Impian Sang Gadis Desa

Impian Sang Gadis Desa
BAB 40 Hukuman di Hari Pertama Kuliah


__ADS_3

Naura selamat pagi! Kau siap menghadapi hari – hari di kampus tercinta ini?” Sapa Nadia begitu melihat Naura memasuki pintu gerbang kampus.



“ Pagi Nad, Insya Allah siap. Karena aku sudah penuh dengan segala persiapan yang dibutuhkan. Ngomong – ngomong Abel kok belum kelihatan ya?” jawab Naura.



“ Ah, anak itu biarkan saja. Ayo kita masuk dulu.” Ajak Nadia sambil merangkul pundak Naura.



“ Hai guys! Selamat pagi!” sapa Abel begitu melihat Naura dan Nadia berjalan menuju fakultas. Dengan langkah yang lebar Abel mengejar Naura dan Nadia agar dapat berjalan bersama.



Sepanjang perjalanan, mereka bertiga selalu mengobrol dan bersenda gurau membahas kegiatan akhir pekan mereka masing – masing.



Suasana kampus mulai rame di padati oleh para mahasiswa baik mahasiswa baru maupun mahasiswa tingkat atas. Masa perkuliahan pun sudah di mulai untuk semester ajaran tahun baru setelah melaksanakan masa ospek. Begitu juga dengan Naura dan temannya. Masa – masa perkuliahan akan segera mereka jalani sebagai mahasiswa tingkat awal.



“ Dah Nad, semoga harimu menyenangkan!” ucap Abel ketika mereka berpisah di depan gedung fakultas Seni.



“ Dah Abel dan Naura! kalian juga semoga hari kalian menyenangkan dalam menghadapi perkuliahan pertama ini.” Balas Nadia yang bergegas masuk ke gedung fakults menuju kelasnya.



Begitu juga dengan Naura dan Abel, mereka juga meneruskan perjalanan menuju gedung fakultas mereka. Saat Naura melihat parkiran di Fakultas Seni, ia teringat dimana pertama kalinya ia bertemu dengan Arlan. Dan terjadilah perdebatan yang di akibatkan sebuah kesalahpahaman.



‘ Hah, kenapa tiba – tiba aku memikirkannya sih. Dasar, kenapa tidak pernah memberi kabar sih, sudah hampir seminggu tidak pernah kelihatan lagi sejak pulang dari toko buku.’ Batin Naura dalam hati. ‘ Ah sudahlah! Fokus lah Naura. bahkan kau sudah di beri banyak buku dan sebuah gelang.’ Naura menggeleng – gelengkan kepalanya dengan cepat menepis segala rasa yang mengganggunya.



“ Kau baik – baik saja Ra!” Tegur Abel melihat Naura tiba – tiba melamun.



“ Ah iya! Aku baik – baik saja Bel, hanya saja tiba – tiba perutku mules. Kau duluan saja masuk ke kelas nanti aku menyusul.” Alasan Naura agar ia tidak terlalu banyak di interogasi oleh Abel.



“ Kau yakin gak mau ditemani?” tawar Abel.



“ Iya. Sudah sana?” usir Naura



“ Baiklah! Awas jangan sampai kau telat. Aku dengar untuk perkuliahan pertama ini dosennya cukup killer.” Abel memberi peringatan.


“ Baiklah! Terimakasih Bel.”



Merekapun berpisah, Abel terus melaju masuk ke dalam untuk mencari ruang kelas sementara Naura bergegas menuju ke arah toilet.



“ Huft, kenapa masih pagi begini jadi gerah sih. Ini gara – gara kak Arlan kenapa aku kepikiran terus sih. Semangat Naura! dengan banyaknya kegiatan kuliahmu, kau harus fokus dan berkonsentrasi dengan impianmu!” gumam Naura menyemangati dirinya. Ia pun mencuci wajahnya di westafel agar terlihat segar kembali.


__ADS_1


“ Huh segarnya. Mari Naura hadapi perkuliahan pertamamu dengan semangat. Yeay....kau pasti bisa! Tunjukkan padanya bahwa jika bertemu kembali kau terlihat hebat di matanya. Hahahahaah” teriak Naura sendirian di depan cermin di toilet karena merasa di toilet hanya ia sendiri, ia pun bersikap konyol untuk menyemangati dirinya.



Setelah puas berteriak mengeluarkan uneg – unegnya, ia pun bergegas pergi dari toilet menyusul Abel ke kelas karena ia teringat dengan ucapan Abel. Ia tidak mau di hari pertamanya kuliah sudah mendapat masalah dengan seorang dosen yang killer.



“ Ehm, gadis yang unik!” ucap seorang pria yang terlihat masih muda yang baru keluar dari bilik toilet. Pada saat ia membuka pintu bilik toilet hendak keluar, namun niatnya diurungkan ketika ia melihat Naura masuk ke toilet. Sepanjang Naura berteriak, ia hanya bisa mendengarkan segala uneg – uneg Naura dari dalam bilik toilet dengan seutas senyuman di bibirnya.



“ Naura, gadis yang unik dengan cara menyemangati dirinya.” Ucapnya sambil keluar dari toilet dan bergegas menuju kelas pertamanya.



“ Ra! Di sini” teriak Abel dan melambaikan tangannya ketika melihat Naura muncul dari pintu. Melihat Abel, Naura langung menghampirinya dan mendaratkan bokongnya ke kursi kosong yang berada di sebelah Abel.



“ Huft, Alhamdulillah untung saja belum terlambat. Masih tersisa lima menit lagi.” Ucap Naura lega.



“ Iya Ra! Aku juga sempat deg – degan tadi belum melihatmu masuk ke kelas.” Ucap Abel.


Para mahasiswa baru tingkat awal ini pun saling berkenalan satu sama lain. Yang notabane nya hampir 80 persen di huni oleh para mahasiswi wanita. Dari 35 mahasiswa hanya terdapat 10 mahasiswa pria di kelas keguruan ini.



Suasana kelas yang riuh seketika hening tatkala seseorang memasuki kelas mereka. Dengan perawakan yang tinggi sekitar 180 centi meter, berkulit putih, wajah yang tampan dengan rahang yang kokoh dengan bulu – bulu halus yang menghiasinya. Tatapan seperti mata elang yang siap menerkan anak ayam dari ketinggian beberapa meter dari permukaan tanah.



Dengan suara baritonnya yang begitu tegas, ia pun membuka suara untuk menyapa dan memperkenalkan diri dengan para mahasiswanya.




“ Paham Pak!” teriak para mahasiswa sambil menelan ludah melihat ketegasan dan ketajaman dosen muda mereka yang telah berdiri di depan mereka.



Meskipun terkesan killer namun tidak memudarkan rasa kagum dan terpesonanya mereka melihat Pak Rangga sebagai dosen mereka yang begitu tampan. Terutama di kalangan para mahasiswi perempuan.



“ Wah benar – benar gila Ra! Dosen kita ganteng banget. Satu harian mengikuti kelasnya pun aku gak akan bosan deh!” ucap Abel dengan tingkahnya jika melihat cogan.



“ Jangan bicara begitu Bel, ganteng kalau killer nya kebangetan dan dingin begitu untuk apa. Aku mah ogah ah!” kata Naura tidak mendukung Abel.



“ Ah kau tidak seru. Ganteng begitu kenapa ekspresimu datar sih. Aku mulai curiga nih, jangan – jangan kau...” ucapan Abel terpotong ketika Naura berteriak.



“ Apaan sih Bel, kau curiga aku tidak normal begitu hah...dasar kau!” ucap Naura spontan.



Mendengar Naura sedikit berteriak, membuat seisi kelas memandang ke arah Naura. Tak terkecuali Rangga yang juga memperhatikan Naura dari depan. Ia tidak asing dengan suara teriakan yang baru saja di dengarnya.



“ Kau....beraninya kau membuat onar di kelasku!” ucap Rangga memandang tajam ke arah Naura

__ADS_1



Dengan kepala yang tertunduk, Naura baru tersadar dengan apa yang baru ia perbuat. Dengan melirik tajam ke arah Abel, Naura memberi peringatan sekaligus meminta pertolongan. Namun Abel juga tidak bisa berbuat apa – apa. Semua mahasiswa terdiam tidak ada yang berani membuka suara. Mereka takut akan bernasib sama dengan Naura.



Dengan rasa takut, Naura memberanikan untuk meminta maaf.



“ Maafkan saya Pak! Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Kata Naura sedikit gugup menundukkan kepalanya.



“ Baiklah, karena ini hari pertama maka saya akan memberikan hukuman yang ringan untukmu. Siapa nama mu.” Tanya Rangga untuk memastikan sesuatu.



“ Nama saya Naura Eka Febriana Pak! Di panggil Naura.” jawab Naura gugup.



‘ Ehm, jadi ini gadis di toilet tadi. Naura ternyata kau ada di kelasku.’ Gumamnya sambil menatap tajam ke arah Naura.



Entah mengapa ia merasa tertarik dengan karakter Naura yang begitu polos dan sederhana sangat berbeda dengan gadis – gadis pada umumnya.



“ Baiklah, sebagai hukuman pertama mu, mulai hari ini sampai besok kau akan menjadi asistenku. Kau harus menyiapkan proyektor dan buku bahan ajar saya di kelas yang saya pegang.” Ucap Rangga



“ Baik Pak! Akan saya laksanakan dengan sebaik mungkin.” Ucap Naura sedikit lega. Ia masih bersyukur hukuman yang akan ia jalani tidak sampai mempengaruhi nilainya.



“ Baiklah, mari kita mulia perkuliahan kita hari ini!” ucap Rangga membuka perkuliahannya tanpa bertele – tele. Ia menyampaikan semua materi dengan lugas dan tegas sehingga para mahasiswanya mengikuti kelasnya dengan tertib dan kondusif. Para mahasiswa terutama kaum hawa seakan – akan terhipnotis dengan performa dosen muda yang ada di hadapan mereka.



Rangga Yudistira merupakan pria dewasa yang memiliki wajah tampan dan karir yang cemerlang. Di usianya yang masih beranjak 29 tahun ia sudah menjadi seorang profesor muda dan pengusaha muda yang telah merintis perusahaan yang ia dirikan dari nol selama tujuh tahun belakangan ini. Rangga yang memiliki pribadi tertutup karena ia merupakan anak yatim piatu. Orang lain hanya mengetahui identitasnya sebagai seorang dosen muda.


Selama tiga tahun ini, ia menjadi salah satu dosen terpopuler baik di kalangan dosen maupun para mahasiswa. Banyak dari mereka yang ingin berusaha mendekatinya. Namun hingga sekarang tidak ada satupun yang berhasil menarik perhatiannya. Rangga cenderung menghabiskan hidupnya hanya untuk bekerja demi menutupi kesendiriannya.


Hanya beberapa orang saja yang dapat ia percaya sebagai asistennya untuk membantu pekejaannya dalam mengelola perusahaannya.


“ Huft... untung saja hukumanmu masih ringan Ra! Dewi fortuna masih berpihak kepadamu. Kalau mengingat berada di kelasnya tadi serasa kehabisan oksigen.” Tutur Abel lega sambil menyeruput habis jus mangganya sampai habis.


“ Iya Bel, Alhamdulillah. Pak Rangga masih memberikan hukuman yang ringan tidak sampai memberikan ku nilai E. Hah...ini karena kau duluan Bel!” kata Naura menyalahkan Abel.


“ Kok aku sih, kan kau sendiri yang berteriak begitu. Lagipula kenapa kau masih begitu tenang melihat dosen ganteng kita tu sih Ra! Kau tidak lihat semua cewek – cewek di kelas begitu histeris melihat pak Rangga secara langsung. Di saat semua pada heboh, eh kau sendiri yang tidak meresponnya.” Ucap Abel panjang lebar meluapkan kekesalannya.


“ Ah..kalian saja yang terlalu berlebihan. Pak Rangga memang ganteng tapi tidak gitu juga kali....ingat Bel! Jangan terlalu memuja sesuatu secara berlebihan. Karena semua itu hanya bersifat sementara! Kagumlah pada yang menciptakan – Nya.” Jelas Naura layaknya seorang ustadzah yang menceramahi Abel.


“ Iya ya, bu ustadzah Naura Eka Febriana!” balas Abel mengerucutkan bibirnya ke depan.


“ Ih dibilangi malah ngeyel. Tuh bibir ku ikat baru tahu.” Ucap Naura gemas melihat bibi Abel yang seperti bebek.


“ Sudah ah, ayo kita makan. Sudah lapar Ra! Sebentar lagi kita ada kelas berikutnya.” Ajak Abel pergi menuju kantin fakultas.


“ Maaf Bel, aku tidak bisa. Kau lupa, aku sedang di hukum pak Rangga untuk menjadi asistennya selama dua hari ini. Dan barusan aku dikirim pesan, 15 menit lagi beliau ada kelas dengan mahasiswa tingkat empat.” Jelas Naura


“ Ah iya, aku lupa Ra! Lagian kenapa langsung bekerja sih. Dasar pak Rangga tidak pernah memberikan kelonggaran bagi terdakwahnya.” Kata Abel kesal.


“ Sudahlah Bel, lusa kita masih bisa makan bareng lagi. Aku cabut duluan ya. Assalamualaikum.” Pamit Naura langsung meninggalkan Abel sendirian di taman.


“ Walaikumsalam!” jawab Abel yang juga beranjak dari bangkunya menuju ke kantin.

__ADS_1


__ADS_2