak percaya.” Kata Naura memasang ekspresi ngambek dan berjalan ke depan mendahului Abel dan Nadia.
“ Yeaaay dia ngambek. Tunggui kita dong Ra!” Teriak Abel
“ Malas ah, uueeeek!” Ejek Naura sambil menjulurkan lidahnya
“ Benarkah tu Bel! Kau menganggap kak Arlan telah tertarik dengan Naura.” tanya Nadia.
“ Ehm...kalau tidak percaya kau perhatikan saja sikap kak Arlan kepada Naura.” kata Abel meyakinkan Nadia.
Melihat kejadian di depannya membuat Arlan tersenyum dengan tingkah Naura. Ia pun mempercepat langkahnya untuk mengejara Naura agar dapat melihatnya dari jarak yang dekat. Ia mengabaikan pandangan dan bisikan – bisikan dari anak – anak lainnya. Dengan tenang dan wajah yang datar ia terus berjalan melewati anak – anak lainnya termasuk Abel dan Nadia.
“ Tuh kau bisa lihat kan!” tunjuk Abel ketika Arlan melewati mereka begitu saja.
“ Ehm, kau benar Bel, bisa jadi seperti yang kau katakan.” Kata Nadia
“ Ya jelas benar dong! Naura saja yang terlalu polos. Semua orang bisa mengerti jika melihat sikap kak Arlan yang sangat berbeda terhadap Naura.” Jelas Abel
Melihat Arlan yang mengejar Naura secara diam – diam, Abel dan Nadia tidak jadi mengejar Naura mereka dengan santai berjalan tetap di belakang sambil menikmati pemandangan puncak.
Setelah satu jam mereka berjalan menuruni puncak menuju desa yang ada di sekitarnya mereka mulai memasuki desa Liuk Seribu dan langsung menuju balai desa untuk melapor dahulu kepada kepala desa setempat.
“ Selamat Pagi menjelang siang anak – anak mahasiswa! Selamat datang di desa kami ini Desa Liuk seribu, saya sebagai kepala desa dengan senang hati menyambut niat baik anak – anak mahasiswa yang akan melakukan kegiatan amal bagi masyarakat desa ini dalam rangka kegiatan ospek penerimaan mahasiswa baru. Dalam pelaksanaan kegiatan amal nanti, saya dan jajaran perangkat desa akan mendampingi dan menjelaskan keadaan di desa ini.” Ucap Kepala desa Liuk seribu memberikan kata pengantarnya
“ Baik Pak! Kami mengucapkan terima kasih banyak karena sudah mengizinkan dan menyambut baik kedatangan kami di desa ini. Kami berharap dari kegiatan amal ini akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan pembelajaran bagi kami semua.” Ucap Galih.
Setelah acara penyambutan para mahasiswa dan Kepala Desa beserta jajarannya mulai berkeliling desa guna memberikan sembako kepada masyarakat dan ikut serta menanam pohon pelindung di setiap pinggir jalan.
Para Mahasiswa sangat senang dan antusias melakukan kegiatan amal ini. Mereka merasa senang dalam indahnya saling berbagi dan lebih mensyukuri kehidupan mereka yang beruntung dibanding dengan kehidupan di desa ini.
__ADS_1
Menjelang siang, pukul 11. 45 mereka menyudahi kegiatan amal mereka dan berpamitan kepada kepala desa dan masyarakat Desa Liuk Seribu. Setelah membuat laporan dan dokumentasi para mahasiswa kembali ke tenda mereka untuk berberes – beres agar dapat kembali ke kota sebelum malam tiba.